
Ciara dan Libra tengah menikmati hiburan musik di sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah mereka, ya kebetulan Libra memang ingin memanjakan Ciara malam ini agar wanita itu tidak lagi memikirkan hal-hal yang di luar nalar. Sampai kapanpun, Libra tak mungkin mau menikah lagi dan menduakan cintanya kepada Ciara.
Keduanya tampak begitu puas dengan penampilan grup band di atas panggung itu, ya karena Ciara juga sangat mengidolakan band itu. Sepanjang acara, mereka terus meloncat-loncat kegirangan menikmati alunan musik yang indah. Ciara sampai lupa jika dirinya saat ini tengah mengidap sakit yang parah, karena mungkin terlalu asyik sendiri.
Libra yang memang tidak tahu apa-apa, hanya membiarkan Ciara melakukan apa yang dia inginkan. Tidak mungkin Libra melarangnya, sebab ia sudah bertekad kalau malam ini ia akan membuat Ciara bahagia dan melupakan rencana buruknya yang memintanya untuk menikah lagi.
Namun, tak lama kemudian Ciara merasakan pusing yang amat sangat pada bagian kepalanya. Pandangannya juga sudah mulai kabur, disertai keringat yang menetes di area wajahnya. Tubuh Ciara melemas seketika, membuat wanita itu sulit untuk menahan dirinya saat ini.
"Akh! Aku kenapa ya? Apa karena penyakit yang aku derita?" batin Ciara.
Sontak Libra merasa terkejut ketika melihat istrinya tiba-tiba terdiam tanpa bergerak sedikitpun, Libra pun penasaran dan langsung mendekap tubuh Ciara dari samping untuk memastikan kondisinya. Libra khawatir terjadi sesuatu pada sang istri, sehingga ia meminta Ciara untuk menepi sejenak.
"Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit atau apa sayang?" tanya Libra dengan nada cemas sembari menangkup wajah istrinya.
Ciara menggeleng lemas, wanita itu sudah tak mampu menahan dirinya lagi untuk tetap kuat. Ya setelahnya, Ciara pun kehilangan kesadaran dan pingsan tepat di dalam pelukan suaminya. Libra tentu sangat panik, ia langsung berlari menggendong tubuh Ciara dan membawanya ke dalam mobil untuk segera menuju rumah sakit.
Karena sudah terlanjur cemas, Libra memilih membawa Ciara ke rumah sakit yang paling dekat dari tempatnya saat ini. Libra pun menghentikan mobilnya, lalu membopong tubuh Ciara dan berteriak memanggil bantuan. Barulah Ciara dibawa menggunakan brankar dorong oleh Libra beserta perawat yang ada disana, Ciara pun segera diperiksa oleh dokter dengan ditemani Libra di sisinya. Dan saat itu, Ciara juga telah sadarkan diri.
"Dok, gimana kondisi istri saya dok?" tanya Libra yang terlihat begitu mencemaskan istrinya.
Dokter itu tersenyum, ia beralih menatap wajah Ciara yang terbaring lemah disana sambil bersiap menanyakan sesuatu.
"Kapan terakhir kamu menstruasi?" ujar dokter itu.
Sontak Libra menatap heran ke wajah si dokter, ia terlihat kebingungan mengapa dokter tersebut menanyakan hal itu kepada Ciara. Ada secercah harapan, namun Libra tak mau terlalu berharap sebelum mendapat kejelasan dari dokter itu saat ini mengenai kondisi istrinya.
"Apa maksud dokter? Kenapa dokter menanyakan hal itu ke istri saya?" tanya Libra keheranan.
"Saya menduga kalau bu Ciara sedang hamil, pak. Untuk memastikan lebih lanjut, bu Ciara bisa mengecek sendiri melalui testpack supaya lebih jelas," jawab dokter itu.
Libra pun tersenyum lebar sembari menatap wajah istrinya, ia tak bisa menutupi rasa bahagia yang saat ini ia rasakan setelah mendengar penjelasan itu. Ciara pun juga tak kalah bahagianya, meski kini wanita itu masih kebingungan mengapa bisa tiba-tiba dia dinyatakan mengandung. Padahal, sebelumnya saat menjalani pemeriksaan dengan dokter Syifa dirinya dikatakan tidak bisa hamil.
