Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 97. Menyerahkan diri


__ADS_3

Ciara baru saja menyudahi aktivitas panasnya bersama sang suami, wanita itu terpaksa mengulang kembali mandinya meski tadi ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ya tentu Libra tak sampai memasukkan miliknya, sebab Ciara masih bersikeras menolak kemauan pria itu dengan alasan dirinya belum siap. Entah kenapa Ciara terus saja merasa takut, sepertinya ia khawatir jika melakukan itu akan sangat sakit sekali seperti kata temannya.


Kini mereka berkumpul di ruang tv, duduk bersama di atas sofa dengan tangan saling merangkul. Dapat disadari oleh Ciara bahwa sebenarnya Libra belum puas dengan aktivitas mereka tadi, karena memang pria itu menginginkan lebih. Akan tetapi, Ciara tetap belum bisa melakukannya meski berulang kali Libra berusaha meyakinkan gadis itu bahwa hanya awalnya saja yang sakit dan nantinya akan berujung menjadi sebuah kenikmatan luar biasa.


Dikala mereka tengah asyik berbincang sembari menikmati tontonan tv dan cemilan di atas meja, tiba-tiba bunyi bel terdengar dari luar yang menandakan ada tamu mendatangi unit apartemen mereka itu. Tentu saja keduanya terkejut, Ciara langsung berniat keluar untuk mengecek siapa yang datang, tetapi dengan sigap juga Libra menghadang dan mengatakan bahwa dia saja yang akan pergi menemui tamunya di luar sana.


Ciara menurut, gadis itu terduduk saja di sofa sambil memantau suaminya dari tempat ia duduk sekarang ini. Sedangkan Libra sudah melangkah ke dekat pintu, perlahan ia membuka kunci lalu menarik kenop pintu sehingga dapat bertatapan langsung dengan si tamu. Rupanya tamu yang hadir adalah seorang lelaki, dan tentu Libra tahu betul siapa tamu tersebut karena dia adalah Arkana.


"Loh Arka, kamu ada apa kesini? Disuruh mbak Dira atau siapa?" Libra bertanya seperti itu, sebab ia tak yakin jika Arka akan mau jauh-jauh datang ke apartemennya tanpa disuruh oleh siapapun.


Arka terkekeh dan mengatakan bahwa ia datang atas inisiatifnya sendiri, pria itu juga menyerahkan sebuah bingkisan kepada Libra sebagai tanda hadiah atas pernikahannya dengan Ciara beberapa hari lalu itu. Eh ralat, maksudnya kemarin karena mereka memang baru menikah kemarin.


Setelahnya, Libra pun mempersilahkan Arka untuk masuk. Tetapi, entah karena apa Arka malah menolak ajakan Libra dan memilih pamit dari sana karena tak ingin mengganggu waktu pengantin baru. Arka juga bilang kalau sebenarnya ia ragu untuk datang kesana saat ini, namun ia merasa tidak enak hati lantaran kemarin tidak bisa hadir secara langsung di acara pernikahan mereka.


"Oh begitu, yasudah gapapa deh kalau emang kamu langsung mau pamit. Tapi, gak pengen ketemu Ciara dulu nih?" ucap Libra.


"Ah enggak om, kapan-kapan aja saya kesini lagi buat ketemu sama Ciara. Sekarang mah saya gak bisa terlalu lama, takutnya saya malah ganggu kalian berdua lagi," ucap Arka menolak.


Libra sedikit tertawa mendengar jawaban Arka, tetapi pada akhirnya Libra mengiyakan saja ucapan Arka dan membiarkan pria itu pergi. Lalu setelah Arka menjauh alias tak terlihat lagi, barulah Libra masuk ke dalam apartemennya dan menemui sang istri yang masih setia menunggu di sofa. Ciara tampak penasaran, sebab Libra kembali dengan membawa bingkisan yang entah dari siapa itu.


"Dad, itu bingkisan dari siapa?" tanya Ciara dengan nada lembutnya.


"Ohh, ini dari Arka tadi." Libra menjawab dengan santai sembari menaruh bingkisan itu di atas meja dan kembali merangkul istrinya.


