
Galen tiba di rumahnya dengan perasaan murung dan masih memikirkan apa maksud ucapan Bagas saat di pemakaman tadi, rasanya Galen cukup penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya yang dilakukan Bagas terhadap keluarganya. Namun, Galen merasa takut untuk memastikan semua itu secara langsung pada Ciara maupun Tiara. Ya karena pasti mereka sudah sangat membencinya, setelah apa yang ia lakukan pada Tiara dulu.
Disaat ia baru saja hendak duduk pada sofanya, tiba-tiba pintu rumah itu sudah diketuk dari luar dan membuatnya harus bangkit kembali. Dengan sangat terpaksa, Galen melangkah menuju pintu lalu membukanya untuk melihat siapa yang datang. Betapa kagetnya pria itu, karena ternyata yang ada di depan sana adalah Farrel alias anak buahnya. Tampak wajah Farrel juga terlihat begitu serius dan ngos-ngosan, yang tentu membuat Galen penasaran.
"Farrel, ada apa? Kenapa kamu sampai ngos-ngosan kayak gitu?" tanya Galen terheran-heran.
"Ah iya pak, ini gawat pak! Maaf kalau saya terlambat dan baru bisa sampai kesini sekarang, karena saya tadi mau coba cari tahu dulu semua info tentang pak Bagas sebelum saya beritahu pada anda sekarang!" ucap Farrel agak terengah.
"Baiklah, ayo kamu masuk lebih dulu dan duduk di dalam! Saya lihat kamu ngos-ngosan begini jadi ikut capek lihatnya, kayak abis dikejar anjing aja kamu," ucap Galen sambil terkekeh.
"Hehe..."
Farrel menggaruk tengkuknya sembari tersenyum lebar, lalu perlahan ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sang bos. Kini Farrel bersama Galen duduk di sofa yang tersedia, tak lupa Galen juga menyediakan minuman untuknya. Galen meminta Farrel minum lebih dulu, karena ia tahu Farrel membutuhkan tenaga dan nafas yang baik sebelum dia mulai bercerita nantinya.
"Gimana, kamu udah tenang kan sekarang? Kalo gitu kamu bisa mulai cerita, jujur saya penasaran apa info yang kamu dapatkan itu," ucap Galen.
"Iya pak, saya bisa cerita sekarang. Jadi, saya itu barusan dapat info kalau Bagas memerintahkan pasukannya untuk menyerang ke rumah Ciara adik pak bos. Jumlah mereka sangat banyak, sampai Libra dan anak buahnya terluka," ucap Farrel.
Galen spontan bangkit dari tempat duduknya dan terkejut bukan main, ia melongok lebar seolah tak percaya dengan ucapan Farrel barusan. Ia baru tahu kalau yang dimaksud Bagas tadi adalah sebuah penyerangan ke rumah Ciara, ia sungguh bingung saat ini dan sangat mencemaskan kondisi adik serta seluruh keluarganya disana.
"Kurang ajar si Bagas! Jadi ini yang dia maksud keselamatan keluarga saya? Lalu, apa kamu tahu kondisi Ciara dan Tiara sekarang? Mereka baik-baik aja kan?" ucap Galen cemas.
"Tenang pak, pasukan Bagas itu berhasil dipukul mundur setelah kedatangan pak Gavin kesana! Jadi, pak bos gak perlu khawatir!" ucap Farrel.
__ADS_1
"Huh syukurlah, memang sialan itu si Bagas! Awas aja saya akan balas semua perbuatan dia dengan lebih kejam! Saya bisa bikin dia menderita dan meminta ampunan dari saya!" geram Galen.
"Sabar dulu pak bos, masih ada satu info penting lagi yang saya dapatkan!" ucap Farrel menyela.
"Apa itu?" tanya Galen begitu penasaran.
"Iya pak, saya dapat info kalau ternyata serangan itu hanya sebuah pancingan. Bagas ingin agar pak Gavin dan seluruh pasukannya datang kesana, sehingga kondisi rumah beliau akan kosong. Disitulah Bagas mempunyai kesempatan untuk memasang bom pada rumah pak Gavin," jelas Farrel.
