
Galen masih bersama Tiara di dalam mobilnya kali ini, ia tersenyum lebar sambil sesekali melirik ke arah wanita itu yang sedang terduduk dan melamun memikirkan kejadian sebelumnya. Galen sungguh bingung saat ini, ia tak mengerti apa yang terjadi antara Tiara dan Adrian yang sampai membuat Tiara sesedih itu. Apalagi, tadi dengan jelas Tiara meminta dirinya untuk mengantarnya pulang ke rumah, tentunya itu merupakan sesuatu yang aneh.
Galen yakin sekali kalau Tiara sedang memiliki masalah kali ini dengan bosnya, itu sebabnya Tiara terus melamun dan bahkan tadi sempat terlihat ribut bersama Adrian di pinggir jalan. Hanya saja, Galen masih belum tahu apa masalah yang terjadi diantara Tiara dan Adrian itu. Galen berusaha tetap diam dan tidak ingin mencari tahu lebih lanjut, karena ia takut apabila Tiara merasa risih lalu turun dari mobilnya.
"Mas, aku turun disitu aja ya? Makasih udah mau anterin aku sekarang, tapi kayaknya aku lanjut pake taksi aja nanti," pinta Tiara.
"Hah kok gitu? Udah aku antar aja sampai rumah kamu Tiara, masih jauh loh ini. Gimana nanti kalau kamu ketemu orang jahat terus kamu diculik, hm? Aku juga yang repot loh Tiara," ucap Galen.
"Ck, gausah sok perduli deh sama aku! Justru sekarang aku ini lagi sama orang jahat tau, kamu itu kan udah pernah culik aku!" ucap Tiara.
Galen tersenyum dibuatnya, "Hehe, itu kan karena aku pengen ngancem kamu supaya bolehin aku buat bawa Askha tinggal sama kamu. Lagian aku juga taruh kamu di tempat yang nyaman, terus memperlakukan kamu dengan baik," ucapnya.
"Dengan baik apanya, mas? Kamu aja perkosa aku tiga kali loh, aku gak terima ya!" sentak Tiara.
Bukannya merasa takut atau menyesal, Galen justru terkekeh dan menggerakkan satu tangannya untuk mengusap puncak kepala Tiara dengan lembut. Sontak Tiara menyingkir dari usapan pria itu, jujur ia tak suka dengan sikap Galen yang seenaknya saja menyentuh dirinya. Padahal, diantara mereka saat ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
"Aku minta maaf sayang! Tapi, kamu juga keenakan kan waktu itu? Anggap aja hal itu sebagai nostalgia kita Tiara sayang, kan udah lama kita gak melakukan itu," goda Galen.
Plaaakk
"Jaga mulut kamu ya mas! Kamu kira aku perempuan model apa, ha? Dasar cowok mesum!" sentak Tiara sembari menampar wajah pria itu.
Galen benar-benar terkejut dan tak menyangka kala Tiara menampar wajahnya dengan sangat keras, ia terus mengusap bekas tamparan itu dan terlihat merintih sambil terus memandangi wanita itu. Galen harus banyak-banyak bersabar kali ini, mengingat ia sudah sering sekali menyakiti Tiara sebelumnya dan membuat wanita itu bersedih.
"Iya iya, aku salah lagi aku minta maaf. Tapi aku tetap gak mau berhenti sayang, aku akan anterin kamu sampai ke rumah. Lagian ini udah malam, bahaya loh kalau kamu pergi sendirian begitu," ucap Galen tetap kekeuh.
"Haish, kamu gausah banyak alasan deh! Turunin aku sekarang mas!" pinta Tiara.
Galen tetap tidak mau menghentikan mobilnya kali ini, ia malah terus menancap gas dan menambah kecepatannya agar mereka bisa lebih cepat sampai di rumah wanita itu. Galen memang masih perduli terhadap Tiara, itu sebabnya ia tak ingin Tiara turun di tengah jalan seperti ini.
"Biar aku aja yang anterin kamu, Tiara. Lagian aku masih mau tanya satu hal sama kamu, apa sih yang terjadi antara kamu dan pak Adrian?" ucap Galen.
