
Hari sudah malam, Ciara menghampiri suaminya di dalam kamar yang terlihat tengah sibuk berkutat di depan layar komputer miliknya. Gadis itu menelan saliva nya sembari menutup pintu dengan sangat berhati-hati, ia tidak mau mengganggu keseriusan Libra dan juga ia tak ingin rencananya untuk menggoda pria itu gagal kali ini.
Perlahan Ciara melangkah ke dekat Libra, ia baru berhenti tepat di belakang suaminya itu. Satu tangannya ia taruh di atas pundak sang suami, suara lembutnya menyapa lelaki itu dan membuat Libra terhenyak. Libra menoleh, lalu terpana melihat penampilan Ciara saat ini. Ya bagaimana tidak? Kini Ciara mengenakan baju tidurnya yang tipis dan tembus pandang, memperlihatkan bagian dalam tubuh gadis itu yang mengundang gairahnya.
"Loh sayang, kamu apa-apaan sih pakai baju beginian? Dapat darimana coba kamu baju kayak gini?" tanya Libra terheran-heran sembari berusaha menahan gairahnya.
Ciara terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya, wajar saja Libra terkejut karena memang baru kali ini pria itu melihat Ciara berpakaian seksi seperti sekarang ini. Biasanya Ciara sendiri lah yang selalu menolak jika diminta memakai baju yang terbuka, namun kali ini gadis itu malah datang dengan kondisi yang jauh berbeda dibanding biasanya.
"Iya dad, aku dikasih baju ini sama mama. Katanya sih khusus dipakai kalau lagi berduaan sama kamu, supaya kamu bisa tergoda," jawab Ciara dengan polosnya. Gadis itu tidak tahu, jika ucapannya malah semakin membuat Libra tak tertahankan.
"Oh begitu toh, bagus deh jadinya aku gak perlu susah-susah minta kamu buat goda aku. Emang ya mbak Nadira itu pengertian banget," ucap Libra.
"Yeu dasar daddy aja yang mesum!" Ciara mencibir bibirnya melihat Libra yang langsung beranjak dari kursi dan mendekatinya dengan wajah bergairah.
"Ahaha, kan kamu yang goda aku duluan baby. My bunny yang aku sayang dan cinta!" ucap Libra sensual seraya mendekap tubuh istrinya itu.
Ciara tersenyum saja, menikmati kecupan lembut sang suami di dahinya. Lalu, Libra juga beralih mengecup kulit lehernya dan meninggalkan jejak disana. Keduanya saling bertatapan, tak lama kemudian bibir mereka bertaut dan terciptalah ciuman panas yang membara disana.
"Dad, aku siap sekarang. Kalau daddy mau, ayo kita lakukan sekarang!" ucap Ciara lirih sembari mengusap dada bidang sang suami.
Libra terkejut bukan main, namun kemudian ia tersenyum menyeringai merasa puas dengan kata yang diucapkan oleh Ciara barusan karena inilah yang ia tunggu sejak lama.
"Kamu serius sayang?" tanya Libra tak percaya.
Ciara manggut-manggut sebagai jawaban, tanpa berpikir panjang Libra langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Saat itu juga, Libra mencumbu setiap inci bagian tubuh Ciara tanpa ada yang terlewati sama sekali.
Sreekk
Libra yang tak tahan lagi, langsung merobek baju yang dikenakan oleh istrinya itu. Sehingga kini tubuh Ciara polos tanpa sehelai benangpun yang menutupinya, sungguh Ciara terkejut dan tak percaya dengan tindakan kasar yang Libra lakukan barusan. Padahal biasanya, lelaki itu selalu bersikap lembut setiap kali hendak bermain panas dengannya.
"Aaaaa kenapa baju aku dirobek dad!!" Ciara tentu memprotes tindakan suaminya, karena itu adalah pakaian baru yang dimilikinya dan merupakan pemberian spesial dari sang mama.
"Sssttt, nanti daddy belikan yang baru untuk kamu baby. Sekarang kita nikmati saja malam panas ini ya sayang?" bujuk Libra.
