Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 146. Nama yang bagus


__ADS_3

Hari ini Tiara dikejutkan dengan keberadaan sosok Bagas di perusahaan tempatnya bekerja, ia reflek menghentikan langkahnya ketika melihat Bagas berdiri di depan sana menemui Karin yang bertugas sebagai resepsionis. Tiara tak mengerti apa niat Bagas datang kesana, ia pun tampak khawatir dan berpikir bahwa Bagas ingin melakukan hal-hal yang buruk disana terutama terhadap dirinya.


Disaat ia tengah melamun, tanpa diduga rupanya Karin melihat keberadaan dirinya disana dan langsung menunjuk ke arahnya. Tiara tentu terkejut, apalagi ketika Karin memanggilnya dan meminta Tiara untuk mendekat kesana. Sontak Bagas pun ikut menoleh, lalu menatap Tiara disertai senyum seringai yang menurut Tiara agak menyeramkan dan menyimpan cukup banyak dendam.


Perlahan Tiara mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Karin dan juga Bagas, ia terus menunduk dengan tubuh gemetar. Bagaimanapun, Tiara tahu kalau Bagas adalah orang jahat yang telah merusak hubungan rumah tangganya dulu. Kini Tiara sangat takut saat berdiri di sebelah lelaki itu, karena pasti Bagas sudah menyusun banyak rencana untuk membalas dendam pada keluarganya saat ini.


"Nah pak Bagas, ini dia mbak Tiara alias sekretaris pak Adrian. Kalau bapak mau buat janji dengan pak Adrian, bisa melalui beliau ya pak!" ucap Karin.


"Oh begitu ya? Baiklah, sekarang saya mau bicara empat mata dengan anda Tiara! Kira-kira kita bisa bicara dimana ya? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," ucap Bagas pada Tiara.


Tiara benar-benar merasa gugup saat ini, jantungnya berdetak lebih kencang dan ia juga tak tahu harus menjawab apa. Apalagi, sekarang Bagas terus menatapnya dan mendekat ke arahnya dengan wajah tersenyum. Tiara makin ketakutan, berulang kali ia berusaha menenangkan diri tetapi nyatanya cukup sulit karena Bagas yang memang mengerikan.


"Eee kita bicara di ruangan saya, silahkan!" ucap Tiara dengan gugup.


"Okay." Bagas manggut-manggut paham.


Lalu, keduanya mulai melangkah menuju lift untuk segera pergi ke ruangan milik Tiara dan berbincang berdua disana. Meski Tiara agak ragu melakukan itu, namun sekarang ini ia harus bersikap profesional dan tidak boleh membuat yang lain curiga. Terlebih, Bagas merupakan klien dari Adrian dan perusahaan itu akan mendapat citra buruk jika ia memperlakukan Bagas dengan tidak baik.


Sepanjang jalan menuju ruangan pribadinya, Tiara terus saja merasa gugup dan tak berani menatap langsung wajah pria di sebelahnya. Tiara tetap berusaha tenang saat ini, meski di dalam hatinya ia amat ketakutan dengan sosok pria itu. Untungnya di dalam lift mereka tak hanya berdua, ya karena ada beberapa karyawan lain yang ikut disana.


Namun, keramaian itu hanya bertahan selama di dalam lift saja. Kini mereka tiba di depan ruang pribadi Tiara, dan tanpa banyak berpikir Tiara langsung membuka pintu serta mempersilahkan Bagas masuk ke dalam. Dengan senang hati Bagas melakukan itu, ia melangkah dan melihat-lihat kondisi ruangan Tiara yang lumayan besar itu.


Mereka terduduk pada sofa yang tersedia, dengan posisi ini tentunya Tiara berada sangat dekat dengan pria yang ia benci itu. Tiara tak tahu apa yang hendak dibicarakan Bagas saat ini, tetapi ia mencoba bersikap seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan. Bagas tidak boleh tahu, kalau sekarang ini Tiara sedang ketakutan dan berharap-harap cemas dengan keberadaannya.


"Jadi, anda mau membicarakan apa? Kalau anda hanya ingin membuat janji dengan pak Adrian, saya bisa persiapkan semuanya sekarang," ucap Tiara.


