
Cup!
Kali ini Libra benar-benar melakukannya, ya pria itu menempelkan bibirnya sekilas pada bibir mungil sang ponakan tanpa melakukan gerakan apapun lagi. Saat itu juga Ciara terkejut, matanya terbuka lebar menatap wajah sang paman seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Libra sebenarnya ingin meneruskan aksinya ke arah yang lebih serius, namun ia tahu itu salah dan tidak boleh dilakukan mengingat Ciara adalah keponakannya. Libra juga tak ingin merusak gadis itu, apa yang dia lakukan tadi semata-mata hanya karena ingin mengerjai Ciara saja.
"Itu kan yang kamu mau, hm?" ucap Libra lirih tepat di dekat telinga Ciara, yang tentunya langsung membuat jantung gadis itu berdebar-debar dan berdegup sangat kencang.
Ciara sampai tidak dapat berbicara apa-apa selama beberapa detik hanya karena kecupan singkat yang diberikan pamannya, oleh karena itu Libra berpikir bahwa barusan tadi adalah ciuman pertama Ciara dan tentu Libra akan sangat menyesal jika memang benar itulah kenyataannya.
"Kenapa diam? Kamu mau lagi? Kalau iya, aku bisa lakukan itu berkali-kali kok buat kamu sayang," ucap Libra sensual.
"Ih enggak!" Ciara bangkit dan dengan cepat mendorong tubuh pamannya agar menjauh, ia pun memberikan tatapan tajamnya yang menandakan kalau ia begitu emosi.
"Om kenapa cium aku kayak gitu sih? Aku bilangin mama loh," ucap Ciara memegangi bibirnya.
"Ya abis aku gak tahan sih, apalagi ekspresi kamu itu imut banget. Eh tapi emang kamu belum pernah ciuman ya sebelumnya?" ucap Libra penasaran.
"Eee..." Ciara terlihat gugup dan bingung, tidak mungkin tentu ia mengaku pada Libra kalau bibirnya sudah pernah dicicipi oleh Davin.
"Ah pasti udah pernah kan? Mana mungkin cewek kayak kamu belum pernah ciuman," ujar Libra.
"Apaan sih om? Ngapain bahas hal yang gak penting coba? Udah ayo kita ke rumah sakit, dan aku bakal lupain soal tadi!" ucap Ciara.
Libra tersenyum tipis dan ikut beranjak dari sofa untuk mendekati gadis itu, perlahan tangannya menyentuh pergelangan tangan sang ponakan sambil menatap wajahnya. Ciara yang ketakutan terus memperhatikan ke depan dan was-was pada setiap pergerakan yang dilakukan pamannya, karena kejadian tadi benar-benar menjadi pelajaran baginya untuk selalu berhati-hati pada siapapun.
"Kamu yakin bisa ngelupain soal itu? Kalau itu first kiss kamu, pastinya kamu bakal terus kepikiran tau," ucap Libra bermaksud menggodanya.
"Maksud om apa? Om ngarep kalau aku bakal mikirin ciuman om tadi itu?" ujar Ciara.
"Yeah, nyatanya kamu pasti akan begitu sayang. Percaya deh sama om!" ucap Libra santai.
__ADS_1
Ciara menggeleng dan menghentak tangan pamannya dengan kasar sampai sang empu terheran-heran, "Aku gak begitu om, aku bukan perempuan gampangan!" ucapnya tegas.
"Ya aku tau, gak ada yang bilang kamu perempuan gampangan. Tapi, aku mau kasih tau aja kalau kamu bakal mikirin soal itu terus," ucap Libra.
"Om, please jangan bahas itu lagi ya! Aku gak mau mama papa sampai tau, nanti juga om bakal dimarahin sama mereka!" ucap Ciara.
Libra mengangguk perlahan, "Okay, aku nurut sama kamu Ciara. Kalo gitu sana gih kamu siap-siap, kita langsung berangkat ke rumah sakit sekarang!" ucapnya lirih.
"Gausah om, ini aku udah siap kok." Ciara menggeleng menolak perintah pamannya.
"Yasudah, ayo kita ke mobil!" Libra langsung merangkul pundak Ciara dan mengajak gadis itu menuju mobilnya.
Ciara hanya bisa diam memandangi wajah sang paman dari samping saat berjalan, lagi-lagi ia harus menahan detak jantungnya yang terasa begitu cepat saat berada di dekat Libra. Apalagi saat ini pria itu juga merangkulnya, yang membuat tubuh mereka kembali bersentuhan.
