
Tiara masih terlihat pembicaraan dengan Adrian di taman kantor dan tampak saling memandang satu sama lain, Adrian sepertinya belum puas dengan jawaban Tiara dan terus mencecar wanita itu untuk memberi jawaban yang pas. Adrian sangat berharap kalau Tiara memang hamil, meski ia sendiri belum tahu kebenarannya apakah Tiara sempat hamil anaknya dulu ketika mereka sempat melakukan itu.
Kini Tiara tampak terus menundukkan wajahnya dan tak sanggup menatap sang bos, entah kenapa ia benar-benar dibuat tak berkutik karena Adrian terus saja memandang wajahnya sambil menggenggam satu tangannya. Adrian berulang kali juga meminta Tiara untuk jujur, padahal sedari tadi wanita itu sudah berkata kalau ia sama sekali tidak pernah hamil dan tuduhan Adrian sangat tidak benar.
Namun, keyakinan Adrian sepertinya membuat pria itu tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Tiara. Adrian yakin sekali kalau Tiara pernah mengandung anaknya, meski ia belum tahu apakah itu benar atau tidak. Kala itu Adrian memang mengeluarkan cairannya di dalam rahim Tiara, sehingga tak menutup kemungkinan jika Tiara memang hamil anaknya dan menutupi itu darinya.
"Kamu kenapa diam sih Tiara? Gak sanggup jawab pertanyaan saya ya?" tegur Adrian.
Masih tidak ada jawaban dari Tiara, wanita itu belum tahu harus mengatakan apa kepada Adrian yang terus saja memaksanya. Tiara merasa kalau Adrian terlalu berharap dirinya hamil, padahal nyatanya ia sama sekali tidak mengalami itu. Memang dulu Tiara cemas akan terjadi hal itu, namun syukurnya tidak ada benih yang tumbuh di rahimnya.
"Tiara, kalau kamu tidak menjawab itu artinya kamu benar pernah hamil anak saya! Saya minta kamu jujur sekarang, jangan bohongi saya!" ucap Adrian dengan tegas dan lantang.
"Bapak bicara apa sih? Saya sudah bilang, saya tidak pernah hamil. Bapak itu salah kira, sebaiknya kita kembali ke kantor pak. Masih banyak kerjaan yang harus saya selesaikan, tolong bapak jangan bikin kinerja saya jadi buruk ya!" ucap Tiara.
Adrian menggeleng perlahan, "Saya gak percaya sama kamu, saya yakin kamu pasti sembunyikan sesuatu dari saya!" ucapnya kekeuh.
"Bapak itu kenapa sih? Kok kayaknya bapak berharap banget saya hamil? Harusnya bapak senang dong kalau saya gak hamil, jadinya bapak gak perlu panik dan tanggung jawab untuk itu!" ucap Tiara heran.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Tiara barusan, seharusnya Adrian senang jika Tiara tidak mengandung anaknya. Entah mengapa Adrian sendiri tak tahu apa alasannya bertanya seperti itu, seolah-olah Adrian sangat menginginkan Tiara mengandung sosok anak darinya. Padahal, Adrian sendiri tahu kalau ia sudah menikah dengan Salma.
"Kenapa pak? Bapak pengen saya hamil anak bapak, iya?" tanya Tiara lagi.
"Tidak Tiara, bukan begitu. Saya hanya ingin pastikan kalau kejadian kita malam itu tidak menghasilkan apa-apa, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh dong Tiara!" elak Adrian.
"Oh bagus dong, berarti bapak harus senang karena saya memang tidak hamil!" ucap Tiara.
"Eee ya Tiara, sa-saya bersyukur kok untuk itu. Saya juga senang kalau ternyata kamu memang tidak pernah hamil anak saya," gugup Adrian.
Tiara tersenyum mendengarnya, mereka tak tahu kalau sedari tadi ada yang sedang mengawasi mereka dari jauh. Sosok itu adalah Galen, ya dia tak sengaja melihat Tiara tengah duduk bersama Adrian di depan sana. Maka dari itu, Galen pun memutuskan untuk mengintip serta menguping pembicaraan mereka dari tempatnya berdiri.