Deg
Tiara tersentak, ia terdiam selama beberapa saat sambil terlihat begitu cemas dan kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa kepada Galen saat ini, karena tak mungkin ia mengatakan jika Adrian tadi baru saja melamarnya dan mengajaknya untuk menikah dengannya.
"Kenapa kamu malah diam? Ohh, kalau reaksi kamu begini sih aku yakin ada yang kamu sembunyiin dari aku. Pasti kamu sekarang udah jadi simpanan pak Adrian ya?" ucap Galen menerka-nerka.
"Mas Galen!" Tiara begitu emosi mendengarnya, ia langsung mencubit kuat lengan pria itu.
"Awhh akh sakit tau! Kamu apa-apaan sih Tiara? Kenapa kamu cubit aku segala coba? Dasar aneh!" protes Galen.
"Ish, suruh siapa kamu bilang begitu? Aku bukan simpanan pak Adrian ya!" kesal Tiara.
"Ya maaf, aku kan cuma nebak. Makanya kalau ditanya tuh jawab dong Tiara, jadi biar aku gak salah paham kayak tadi! Emangnya diantara kamu sama pak Adrian ada apa sih?" ucap Galen.
Tiara menggeleng pelan, "Gak ada apa-apa kok, udah kamu gausah kepo deh jadi orang! Mending kamu fokus nyetir aja tuh!" ucapnya mengelak.
"Yahh.." Galen menghela nafas kecewa.
•
•
__ADS_1
Keesokan harinya, Amar yang sedang menuruni tangga di sekolahnya terlihat begitu semangat dan seolah tidak sabar untuk melakukan sesuatu. Ia melihat sosok Cyra tengah berjalan seorang diri di lorong dekat tangga, sontak dengan cepat ia bergerak untuk berusaha mendekati gadis itu.
Akan tetapi, niatnya itu harus kandas setelah ternyata ia keduluan dengan Carlo yang sudah lebih dulu berada di dekat Cyra. Karena tidak ingin mengganggu mereka, akhirnya Amar terpaksa memutar balik tubuhnya dan mengurungkan niatnya. Ia pun tampak kecewa, namun tanpa diduga ia malah bertemu dengan Rachel disana yang menyodorkan botol minum ke arahnya.
"Mar, nih botol minum punya lu tadi ketinggalan tuh di ruang osis! Gue baik nih mau balikin botol minum ini ke lu," ucap Rachel sambil tersenyum.
"Eee i-i-iya Rachel, makasih ya?" Amar tampak gugup saat ini, ia meraih botol itu dan bergegas pergi meninggalkan Rachel karena masih merasa kecewa dengan apa yang terjadi tadi.
"Loh heh, main pergi gitu aja lagi! Tunggu dulu dong!" teriak Rachel sedikit kesal.
Tapi Amar tak memperdulikan itu, ia malah terus berjalan menaiki tangga dan tidak mau lagi menoleh ke belakang. Sedangkan Rachel menggeleng saja dibuatnya, gadis itu heran dengan sikap Amar yang tidak seperti biasanya. Kini Rachel melanjutkan langkahnya, tetapi ia malah berpapasan dengan Cyra serta Carlo yang juga berjalan di depannya.
"Eh lu Cyra, cie masih pagi udah ada yang pdkt aja nih!" goda Rachel.
Cyra terlihat malu-malu dan reflek memukul lengan sahabatnya itu, ya seperti biasa Cyra memang tidak suka jika digoda seperti itu oleh Rachel. Apalagi, sekarang ini ia tengah bersama Carlo yang merupakan kakak kelas sekaligus mantan ketua osis di sekolah itu.
"Kamu jangan gak jelas gitu deh! Mending anterin aku yuk ketemu bu Melia, ini kata kak Carlo dia nyariin aku!" ucap Cyra.
Rachel mengernyitkan dahinya, "Hah? Ada apa lagi Cyra?" tanyanya penuh penasaran.
"Gak tahu, mungkin aja ada masalah lagi sama aku di mata guru-guru itu. Aku juga bingung nih, padahal aku gak ngerasa ngelakuin salah," jawab Cyra.