Ciara hanya bisa meneguk ludahnya mendengar ucapan sensual dari sang suami, wanita itu kembali memejamkan mata begitu Libra memberi kecupan di area lehernya. Keduanya pun larut dalam kenikmatan, sampai kini tibalah saatnya Libra akan menuju ke inti permainan dimana miliknya hendak masuk kandang alias lubang milik Ciara.
"Tahan ya sayang, ini akan sakit. Tapi, setelah itu kamu akan merasakan surga dunia yang sesungguhnya baby!" bisik Libra.
Libra pun mencoba memasukkan miliknya, saat itu juga Ciara menjerit kesakitan karena belum pernah melakukan itu. Namun, Libra tampak kesulitan saat hendak memasukkan miliknya ke dalam sana karena milik Ciara yang sangat sempit.
Bleshh
Akhirnya Libra berhasil menanamkan miliknya di dalam sana, ia pun mendiamkan sejenak sampai Ciara terbiasa dengan miliknya dan coba menenangkan sang istri.
"Akh sakit!!"
•
•
Keesokan paginya, Ciara terbangun dengan tubuh yang terasa remuk dan pegal akibat gempuran dari sang suami semalam. Ya mereka menghabiskan waktu sampai pukul tiga pagi, dan Ciara juga dibuat keluar berkali-kali oleh Libra. Ini pengalaman pertamanya, tetapi Libra seolah tak perduli dan terus saja memompa miliknya sampai membuat Ciara lemas lalu tak sadarkan diri karena keletihan.
Wanita itu pun berusaha bangkit, ia terduduk di ranjang sembari menahan sakit pada area miliknya. Matanya menatap ke arah samping, dimana suaminya itu masih tertidur lelap setelah puas menggempurnya semalam. Ciara tersenyum, ia senang melihat suaminya bahagia semalam dan tidak ada penyesalan tentunya. Justru yang Ciara sesali adalah, mengapa ia baru memberikannya semalam dan tidak dari awal mereka menikah.
Akibat terbawa suasana, Ciara malah mengulurkan tangannya mengusap tubuh Libra yang hanya tertutupi selimut itu. Ya satu tangannya meraba dan menyentuh sensual wajah tampan sang suami, senyuman juga terus melebar di kedua pipinya saat memandang wajah Libra yang tetap terlihat tampan meski sedang tertidur seperti itu.
"Dad, kamu kok bisa setampan ini sih??" lirih Ciara sambil terus mengusap wajah suaminya.
Tiba-tiba saja, tangan Libra bergerak dan menggenggam telapak tangan sang istri yang berada di wajahnya. Sontak Ciara terkejut, matanya membulat seketika begitu melihat cengkraman dari Libra yang begitu kuat. Lalu, Libra membuka mata dan tersenyum menatap istrinya. Ciara pun tersipu, wajahnya memerah seketika dan tak tahu harus berkata apa kali ini.
__ADS_1
"Ohh, jadi kamu sukanya diam-diam usap wajah aku ya sayang?" goda Libra.
"Ih apa sih dad? Kenapa daddy gak bilang kalau udah bangun?" kesal Ciara pada suaminya.
"Ahaha, good morning baby. Aku sengaja diem dulu tadi, aku mau lihat apa sih yang kamu lakuin kalau aku lagi tidur. Eh ternyata kamu usap-usap muka aku kayak gitu," kekeh Libra.
"Tau ah bete aku sama daddy! Lepasin tangan aku, aku mau mandi!" sentak Ciara.
"Iya baby, kita nanti mandi bareng ya?" ajak Libra.
"Hah? Ih gak mau, nanti yang ada mandinya gak kelar-kelar kalau bareng sama daddy. Mending aku duluan yang mandi, daddy mah nanti aja abis aku!" ucap Ciara menolak.
Ya bukan Libra jika tak memaksakan kehendaknya, pria itu pun tetap memaksa pada Ciara untuk mandi bersamanya. Berkali-kali Libra menarik lengan Ciara dan sesekali mengecupnya, sehingga Ciara tak memiliki pilihan lain selain menuruti saja permintaan suaminya yang gendeng itu.
