Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 50. Mati lampu


__ADS_3

Hari sudah malam, namun Libra masih tampak mencemaskan kondisi Bella yang hingga kini belum memberi kabar padanya. Sejak kejadian tadi pagi dimana Bella marah dan mengusirnya, Libra sangat tidak tenang dan terus memikirkan Bella serta berusaha keras mencari cara untuk membuat Bella mau memaafkannya. Jujur saja Libra bingung harus melakukan apa, sebab ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.


Pria itu juga baru menyadari bahwa memang dari beberapa hari lalu, Bella terus mengiriminya pesan dan menghubungi nomornya beberapa kali. Namun, karena sibuk mengurus Ciara membuat Libra tak sempat membuka ponsel apalagi membalas chat kekasihnya itu. Kini ia pun menyesal, ia tahu penyebab Bella marah besar adalah karena merasa telah diabaikan olehnya.


"Huh Bella, kenapa kamu gak angkat telpon aku sih? Aku itu cemas banget sama kamu sayang, ayo dong angkat!" gumam Libra menggigit jari.


Berulang kali ia mencoba menghubungi nomor sang kekasih, tapi yang terjadi adalah nomor tersebut tidak bisa dihubungi dan ia diminta mencoba nanti lagi untuk meneleponnya. Sontak saja Libra makin panik dan cemas, ia belum bisa tenang kalau belum mendapat kabar dari Bella. Ia khawatir Bella akan kenapa-napa, terlebih wanita itu hanya tinggal seorang diri di kota ini tanpa ada siapapun.


Jeglekk


Tiba-tiba saja, lampu di rumahnya tak menyala dan membuat Libra tersentak lalu reflek beranjak dari tempat duduknya. Libra pun panik, baru kali ini ia merasakan yang namanya mati lampu dan suasana di sekitarnya sangat gelap. Untungnya ia masih memegang ponsel miliknya, sehingga ia bisa melakukan penerangan dengan senter handphone.


"Untung aja ada hp, jadi saya masih bisa lihat sekitar deh. Haish, ini kenapa mati lampu segala sih? Saya jadi kasihan sama Ciara, dia udah tidur belum ya?" gumam Libra.


"Den, den! Den Libra!" bik Vita berlarian panik menghampiri Libra dengan membawa lilin.


"Eh bibik, ini kenapa ya bik? Kok tiba-tiba lampunya mati begini? Apa mas Gavin lupa isi pulsa listrik?" tanya Libra kebingungan.


"Ah enggak den, bukan gara-gara itu. Kayaknya mah ini karena hujan angin den, buktinya di luar semua gelap gak ada yang nyala sama sekali," jawab Vita.


"Oh ya? Waduh, parah juga dong ya! Kira-kira nyalanya kapan ini bik?" ujar Libra.


"Bibik kurang tahu, den. Tapi tenang, ini kan sudah ada lilin yang bibik siapkan buat den Libra! Jadinya den Libra gak perlu takut," ucap Vita.


"Yeh siapa yang takut bik? Masa cuma mati lampu aja takut?" elak Libra.


"Aaaaa..." keduanya dibuat kaget saat tiba-tiba suara teriakan panjang terdengar di telinga dan berasal dari arah atas, tepatnya kamar Ciara.


Tentu Libra langsung panik dan spontan menoleh ke atas untuk memastikan apakah benar itu suara Ciara atau bukan, Libra pun yakin kalau kemungkinan besar itu adalah Ciara yang ketakutan karena menyadari lampu di kamarnya mati. Sebagai seorang paman, Libra merasa tidak tega jika memang Ciara sedang ketakutan di atas sana.


"Duh bik, itu kayaknya Ciara ketakutan deh gara-gara gelap. Ini lilinnya saya bawa ke atas ya bik buat ngecek, gapapa kan? Soalnya saya kasihan sama Ciara," ucap Libra.

__ADS_1


"Iya benar den, yaudah den Libra temenin non Ciara aja di kamarnya!" ucap bik Vita.


"Iya bik, makasih ya?" ucap Libra singkat.


Bik Vita tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sedangkan Libra langsung bergerak cepat menaiki tangga menuju kamar ponakannya sambil membawa lilin di tangan. Libra terlihat begitu khawatir pada Ciara, ia tidak ingin gadis itu ketakutan meski hanya karena mati lampu.




Singkatnya, Libra telah berhasil masuk ke kamar Ciara dan kini sudah bersama gadis itu di dalam. Tampak Ciara terus memeluk erat tubuh pamannya seolah tak ingin melepasnya, Ciara memang takut kegelapan sejak kecil sehingga dia tidak bisa bertahan dalam kegelapan seperti ini.