"Hm, yaudah ayo gue antar! Tapi kenapa lu gak sama kak Carlo aja?" heran Rachel.
Cyra terdiam saat itu juga, ia menatap sekilas wajah Carlo yang berdiri tepat di sebelahnya dan terlihat bingung. Cyra pun belum tahu mengapa ia selalu merasa kikuk setiap kali Carlo ada di dekatnya, mungkinkah ia sudah mulai jatuh cinta dengan pria itu dan selalu ingin berdekatan dengannya.
"Gapapa, aku mau sama kamu aja. Emangnya kamu gak mau ya temenin aku?" ucap Cyra.
Cyra menggeleng dibuatnya, ia memutar bola matanya karena malas untuk meladeni ucapan tidak jelas sohibnya itu. Tanpa berlama-lama lagi, kini Cyra langsung menggandeng lengan Rachel dan mengajaknya pergi dari sana. Ya Rachel pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena gadis itu terpaksa mengikuti saja kemauan sahabatnya.
"Ayo ayo, udah kita ke ruang bk sekarang! Aku udah ditungguin tuh sama bu Melia, kamu jangan kebanyakan ngomong deh!" ucap Cyra kepada sohibnya.
Akhirnya Cyra dan Rachel pergi meninggalkan tempat itu, meskipun ada rasa tidak enak hati di dala dari Cyra ketika melihat Carlo sendirian disana. Bagaimanapun, tampak jelas bahwa ia sebenarnya ingin selalu ada di dekat Carlo dan berduaan bersama lelaki yang juga sering membantunya itu.
"Eh Cyra, lu yakin mau menjauh terus dari kak Carlo? Gue lihat-lihat tuh kayaknya dia suka deh sama lu, masa lu tolak sih?" tanya Rachel.
"Ih apa sih Rachel? Aku gak suka ya kamu bahas itu terus ke aku, lagian aku ini masih kecil dan mau fokus sekolah dulu! Soal jodoh itu biar Tuhan yang atur tau," ucap Cyra agak kesal.
"Hehe, ya iya jodoh Tuhan yang atur. Tapi kita sebagai manusia tetap harus berusaha kali, kan sayang kalo lu sia-siain kak Carlo!" ucap Rachel.
"Hadeh, yaudah sana kamu aja yang sama kak Carlo kalo kamu mau! Aku sih belum pengen pacaran atau kenal sama cewek ya, selama ini aku anggap dia teman aku aja kok," ucap Cyra ketus.
"Yah elah Cyra, orang dia sukanya sama lu kok! Yakin deh sama gue beb!" ucap Rachel.
Cyra menggeleng saja kali ini, ia melepaskan lengan Rachel dan langsung melangkah lebih dulu karena malas meladeni ucapan gadis itu. Sontak Rachel terkejut, lalu ikut mengejar Cyra di depan sana karena tidak ingin kehilangan langkah Cyra. Apalagi, Rachel tahu kalau Cyra sedang kesal padanya setelah perkataannya tentang Carlo tadi.
"Cyra, Cyra tunggu elah! Lo ambekan banget sih jadi cewek, iya deh iya gue gak bakal bahas kak Carlo lagi!" ucap Rachel membujuknya.
"Haish, apa sih Rachel? Makanya kamu jangan aneh-aneh deh jadi orang!" ketus Cyra.
"Hehe, iya maaf ya Cyra? Gue tuh cuma pengen lihat lu bahagia aja, soalnya belakangan ini kan lu murung terus tuh. Tapi kalau cara gue salah, yaudah gue minta maaf ya?" ucap Rachel.
"Okay, aku maafin kamu kok. Sekarang jangan bahas itu lagi ya sama aku!" pinta Cyra.
__ADS_1
"Sip Cyra!" Rachel mengangguk setuju.
•
•
Sementara itu, Libra yang masih berada di rumah mantan istrinya terlihat tengah terduduk di sofa ruang tamu seorang diri. Ya semalam memang ia terpaksa menginap disana sesuai permintaan putrinya, selain itu ia juga senang berada disana karena ia masih ingin bersama anak-anak yang ia sayangi itu.