Tiara bangkit dan hendak menuju mejanya, namun Bagas dengan cepat mencekal lengannya dan meminta Tiara untuk tetap duduk disana bersamanya. Tiara terkejut lalu menatap heran wajah Bagas yang tengah memegang tangannya, tak ada rasa bersalah dari pria itu dan dengan santainya dia melepas Tiara untuk kembali bersandar disana.


"Sorry Tiara, tapi saya bukan mau membahas itu. Saya ini emang pengen bicara berdua sama kamu, jadi saya minta kamu tetap duduk disini dan jangan kemana-mana!" ucap Bagas tegas.


"Sure, apa yang anda mau sekarang?" tanya Tiara dengan lembut.


"Kamu pasti masih ingat siapa saya kan? Iyalah, gak mungkin kamu lupa sama orang yang sudah menghancurkan rumah tangga kamu!" ucap Bagas.


Deg


Tiara benar-benar tak mengerti apa maksud Bagas bicara seperti itu, tapi lagi-lagi saat ini ia hanya bisa bersikap tenang seperti biasa dan menghindari keributan yang tidak diinginkan. Tiara khawatir jika Bagas hanya ingin memancingnya, lalu dengan begitu maka posisi Tiara di perusahaan itu akan terancam.


"Ya saya ingat, lalu kenapa? Masalah buat anda?" tanya Tiara terheran-heran.


"Saya hanya ingin memperingati kamu Tiara, sebaiknya masalah diantara kita berdua ini hanya kita yang tahu! Kamu tidak boleh memberitahu pada siapapun, termasuk bos kamu itu si Adrian!" ucap Bagas mengancam.


"Kenapa begitu? Apa anda juga memiliki rencana buruk pada pak Adrian? Dengar ya, saya tidak akan biarkan anda melakukan itu!" tegas Tiara.


Bagas menyeringai, "Kamu gak perlu tahu apa-apa Tiara, turuti saja perkataan saya kalau kamu mau selamat! Jika tidak, kejadian yang menimpa supir kamu kemarin bisa kamu alami juga!" ucapnya.


Tiara tersentak dengan ucapan Bagas tadi, matanya terbelalak dan tak bisa berkedip setelah tahu kalau Bagas adalah pelaku pengeboman itu. Tiara menggeleng perlahan, seolah tak percaya dengan pengakuan dari Bagas itu. Kini Tiara tampak makin ketakutan, ia tahu Bagas adalah orang yang nekat dan bisa melakukan apapun sesuai kemauannya.

__ADS_1


"Kamu takut Tiara? Tenang saja, saya hanya akan melakukan itu jika kamu berani bermain-main dengan saya!" ujar Bagas.


Tiara hanya bisa diam saat Bagas mendekat dan mengusap wajahnya, wanita itu benar-benar ketakutan dan bahkan tubuhnya terus gemetar menahan rasa takut. Terlebih saat sentuhan tangan Bagas terasa di kulitnya, membuat Tiara makin merasa tidak nyaman jika terus seperti itu.


"I-i-iya, cukup! Saya akan jaga rahasia kamu ini, saya pastikan pak Adrian tidak tahu tentang semua masalah yang pernah terjadi diantara kita!" ucap Tiara gugup.


"Hahaha, itu bagus Tiara. Saya senang dengar ucapan kamu barusan," puji Bagas.


Tiara manggut-manggut kecil, akhirnya Bagas menyingkirkan tangannya dari wajah wanita itu dan beranjak seolah hendak pergi. Tentu Tiara merasa lega kali ini, karena setidaknya ia akan terlepas dari lelaki tidak waras seperti Bagas.


"Saya permisi, terimakasih atas waktunya Tiara!" ucap Bagas sesaat sebelum pergi dari sana.


Tak ada jawaban dari Tiara, ia terdiam saja di sofa dan membiarkan Bagas keluar dari ruangannya karena memang itu yang ia inginkan. Setelah Bagas tidak terlihat lagi, barulah Tiara bangkit dan langsung mengunci pintu ruangannya untuk berjaga-jaga kalau pria itu akan kembali.


