Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 68. Bella berulah lagi


__ADS_3

Seno tersenyum setuju dengan ucapan Ciara dan berjalan bersama-sama menuju tempat yang pas untuk mereka bicara berdua, Seno sudah tidak sabar ingin sampai disana dan menyampaikan keinginannya pada Ciara. Sedangkan Ciara justru terlihat biasa saja, karena pikirannya masih terus mengarah ke sosok Libra yang belum memberi kabar atau sekedar membalas pesannya.


Sesampainya di lokasi, Seno langsung meminta Ciara untuk duduk bersamanya di depan sebuah taman yang indah dengan berbagai pemandangan. Memang lokasi ini berada agak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda, tetapi Seno yakin Ciara dapat merasa nyaman karena kondisi disana memang terlihat cukup indah. Selain itu, ada juga berbagai jajanan yang tersedia di sekitar sana.


Kini Seno beralih menatap wajah gadis di sampingnya itu sambil tersenyum lebar, tangannya bergerak perlahan membelai rambut sang gadis dengan sentuhan lembut. Ciara diam saja tak mengatakan apapun, meski sebetulnya ia merasa risih dan ingin mengakhiri itu semua. Namun, Ciara takut Seno akan tersinggung lalu meninggalkannya begitu saja di tempat ini.


"Ciara, kamu mau sambil makan atau enggak? Biar nanti di tenda kamu gausah makan lagi, mau ya?" tawar Seno.


Ciara menggeleng perlahan, "Gausah kak, langsung aja kamu mau ngobrol apa sama aku!" ucapnya.


"Eee ya sebenarnya masalah ini agak susah sih buat diomongin, karena aku takut kamu malah menjauh dari aku nantinya. Tapi, aku terpaksa bicara ini sama kamu karena aku udah gak bisa tahan lagi Ciara," ucap Seno.


"Maksud kakak??" tanya Ciara dengan heran.


Seno langsung meraih kedua tangan Ciara dan menggenggamnya erat, ia tatap intens wajah gadis itu sembari mengusap punggung tangannya perlahan. Jantung Ciara pun berdetak lebih cepat dari biasanya, entah mengapa ia merasa tatapan Seno sangat berbeda dari sebelumnya. Pria itu sepertinya tengah memendam sesuatu di dalam dirinya saat ini yang ingin ia lampiaskan.


"Aku sayang sama kamu Ciara, aku cinta sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Aku mau kamu jadi pacar aku," ucap Seno dengan serius.


Deg!


Kedua bola mata Ciara membulat lebar mendengar kata-kata yang diungkapkan Seno padanya barusan, ia tak percaya jika Seno selama ini memendam rasa padanya dan malam ini pria itu dengan berani mengungkapkan semua itu secara langsung di hadapannya. Bahkan Seno juga meminta dirinya untuk menjalin hubungan dengannya, tentu saja Ciara tidak bisa melakukan semua itu.


Gadis itu spontan menarik kedua tangannya lepas dari genggaman Seno, ia menggelengkan kepala menatap wajah Seno dengan mata berkaca-kaca. Seno yang melihat reaksi Ciara seperti itu sontak terkejut, dia khawatir kalau apa yang tadi dia bicarakan pada Ciara akan membuat gadis itu tak suka padanya dan menjauh darinya seperti yang selama ini dia bayangkan.


"Maaf kak, aku gak bisa!" ucap Ciara dengan tegas sembari beranjak dari tempat duduk dan hendak pergi meninggalkan pria itu.


Akan tetapi, Seno dengan cekatan langsung bergerak menahan gadis itu. "Tunggu Ciara! Apa maksud kata-kata kamu itu? Kamu gak mau terima cinta aku?" ucap Seno masih kebingungan.


"Gak perlu ada yang diperjelas lagi kak, aku rasa semua ucapan aku tadi udah jelas kok. Aku gak bisa jadi pacar kakak!" ucap Ciara.


Deg!


Perkataan Ciara barusan amat menyakitkan bagi Seno, jujur pria itu tidak bisa menahan diri karena ia sangat mencintai Ciara dan ingin gadis itu menjadi miliknya. Namun, Ciara yang memang tak memiliki rasa apapun pada pria itu tetap kekeuh menyatakan kalau mereka tak bisa menjalin hubungan. Bahkan Ciara langsung menghentak tangannya, kemudian pergi dari sana meninggalkan Seno.




Dua hari berlalu sudah, dan kini Libra mengantarkan Bella pulang ke rumahnya setelah wanita itu dinyatakan sembuh oleh dokter dan dibolehkan untuk pulang. Ya Libra memang bertanggung jawab mengurus wanita itu selama di rumah sakit, sebab Bella lah yang sudah menyelamatkannya kala itu. Meski Libra tahu jika hubungannya dengan Bella telah usai, sejak wanita itu selingkuh darinya.