Ciara terkejut saat Libra menyebut nama Arka, lalu ia bertanya apakah Arka masih berada di luar dan mengapa Libra tak menyuruh Arka untuk masuk ke dalam menemuinya. Jawaban Libra tentunya sesuai dengan apa yang terjadi tadi, ya karena memang Arka lah yang tidak ingin masuk menemui Ciara.




Hari berganti, Ciara memutuskan keluar dari unit apartemen yang ditumpanginya itu untuk mengecek apakah barang pesanan miliknya telah sampai atau belum. Karena Ciara telah berulang kali memantau melalui ponselnya, tetapi disana tertulis jika paket atas nama Ciara itu telah diantar. Hanya saja hingga kini, Ciara tak merasa pernah menerima paket yang ia pesan tersebut.


Begitu ia memasuki lift, betapa terkejutnya Ciara karena ternyata gadis itu ada di dalam lift yang sama dengan sosok Seno alias mantan kakak kelasnya dahulu saat ia masih bersekolah beberapa tahun lalu. Tentu saja Ciara tak percaya melihatnya, gadis itu sampai melongok lebar memandang wajah Seno yang masih saja fokus ke layar ponselnya sebelum Ciara menegurnya karena penasaran.


"Kak Seno?" lirih Ciara, ya maksudnya adalah ia menegur pria itu meskipun suaranya tak terdengar seperti orang yang tengah menyapa.


Namun meski pelan, suara Ciara itu masih dapat didengar oleh Seno. Ya kini pria itu tampak menoleh ke arahnya, bahkan dirinya juga terkejut saat melihat Ciara ada di dalam lift yang sama dengannya.


"Hah Ciara??" Seno terlihat tak percaya, sudah lama ia tak bertemu dengan Ciara dan kini tanpa sengaja dirinya malah dipertemukan dengan gadis itu.


"Halo kak!" Ciara kembali menyapa pria itu disertai lambaian tangan dan senyuman khasnya.


Seno sangat senang, rasanya ia ingin sekali memeluk gadis itu saat ini juga untuk meluapkan rasa rindunya. Akan tetapi, tidak mungkin Seno dapat melakukan itu karena pasti Ciara akan menolak dan malah marah padanya.


"Ciara, kamu kok bisa ada disini? Kamu lagi ngapain?" tanya Seno keheranan.


"Ahaha, aku sekarang tinggal disini kak. Kak Seno sendiri lagi apa?" jawab Ciara.

__ADS_1


Seno menggeleng tak percaya, ternyata gadis yang ia sukai itu ada di gedung yang sama dengan dirinya selama ini tinggal. Tentu saja Seno amat bahagia, karena mulai sekarang ia dapat kembali bertemu atau bahkan mengobrol bersama gadis itu.


"Serius Ciara, kamu tinggal disini? Unit berapa?" tanya Seno tampak antusias.


"806 kak." mendengar jawaban Ciara itu, seketika Seno semakin bergembira karena unit yang ditinggali Ciara tidak terlalu jauh dengan tempatnya.


"Oh ya? Kebetulan aku juga tinggal disini, dan aku ada di unit 804. Kita ternyata tetanggaan loh ya, kok bisa aku gak sadar?" ujar Seno.


"Wow yang bener kak? Asyik dong, jadi kita bisa ketemu lagi kayak dulu!" ucap Ciara.


Ting


Ucapan mereka terhenti, lantaran pintu lift yang terbuka dan membuat keduanya sama-sama melangkah keluar dari lift tersebut. Lalu, Seno pun kembali menatap wajah Ciara dengan fokus seolah tak ingin berpaling darinya. Bagi Seno, gadis yang ada di hadapannya saat ini merupakan sosok yang sangat berarti di dalam hidupnya.


"Eee Ciara, kira-kira kamu mau ikut aku sebentar gak? Kita ngopi-ngopi santai gitu sambil ngobrol, ya itung-itung lepas kangen lah," ajak Seno.


Ciara terdiam sejenak untuk berpikir, ya gadis itu agak ragu untuk menerima ajakan Seno setelah ia teringat pada kejadian beberapa waktu lalu disaat pria itu menyatakan cinta padanya. Ciara tak mau hal itu terjadi kembali, apalagi jika saja Seno memang masih mencintai dirinya.


