
Ciara pulang ke rumahnya dengan kondisi menangis, ia masih belum bisa melupakan apa yang dilihat olehnya di kamar hotel tadi. Dimana saat itu Libra tertangkap basah tengah berdua bersama wanita lain, Ciara sungguh kecewa dan merasa sakit hati atas kelakuan buruk suaminya itu. Tanpa berpikir dua kali, tentunya Ciara sudah yakin untuk bisa bercerai dari lelaki sialan seperti Libra tersebut.
"Bu, sudah ya jangan menangis! Kita sudah sampai di rumah bu, nanti anak-anak bisa penasaran kenapa ibu menangis seperti ini. Kasihan mereka bu, pasti mereka belum tau apa-apa!" ucap Liam, pengawal pribadinya itu.
"Kamu gausah mikirin soal itu, saya bisa handle semuanya kok! Kamu cukup bantu pak Willy untuk mengurus perceraian saya di pengadilan! Kamu harus pastikan kali ini berhasil!" titah Ciara.
"Baik bu, akan saya lakukan sebaik mungkin!" ucap Liam dengan tegas.
Ciara mengangguk, ia pun berbalik dan berniat masuk ke dalam rumah menemui anak-anaknya yang pasti sudah menunggu. Tentu saja mereka sedari tadi hanya tinggal disana bersama Maria, yang merupakan pengasuh mereka sejak kecil. Ciara menyeka air matanya terlebih dulu, karena tidak ingin membuat anak-anaknya curiga.
"Mama!!" benar saja, begitu masuk ke dalam Ciara langsung disambut oleh kedua anaknya itu.
Baik Lia maupun Lio, kompak memeluk tubuh mamanya yang mereka rindukan itu. Sejak tadi mereka memang menunggu kehadiran mamanya, karena hari sudah malam dan mamanya itu tak kunjung pulang ke rumah. Apalagi, Cyra juga sedang berada di rumah Nadira dan tidak bisa menemui kedua adiknya itu disana.
"Eh anak-anak mama yang ganteng dan cantik, kok kalian belum bobo sih? Ini udah malam loh, kalian gak ngantuk?" tanya Ciara.
Lia menggeleng, "Enggak ma, kita belum ngantuk. Kita mau bobo sama mama aja, soalnya kak Cyra gak ada di rumah sih," jawabnya.
"Ohh, iya sayang kakak kalian itu lagi nginep di rumah oma. Jadi yaudah deh, nanti kalian bobo bareng sama mama ya di kamar mama?" ucap Ciara.
"Yeay asik!" Adel dan Lio pun kompak berteriak penuh antusias.
"Sama papa juga kan, ma?" tiba-tiba Lio bertanya seperti itu padanya, yang membuat Ciara seketika diam dan tak mampu menjawabnya.
Ciara tak tahu harus berkata apa, karena tak mungkin ia menjawab yang sejujurnya pada mereka. Bisa saja nantinya kedua anaknya itu membenci papanya, ya Ciara tidak mau itu terjadi karena sampai kapanpun Libra tetap lah ayah mereka. Meski, Libra juga lebih banyak menghabiskan waktu di luaran sana tanpa perduli dengan mereka.
"Gak bisa sayang, papa kalian gak pulang ke rumah malam ini. Papa lagi sibuk banyak kerjaan, kalian bobonya sama mama aja ya?" ucap Ciara.
"Yah iya deh ma, gapapa. Tapi, mama nanti bacain kita berdua dongeng ya ma?" pinta Lia.
"Iya Lia sayang, mama bacain semua yang kalian mau. Yaudah, yuk kita ke kamar! Kalian berdua udah pada makan kan?" ucap Ciara.
"Udah dong ma," jawab Lia dan Lio serempak.
"Bagus, pinter banget sih anak-anak mama ini!" ucap Ciara sembari mencubit pipi keduanya.
"Hehe.."