Libra ikut masuk ke dalam kediaman wanita itu, ya ia mengantar Bella kesana lantaran kakinya yang masih belum pulih sepenuhnya. Bahkan saat ini saja Bella berjalan menggunakan bantuan tongkat, sehingga Libra tidak tega jika ia meninggalkan Bella begitu saja walau mereka sudah berada di rumahnya. Libra ingin setidaknya memastikan Bella dalam kondisi aman dan baik-baik saja sampai di kamarnya.


"Bel, yaudah ya kamu lanjut istirahat aja! Jangan maksa buat kemana-mana dulu kalau kaki kamu belum kuat, nanti yang ada kamu malah jatuh lagi!" ucap Libra mengingatkan.


Bella mengangguk lirih, "Iya Libra, makasih banyak ya kamu udah mau bantu aku dan antar aku sampai kesini!" ucapnya sambil tersenyum.


"Sama-sama, kalo gitu aku mau langsung pulang ya? Aku juga gak pengen ganggu istirahat kamu, karena kamu kan masih dalam masa pemulihan dan harus banyak istirahat. Nanti kalau kamu butuh sesuatu, telpon aja aku!" ucap Libra pamitan.


"Tunggu Libra! Kenapa kamu gak disini aja temenin aku? Di rumah kamu sendirian kan?" ucap Bella.


"Eee maaf Bella, tapi aku gak bisa. Kita sekarang udah gak ada hubungan apa-apa, jadi aku gak mau berduaan sama kamu disini," tolak Libra.


"Loh apa masalahnya? Kita gak harus punya hubungan buat bisa berduaan disini," ucap Bella.


Libra tersenyum seringai mendengar ucapan Bella barusan, tatapan matanya langsung berubah dari yang tampak kasihan kini menjadi agak kesal dan benci pada wanita itu. Ya bisa-bisanya Bella mengatakan itu di hadapannya, setelah apa yang dia lakukan sebelumnya bersama lelaki lain di rumah itu dan membuat hati Libra tersakiti.


"Oh gitu ya, pantas aja waktu itu kamu bawa cowok lain kesini dan berhubungan sama dia. Ternyata pikiran kamu emang udah gak bener Bella, nyesel aku dulu pernah pacaran sama kamu dan jatuh cinta dengan perempuan seperti kamu!" ketus Libra.


"Libra, maksud aku bukan begitu. Aku butuh bantuan kamu dan aku minta kamu buat disini temenin aku, kan kamu tahu sendiri kondisi aku sekarang kayak gimana!" rengek Bella.


"Gak bisa Bella, aku sekarang harus jaga hati buat wanita yang aku cintai. Jadi, aku mohon sama kamu untuk tidak memaksa aku lagi! Kalau kamu mau, silahkan kamu hubungi laki-laki waktu itu dan minta dia buat kesini temani kamu!" ujar Libra.


"Apa sih? Pasti ini semua gara-gara keponakan kamu yang kegatelan itu kan? Kamu ngatain aku selingkuh, tapi kamu sendiri juga begitu!" ucap Bella.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu Bella!" Libra membentak keras dan hampir saja ingin menampar wanita itu.


Untungnya Libra dapat menahan diri, tak mungkin ia menyakiti perempuan meskipun itu adalah Bella yang sudah menghina wanita tercintanya. Jujur Libra tak terima dengan ucapan Bella, tetapi ia sudah bertekad di dalam dirinya kalau ia tidak akan melukai wanita baik secara fisik maupun batin. Sehingga kali ini Bella bisa selamat dari tamparannya.




Tepat di waktu yang bersamaan, bus yang ditumpangi Ciara telah tiba di lokasi awal ketika gadis itu berangkat menuju tempat kemah. Ya kali ini Ciara beserta teman-temannya sudah kembali pulang, karena waktu berkemah telah usai. Sontak Ciara bergegas turun dari bus itu sembari membawa tas besar miliknya yang ia taruh di punggungnya.


Ciara berpisah dengan Anin dan Cleo yang sudah dijemput lebih dulu oleh kedua orangtuanya, dan kini Ciara terpaksa duduk sejenak di tempat yang tersedia untuk menunggu jemputannya datang. Ya sebelumnya gadis itu telah meminta pada sang paman alias Libra untuk menjemputnya, tetapi ia tak tahu mengapa pamannya itu belum juga datang.


"Ih om Libra kemana sih? Udah dari kemarin susah dihubungi, terus sekarang pas aku pulang juga dia malah gak datang-datang. Sebenarnya om Libra ini lagi ngapain sih?" gumam Ciara tampak cemas.