Libra sangat mengerti dengan ketakutan yang dialami gadis itu, makanya saat ini Libra juga tak protes meski Ciara memeluknya sangat erat seperti tidak ada hari esok. Tentunya juga Libra cukup menikmati momen ini, karena dengan posisi mereka yang begini membuat Libra semakin bisa merasakan tubuh ponakannya yang indah itu.


"Aku takut om, untung om cepat datang! Om disini aja ya temenin aku, jangan kemana-mana!" ucap Ciara dengan manja.


Libra tersenyum dan semakin merapatkan tubuhnya dengan gadis itu, "Iya sayang, aku gak akan kemana-mana kok. Aku bakal terus disini temenin kamu, udah ya gausah takut lagi!" ucapnya.


"Kan udah gak gelap lagi sayang, tuh udah ada lilin disitu. Masa kamu masih takut aja sih? Lagian disini kan juga ada aku," ujar Libra.


"Iya makanya om disini aja, temenin sampai aku tidur biar aku gak takut!" ucap Ciara.


"Iya iya, udah jangan lebay gitu! Yuk ke kasur, terus kamu tidur! Ini sudah malam loh, kalau kamu gak tidur nanti besok bisa telat," ucap Libra.


"Jangan dilepas pelukannya! Aku gak berani jauh-jauh dari om, gelap banget tau!" rengek Ciara.


"Ah lebay kamu, gelap darimana coba? Ini udah terang kok, lagian disini gak ada apa-apa selain kita. Udah yuk tenang aja, om bakal peluk kamu terus kok!" ucap Libra menenangkan.


Ciara mengangguk kali ini, perlahan gadis itu mulai melangkahkan kakinya menuju ranjang miliknya bersama Libra yang masih setia di sampingnya. Mereka pun sama-sama naik ke atas ranjang, lalu duduk berdampingan disana tanpa melepas pelukan masing-masing.


"Dah sekarang kamu tidur ya? Besok kan harus sekolah, buruan bobok!" ucap Libra.

__ADS_1


"Tapi, om gak tinggalin aku kan? Om disini aja sama aku, tidur sama aku ya? Jangan kemana-mana om!" ucap Ciara.


Libra menyeringai mendengarnya, tentu baginya ini sebuah kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Ciara dan menjabarkan perasaannya. Jujur saja Libra ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar paman dan keponakan dengan gadis itu, meski ia tahu semua itu tidak akan mudah ke depannya.


"Iya sayang, aku gak akan tinggalin kamu. Udah sekarang kamu tiduran disini, aku juga bakal tiduran di sebelah kamu deh," ucap Libra.


"Bener ya om? Awas loh kalo om bohong dan tinggalin aku!" ucap Ciara mengancam.


"Gak bohong sayang, udah yuk kita tidur sama-sama!" ucap Libra dengan lembut.


Ciara menurut saja dan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur sesuai permintaan pamannya, tak lupa ia juga meminta Libra untuk berbaring di sebelahnya agar bisa menemaninya. Dengan senang hati Libra menurut, pria itu kini sudah berbaring tepat di sebelah Ciara dan tersenyum menghadapnya.


"Jangan takut lagi ya! Aku kan ada disini, kamu sekarang tinggal tidur dengan tenang dan gausah mikirin keadaan yang masih gelap! Apalagi di luar hujan angin, udah paling pas tuh tidur!" ucap Libra.


"Om, aku gerah." Libra terbelalak saat Ciara mengatakan itu, entah kenapa tiba-tiba terbesit pikiran negatif dari kepalanya saat ini.


"Ya kalau gerah, kamu lepas aja baju kamu itu! Atau mau aku yang lepasin juga biar gampang?" ucap Libra disertai seringai tipisnya.


"Ih gausah, aku sendiri aja yang lepas. Tapi, om madep sana dulu jangan ngintip!" ucap Ciara.


"Hadeh, ngapain pake disuruh menghadap ke belakang segala sayang? Nanti ujung-ujungnya kan aku bakal lihat juga, emang mau kalau aku tinggal sendirian disini?" ucap Libra.


"Eh jangan om! Iya deh, om gausah madep sana," ucap Ciara merengut.


Libra pun tersenyum sembari mencolek hidung gadis itu, lalu dengan santainya Ciara mulai membuka satu persatu kancing baju tidurnya sampai semua terlepas dan hanya memperlihatkan tubuh polos gadis itu yang tak tertutupi apapun. Ya Libra sangat terkejut, karena ia tak menyangka kalau akan bisa melihat langsung puncak indah itu.


"Astaga, ternyata Ciara gak pakai apa-apa lagi dibalik bajunya? Ya ampun, berdosa banget nih mata!" gumam Libra dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2