Setelah itu, Ciara menggandeng tangan kedua anaknya dan mengajak mereka pergi ke kamar bersiap untuk tidur. Sebelum naik ke atas kasur, tentu saja Ciara membawa Lia serta Lio ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ya Ciara selalu mengajarkan hal baik itu pada mereka, seperti ketika dulu Nadira melakukan hal yang sama padanya sewaktu ia masih kecil.
•
•
Sementara itu, Libra masih berada di hotel bersama Aline. Ia tak bisa berhenti menangis setelah kejadian yang menimpanya tadi, Libra sungguh tak percaya kalau ia akan terkena masalah yang sebesar ini hanya karena mengikuti hasratnya. Libra pun menyesal, ia terus mengacak-acak rambutnya sambil berteriak melampiaskan kekesalannya.
Aline sendiri hanya bisa diam memandangi sosok Libra dari jarak yang tak jauh, ia bermaksud memberi waktu bagi pria itu untuk menenangkan diri. Ya Aline tahu seperti apa perasaan Libra saat ini, karena sebentar lagi Libra akan berpisah dengan istrinya. Tentu itu bukanlah suatu hal yang mudah, sebab Libra sangat mencintai Ciara.
"Aaarrrgghhh dasar bodoh kamu Libra, bodoh! Kamu emang gak becus jadi suami, ataupun ayah buat anak-anak kamu! Kamu gak pantas tinggal sama mereka!" teriak Libra.
__ADS_1
Aline tampak ragu untuk mendekati sahabatnya itu, apalagi dalam kondisi dimana Libra tengah mengalami kekecewaan yang amat sangat. Aline pun hanya bisa berdiam diri di tempatnya, meski ia sangat kasihan kepada pria itu. Seandainya Aline menolak saat Libra mengajaknya ke hotel itu, mungkin saja ini semua tidak akan terjadi.
"Lin!" tiba-tiba saja, Libra menoleh ke arahnya dan memanggil wanita yang berdiri disana.
Libra pun bangkit dari posisinya, lalu menghampiri Aline dengan perlahan dan berusaha menghilangkan kesedihan dari dalam dirinya. Saat ini mereka telah mengenakan pakaian masing-masing, sehingga tak akan ada permainan panas diantara mereka. Terlebih, suasana hati Libra juga sedang kacau akibat kejadian sebelumnya.
"Aline, aku minta maaf ya sama kamu! Aku harusnya gak bawa kamu ke dalam masalah aku, jadinya Ciara salah paham deh sama kamu. Maafin aku ya, tadi kamu juga jadi dimarahin sama Ciara! Kamu jangan dendam ya sama dia!" ucap Libra.
Aline tersenyum tipis, "Kamu gak perlu khawatir, aku maklumi kok semuanya! Aku tau Ciara pasti emosi banget tadi pas lihat kita disini," ucapnya.
"Iya Lin, aku juga gak tau lagi harus gimana buat bujuk dia sekarang. Mungkin ya aku bakal terima aja kalau dia memang mau pisah sama aku, karena semuanya udah sulit," ucap Libra pasrah.
"Kamu yang sabar ya Libra, aku akan selalu support kamu apapun yang terjadi kok!" ucap Aline.
Libra mengangguk kecil, sedangkan Aline terlihat menaruh telapak tangannya di atas pundak pria itu dan mengusapnya lembut. Aline berusaha menghibur sahabatnya, karena ia tahu Libra pasti sangat kecewa saat ini. Bagaimanapun, Aline adalah sahabat Libra dan hanya ialah satu-satunya orang yang bisa menghibur pria itu.
"Kita tidur yuk! Ini udah malam loh Libra, kamu harus istirahat biar segar terus! Apalagi, besok kan hari sidang cerai kamu," ucap Aline.
"Kamu benar, aku harus hadir ke sidang itu besok. Aku gak mau bikin Ciara sakit hati lagi," ucap Libra.
Keputusan Libra sudah bulat kali ini, ia tidak akan lagi meminta Ciara untuk berpikir ulang mengenai perceraian mereka. Justru Libra akan hadir di dalam sidang besok, supaya proses perceraian mereka bisa secepatnya selesai. Ya semua itu Libra lakukan demi Ciara, sebab ia tak mau melihat Ciara terus menangis seperti sebelumnya.