"Huft, aku gak nyangka banget bakal kayak gini. Ternyata Bagas yang udah taruh bom di mobil aku, tapi kok bisa ya?" gumam Tiara.




Disisi lain, Ciara yang tengah menyirami bunga di halaman rumahnya dibuat kaget saat mendengar suara klakson mobil dari arah luar pagar. Sontak Ciara menghentikan sejenak kegiatannya, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang datang. Memang saat ini di rumahnya juga sudah ada sosok satpam, itulah sebabnya Ciara tak perlu repot-repot membuka pagar.


Begitu melihat sosok yang keluar dari mobil itu, Ciara tersenyum lebar karena yang datang adalah Keenan alias mantan asisten papanya dulu. Sontak Ciara bergerak cepat menghampiri pria itu, ya karena rasa rindunya pada Keenan yang amat sangat. Namun, tampaknya Keenan tak datang seorang diri dan ada sosok wanita yang juga ikut turun disana.


Mata Ciara terbelalak melihatnya, yang muncul itu adalah Cleo yang merupakan mantan sahabatnya kala bersekolah dulu. Tentu saja Ciara amat kaget dengan kemunculan Cleo disana bersama Keenan, ia tak mengerti ada apa diantara Cleo dan Keenan sampai mereka bisa datang berdua ke rumahnya dan terlihat begitu akrab.


Keenan tersenyum saat Ciara menghampirinya, ia pun menggandeng Cleo dan mengajak gadis itu mendekat ke arah Ciara disana. Sama seperti Ciara, kini Cleo juga tak kalah terkejutnya karena mengetahui bahwa orang yang dimaksud Keenan sebelumnya adalah Ciara. Ya tentu Cleo kenal betul dengan wanita itu, dirinya dan Ciara merupakan sahabat akrab sewaktu bersekolah dulu.


"Om, kok om bisa kesini sama Cleo sih? Ada apa ya om?" tanya Ciara terheran-heran.


Keenan sontak mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan Ciara barusan, ia baru tahu kalau Ciara mengenal siapa Cleo sebenarnya. Padahal, tadi niatnya datang kesana adalah untuk mengenalkan Cleo kepada Ciara. Keenan pun tak habis pikir dibuatnya, ia menatap ke arah Cleo dan Ciara secara bergantian dengan wajah bingung.


"Loh loh ini maksudnya gimana ya Ciara, kamu kok bisa tahu kalau perempuan yang om bawa ini namanya Cleo? Apa kalian sudah saling mengenal, atau gimana?" Keenan kebingungan dibuatnya.


Ciara manggut-manggut perlahan, "Jelaslah om, Cleo ini sahabat aku waktu sekolah," jawabnya.


"Hah??" Keenan terkejut bukan main mendengarnya.


"Iya Keenan, aku sama Ciara itu sahabatan dari dulu. Ya walau sekarang ini kita udah jarang komunikasi sih, makanya aku gak nyangka banget kalau orang yang mau kamu temuin ke aku itu Ciara," ucap Cleo.


Keenan menggelengkan kepalanya setelah mendengar pengakuan Cleo barusan, ia tak menyangka jika kedua wanita itu bersahabat. Kini ia pun tidak perlu susah-susah mengenalkan mereka berdua, ya karena mereka ternyata sudah saling mengenal dan bahkan bersahabat sejak masa sekolah sampai sekarang ini.


"Wah ini sih om kaget banget, gak nyangka om kalau kalian temenan! Tapi gapapa deh, seenggaknya om gak perlu ngenalin kalian lagi!" kekeh Keenan.


"Ahaha, tapi aku masih bingung deh om. Om sama Cleo ini ada hubungan apa sih? Kok bisa om kenal sama Cleo, terus kalian kelihatan dekat banget ini?" tanya Ciara penasaran.


Keenan tersenyum dan melirik ke arah Cleo di sampingnya, ia eratkan genggaman tangannya pada telapak gadis itu sambil mendekapnya kuat. Hal itu tentu saja membuat Ciara makin penasaran, apalagi kedekatan antara Keenan dan Cleo yang cukup membuatnya curiga.