TIN TIN...


Tiba-tiba, lamunannya terhenti ketika mendengar suara klakson mobil dari sampingnya. Ciara pun menoleh untuk memastikan siapa yang datang, tapi rupanya itu adalah Terry dan bukan pamannya. Sontak Ciara kembali cemberut dibuatnya, gadis itu padahal sudah berharap kalau suara klakson tadi adalah milik pamannya.


"Ciara!" ya Terry pun turun dari mobilnya dan menghampiri Ciara disana.


"Ya pak, kenapa?" tanya Ciara ketus.


"Kamu kok masih disini? Apa kamu belum dijemput?" ucap Terry keheranan.


Ciara menggeleng saja sebagai jawaban, malas rasanya ia meladeni Terry yang memberikan pertanyaan tidak penting. Padahal Ciara yakin kalau Terry sendiri sudah mengetahui jawabannya, tetapi pria itu malah bertanya padanya dan membuat Ciara bertambah kesal. Lalu, tampak Terry terus mendekatinya hingga berakhir duduk di dekatnya.


"Kalo gitu kamu mau gak bareng sama saya aja? Daripada kamu nunggu lama disini tanpa kepastian, lebih baik kamu pulang sama saya!" tawar Terry.


"Eee gak dulu deh pak, saya mau tungguin om saya aja sampai datang," ucap Ciara menolak.


"Ah kamu jadi dijemput sama paman kamu? Ya kalau begitu sih saya gak bisa maksa, mungkin lain kali kita bisa barengan lagi," ucap Terry pasrah.


"Enggak pak, lain kali juga aku maunya cuma sama om Libra," ucap Ciara dengan polosnya.


Deg!


"Oh okay, saya permisi ya Ciara? Kamu nanti istirahat ya begitu sampai di rumah!" ucap Terry pamit.


"Iya."


Terry pun kembali ke mobilnya dan melaju pergi dari tempat itu meninggalkan Ciara seorang diri, ya Ciara masih setia menunggu disana sampai pamannya datang. Meski Ciara tak tahu apakah Libra akan datang menjemputnya kesana atau tidak, namun ia yakin pasti pamannya akan datang karena ia tahu pamannya itu juga menyayangi dirinya.


Disaat ia tengah asyik menunggu, tanpa diduga seseorang pria datang menghampirinya dan menyapanya dengan lembut seraya melambaikan tangan ke arahnya. Ciara pun terkejut, lalu menoleh dan spontan membulatkan matanya ketika melihat sosok Davin sudah berdiri tepat di dekatnya. Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya, menatap Davin dengan penuh ketakutan.


"Halo Ciara sayang! Apa kabar? Duh, kamu tambah cantik aja sih! Om ternyata gak salah datang kesini, karena kamu memang masih ada dan om bisa berduaan deh sama kamu," ucap Davin menyeringai.


"O-om mau apa??" tanya Ciara dengan gugup.


"Kamu nanya om mau apa? Ya jelas Ciara, om mau kamu!" jawab Davin sambil tertawa puas.




Disisi lain, Nindi keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi karena sudah membawa tas beserta barang lainnya. Tak lupa Nindi menemui Rifka sejenak di dapur untuk berpamitan, tentu ia tak ingin Rifka khawatir saat mengetahui dirinya tidak ada di kamar. Ya Nindi bukan ingin kabur atau minggat, gadis itu hanya ingin mengerjakan tugas di rumah temannya sesuai kesepakatan bersama.


Rifka pun mengiyakan saja ucapan Nindi, karena tak ada alasan baginya untuk melarang gadis itu pergi bekerja kelompok. Meski ada sedikit rasa khawatir di hati Rifka yang tak ingin membiarkan Nindi pergi seorang diri, akhirnya Rifka memutuskan untuk menghubungi Leon dan meminta pria itu mengantar Nindi pergi agar selamat. Kali ini Nindi tak menolak, dan itu membuat Rifka senang mendengarnya.


Tak lama kemudian, Leon datang ke rumah gadis itu untuk menjemput Nindi sesuai permintaan. Dengan senang hati tentunya Leon bersedia mengantar Nindi kemanapun yang dia mau, walau itu ke ujung dunia sekalipun. Ya Leon memang sedang ingin berusaha mendekati gadis itu, oleh karenanya Leon sangat senang saat mendapat telpon dari Rifka dan diminta untuk mengantar Nindi kali ini.