"Ohh, jadi mereka memang punya hubungan di belakang bu Salma? Wah parah nih, pantas aja Tiara makin jauh dari saya!" gumam Galen lirih.
•
•
__ADS_1
Disisi lain, Cyra hendak membeli makanan serta minuman di kantin rumah sakit sesuai perintah mamanya tadi. Gadis itu pun bergegas menuju kantin yang letaknya agak lumayan, meski begitu ia tetap bersemangat karena telah melihat langsung bahwa kondisi papanya baik-baik saja. Setidaknya, Cyra merasa lega dengan apa yang terjadi saat ini.
Disaat Cyra tengah asyik berjalan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika seorang pria berdiri di depannya dan menatap tajam ke arahnya. Cyra terkejut, sebab pria yang muncul tersebut adalah Davin alias guru di sekolahnya. Cyra pun mendadak tak dapat berbuat apa-apa, ia bingung mengapa bisa Davin berada di rumah sakit itu.
"Halo Cyra!" Davin menyapa muridnya dengan santai disertai senyum lebarnya.
Gadis itu masih terdiam tak berkutik, tatapan matanya juga belum lepas dari wajah sang guru yang ada di hadapannya. Cyra tak tahu harus berkata apa, ia benar-benar bingung dan tak menyangka kalau akan bertemu Davin disana. Padahal, Cyra tak pernah memberitahu lokasi dirinya saat ini kepada siapapun, termasuk Davin tentunya.
"Kamu kenapa diam aja, hm? Gak senang ya ketemu saya disini? Apa karena kamu takut kalau ketahuan bolos sekolah?" tegur Davin.
Cyra langsung tersadar dari lamunannya ketika mendengar ucapan Davin itu, ia pun mengelak dan mengatakan kalau dirinya bukan membolos melainkan meminta izin untuk tidak masuk sekolah karena harus menemani papanya.
"Bu-bukan begitu pak, saya kan udah minta izin tadi buat gak masuk hari ini. Papa saya sakit pak, dia dirawat disini. Bapak sendiri ngapain coba ada disini?" ucap Cyra.
"Hahaha, ya saya tahu kok Cyra. Saya kesini justru untuk menengok papa kamu," jawab Davin santai.
Deg
Cyra terbelalak dan semakin bingung dibuatnya, ia heran mengapa bisa Davin mengetahui hal itu serta tempat dimana papanya dirawat. Cyra terus berpikir keras demi bisa menemukan jawabannya, tetapi Cyra akhirnya menyerah karena kepalanya terasa pusing jika terus memikirkan itu.
"Ikut sama saya yuk Cyra! Saya akan jelaskan semuanya nanti ke kamu, sekalian kita juga minum disana!" ajak Davin.
"Tapi pak, saya—"
Belum sempat Cyra menyelesaikan ucapannya, Davin sudah lebih dulu mencekal lengannya dan memaksa gadis itu untuk ikut dengannya. Cyra tak memiliki pilihan lain, terpaksa ia mengikuti kemauan Davin dan melangkah bersamanya. Mereka pun pergi menuju kantin rumah sakit, karena Davin ingin mengatakan sesuatu kepada Cyra nanti.
Sepanjang jalan, lengan Cyra terus digenggam oleh Davin seolah tak ingin dilepaskan. Cyra juga tidak bisa berontak, sebab cengkraman Davin memang cukup kuat dan memaksa. Lagipula, tak ada salahnya apa bila Davin melakukan itu padanya. Meski Libra telah memintanya menjauh dari Davin, tapi entah mengapa Cyra tak bisa menurutinya.
Sejak bertemu dan mengenal sosok Davin, kini Cyra merasa memiliki seorang ayah yang benar-benar sayang dan perduli padanya. Berbeda dengan Libra, Davin justru lebih perhatian padanya dan juga mengerti apa yang ia rasakan. Memang Cyra tetap menyayangi Libra, hanya saja ia merasa jika Davin jauh lebih baik dibanding ayah kandungnya sendiri.