__ADS_1


"Iya Ciara, kami berpacaran. Rencananya kami juga akan melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat ini, makanya om mau kenalin Cleo ke kamu tadinya. Eh ternyata kalian malah udah saling kenal dari lama," ucap Keenan.


"Apa??" Ciara tersentak dan seolah tidak percaya, ia sampai menutupi mulutnya mengetahui hal yang amat membahagiakan itu.




Malam harinya, Ciara tengah bersama Libra di dalam kamar dan bersiap untuk tidur karena hari sudah larut. Namun sebelum itu, tampaknya Ciara masih mengusap perutnya yang sudah membesar itu dengan senyuman melingkar di pipinya. Libra yang bersandar tepat di sebelahnya terus memandangi sang istri sambil tersenyum, pria itu tahu kalau Ciara sudah tidak sabar ingin segera melahirkan anaknya.


"Sayang, kenapa itu perutnya diusap-usap terus? Kamu gak sabar ya pasti pengen ngelahirin anak kita ke dunia?" tanya Libra dengan lembut.


Ciara mengangguk perlahan, "Iya mas, rasanya aku pengen banget cepat-cepat lahirin anak kita terus main sama dia!" ucapnya.


"Sama dong, aku juga gak sabar pengen main sama anak kita nanti. Pasti rasanya seru banget deh sayang, kalau dia udah lahir nanti aku pengen gendong dia terus tiap hari deh," ucap Libra.


"Ahaha, iya mas iya terserah kamu. Sekarang aku mau tanya satu hal deh ke kamu," ucap Ciara.


"Hm, apa tuh?" Libra penasaran dibuatnya.


Ciara tersenyum lebar dan kemudian meraih satu tangan suaminya, ia letakkan telapak tangan itu di atas perutnya sambil terus menatapnya. Saat itu juga Libra merasa heran dengan tindakan yang dilakukan Ciara barusan, apalagi tampaknya Ciara benar-benar serius saat ini untuk berbicara dengannya.


"Kamu masih kepengen punya anak laki-laki ya, mas? Kamu gak senang kan setelah dengar dari dokter kalau anak kita ini perempuan?" tanya Ciara pada suaminya.


Libra tersentak kaget, ia mengernyitkan dahinya seolah bingung mengapa Ciara menanyakan hal itu kepadanya. Libra pun tidak tahu harus menjawab apa, karena ia sendiri memang masih bingung dengan perasaannya sendiri. Sedangkan Ciara juga terus menatap ke arahnya, menantikan jawaban dari lelaki itu saat ini.


"Ya memang aku pengen banget punya anak cowo, tapi kalau belum dikasih sama Tuhan ya gak masalah sayang," jawab Libra lirih.


"Serius mas? Kamu gak bohong kan? Intinya kamu mau terima anak kita ini atau malah kamu mau tinggalin dia karena dia perempuan? Kamu jawab jujur ya mas!" ucap Ciara memastikan.


"Hus, bicaranya jangan begitu ah! Aku gak mungkin dong tinggalin kalian, aku sayang sama kamu dan juga anak kita!" tegas Libra.


"Iya deh iya, aku percaya sama kamu!" ucap Ciara.


Setelahnya, Libra membawa Ciara ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut sambil mengecup keningnya. Libra paham kekhawatiran yang dirasakan Ciara saat ini, tapi yang pasti Libra bukan tipe lelaki yang suka menyakiti perasaan wanita dan ia tidak mungkin pergi meninggalkan Ciara begitu saja.


"Oh ya mas, kamu punya saran gak buat nama calon anak kita nanti?" tanya Ciara lagi.


"Nama? Umm gimana kalau kita minta saran ke readers aja buat namanya? Siapa tahu kan mereka punya saran nama-nama yang bagus gitu," usul Libra.


"Wah boleh tuh mas, aku tunggu deh saran dari readers buat nama calon anak kita!" ucap Ciara.


Mereka pun saling berpelukan dan memandang wajah satu sama lain, keduanya tersenyum lalu diakhiri dengan cumbuan yang manis.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2