•
•
Melihatnya membuat seisi rumah terharu, tampak jelas memang Ciara yang manja itu tidak akan rela berpisah dengan mamanya. Galen serta Tiara pun ikut membantu menenangkan Ciara, sebab Ciara masih belum mau melepas pelukannya. Padahal pesawat yang akan ditumpangi oleh Nadira dan Gavin, akan lepas landas sekitar tiga jam lagi.
"Sayang, mama minta maaf ya sama kamu? Mama terpaksa pergi sama papa untuk sementara, karena ada hal penting yang harus kita urus disana sayang," ucap Nadira menangkup wajah putrinya.
"Hiks hiks, kenapa coba mama gak suruh om Keenan aja buat urus semuanya? Aku kan gak bisa lepas dari mama, aku pengen mama ada di dekat aku terus! Mama jangan pergi ya ma, nanti kalau aku kangen gimana!" rengek Ciara.
"Kamu tenang aja sayang! Sekarang teknologi udah canggih, ada yang namanya fitur call dan juga video call. Kalau kamu kangen sama mama, kamu kan bisa telpon mama nanti," ucap Nadira.
"Ya Ciara, kami janji juga akan selalu mengabari kamu kok!" sahut Gavin.
"Tetap beda rasanya, pa. Aku mau ketemu mama secara langsung dan peluk mama terus," ucap Ciara.
Tiba-tiba, Galen mendekat dan menyela pembicaraan mereka sembari menarik tubuh adiknya menjauh dari sang mama. "Dek, udah ya jangan lebay gitu! Kayak yang mau berpisah lama aja sama mama papa," ucapnya dingin.
__ADS_1
"Apa sih kak? Aku tuh tetap gak bisa pisah sama mama, walau cuma sehari! Apalagi ini mama mau pergi satu Minggu, lama tau!" ucap Ciara.
"Yah elah, nanti juga kan mama sama papa bakal pulang lagi kesini. Udah lah kamu jangan halangin mereka kayak gini! Kamu gak kasihan apa dek? Mama papa tuh butuh waktu berdua juga, siapa tau nanti pulang dari Vietnam mama papa bakal kasih kamu adek," ucap Galen.
"Nah iya tuh Ciara, kamu senang kan pasti kalo punya adik?" sahut Tiara sambil terkekeh.
"Emang iya, ma?" Ciara beralih menatap mamanya dan bertanya seperti itu dengan tatapan penuh harap, memang sedari dulu Ciara selalu menginginkan sosok adik.
"Ah kalian ini bicara apa sih? Kita kesana buat urus bisnis papa kamu yang lagi ada masalah, bukan mau mesra-mesraan," ucap Nadira mengelak.
Gavin merangkul pundak Nadira dan ikut tersenyum menatap Ciara, "Doain aja ya Ciara! Kalau emang ada kesempatan, kan kita juga bisa sambil buat adik untuk kalian," ucapnya.
"Hahaha, bener tuh kata papa. Udah ya dek, kamu jangan sedih lagi!" ucap Galen.
"Umm, iya deh aku gak akan sedih dan larang mama buat pergi ke Vietnam sekarang. Tapi, pulangnya bawain aku adik ya ma!" ucap Ciara tersenyum lebar.
"Ahahaha.." mereka semua kompak tertawa dan saling berpelukan.
Akhirnya Ciara terpaksa membiarkan mama papanya pergi, sebelum itu tak lupa Nadira menitipkan Ciara pada Galen serta Libra untuk menjaganya, karena Nadira tidak ingin kejadian penculikan waktu itu terulang kembali dan membuat hidup mereka tidak tenang disana. Tentunya Libra sangat senang dengan itu, karena ia bisa memiliki waktu lebih banyak berdua bersama Ciara.
"Ciara, kamu harus nurut ya sama om Libra! Selama mama papa gak ada, om Libra yang akan jagain kamu kalau kamu butuh apa-apa! Karena kan pasti Galen harus sibuk urus Tiara juga," ucap Nadira.
"I-i-iya ma.." Ciara menunduk lesu.
"Tenang aja mbak, Ciara pasti akan kok sama aku!" sela Libra tampak antusias.
Ciara melirik ke arahnya, dapat ia lihat betul kalau dari sorot mata Libra saat ini pria itu seperti begitu bahagia karena dititipkan dirinya. Tentu sangat berbeda dengan Ciara yang malah ketakutan, sebab terakhir kali mereka berduaan adalah ketika pamannya itu berani mengecup bibirnya, meski hanya sekilas dan tak seperti yang Davin lakukan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1