"Kamu tenang aja Ciara, aku janji gak akan sakitin hati kamu lagi! Kalau memang ini satu-satunya cara untuk bisa menebus kesalahan aku, maka aku rela bercerai dari kamu," batin Libra.
•
•
Disaat Cyra hendak pergi ke dapur, tanpa diduga ia malah melihat Faiz yang sedang tertidur di sofa dengan posisi terduduk. Cyra menggeleng pelan, ia heran mengapa Faiz bisa terduduk disana dan ditemani tv yang menyala. Tanpa berpikir panjang, Cyra pun mendekati pria itu untuk mematikan tv agar tidak boros listrik sekaligus mencegah kerusakan.
Setelahnya, Cyra pun berniat pergi dari sana dan meneruskan langkahnya menuju dapur. Akan tetapi, karena kecerobohannya Cyra malah tersandung kaki meja dan akhirnya terjatuh. Akibat perbuatannya itu menimbulkan sebuah suara yang didengar oleh Faiz, ya pamannya itu pun terbangun karena kaget ketika tiba-tiba mendengar suara orang jatuh.
"Akh aduh!" Cyra masih meringis di bawah kaki lelaki itu, ia juga tampak memegangi kakinya sendiri.
Faiz yang masih setengah sadar, tampak mengernyitkan dahinya ketika melihat sosok gadis terduduk di bawahnya. Faiz pun mengecek matanya, ia baru sadar kalau gadis itu adalah Cyra alias keponakannya. Faiz sungguh heran, ia bingung bagaimana bisa Cyra berada disana dan sekarang tengah terduduk sambil meringis kesakitan.
"Heh Cyra!" sontak Faiz memanggilnya, menegur gadis itu dan sedikit membungkuk untuk menatap wajahnya lebih dekat.
Cyra yang merasa terpanggil, lalu segera menoleh ke arah pamannya dengan ekspresi bingung. Kakinya saat ini terasa amat sakit, namun ia juga harus menjelaskan pada Faiz yang terlihat penasaran mengapa ia berada disana. Ya terbukti, Faiz pun terus saja memandanginya seolah menanti jawaban yang tepat dari gadis itu.
"Kamu lagi ngapain disitu, ha? Mau gangguin aku tidur ya?" tanya Faiz.
"Hah? Enggak kok om, mana berani aku kayak gitu. Aku tuh gak sengaja lihat om tidur disini, tapi tv nya masih nyala. Yaudah biar gak rusak, aku matiin aja deh tv nya," jawab Cyra.
"Ohh, itu udah biasa kali. Kamu gak perlu susah-susah matiin tv kayak gitu," ujar Faiz.
"Ya maaf om, abisnya om sih pake tidur disini segala. Emangnya di kamar om gak ada tv apa? Di kamar aku aja ada kok," ucap Cyra.
"Ck, suka-suka aku lah!" ketus Faiz.
__ADS_1
Cyra merasa jengkel dengan sikap pamannya itu, ia pun menggerutu pelan sambil beralih pada pergelangan kakinya yang tadi tak sengaja membentur meja. Sakitnya terasa amat sangat, sehingga Cyra masih belum berhenti meringis. Padahal, tadi niatnya adalah untuk mengambil air minum di dapur karena ia sangat haus.
"Eh, itu kenapa kaki kamu? Kok diurut-urut kayak gitu, emangnya sakit?" tanya Faiz.
"Ish, pake nanya lagi. Ya iyalah om ini sakit banget, tadi kan kebentur meja tuh. Gara-gara aku matiin tv yang om tonton nih, sial banget emang!" jawab Cyra sambil cemberut.
Faiz terkekeh, "Hahaha, rasain tuh! Lagian resek banget sih jadi orang, ngapain coba pake matiin tv yang lagi ditonton?" ujarnya.
"Hah??" Cyra melongok dengan mulut menganga.