Tentu sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, Ciara tidak ingin mengkhianati cinta suaminya. Maka dari itu, Ciara mengatakan pada Seno bahwa ia tidak bisa menerima ajakan pria itu karena ia masih memiliki urusan yang lebih penting. Seno mengangguk coba memahami alasan gadis itu, meski ada sedikit kekecewaan di hatinya.


Akhirnya Ciara pergi lebih dulu kali ini, namun Seno tak sejengkal pun melangkah dari tempatnya dan malah terus memandangi punggung Ciara. Sepertinya pria itu masih kesulitan melupakan Ciara, cintanya pada Ciara memang besar dan Seno tak ingin Ciara menjauh darinya. Untuk itu ia amat bersyukur kali ini, karena Tuhan kembali mempertemukan mereka di tempat yang sama.


"Ciara, aku senang banget bisa ketemu kamu lagi. Aku janji, kali ini aku gak akan melepaskan kamu untuk yang kedua kalinya!" gumam Seno di dalam hatinya.




Setelahnya, Ciara memilih pergi dari sana dan berniat kembali ke unitnya. Terlihat juga Seno masih berdiri di dekat lift, ya itulah yang membuat Ciara berhenti melangkah karena tidak ingin bertemu kembali dengan lelaki itu. Pasalnya Ciara khawatir Seno masih mencintainya, itu akan sangat bahaya mengingat saat ini ia sudah menikah dan ia tidak mau suaminya salah paham nanti.


Ciara pun memilih menghindarinya, ia hendak melangkah keluar dari apartemen itu demi bisa menghindar dari Seno. Meski Ciara sendiri tidak tahu kemana ia akan pergi saat ini, ya karena sebetulnya gadis itu tidak ada rencana untuk pergi kemana-mana dan hanya ingin mengecek paket miliknya yang tak kunjung datang.


"Hadeh, gara-gara ada kak Seno aku terpaksa keluar dari apartemen deh! Ini kemana ya aku kira-kira? Mana aku juga belum izin sama om Libra lagi, nanti kalo dia marah gimana?" gumam Ciara.


Gadis itu terus menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Seno mengikutinya atau tidak, setelah dipastikan rupanya Seno memang tak berjalan ke arahnya, ya pria itu terlihat masuk ke mobilnya yang terparkir di depan sana lalu pergi begitu saja meninggalkan apartemen itu.


Kini Ciara dapat bernafas lega, pria yang sedari tadi ia takutkan itu ternyata sudah pergi dan tidak ada yang perlu dipikirkan olehnya lagi saat ini. Ciara pun berniat kembali ke apartemen, namun tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang dan membuat gadis itu terkejut. Sontak ia menoleh, lalu matanya terbelalak menangkap dua sosok wanita berdiri disana memandang ke arahnya.


"Hai Ciara!!" ya benar, mereka adalah Nindi serta Rifka yang sengaja datang untuk mengunjungi pengantin baru itu.


"Eh Nindi, kak Rifka??" Ciara terkejut, tapi juga senang dengan kehadiran dua wanita itu.


Ya mereka pun bersalaman disana dan saling mencium kedua pipi satu sama lain, lalu Ciara tampak gemas ketika melihat bayi milik Nindi yang digendong oleh Rifka. Entah mengapa, melihat bayi itu membuat Ciara juga ingin merasakan memiliki sosok bayi seperti itu.


"Duh lucu banget sih kamu Daiva! Aku jadi pengen punya bayi juga deh," ujar Ciara.


"Ahaha, yaudah lah kamu buat dong sama suami kamu! Eh omong-omong, kalian udah ngelakuin itu belum?" celetuk Rifka.

__ADS_1


"Eee itu..."


Ciara terlihat gugup saat ditanya begitu, karena memang gadis itu belum sama sekali melakukan kegiatan membuat anak bersama suaminya. Ya dari kemarin mereka hanya saling memuaskan tanpa memasuki milik masing-masing, tentu saja itu karena permintaan Ciara yang masih belum siap.


"Yah elah mbak, pake ditanya segala sih. Jelas lah Ciara udah ngelakuin sama om Libra, mereka itu kan pasangan baru. Pasti nih ya, gairah mereka menggebu-gebu tuh!" kekeh Nindi.


