Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 227. Mencoba kabur


__ADS_3

Masih di dalam kamar hotel yang telah disewa oleh Rila, kini Cyra tampak sangat panik dan begitu cemas ketika Gio meraih satu tangannya lalu memberi usapan lembut disana. Bahkan, tangan Gio yang lain juga sudah bergerak mengusap wajah cantik Cyra yang begitu menggoda. Meski usia Cyra masih di bawah umur, namun Gio tak menampik kalau pesona gadis itu cukup memikat hatinya.


Gio bahkan tak menyesal kali ini, meski ia harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk membeli Cyra dari tangan Rila. Saat ini Gio sudah tidak sabar lagi, bagian bawahnya terus meronta-ronta minta dikeluarkan dan masuk ke dalam sarangnya. Apalagi, Cyra terlihat sangat cantik dan ia yakin sekali kalau milik Cyra pasti masih amat sempit dan bisa membuat dirinya terpuaskan berulang kali.


"Cyra, apa kamu udah siap sekarang? Saya sudah menjelaskan semuanya ke kamu, jadi sekarang tidak ada alasan lagi bagi kamu untuk menolak saya, Cyra!" ucap Gio.


Cyra menggeleng perlahan, "Ada tuan, aku masih bisa menolak kamu saat ini. Aku punya hak atas tubuh aku sendiri, orang lain bahkan orang tua aku sendiri gak akan bisa menjual aku ke kamu atau siapapun itu!" ucapnya dengan tegas.


"Oh tapi itu sudah terlambat Cyra, saya tidak perduli lagi kamu mau menolak atau tidak. Bagi saya, kamu adalah milik saya sekarang!" ujar Gio.


Jantung Cyra makin berdebar-debar saat ini, ia tak menyangka akan berada di dalam situasi seperti ini. Gio sendiri makin bergerak mendekatinya, bahkan pria itu memajukan wajahnya ke dekat Cyra dan perlahan mencolek dagu gadis yang baru saja ia beli dari Rila itu. Dengan berani Gio mengecup kening Cyra, membuat sang empu terbelalak seketika.


"Cyra, kamu tidak akan bisa kemana-mana lagi sekarang! Kamu akan menjadi milik saya seutuhnya," ucap Gio berbisik di telinga gadis itu.


Perlahan Gio mulai membelai lembut bibir ranum Cyra yang merah muda itu, terasa amat kenyal dan menggairahkan bagi Gio yang seolah tidak sabar ingin segera merasakan kepuasan. Ia juga mengendus area leher sang gadis, sambil satu tangannya yang lain mencengkram kuat lengan Cyra agar tak berontak kali ini.


"Rileks baby, saya akan lakukan ini dengan perlahan!" bisik Gio.


Disaat Gio hendak melancarkan aksinya lebih lanjut untuk mengecup bibir mungil itu, tiba-tiba saja Cyra bereaksi dan menendang bagian bawah pria itu dengan cukup kuat. Seketika Gio terkejut, ia mengerang keras sembari memegangi area bawahnya yang terasa sakit.


"Aakkhh, sial sakit banget! Dasar perempuan kurang ajar!" Gio mengumpat sambil perlahan membungkuk dan terus menjerit menahan sakit.


"Haha, rasain tuh! Itu hukuman buat laki-laki mesum kayak kamu, udah ya bye!" ejek Cyra.


Gio terkejut, ia berusaha menahan Cyra yang melarikan diri dengan cara meraih lengan gadis itu. Akan tetapi, Cyra berhasil lepas dan berlari sekuat tenaga keluar dari dalam sana. Gio pun berteriak sangat kencang, namun tentu saja Cyra tidak memperdulikan teriakan itu dan terus berlari menjauh dari sosok pria asing tersebut.


Cyra akhirnya sudah berhasil keluar dari kamar mengerikan itu, beruntungnya memang Gio lupa mengunci kembali kamar tersebut setelah diberikan kunci kedua dari Rila sebelumnya. Meski ia tak bisa membawa serta barang-barangnya, namun Cyra tidak perduli karena yang penting baginya sekarang adalah menyelamatkan diri.

__ADS_1


Namun tanpa diduga, saat di lobi hotel ia malah tak sengaja bertemu dengan Rila alias sahabat yang sudah mengkhianatinya itu. Sontak Cyra terdiam dan bingung harus melakukan apa, ia khawatir Rila akan menangkapnya lalu menyerahkannya kembali kepada Gio di atas sana.


"Loh Cyra, kamu mau kemana?" tanya Rila seolah-olah tidak terjadi sesuatu.