Deg
Betapa terkejutnya Galen mendengar penjelasan dari anak buahnya, ia tak menyangka Bagas selicik itu dan bisa menjalankan rencananya dengan sangat mulus. Kini Galen tampak kebingungan, ia harus segera memberitahu informasi ini kepada Gavin maupun keluarganya yang lain agar mereka tidak terkena jebakan itu.
•
•
Mereka kini sama-sama terduduk di sofa dan berkumpul disana untuk membahas kejadian yang baru saja menimpa mereka, baik Libra maupun pihak keluarganya kompak terkejut dengan apa yang terjadi di halaman rumah Libra tadi. Serangan mendadak itu berhasil membuat mereka semua merasa cemas, terutama Ciara dan juga Tiara.
"Sementara ini, kalian bertiga tinggal aja disini ya? Papa takut orang-orang jahat itu kembali lagi dan malah melukai kalian, pasti itu sangat berbahaya bagi kalian terutama Cyra!" ucap Gavin.
Ciara serta Libra kompak mengangguk, mereka setuju saja dengan perkataan Gavin karena memang menurut mereka apa yang diucapkan Gavin ada benarnya. Lagipula, tidak ada salahnya jika mereka tinggal di rumah itu selama beberapa saat. Kalau mereka terus bertahan di rumah sebelumnya, maka mungkin akan terjadi penyerangan selanjutnya.
"Terimakasih pa, kalo gitu saya dan Ciara serta Cyra akan tinggal di rumah ini selama beberapa saat!" ucap Libra.
__ADS_1
"Iya Libra, itu keputusan yang benar. Jujur mama khawatir banget kalau kalian kembali ke rumah itu, apalagi disana kan minim penjagaan. Kalau disini, kalian pasti aman kok!" ucap Nadira.
"Betul itu, papa sudah siapkan lebih banyak pasukan untuk berjaga-jaga di sekitar area rumah. Jika ada sesuatu yang mencurigakan walau sedikit, mereka pasti akan melapor ke papa!" sahut Gavin.
"Saya mengerti pa, nanti juga saya minta beberapa pasukan saya untuk ikut berjaga disini," ucap Libra.
Semuanya kini sama-sama tersenyum dan merasa lega setelah semuanya berhasil selamat dari penyerangan dadakan itu, Ciara pun juga terlihat senang meski tadi ia sempat ketakutan saat ada pasukan asing yang menyerang rumahnya. Untung saja, baik Ciara maupun yang lain masih bisa diselamatkan oleh Gavin dan juga anak buahnya.
"Yaudah, Ciara kamu istirahat gih di kamar kamu! Ajak sekalian Cyra sama suami kamu tuh, kasihan pasti dia kecapekan juga!" suruh Nadira.
"Boleh deh ma, yuk mas kita ke kamar bareng!" Ciara langsung mengajak suaminya itu naik ke atas menuju kamar mereka, sesuai apa yang diucapkan Nadira tadi.
Libra setuju saja dengan ajakan istrinya, lagipun ia juga merasa lelah setelah berkelahi dengan banyak orang sebelumnya. Kini Libra membantu Ciara bangkit dari duduknya untuk melangkah ke kamar, ia juga menuntun wanita itu yang sedang menggendong Cyra di tangannya. Keduanya saling pandang sepanjang jalan, lalu tersenyum dan membuat Libra gemas melihatnya.
"Senyum kamu itu loh manis banget, bikin aku gak tahan pengen rasanya langsung lahap bibir mungil kamu itu! Nanti begitu kita masuk kamar, aku minta jatah aku ya?" goda Libra.
"Ish, kamu kan tahu aku baru melahirkan Cyra. Gimana bisa aku kasih jatah ke kamu?" ujar Ciara.
"Hahaha, kan ada tangan sama mulut kamu sayang," jawab Libra seraya mencolek bibir serta tangan wanita di sebelahnya.
Saat itu juga Ciara tersipu malu dan wajahnya merona akibat ucapan suaminya, ia memalingkan wajah ke arah lain sambil menahan senyumnya karena tak ingin Libra melihatnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...