"Ish Nindi, kamu bicara apa sih! Aku malu tahu di depan kak Rifka!" tegur Ciara.


"Hahaha, ya gausah malu dong Ciara! Wajar kali namanya suami-istri, justru kalau kalian gak begituan malah aneh tau!" sahut Rifka.


Sontak Ciara terdiam, perkataan Rifka itu membuat dirinya tertampar kali ini. Ciara merasa menyesal, seharusnya ia tidak menolak permintaan Libra yang ingin mendapat jatahnya. Namun, Ciara malah sudah berulang kali menolaknya dan membuat Libra kecewa. Kini Ciara pun tampak bimbang, ia tak tahu apakah dirinya harus menuruti kemauan Libra nanti malam dan memberikan mahkotanya kepada pria itu atau tetap menunggu sampai ia siap.




Hari sudah malam, Ciara menghampiri suaminya di dalam kamar yang terlihat tengah sibuk berkutat di depan layar komputer miliknya. Gadis itu menelan saliva nya sembari menutup pintu dengan sangat berhati-hati, ia tidak mau mengganggu keseriusan Libra dan juga ia tak ingin rencananya untuk menggoda pria itu gagal kali ini.


Perlahan Ciara melangkah ke dekat Libra, ia baru berhenti tepat di belakang suaminya itu. Satu tangannya ia taruh di atas pundak sang suami, suara lembutnya menyapa lelaki itu dan membuat Libra terhenyak. Libra menoleh, lalu terpana melihat penampilan Ciara saat ini. Ya bagaimana tidak? Kini Ciara mengenakan baju tidurnya yang tipis dan tembus pandang, memperlihatkan bagian dalam tubuh gadis itu yang mengundang gairahnya.


"Loh sayang, kamu apa-apaan sih pakai baju beginian? Dapat darimana coba kamu baju kayak gini?" tanya Libra terheran-heran sembari berusaha menahan gairahnya.


Ciara terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya, wajar saja Libra terkejut karena memang baru kali ini pria itu melihat Ciara berpakaian seksi seperti sekarang ini. Biasanya Ciara sendiri lah yang selalu menolak jika diminta memakai baju yang terbuka, namun kali ini gadis itu malah datang dengan kondisi yang jauh berbeda dibanding biasanya.


"Iya dad, aku dikasih baju ini sama mama. Katanya sih khusus dipakai kalau lagi berduaan sama kamu, supaya kamu bisa tergoda," jawab Ciara dengan polosnya. Gadis itu tidak tahu, jika ucapannya malah semakin membuat Libra tak tertahankan.


"Oh begitu toh, bagus deh jadinya aku gak perlu susah-susah minta kamu buat goda aku. Emang ya mbak Nadira itu pengertian banget," ucap Libra.


"Yeu dasar daddy aja yang mesum!" Ciara mencibir bibirnya melihat Libra yang langsung beranjak dari kursi dan mendekatinya dengan wajah bergairah.


"Ahaha, kan kamu yang goda aku duluan baby. My bunny yang aku sayang dan cinta!" ucap Libra sensual seraya mendekap tubuh istrinya itu.


Ciara tersenyum saja, menikmati kecupan lembut sang suami di dahinya. Lalu, Libra juga beralih mengecup kulit lehernya dan meninggalkan jejak disana. Keduanya saling bertatapan, tak lama kemudian bibir mereka bertaut dan terciptalah ciuman panas yang membara disana.


"Dad, aku siap sekarang. Kalau daddy mau, ayo kita lakukan sekarang!" ucap Ciara lirih sembari mengusap dada bidang sang suami.


Libra terkejut bukan main, namun kemudian ia tersenyum menyeringai merasa puas dengan kata yang diucapkan oleh Ciara barusan karena inilah yang ia tunggu sejak lama.


"Kamu serius sayang?" tanya Libra tak percaya.


Ciara manggut-manggut sebagai jawaban, tanpa berpikir panjang Libra langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Saat itu juga, Libra mencumbu setiap inci bagian tubuh Ciara tanpa ada yang terlewati sama sekali.


Sreekk


"Aaaaa kenapa baju aku dirobek dad!!"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2