Sementara itu, Ciara sampai di sekolah untuk memenuhi panggilan dari Davin yang tadi telah menghubunginya dan memintanya datang kesana. Ciara tampak sangat panik kali ini, apalagi ia tahu kalau Cyra tidak ada disana dan entah kemana gadis itu sekarang. Padahal, ia yakin sekali kalau tadi pagi Cyra pergi ke sekolah karena gadis itu terlihat sudah memakai seragam dan membawa tasnya.


Disaat Ciara sedang melangkah menyusuri lorong sekolah sambil mencari keberadaan Davin, tiba-tiba saja seseorang mencekal lengannya dari belakang dan membuatnya terkejut. Ciara sontak menoleh, namun betapa syoknya ia ketika menemukan Libra yang berdiri di hadapannya kali ini sambil menatap penuh belas kasihan.


"Mas, kamu ngapain ngikutin aku sampai kesini? Aku kan udah bilang, kamu gak perlu lagi bantu aku! Aku bisa urus semuanya sendiri kok," sentak Cyra.


"Sssttt, udah kita gausah bahas soal itu lagi! Aku ini ayah kandung dari Cyra, jadi aku juga berhak ada disini. Kamu atau siapapun itu gak bisa halangi aku buat cari info tentang Cyra, karena aku cemas banget sama kondisi dia," ucap Libra tegas.


"Hm, kamu marah nih sama aku? Yaudah sih, aku ini kan kesini karena Cyra bukan karena kamu. Jadi, kamu gak perlu risau dengan kehadiran aku. Mending kita cari aja dimana si om Davin itu, aku mau tau info dari mulut dia langsung!" ujar Libra.


"Terserah," ucap Ciara dengan ketus sembari menghentakkan tangannya.


Ciara pun pergi lebih dulu meninggalkan mantan suaminya itu, sampai akhirnya Ciara berhasil tiba di depan ruangan pribadi Davin setelah diberitahu oleh salah seorang petugas disana. Tanpa menunggu lama, Ciara segera mengetuk pintu dan memanggil nama pamannya yang ada di dalam sana.


Ceklek


Tak lama kemudian, pintu dibuka dan muncullah sosok Davin yang memang sedari tadi sudah menunggu kehadiran Ciara disana. Namun, Davin tampak heran ketika melihat Libra juga berada di dekat wanita itu. Tentu saja Davin tak menyangka, karena yang ia tahu hubungan antara Ciara serta Libra sedang tidak akur belakangan ini.


"Eh Ciara, kamu akhirnya datang juga. Kita langsung masuk aja yuk, bicaranya di dalam biar agak enakan!" ucap Davin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya om." Ciara mengangguk setuju dan melangkah masuk ke dalam sana bersama Libra.


Mereka berdua pun terduduk bersama-sama di sofa yang tersedia, tampak Davin juga tersenyum memandang wajah Ciara dan ingin sekali Ciara terus berada di dekatnya. Hanya saja, niat Davin untuk bisa berdua dengan Ciara harus sirna lantaran Libra juga ikut datang ke ruangan itu.


"Om, kenapa om minta aku buat kesini? Kalau om Davin bilang Cyra gak ada disini, harusnya om biarin aku buat cari Cyra di tempat lain dong," tanya Ciara dengan wajah bingungnya.


Davin menggeleng perlahan, "Saya sengaja minta kamu kesini, karena saya mau membicarakan sesuatu yang penting dengan kamu. Ini masih berkaitan dengan Cyra, saya rasa kamu juga berhak tau tentang ini," ucapnya.


"Apa itu om?" Ciara terlihat semakin penasaran.


"Waktu itu pihak sekolah telah memberikan surat panggilan untuk kamu dan juga Libra, bu Melia yang memberikan surat itu pada Cyra. Tapi, besoknya kalian gak kunjung datang. Setelah diselidiki, ternyata Cyra sengaja membuang surat itu ke tempat sampah karena dia gak mau bikin kalian berdua makin pusing," jelas Davin.


Sontak Ciara menunduk lesu setelah mendengar semua penjelasan Davin barusan, ia baru tahu kalau Cyra sampai bertindak seperti itu karena tidak ingin membuatnya bertambah pusing.


"Dan mungkin aja sekarang kepergian Cyra ini juga ada kaitannya dengan kalian, bisa aja dia sedih karena kalian terus-terusan bertengkar," ujar Davin.


"Om, kalo gitu saya mohon izin untuk mencari Cyra sekarang. Saya cemas sama anak saya itu, saya harus cari dan temukan dia secepatnya! Saya gak mau kalau sampai Cyra kenapa-napa di luaran sana!" ucap Libra tiba-tiba.


"Ya bagus, silahkan anda cari Cyra sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahan yang telah anda lakukan itu!" ucap Davin.


Deg


Libra merasa tersinggung mendengar kata-kata yang diucapkan Davin barusan, tatapan matanya menjurus tajam ke arah Davin disertai tangan yang sudah terkepal kuat.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2