
...SEBELUM BACA BAB INI, SILAHKAN BACA BAB SEBELUMNYA DULU! ADA REVISI YA GES, BIAR GAK KETINGGALAN!...
...•...
Galen tak sengaja melihat Tiara yang tengah asyik menikmati sarapan di kantin perusahaan, tentu saja ia bergerak cepat menghampiri wanita itu untuk bicara padanya. Sampai kini, Galen memang tidak pernah menyerah untuk bisa mendapat hak asuh atas putranya, yakni Askha. Bagi Galen, rasanya ia masih pantas untuk diberi kesempatan mengurus putranya itu setelah sekian lama mereka berpisah.
Tanpa meminta izin darinya, Galen langsung terduduk tepat di hadapan Tiara dan membuat wanita itu terkejut bukan main. Tiara tak menyangka kalau Galen akan datang, bahkan pria itu seperti sengaja ingin mendekati dirinya sehingga Tiara terus merasa tidak tenang. Semenjak mendapat teror serta ancaman dari Galen, hidup Tiara memang tidak bisa tenang dan terus saja memikirkan itu.
"Halo Tiara! Senang banget bisa ketemu kamu disini, rasanya saya jadi lebih berbunga-bunga gitu! Kamu mau kan saya temenin sekarang?" ucap Galen.
Tiara mencoba tetap tenang dan fokus pada apa yang ia makan saat ini, ia tak mau jika Galen terus saja merusak kehidupannya. Tiara pun masih tak mengerti, ia heran mengapa Galen kembali mengganggu hidupnya setelah sekian lama. Padahal, selama ini kehidupan Tiara dan Askha berjalan normal tanpa gangguan apapun.
"Kenapa diam aja sih, hm? Kamu kok kayak gak suka gitu ya tiap aku temuin kamu? Beda banget sama waktu pak Adrian muncul dan ajak kamu bicara, wah langsung happy banget tuh kamu kelihatannya!" ucap Galen sambil tersenyum.
Sontak perkataan Galen barusan membuat Tiara semakin jengkel, lagi-lagi pria itu membahas mengenai Adrian seolah sengaja ingin memancing amarahnya. Tiara pun mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah mantan suaminya itu, rahangnya mengeras sebagai pertanda bahwa Tiara sudah sangat emosi saat ini.
"Stop ya mas, kalau kamu deketin aku cuma mau bikin aku sakit hati, lebih baik kamu pergi sekarang! Aku muak sama kamu, aku malas meladeni ucapan kamu yang gak jelas itu!" sentak Tiara.
"Ups, aku salah bicara ya? Maaf deh Tiara, jangan galak-galak gitu dong sayang!" kekeh Galen.
Tiara menggeleng pelan, "Apa sih mau kamu, mas? Langsung aja bicara sekarang, gausah kemana-mana deh arahnya!" ucapnya kesal.
"Ohh, yakin nih mau tau? Nanti kamu kejang-kejang lagi dengarnya," ujar Galen.
Tiara menghela nafasnya, ia benar-benar kesal dengan tingkah Galen yang sekarang ini menjadi mirip sosok penjahat kelas kakap. Ia dapat merasakan perubahan sikap yang drastis dari sosok mantan suaminya itu, ya Galen seperti bukan Galen yang dahulu ia kenal dan pernah ia cintai di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aku cuma mau kasih surat ini ke kamu, silahkan dibaca sayangku!" Galen kemudian memberikan sebuah surat kepada wanita itu.
"Apa ini?" tanya Tiara penasaran.
"Baca aja!" Galen tak menjawab, ia malah menyuruh Tiara langsung membuka dan membaca isi surat tersebut jika memang ingin tahu.
Tentu saja Tiara menurut, sebab ia penasaran apa isi dari surat pemberian mantan suaminya itu. Namun, ia sangat terkejut ketika membaca isi surat tersebut dan spontan menatap wajah Galen disana. Tiara tak menyangka, rupanya Galen sudah bergerak semakin jauh untuk bisa merebut hak asuh Galen dari tangannya dengan memberikan surat itu.