"Yaudah iya iya, aku mau mandi bareng sama daddy. Tapi, syaratnya daddy harus nurut ya jangan ngelakuin apa-apa selain mandi!" ucap Ciara.
Libra manggut-manggut seraya bangkit dari posisinya, lalu mengajak Ciara untuk sama-sama pergi ke kamar mandi dengan cara menggendong wanita itu. Namun, Ciara dengan tegas menolak dan tidak mau digendong oleh suaminya itu. Ya Ciara mengatakan jika dirinya mampu berjalan sendiri, sehingga membuat Libra terkekeh.
"Aku gak mau digendong sama daddy, aku bisa kok jalan sendiri. Emangnya daddy pikir aku ini anak bayi apa?" ucap Ciara mengerucutkan bibirnya.
Libra tersenyum lebar sembari merangkul istrinya, "Kamu yakin gak mau digendong sama daddy, hm? Semalam kan kita habis main sampai jam 3 pagi, pasti punya kamu masih sakit tuh," ucapnya.
"Aku bisa kok, lihat nih!" ujar Ciara.
Ciara langsung mencoba bangkit dan turun dari ranjang, tetapi baru saja ia hendak berjalan rasanya area bawah miliknya terasa amat sakit. Ciara pun merintih menahan sakit, mengurungkan niatnya dan malah tetap duduk di ranjang saat ini.
Libra yang melihatnya tertawa terbahak-bahak, seolah puas meledek istrinya itu. Akhirnya tanpa berbicara apapun, Libra langsung menggendong Ciara ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini Ciara tak menolak, sebab sudah terlanjur juga dan memang dia bahagia dapat digendong oleh suaminya itu.
Mereka pun mandi bersama, dan tidak ada pengulangan kegiatan semalam karena Libra merasa kasihan pada istrinya yang masih sakit.
•
•
"Mas, kamu jadi mau berangkat ke luar kota hari ini? Apa gak bisa ditunda, mas?" tanya Nindi.
Leon tersenyum dan menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu beralih menatap Nindi yang ada di sebelahnya. Pria itu memang hendak pergi ke luar kota untuk menemani Galen mengurus urusan kantornya, walau sebenarnya Leon tidak tega meninggalkan Nindi dan juga putrinya itu.
"Iya sayang, aku minta maaf ya karena aku harus tinggalin kamu! Tapi, aku gak lama kok. Mungkin sekitar tiga hari dari sekarang, aku bakal balik lagi kesini," ucap Leon.
Nindi mengangguk paham, "Gapapa kok mas, lagian kamu kan harus kerja. Sini aku bantu beresin pakaian kamu ya mas!" ucapnya.
"Eh gausah, aku bisa sendiri kok. Kamu sarapan aja dulu sana sama Daiva! Nanti aku nyesel setelah selesai beresin ini," ucap Leon.
"Gak mau, kita sarapannya bareng-bareng nanti. Ini kamu gendong Daiva dulu, biar aku aja yang masukin baju-baju kamu!" ucap Nindi.
"Iya iya sayang..."
Leon menuruti permintaan istrinya, ia pun mengambil alih tubuh Daiva dan menggendongnya sembari tersenyum. Sedangkan Nindi tampak mengurusi pakaian milik Leon dan memasukkannya ke dalam koper, meski Nindi masih tidak rela jika suaminya pergi walau hanya tiga hari.
Setelah selesai, kini Nindi mengajak suami dan anaknya itu untuk sarapan di luar. Leon menurut saja, lalu melangkah keluar bersama-sama dari kamar tersebut menuju meja makan. Disana lah sudah tersedia makanan untuk mereka bertiga, yang tentunya dimasak sendiri oleh Nindi tadi saat sebelum menghampiri suaminya.