Bukannya kasihan dan perduli padanya, Faiz justru menertawakannya dan membuat Cyra semakin kesal dengan kelakuan pamannya itu. Akibatnya, Cyra pun memukuli paha serta tulang kering Faiz berkali-kali untuk melampiaskan kekesalannya. Hal itu membuat Faiz terkejut, sekaligus merasa bingung mengapa Cyra malah mengamuk seperti itu.
"Eh eh eh, Cyra stop Cyra! Apa-apaan sih kamu? Kok kamu mukulin aku kayak gitu?" protes Faiz sembari menahan dua tangan gadis itu.
"Ih lepasin ah om, aku masih mau mukulin om tau! Suruh siapa om malah ketawa di atas penderitaan aku? Dasar om gak tau diri, gak ada sayang-sayang nya sama ponakan sendiri!" cibir Cyra.
"Dih, pengen banget apa kamu disayang sama aku? Sorry ya Cyra, aku emang paman kamu. Tapi, umur kita kan gak jauh beda kali," ucap Faiz.
"Ish, ya tetep aja lah kamu om aku. Udah lepasin tangan aku ah, sakit tau dipegangin kayak gitu!" ucap Cyra berontak dan akhirnya terpaksa dilepaskan oleh Faiz yang merasa kasihan.
"Halah segitu aja kesakitan, lebay kamu!" ucap Faiz mencibirnya.
"Biarin!" ketus Cyra.
Tak lama kemudian, Nadira yang mendengar suara keributan dari ruang keluarga pun terbangun dan keluar dari kamarnya untuk memastikan apa yang terjadi. Saat ia tiba disana, betapa syoknya ia ketika melihat Cyra dan Faiz yang sedang bertengkar. Nadira menggeleng pelan, ia heran mengapa Cyra dan Faiz masih saja bertengkar seperti itu.
"Haish Cyra, Faiz! Kalian ada apa sih malam-malam ribut begini?" Nadira langsung mendekat dan menegur keduanya dengan tegas.
Baik Faiz maupun Cyra kompak menoleh ke arah Nadira, mereka dibuat bingung saat ini karena pasti Nadira akan bertanya banyak hal. Terutama Faiz, ya ia khawatir kalau Cyra akan mengadu dombanya di depan Nadira dan berkata jika ia telah menyakiti gadis itu. Apalagi, kaki Cyra saat ini memang sedang terluka akibat terbentur meja tadi.
"Eh mama bangun, maaf ya ma? Ini si Cyra tiba-tiba aja datang terus ngamuk-ngamuk gak jelas, padahal aku lagi tidur loh ma. Emang dia ini kayaknya punya penyakit deh ma," ucap Faiz.
"Hus, kamu gak boleh bicara begitu sama ponakan kamu sendiri Faiz!" tegur Nadira.
"Hehe, ya abisnya dia aneh sih ma. Ngapain coba dia pake kesini terus ngamuk begitu? Ganggu orang tidur aja, padahal masih jam tiga pagi!" ucap Faiz.
"Ck, terus aja terus! Om jelekin aja aku di depan oma, ayo terus!" cibir Cyra.
Nadira tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia lalu mendekati cucunya itu untuk memastikan apa yang terjadi padanya. Cyra sendiri masih terus memegangi pergelangan kakinya yang tampak membiru, terasa amat sakit kali ini dan membuat Nadira pun ikut panik ketika mengetahui kondisi kaki Cyra yang terbentur meja itu.
"Loh Cyra, ini kaki kamu kenapa sayang? Kok bisa sampe bengkak begini sih, hm?" tanya Nadira panik.
"Akh, sakit oma!" Cyra reflek menjerit saat Nadira menyentuh kakinya itu.
"Ah lebay! Orang cuma kepentok meja aja udah kayak abis jatuh dari gedung lantai sepuluh," ucap Faiz mengejek gadis itu.
Cyra menatap tajam wajah pamannya, ingin rasanya ia memberi pelajaran pada Faiz dan memukul pria itu karena sudah mengejeknya. Namun, Cyra juga harus menjaga sikap karena saat ini terdapat omanya yang sedang berusaha membantunya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...