Tapi tak lama kemudian, Ciara muncul di dekatnya dan meletakkan sebuah cangkir berisi kopi di atas meja. Ia terduduk di sebelah Libra dan menawarkan kopi itu kepada mantan suaminya, entah kenapa Ciara merasa jika ia perlu melakukan itu walau Libra sekarang sudah bukan lagi menjadi suaminya.
"Mas, nih minum dulu kopinya! Abis itu kamu bisa langsung pergi dari sini, lagian Cyra juga udah berangkat ke sekolah kan?" ucap Ciara.
Libra tersenyum dibuatnya, "Makasih ya Ciara? Kamu perhatian banget deh sama saya, berasa kita ini masih jadi suami-istri ya? Saya gak nyangka kalau kita udah pisah," ucapnya.
"Hadeh mas, udah gausah ngomong aneh-aneh deh! Aku kasih kopi ke kamu bukan berarti aku masih perhatian ya sama kamu," elak Ciara.
"Ya ya ya, saya ngerti kok Ciara. Ini juga udah berarti banget kok buat saya, apalagi kopi buatan kamu itu kan paling enak sedunia. Udah lama juga saya gak minum kopi buatan kamu," ucap Libra.
"Ck, gausah lebay deh kamu! Udah buruan abisin kopinya terus pergi dari sini!" ketus Ciara.
Libra terkekeh melihat ekspresi Ciara saat ini, ia paling gemas ketika Ciara sedang menahan malu seperti itu. Ingin rasanya Libra menyentuh wajah mungil wanita itu, tetapi ia sadar kalau hal itu tidak dibenarkan mengingat status mereka yang sudah bukan suami-istri lagi.
"Kenapa kamu malah ngeliatin aku kayak gitu, mas? Diminum itu kopinya, nanti keburu dingin loh!" ucap Ciara tampak heran.
"Haha, iya ini aku minum kok. Tapi masih panas loh Ciara," ucap Libra sambil tersenyum.
"Ya panas lah namanya kopi, lagian bukannya enak ya minum kopi pas lagi panas? Justru kalau udah dingin itu yang gak enak, kan kamu yang bilang sendiri waktu itu," ucap Ciara.
"Ohh, cie masih inget aja kata-kata aku yang dulu. Segitu pentingnya ya aku di hidup kamu? Apa kamu juga masih belum bisa lupain aku?" goda Libra.
Deg
Ciara tersentak dan spontan memalingkan wajahnya kali ini, ia memerah seketika karena godaan dari mantan suaminya. Namun, Ciara langsung menepuk-nepuk jidatnya dan menghilangkan rasa tidak benar itu dari dirinya. Ia tak mau terjebak dalam rayuan pria itu lagi, karena Libra sudah pernah menyakiti hatinya.
"Ciara, masih ada kemungkinan gak sih buat kita rujuk lagi? Aku jujur loh belum bisa lupain kamu dari hidup aku, apalagi aku itu cinta banget sama kamu Ciara," ucap Libra lirih.
"Hah? Kamu gak waras ya mas? Mana mungkin kita balikan coba? Lagian kalau emang kamu cinta sama aku, gak mungkin tuh waktu itu kamu pergi berdua sama wanita lain ke hotel. Kamu cuma mau bohongin aku kan, mas?" ucap Ciara.
Libra menggeleng, "Itu gak benar Ciara, aku tulus loh cinta sama kamu. Waktu itu aku cuma khilaf," ucapnya sembari menggeser lebih dekat.
Ciara memutar bola matanya dan menyibakkan rambutnya dengan kuat, ia tak percaya begitu saja dengan kata-kata Libra dan apa alasan yang diucapkan pria itu barusan. Baginya, semua kisah cinta antara dirinya dan Libra telah usai di waktu mereka berpisah sebelumnya.
"Udah deh mas, kita gak perlu bahas itu lagi! Mending kamu cepat minum kopinya sampai habis, lalu kamu pergi dari sini secepatnya! Aku gak mau ada yang salah paham nanti," ucap Ciara.
Setelah mengatakan itu, Ciara langsung bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Libra tanpa sepatah katapun lagi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...Libra & Ciara rujuk apa enggak nih?🤔...
__ADS_1