"Sayang, kamu hamil sayang! A-aku senang banget, akhirnya harapan kita terjadi! Aku beneran gak nyangka ini bisa terjadi, aku bahagia banget!" ucap Libra merasa terharu.
Ciara tersenyum, tapi kemudian beralih memandang wajah dokter yang ada di sebelah suaminya. Dari sorot matanya, Ciara terlihat begitu penasaran mengapa ia bisa tiba-tiba dinyatakan hamil seperti itu. Ciara pun coba mencari tahu, apakah penyakit yang ada di tubuhnya masih ada atau tidak.
"Tapi dok, bukannya saya sedang mengidap penyakit kanker rahim? Saya baru aja periksa kemarin dok," tanya Ciara penasaran.
"Apa??" Libra ikut terkejut dibuatnya, ia tak percaya dengan ucapan yang dilontarkan Ciara barusan.
Sementara sang dokter tampak keheranan, bahkan ia mengernyitkan dahinya pertanda bahwa ia tak mengerti dengan ucapan Ciara tadi. Sejauh yang ia tahu, tidak ada penyakit apapun di dalam rahim Ciara saat ini. Justru kondisi rahim wanita itu tampak baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Ciara.
"Saya gak menemukan ada kanker atau apapun di rahim ibu kok, semua baik-baik saja. Memangnya ibu periksa itu dimana, kenapa bisa hasilnya tidak benar begitu?" ucap sang dokter.
Ciara terdiam kali ini, rasanya ia sulit sekali percaya dengan apa yang terjadi padanya. Ia juga bingung mana yang harus ia percayai untuk saat ini, karena dua-dua orang yang memeriksanya adalah dokter yang baik dan bukan abal-abal. Akan tetapi, hasil pemeriksaan mereka justru berbanding terbalik.
"Ini pasti ada yang gak bener, udah sayang biar aku yang temui dokter Syifa besok!" kesal Libra.
"Mas, kamu sabar dulu! Belum tentu semua ini salah dokter Syifa, bisa jadi peralatan disana yang gak benar kan?" ucap Ciara menahan suaminya.
"Tetap aja dia harus bertanggung jawab, dia udah bikin kita ngerasa pesimis sayang!" ujar Libra.
Tidak ada yang bisa dilakukan Ciara saat ini, ia diam saja coba memikirkan apa sebenarnya yang sudah terjadi saat ini. Ciara belum mengerti mengapa bisa ada dua hasil yang berbeda bagi tubuhnya, tapi kini ia benar-benar bersyukur kalau memang ia tengah mengandung anak sekaligus keturunan dari Libra.
Libra pun membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Ciara, ia kecup kening serta usap wajahnya dengan lembut seolah menenangkan wanita itu. Libra juga beralih memegang perut istrinya yang sedang mengandung calon penerusnya saat ini, ia perlahan mengusapnya dan membisikkan sesuatu di telinga Ciara yang membuat wanita itu berdebar-debar.
"Sayang, aku bahagia banget kamu akhirnya mengandung anak aku! Aku jadi makin cinta deh sama kamu, rasanya aku gak sabar buat nunggu kelahiran anak kita ini!" bisik Libra.
"Ahaha, kamu ah bikin aku malu aja! Masih ada bu dokter tahu, kamu jangan gitu ah!" cibir Ciara.
__ADS_1
Libra melirik sejenak ke arah dokter di sebelahnya, lalu kembali berdiri tegak dan merasa tidak enak pada dokter itu. Namun, kemudian sang dokter malah berpamitan serta membiarkan sepasang suami-istri itu untuk menghabiskan waktu berdua menikmati momen indah mereka.
"Sayang, kita langsung cek sekarang aja yuk! Aku mau tahu, kamu beneran hamil atau enggak!" ajak Libra dengan senyum penuh harap.
Ciara mengangguk saja, ia dan suaminya pun pergi dari sana untuk melakukan pengecekan. Meski Libra sebenarnya sudah sangat yakin dengan ucapan dokter tadi, tetapi sesuai saran maka Libra ingin Ciara kembali mengeceknya melalui tes untuk lebih meyakinkan mereka kali ini.
