Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 73. Reaksi aneh


__ADS_3

Hari ini Ciara baru menyelesaikan sekolahnya dan berniat pulang menunggu jemputan, tapi ia justru terkejut karena yang datang bukanlah Libra melainkan sosok om Davin. Mata Ciara terbelalak lebar, terlebih saat Davin bergerak mendekat ke arahnya disertai senyuman seringai yang membuat Ciara makin ketakutan. Denyut jantung gadis itu berdetak tak karuan, posisinya dan Davin sudah benar-benar berharap kali ini dengan tangan pria itu yang juga bergerak mengusap wajahnya.


Tubuh Ciara bergetar, merespon apa yang dilakukan Davin kali ini. Ia menjauh, berusaha menghindar dari sentuhan magis sang paman yang mesum itu. Ciara ingat sekali, dulu dirinya mampu dibuat terbuai oleh sentuhan Davin ketika mereka pertama kali melakukannya di apartemen pria itu. Sungguh Ciara menyesal dengan itu, dan ia berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi bersama Davin sampai kapanpun karena ia amat membencinya.


"Sayang, kenapa menghindar sih? Bukannya kamu dulu suka ya disentuh seperti ini sama om, hm?" ujar Davin dengan nada menggoda.


Ciara menggeleng perlahan, "Enggak om, om salah kalau bilang aku suka! Dari dulu aja aku terpaksa om, karena aku takut sama ancaman om. Tapi, sekarang aku gak perlu ngerasa takut lagi."


"Kenapa? Apa karena sekarang kamu sudah punya Libra, paman kamu yang gak kalah mesum dari om ya?" tanya Davin.


"Om gausah ngaco deh, om Libra itu beda! Dia gak seperti om yang haus s3x, jadi om jangan sama-samain diri om sama dia deh! Karena kalian itu bagaikan langit dan bumi," ucap Ciara tegas.


"Oh ya? Kalau begitu, kamu ikut om sekarang Ciara!" pinta Davin.


Ciara mengernyit keheranan, "Untuk apa?" tanyanya yang membuat Davin tersenyum dan melangkah ke samping gadis itu. "Om mau bicara sesuatu sama kamu sayang, ini penting!" ucap Davin sembari membelai rambut ponakannya.


"Aku gak mau om, nanti om culik aku lagi. Mending om sekarang pergi deh!" tolak Ciara.


"Om gak akan pergi sayang, sebelum kamu mau ikut sama om dan kita bicara berdua! Kamu tenang aja, om gak akan apa-apain kamu kok!" paksa Davin.


"Tapi om—"


"Percaya sama om, Ciara!" pria itu benar-benar memaksa dan coba meyakinkan Ciara bahwa dirinya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kali ini.


Ciara melamun sejenak memikirkan jawaban yang tepat, pasalnya ia masih ragu jika Davin telah berubah dan tak akan menyakitinya. Namun, melihat ekspresi Davin saat ini amat membuat Ciara bimbang. Akhirnya gadis itu terpaksa mengangguk setuju, mengiyakan ajakan Davin untuk ikut bersamanya dan berbincang berdua dengannya.

__ADS_1


"Oke om, aku mau." Davin melebarkan senyumnya mendengar jawaban gadis itu, ia langsung menggandeng tangan Ciara dan mengajaknya pergi.


Keduanya pun berjalan bersama-sama menuju mobil si pria yang terparkir di depan sana, Ciara masuk lebih dulu ke dalam mobil setelah Davin membantu membukakan pintu. Tanpa berlama-lama, Davin bergegas masuk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Davin tentu sudah menyiapkan tempat yang tepat bagi mereka bicara berdua kali ini, dan terlihat Davin menghentikan mobilnya ketika tiba di depan sebuah cafe yang tak jauh.


"Disini tempatnya, ayo turun!" Davin langsung mengajak Ciara turun dari mobilnya, gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mereka melangkah memasuki cafe dan terduduk di tempat yang kosong, tak lupa Davin segera memanggil pelayan lalu mengatakan pesanannya pada pelayan itu. Ciara diam saja sambil terus menatap sekeliling, gadis itu heran lantaran di cafe tersebut hanya ada dirinya dan sang paman. Padahal biasanya di waktu siang seperti ini, pasti ada saja pelanggan yang datang ke cafe untuk beristirahat.