"Maafin aku pa, aku belum bisa turutin kemauan papa untuk menjauhi om Davin! Gak tahu kenapa, tiap ada di samping om Davin tuh aku selalu ngerasa nyaman," batin Cyra.
•
•
__ADS_1
Singkat cerita, Cyra dan Davin akhirnya tiba di kantin rumah sakit sesuai tujuan mereka tadi. Tanpa banyak berpikir, Davin langsung menyuruh Cyra untuk duduk bersamanya disana dan memesan apa yang gadis itu inginkan. Cyra menurut, ia pun memesan sebuah minuman untuknya sebagai teman dalam mengobrol bersama Davin saat ini.
Setelah minuman mereka datang, Davin pun sontak menatap ke arah wajah gadis di hadapannya yang begitu mencuri perhatiannya. Setiap kali Davin berhadapan dengan Cyra, rasanya pria itu seperti tengah menatap sosok Ciara. Senyum pun terukir di bibirnya, membuat Cyra merasa bingung sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Pak, kenapa bapak ngeliatin saya kayak gitu? Apa ada yang salah sama saya, atau penampilan saya yang pakai baju sekolah ini bikin bapak ketawa?" tanya Cyra dengan wajah terheran-heran ala dirinya.
"Hah? Eee gak gitu kok Cyra, saya aja gak ketawa daritadi kan. Saya ini senyum karena saya kagum sama kamu Cyra, kamu begitu perduli dengan ayah kamu yang sedang dirawat! Andai saya bisa punya anak seperti kamu," ucap Davin.
"Umm, emangnya anak bapak itu kayak gimana? Dia gak perduli sama bapak gitu?" tanya Cyra lagi.
Davin menggeleng perlahan, "Saya belum punya anak, Cyra. Saya aja masih single sampai sekarang," jawabnya sambil tersenyum.
"Ups!" Cyra reflek menutupi mulutnya dan merasa bersalah dengan ucapannya.
Namun, Davin justru terkekeh dan menarik tangan Cyra agar tidak perlu menutup mulut karena tindakan gadis itu tidak salah. Davin mewajarkan apabila Cyra bertanya seperti itu padanya, karena memang harusnya saat ini Davin sudah memiliki anak. Tapi, nyatanya Davin masih saja menjomblo dan belum bisa melupakan sosok Ciara dari pikirannya.
"Maafin aku ya pak, aku gak tahu kalau pak Davin belum nikah dan belum punya anak!" ucap Cyra lirih.
"No no no, kamu gak salah Cyra! Emang saya aja yang belum mau menikah, gak tahu juga kenapa. Ya mungkin saya lebih suka sendiri," ucap Davin.
"Tapi pak, bukannya nikah lebih asyik ya?" tanya Cyra.
"Ya kamu betul, tapi itu asyik kalau kita menikah dengan seorang yang kita cintai. Jika tidak, maka akan terasa hambar," jawab Davin.
"Ohh, berarti aku harus cari laki-laki yang beneran aku cintai ya pak buat dinikahin?" ucap Cyra.
"Iya Cyra, tapi emangnya kamu udah mau nikah sekarang?" ucap Davin sambil tersenyum.
Cyra terkejut, "Gak gitu lah pak, itu maksudnya buat nanti loh kalo aku pengen nikah. Sekarang mah belum mau lah, aku aja lulus SMP masih belum," ucapnya mengelak.
"Hahaha, kirain kamu mau nikah muda. Kalah dong saya sama kamu nanti," kekeh Davin.
Cyra ikut tertawa mendengar ucapan gurunya itu, ia merasa semakin nyaman tiap berada di dekat Davin dan tidak ingin menjauhinya. Cyra beruntung bisa mengenal sosok seperti Davin, yang begitu baik dan perhatian padanya. Disaat Cyra merasa kekurangan kasih sayang dari sang ayah, muncullah sosok Davin di dalam hidupnya yang seolah menggantikan peran ayah kandungnya untuk memberikan kasih sayang.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...