•
•
Singkat cerita, Ciara telah melakukan tes dan hasilnya memang positif menunjukkan bahwa dirinya tengah hamil. Ciara pun sangat bergembira, ia menghampiri suaminya lalu menunjukkan hasil tes itu pada sang suami. Kini mereka berdua saling berpelukan dengan penuh bahagia, tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan ini selain dengan dinyatakannya Ciara hamil saat ini.
Libra benar-benar tak menyangka akhirnya sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, tentunya ia sudah tidak sabar akan hal itu dan ingin segera melihat bayinya lahir ke dunia. Ini merupakan momen yang ia harapkan dari dulu, walaupun ia sempat kecewa karena hasil yang dikatakan dokter Syifa sebelumnya mengenai kemandulan Ciara.
Seketika Libra kembali teringat pada dokter Syifa, ia tak mengira kalau dokter Syifa akan melakukan hal itu dan membohongi mereka sebelumnya. Libra pun mengepalkan tangannya, ia terlihat begitu emosi dengan rahang yang bergetar. Libra tahu ini semua adalah kesengajaan, karena tidak mungkin alat di rumah sakitnya rusak atau mengalami gangguan.
"Mas, udah ya kamu jangan mikirin soal dokter Syifa atau mau balas dendam ke dia! Kamu harus bisa tahan emosi, belum tentu juga semua dugaan kamu itu benar!" bujuk Ciara.
Libra terdiam, ia tak mendengarkan ucapan Ciara lantaran ia merasa dokter Syifa harus diberi pelajaran karena telah memberikan laporan palsu. Apalagi setelah mengetahui hasil tes dari dokter Syifa, kala itu Ciara sempat kabur dari rumah dan merasa tidak pantas untuk Libra. Bahkan, Ciara juga meminta Libra menikah dengan orang lain.
"Ciara cantik, tetap aja ini gak bisa dibiarin! Dokter Syifa udah bikin kesalahan yang fatal, dan aku gak terima sama semua ini sayang!" tegas Libra.
"Tapi mas, dokter Syifa itu kan teman dinas kamu loh. Gak mungkin dia tega jahatin kamu, bisa aja kan emang alatnya yang rusak. Udah ya kamu gausah salah paham dulu!" ucap Ciara membujuknya.
"Justru itu sayang, biar gak salah paham maka aku harus temuin dokter Syifa sekarang!" ujar Libra.
"Ya mas, aku ngerti sama kemauan kamu. Tapi, aku minta kamu jangan kebawa emosi ya! Kalau memang kamu mau ketemu sama dokter Syifa, yaudah aku izinin. Asalkan kamu mau janji sama aku, kamu harus bisa sabar!" pinta Ciara.
"Itu pasti, kamu gak perlu cemas soal itu sayang!" ucap Libra santai.
Ciara tak memiliki pilihan lain saat ini, karena memang Libra sangat sulit untuk ditentang atau dilawan ketika sudah menginginkan sesuatu. Ciara hanya bisa berdoa kali ini untuk kebaikan suaminya, ia tentu tak mau jika sampai terjadi sesuatu nanti antara Libra dan juga dokter Syifa. Apalagi, jika sampai Libra terbawa emosi karena hal itu.
Ciara mengangguk saja kali ini dan memberi izin, ia cium punggung tangan sang suami serta mengantar lelaki itu sampai ke depan rumah. Libra bergegas pergi dari rumah itu dengan mobilnya, meninggalkan Ciara sendirian dan masih tampak cemas karena kepergian Libra yang ingin menemui dokter Syifa.
•
•
Libra akhirnya sampai di rumah sakit tempat ia berdinas, tampak ia sangat emosi saat ini dan tidak sabar ingin segera menemui dokter Syifa disana. Tentu Libra hendak meminta penjelasan dari dokter Syifa mengenai hasil tes pemeriksaan yang dilakukan mereka kala itu, Libra penasaran apa penyebab dokter Syifa sampai memberikan hasil tes palsu kepadanya dan juga Ciara.
Kini pria itu tampak mengelilingi rumah sakit seolah mencari keberadaan dokter Syifa, ia juga bertanya pada para perawat yang ia temui disana untuk bisa menemui dokter Syifa. Namun, semua disana juga tidak tahu dimana dokter Syifa saat ini. Akhirnya Libra memilih terus berjalan, sampai tanpa diduga pria itu malah berpapasan dengan Gita yang kebetulan baru selesai memeriksa pasien.