Ciara yang heran coba menanyakan perihal itu pada pamannya, tetapi Davin tak merespon dan malah mengalihkan perhatian dengan membelai wajah cantik gadis itu. Ciara terpaksa melupakan semua dan membuang jauh-jauh pikiran buruknya, ia yakin kalau Davin bisa dipercaya dan pria itu tidak akan menyakitinya saat ini. Ya meski tentu Ciara tetap harus berhati-hati, sebab terakhir kali mereka bersama Davin hampir sempat memperkosanya.


Setelah pesanan mereka datang, Davin pun menawarkan minuman aneh itu kepada Ciara. Ciara yang memang tak biasa meminum minuman seperti itu, sontak menatap heran ke arah pamannya pertanda dirinya tidak mengerti minuman apa itu. Namun, Davin malah tersenyum seolah mengejek kepolosan Ciara. Saat itu juga Ciara merasa malu, wajahnya bersemu dan ia berusaha menyembunyikannya dari sang paman.


"Ini wine, sayang. Kamu wajib coba, minuman ini enak banget loh dan om paling suka minum ini!" ucap Davin menerangkan.


"Oh." Ciara manggut-manggut paham.


Ciara terbelalak saat Davin menawarkan minuman itu padanya, tapi kemudian ia mengangguk setuju karena memang ia penasaran pada rasa dari minuman yang katanya enak itu. Davin pun menuangkan wine itu ke gelas milik Ciara, lalu dia menyodorkan gelas itu pada Ciara agar bisa segera diminum. Ciara tampak ragu saat hendak meminumnya, entah mengapa ia merasakan ada sesuatu yang sedang membahayakan dirinya.


Tapi karena rasa penasaran yang amat sangat, Ciara segera menenggak minuman itu. "Gimana, enak?" Davin melontarkan pertanyaan sesaat setelah Ciara menelan minumannya.


Gadis itu menggeleng dengan wajah merengut, "Gak enak, pahit."


"Hahaha.."


Davin tergelak mendengar jawaban gadis itu, lalu ia pun mengambil gelas milik Ciara dan menggantinya dengan minuman lain yang cocok untuknya. Ya Davin tak ingin memaksa jika memang Ciara tak menyukai wine yang ia pesan, karena ia khawatir nantinya Ciara malah benci padanya hanya karena perkasa minuman.

__ADS_1


"Om, jadi om mau bicara apa sama aku?" tanya Ciara yang sudah dibuat penasaran.


Davin terdiam sesaat untuk berpikir, "Ya om itu cuma pengen minta sama kamu, tolong kamu jauhi Libra karena om tidak suka lihat kamu dekat-dekat dengan dia!" ucapnya tegas.


"Hah? Mana bisa begitu om? Gak mungkin aku menjauh dari om Libra!" sentak Ciara dengan tegas.


"Why not? Kenapa Ciara? Apa kamu benar-benar cinta sama pria itu, hm?" tanya Davin.


Ciara menundukkan kepalanya, sesaat kemudian ia mengangguk dan mengakui kalau ia memang mencintai Libra. Bahkan saat ini mereka sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, namun tiba-tiba saja kepala gadis itu terasa amat pusing dan seluruh tubuhnya merasakan panas terutama pada bagian bawahnya. Ciara pun keheranan, ia menatap ke arah Davin sembari terus meringis dan mengeluhkan kondisinya.


"Mmhhh kok mendadak jadi panas banget gini ya?" ujar Ciara tak tertahankan, ia mengipas-ngipas tubuhnya seraya melepas satu kancing bajunya.


Davin menyeringai dibuatnya, "Sepertinya reaksi dari obat itu sudah mulai muncul, baguslah sebentar lagi kamu akan menjadi milik saya seutuhnya Ciara!" gumamnya di dalam hati.


"Om, apa yang om taruh di minuman tadi? Kenapa sekarang aku jadi panas banget kayak gini?" tanya Ciara pada pamannya.


"Eee...."


"Om tolong aku om! Panas banget! Aku mohon!" Ciara merengek meminta pada pamannya untuk membantu menghilangkan rasa panas itu.


"Dengan senang hati, Ciara." tentunya Davin mengatakan kalimat itu, karena ia amat menantikan momen ini sejak lama.


Ciara beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekat ke arah Davin dan duduk di pangkuannya sembari terus mengipas-ngipas tubuhnya yang makin terasa panas dan sulit ditahan. Davin benar-benar senang, tindakan Ciara saat ini tampak seperti wanita malam yang sedang mencari mangsa.


"Kamu akan terpuaskan sayang, om janji akan bantu kamu!" bisik Davin di telinga gadis itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2