Ketiganya terduduk disana, dengan Leon yang masih menggendong Daiva. Nindi pun menyiapkan makanan untuk suaminya, menaruh nasi serta lauk yang telah ia masak itu ke dalam piring kosong yang akan diberikan kepada Leon. Tak lupa Nindi juga mengambil makanan untuknya, sebelum memulai sarapan pagi mereka hari ini.
"Nah mas, makan dulu ya biar kamu gak sakit! Sini Daiva biar sama aku, sekalian aku mau suapin dia!" ucap Nindi.
"Oke sayang, sama mama dulu ya?" Leon pun memberikan Daiva kepada Nindi.
Saat mereka hendak melakukan sarapan, tiba-tiba saja Rifka muncul menghampiri mereka dan langsung berniat membantu Nindi untuk menyuapi Daiva. Ya Rifka tak mau karena Daiva, kebersamaan Nindi serta suaminya terganggu. Untuk itu Rifka hendak membawa Daiva keluar, supaya Nindi bisa memiliki waktu bersama Leon disana.
__ADS_1
"Nindi, sini Daiva biar sama aku! Aku kan udah sarapan, jadi aku bisa santai suapin Daiva sekalian nanti aku mandiin dia. Biar kamu juga bisa makan bareng sama Leon," ucap Rifka.
"Eh mbak, gausah mbak aku bisa kok sarapan sekalian suapin Daiva," ucap Nindi menolak.
"Ah udah gapapa Nindi, tugas aku disini kan bantu kamu buat rawat Daiva. Kalau kamu gak bolehin aku suapin Daiva sekarang, terus aku ngapain dong ikut kamu tinggal disini? Lagian kamu kan juga pasti mau punya waktu berdua sama Leon," ucap Rifka.
"Iya Nindi, udah kasih aja Daiva ke Rifka biar kamu bisa fokus sarapan!" sahut Leon.
"Iya mas."
Nindi tak lagi melawan kali ini, ia memberikan putrinya kepada Rifka dan membiarkan wanita itu menyuapi Daiva di luar. Ya langsung saja Rifka pergi membawa Daiva, sehingga Nindi hanya tinggal berdua bersama Leon di meja makan. Sontak Leon menatap wajah istrinya itu sambil senyum-senyum, tetapi Nindi tak merespon dan malah asyik memakan makanannya.
"Sayang, kamu mau janji kan sama aku?" Leon tiba-tiba bertanya seperti itu pada Nindi, sembari tersenyum dan memandang wajahnya.
"Hah? Janji apa mas?" tanya Nindi kebingungan.
"Janji ke aku, kalau kamu gak akan bahas soal perceraian kita lagi!" jawab Leon.
Deg
•
•
Ciara dan Libra baru selesai sarapan dan mencuci piring bersama, kini mereka tampak tengah duduk santai di sofa sembari menonton tv yang menampilkan acara favorit mereka. Sepasang suami-istri itu masih begitu ceria, mereka saling merangkul satu sama lain dan bergantian menyuapi cemilan yang tersedia di atas meja.
Sesekali mereka juga bercanda tawa, sampai melupakan tontonan di tv karena terlalu asyik berdua. Libra merasa gemas pada tingkah istrinya itu, ia sangat bahagia karena dapat memiliki wanita secantik dan semanis Ciara. Hidupnya terasa lebih sempurna kali ini, dengan kehadiran Ciara di sisinya yang membuatnya lebih berwarna.
"Ciara sayang, kira-kira kamu mau aku ajak honeymoon kemana hm?" tanya Libra tiba-tiba.
Ciara tersentak mendengarnya, "Serius dad? Daddy mau ajak aku bulan madu gitu, emangnya bisa?" ucapnya seolah tak percaya.
"Ya bisa dong sayang, buat kamu apa sih yang aku gak bisa? Lagian aku udah ajuin cuti dua Minggu kok ke rumah sakit, jadi kita bisa puas-puasin liburan berdua nanti!" ucap Libra.
"Wah asyik dong dad! Kalo gitu aku mau ke luar negeri, aku bosan soalnya disini-sini aja. Daddy bisa kan bawa aku ke luar negeri?" ucap Ciara.