"Surat somasi? Ini apa maksudnya, mas?" Tiara terkejut dan seolah tak mempercayainya.
Galen pun hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, ia tampak senang melihat reaksi yang ditunjukkan Tiara saat ini begitu membaca isi surat tersebut.
•
•
Daiva terlihat panik, ia menatap sekitar dan hanya ada mereka berdua di tempat itu. Bisa saja Davin melakukan apapun yang dia inginkan disana, tak akan ada yang mungkin bisa memergoki mereka nantinya. Entah mengapa Daiva malah tiba-tiba merasa cemas, padahal sedari tadi ia lah yang mencoba untuk menggoda pria itu.
"Umm pak, kenapa bapak berhenti ya? Kita kan belum sampai ke ruangan kepala sekolah," tanya Daiva dengan wajah heran.
Davin terdiam saja kali ini, ia malah terus mendekat ke arah Daiva dan tak berpaling sama sekali dari wajah cantik gadis itu. Diusapnya rambut hitam dan panjang milik Daiva, Davin pun tersenyum penuh arti yang membuat Daiva makin gelagapan. Namun, Daiva juga tidak bisa berbuat apa-apa mengingat ia juga menginginkan milik pria itu.
"Kamu daritadi godain saya kan, Daiva?" ujar Davin seraya mengusap leher gadis itu.
"Hah??" Daiva tersentak, matanya melongok lebar dan tak percaya kalau Davin ternyata menyadari apa yang ia lakukan tadi.
__ADS_1
Tanpa meminta izin terlebih dulu, Davin dengan cepat mendorong tubuh Daiva sampai menyentuh dinding dan mengunci pergelangan tangannya. Daiva mencoba berontak, namun tenaga Davin jauh lebih besar darinya. Davin juga meminta pada Daiva untuk diam, karena dia ingin melakukan semua itu dengan cepat dan nikmat.
"Kamu diam saja Daiva, ini kan yang kamu mau dari saya! Saya perhatiin loh gerak-gerik kamu daritadi, kamu tertarik dengan milik saya kan?" ucap Davin.
"Pak, jangan pak! Ini di sekolah loh, bapak bisa saya laporin nanti!" ucap Daiva ketakutan.
"Ohh, maksudnya kamu mau kita main di tempat lain gitu? Nanti ya Daiva, sekarang nikmati saja apa yang akan saya lakukan ke kamu!" ucap Davin.
"Enggak pak, tolong jangan!" rengek Daiva.
Namun, Davin tak menggubris ucapan Daiva itu dan malah menaruh kedua tangan Daiva di atas kepala sambil terus mencengkeramnya. Perlahan Davin mendekatkan wajahnya pada leher jenjang sang gadis, terasa begitu mulus dan wangi disana. Bahkan, Davin tak segan-segan memberi kecupan beserta tanda di leher Daiva yang putih itu.
"Mmhhh pak.." Daiva melenguh kali ini, perbuatan Davin berhasil membangkitkan gairahnya.
Puas memberi tanda dan bermain-main di leher sang gadis, kini Davin beralih pada bibir mungil Daiva yang tampak tak pernah disentuh. Meski Daiva sering sekali menggoda para lelaki, tapi memang gadis itu belum pernah berciuman. Davin tahu akan hal itu, karena ia dapat membedakan jenis bibir yang masih perawan atau tidak.
"Kamu menikmati ini kan Daiva, hm? Mau lebih sayang? Saya akan beri kamu hukuman, karena kamu sudah berani menggoda saya!" bisik Davin.
"Aakkhh, iya pak ayo hukum saya! Beri kenikmatan itu pada saya, pak!" pinta Daiva.
Tak ada rasa malu lagi di tubuh Daiva saat ini, ia malah dengan senang hati meminta Davin untuk menikmati tubuhnya dan memberi kenikmatan baginya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1