"Loh Libra, kamu kok datang kesini sih? Jam dinas kamu itu udah lewat tahu, malah baru datang sekarang!" heran Gita.
Libra sebenarnya malas sekali meladeni omong kosong Gita saat ini, tapi ia tak memiliki pilihan lain karena bisa saja Gita mengetahui dimana dokter Syifa dan ia dapat memperoleh informasi darinya. Memang hanya Gita yang belum ia tanyai sedari tadi, meski ia juga tidak terlalu yakin kalau Gita bisa membantunya kali ini.
"Gita, kamu tahu gak dimana dokter Syifa sekarang? Saya ada perlu sama dia nih, saya mau bicara sama dia!" tanya Libra dengan ketus.
Gita sontak mengernyitkan dahinya, ia sungguh bingung mengapa Libra menanyakan dokter Syifa. Padahal, biasanya Libra tidak pernah membahas mengenai wanita itu atau siapapun yang ada di rumah sakit. Karena penasaran, Gita pun memilih bertanya lebih dulu kepada Libra dan meminta jawaban yang jelas dari pria itu.
"Loh Libra, kamu ngapain nanya-nanya soal dokter Syifa? Ada perlu apa?" heran Gita.
"Eee tolong kamu jawab aja Gita! Saya beneran ada keperluan penting banget sama dia, tapi maaf saya gak bisa kasih tahu kamu sekarang!" pinta Libra.
"Oh okay, gak masalah kok kalau kamu gak mau cerita. Tapi, aku gak tahu dia dimana," ujar Gita.
Libra menepuk jidatnya dan menyesal karena telah membuang-buang waktu disana bersama Gita yang malah tidak tahu apa-apa, Libra pun memutuskan untuk pergi dan mencari dokter Syifa di tempat lain. Akan tetapi, tiba-tiba saja ia melihat dokter Syifa yang baru keluar dari toilet dan berjalan ke arah yang berlawanan dengannya.
"Itu dia dokter Syifa," tanpa berpikir panjang, Libra bergegas mengejar dokter Syifa dan meninggalkan Gita begitu saja.
__ADS_1
Libra susah tidak memiliki kesabaran lagi, pria itu ingin dokter Syifa segera menjelaskan apa yang membuat dia sampai salah memberikan hasil tes kepada Ciara sebelumnya. Libra yakin sekali, bahwa semua alat di rumah sakit itu masih bagus dan tidak ada yang rusak atau bermasalah.
Akhirnya Libra berhasil melakukan itu, ia mencegah dokter Syifa yang hendak pergi lebih jauh dan memintanya untuk berhenti sejenak. Ya tampak dokter Syifa tersenyum ke arahnya, lalu menatap bingung melihat ekspresi Libra yang begitu emosi. Syifa pun sedikit merasa takut, hal itu dapat dilihat secara langsung oleh Libra kali ini.
"Iya dokter Libra, kenapa ya anda panggil saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Syifa.
"Oh ya saya perlu bantuan kamu, saya ingin bicara berdua dengan kamu. Pasti kamu punya waktu kan untuk itu?" ucap Libra dengan tegas.
"Hm, tentu dok. Mari, kita bicara di ruangan saya!" ajak dokter Syifa.
Tentu saja Libra setuju dengan usul dari dokter Syifa barusan, mereka sama-sama melangkah menuju ruangan wanita itu karena Libra sudah sangat penasaran ingin tahu alasan apa yang akan diberikan oleh dokter Syifa nanti setelah Libra membahas mengenai hasil tesnya kala itu.
•
•
Di dalam ruangan dokter Syifa, Libra tengah terduduk berhadapan dengan wanita itu dan tampak terus menatap wajah sang dokter sambil menunjukkan ekspresi kesalnya. Dokter Syifa terlihat masih kebingungan, ia belum mengerti apa yang terjadi sampai membuat Libra begitu kesal padanya dan ingin bicara dengannya kali ini.