Libra tersenyum, kemudian mencolek hidung Ciara dan mengatakan kalau ia bisa menyanggupi permintaan istrinya itu. Libra juga mengatakan jika dirinya akan segera membeli tiket pesawat serta hotel untuk mereka, karena Libra ingin cepat-cepat membawa Ciara pergi berlibur dan menikmati momen berdua sebagai sepasang suami-istri.
Tentu saja Ciara sangat senang mendengarnya, inilah yang ia inginkan sejak lama dan akhirnya dapat terwujud dikala ia telah resmi menjadi istri dari lelaki yang ia cintai itu. Apalagi mereka akan pergi berlibur ke luar negeri, yang mana itu merupakan sesuatu yang jarang atau bahkan belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah tiket berhasil dibeli, Libra pun mengajak Ciara bersiap-siap karena besok mereka akan langsung berangkat bulan madu. Ciara sangat terkejut, tak menyangka jika secepat itu Libra mengajaknya pergi ke luar negeri. Namun, Ciara menurut saja dan malah senang dengan tindakan Libra yang menurutnya romantis itu.
"Aku senang banget deh dad, rasanya aku masih gak nyangka kalau kita bisa jadi suami-istri kayak sekarang ini! Dari sekian banyak cobaan yang kita lalui, akhirnya kita bisa bersama dan hidup bahagia berdua deh!" ucap Ciara tersenyum lebar.
Libra mengeratkan pelukannya, "Ya sayang, begitu juga yang aku rasain. Aku beruntung bisa memiliki kamu seutuhnya, karena banyak sekali lelaki yang menginginkan kamu Ciara!" ucapnya.
Mereka terus memeluk satu sama lain, mengusap lembut punggung serta lengan dan memberi kehangatan masing-masing. Setelah itu, mereka pun pergi ke kamar untuk menyiapkan barang-barang yang ingin mereka bawa dalam berlibur kali ini. Ciara tak henti-hentinya tersenyum, tampaknya wanita itu amat bahagia dan tidak sabar ingin segera pergi bulan madu bersama suaminya.
Singkat cerita, pasangan muda itu pergi ke rumah Nadira terlebih dulu untuk pamit sebelum mereka akan benar-benar berangkat menuju tempat libur nanti. Ya mereka terlihat sudah membawa koper masing-masing, lalu bergegas menemui Nadira serta Gavin di dalam sana dan mengatakan niat mereka untuk pergi berlibur.
Mendengar penjelasan dari putrinya, sontak saja Nadira terkejut karena ia mendengar kabar itu secara mendadak. Sebelumnya Nadira tak mengira jika Ciara ingin pergi bulan madu, ya karena memang rencana Libra itu terlalu tiba-tiba sehingga mereka belum sempat membicarakan itu sebelumnya. Maka dari itu, Ciara pun coba memberi penjelasan kepada mamanya agar tidak ada salah pengertian.
Lambat laun Nadira berhasil memahami itu semua, lagipula Nadira juga tak mungkin bisa melarang putrinya untuk tidak pergi bersama suaminya. Kini Ciara telah resmi menjadi istri dari Libra, dan tentu Libra punya hak untuk membawa Ciara kemanapun yang dia inginkan. Akhirnya Nadira memberi mereka izin, tentu saja Ciara senang mendengarnya.
"Makasih ya ma, nanti aku bawain mama sama papa oleh-oleh dari sana. Mama papa gak perlu khawatir, kita pasti ingat kok sama kalian!" ucap Ciara.
"Ahaha, bisa aja ah kamu. Oleh-oleh buat kita mah gak perlu dipikirin, yang penting itu cucu buat mama sama papa. Karena gak ada oleh-oleh apapun yang lebih berharga, dari cucu. Mama tunggu ya sayang?" ucap Nadira sambil tersenyum.
Ciara terdiam dan melongok lebar dibuatnya, ia melirik ke arah Libra lalu dibalas dengan kekehan kecil dari suaminya itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...