Akhirnya untuk mempersingkat waktu, Libra pun menaruh kedua tangannya di atas meja lalu sedikit duduk membungkuk ke depan. Pria itu terus memberikan tatapan tajam ke arah dokter Syifa, yang tentunya membuat wanita itu merasa gusar sekaligus panik. Siapa yang bisa tahan saat ditatap seperti itu oleh seorang lelaki tampan?
"Langsung saja ya dok, saya tidak punya waktu untuk basa-basi sekarang! Saya cuma pengen tahu, kenapa dokter memberikan hasil tes palsu ke saya dan istri saya waktu itu?" tegas Libra.
Deg
Dokter Syifa sontak terkejut saat mendengar ucapan yang dilontarkan Libra barusan, ia bahkan tidak berani menatap wajah pria itu dan memilih memandang ke arah lain karena begitu bingung harus menjawab apa. Melihat reaksi dokter Syifa saat ini, Libra semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dari kelakuan dokter itu.
"Tolong jawab dengan jujur, dokter Syifa! Kalau anda tidak mau menjawabnya, maka saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum!" ancam Libra.
"Apa? Ja-jangan Libra, aku mohon kamu jangan lakukan itu!" pinta dokter Syifa.
"Yasudah, kalau begitu kamu harus jawab semua pertanyaan saya tadi dengan jujur!" tegas Libra.
"Ta-tapi Libra, aku emang gak tahu menahu soal hasil tes itu. Semuanya kan dari peralatan rumah sakit ini, mungkin aja emang lagi rusak atau ada masalah," ucap dokter Syifa mengelak.
"Jangan bohong kamu! Barusan saya sudah tanya ke atasan, beliau bilang tidak ada yang rusak disini. Lebih kamu jujur Syifa!" sentak Libra.
Lagi-lagi dokter Syifa dibuat terdiam kali ini tanpa mampu menjawab apa yang dikatakan Libra, wanita itu sungguh bingung dan tak tahu harus mengatakan apa di hadapan Libra saat ini. Lelaki itu tampak sangat emosi, sehingga dokter Syifa semakin gugup serta kebingungan menghadapinya.
"Sebentar deh Libra, darimana kamu tahu kalau hasil tes itu palsu? Memangnya kamu udah periksa sendiri kondisi istri kamu itu? Atau kamu cuma gak terima karena hasil itu menyatakan kalau istri kamu mandul?" ucap dokter Syifa.
Braakkk
"Istri saya itu tidak mandul!" Libra langsung berdiri dan menggebrak meja dengan keras sampai membuat dokter Syifa terpejam.
Sepertinya Libra memang benar-benar emosi saat ini, tidak ada ampun bagi siapapun yang berani membohonginya atau bahkan sengaja ingin merusak hubungan rumah tangganya dengan Ciara. Meskipun orang itu adalah dokter Syifa, rekan kerjanya yang sudah lama ia kenal dan saling berteman.
Sebagai bukti, Libra pun menyerahkan surat tes yang menyatakan Ciara dalam kondisi hamil kepada dokter Syifa. Lelaki itu kembali mencecar dokter Syifa dan menantikan jawaban darinya, karena ia sangat yakin kalau dokter Syifa sedang menyembunyikan sesuatu.
"Itu bukti hasil tes dari rumah sakit lain, yang menyatakan Ciara sedang hamil. Mengapa hasilnya bisa berbeda dengan yang anda berikan waktu itu, ha?" ucap Libra tegas.
Dokter Syifa hanya bisa terdiam bingung, ia coba berpikir keras mencari-cari alasan yang tepat agar Libra tidak terus mencurigainya. Biar bagaimanapun, Syifa tak mau Libra membencinya dan menganggap ia telah melakukan kecurangan. Apalagi, selama ini Syifa memang diam-diam mengagumi Libra.
"Ya mungkin aja kan hasil yang aku berikan itu benar, tapi karena sudah lama ya jadinya beda sama yang sekarang. Aku kan gak bilang Ciara gak bisa hamil, cuma kemungkinannya aja yang kecil," ujar Syifa.
Alasan yang diberikan Syifa berhasil membuat Libra merasa percaya jika wanita itu memang tidak berniat jahat untuknya, tetapi semuanya masih belum selesai begitu saja dan Libra tetap akan terus menyelidiki ini untuk memastikan apakah Syifa berkata jujur atau masih berbohong padanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1