Kini Leon dan Nindi telah berada di dalam mobil, namun keduanya lebih banyak terdiam karena tak tahu harus membahas apa. Sesekali Leon melirik ke arah Nindi, yang tampaknya tengah gugup dan bingung harus melakukan apa saat ini. Nindi tentu masih merasa malu pada sosok Leon, apalagi jika nantinya Leon tahu kalau sebenarnya Nindi bukanlah wanita yang suci karena dirinya telah dikotori.


"Nindi, kamu kenapa diam aja sih daritadi? Kamu gak suka ya kalau saya anterin kamu kayak gini?" tanya Leon coba menegur gadis itu.

__ADS_1


"Ah eee bukan gitu pak, a-aku cuma bingung aja harus ngomong apa," jawab Nindi gugup.


Leon tersenyum mendengarnya, "Gausah bingung Nindi, kamu ngomong apapun juga aku pasti suka kok! Intinya kalau ngobrol sama kamu itu selalu bikin aku bahagia," ucapnya.


"Kamu bisa aja, tapi kan ada baiknya kalau kamu fokus nyetir biar gak kenapa-napa!" ucap Nindi.


"Iya Nindi, ini aku juga fokus kok. Ya walau sedikit susah karena ada bidadari di sebelah aku," ucap Leon menggombal.


"Ahaha, kamu itu ya kerjaannya gombal terus! Mana ada bidadari coba?" kekeh Nindi.


"Nah gitu dong Nindi, aku suka lihatnya kalau kamu ketawa lepas kayak gitu! Sering-sering ya Nindi, soalnya kamu tuh belakangan ini kayak kebanyakan cemberut terus tau. Aku kan jadi agak khawatir sama kamu," ucap Leon.


"Iya pak, aku tuh sebenarnya lagi pusing mikirin ujian. Makanya aku jarang bicara atau ketawa-ketawa," ucap Nindi beralasan.


"Oh iya, kamu emang kapan ujiannya?" tanya Leon penasaran.


"Dua Minggu lagi pak, ini mau ngerjain tugas terakhir sebelum ujian," jawab Nindi.


Leon manggut-manggut paham, "Ohh, yaudah kamu semangat ya belajarnya! Kalau kamu butuh bantuan, tanya aja ke aku ya!" ucapnya.


"Oke pak!" Nindi mengangguk setuju.


Setelahnya, Leon lebih fokus menyetir dan hanya sesekali berbicara dengan Nindi. Sampai akhirnya mereka tiba di lokasi, yakni rumah teman gadis itu yang akan menjadi tempat Nindi mengerjakan tugas kelompoknya. Leon pun menghentikan mobilnya, lalu dengan cepat Nindi pamit padanya dan tak lupa mengucap terima kasih sebelum bergerak pergi.




Rifka yang hendak membereskan kamar Nindi, langsung masuk ke dalam ruangan tempat tidur gadis itu kali ini. Ia tampak senyum-senyum sendiri melihat kondisi kamar yang sudah sangat rapih itu, rupanya Nindi memang anak yang rajin karena tidak meninggalkan kamarnya begitu saja tanpa merapihkan nya. Rifka pun mengambil bantal serta guling dari atas kasur untuk dijemur, ia letakkan sejenak alat bersih-bersih nya di lantai.


Namun, disaat Rifka hendak pergi menjemur bantal dan guling tersebut, tanpa disengaja ia menemukan sebuah alat tes kehamilan yang tergeletak di atas meja dekat lampu. Sontak Rifka pun dibuat terbelalak tak percaya ketika melihatnya, ia memilih mengurungkan niatnya dan beralih mendekat ke arah meja tersebut untuk memastikan apakah yang ia lihat itu benar atau hanya sekedar khayalan.


Dan ketika Rifka berada tepat di depan meja, rupanya apa yang dilihatnya tadi memang benar kalau benda tersebut adalah sebuah testpack. Ia pun mengambil benda itu dari atas meja, lagi-lagi ia dibuat kaget saat mengetahui testpack tersebut sudah digunakan dan hasilnya positif. Tentu saja Rifka tak percaya dengan itu, bagaimana bisa testpack dengan hasil positif itu bisa berada di kamar Nindi dan siapakah pemiliknya.


"Haaahhh?? Hamil? I-ini punya siapa ya? Apa Nindi? Enggak enggak, tapi gak mungkin kalau ini punya Nindi. Masa iya Nindi hamil? Sama siapa coba? Pak Leon?" gumam Rifka terus berpikir keras.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja, dirinya dikejutkan dengan sebuah ketukan pintu dari arah luar. Karena penasaran, Rifka memutuskan pergi ke depan untuk memeriksa siapa yang datang sembari membawa testpack tadi di tangannya. Tanpa berpikir panjang, Rifka langsung membukakan pintu dan ternyata yang ada disana adalah Tiara bersama suaminya, yakni Galen. Sontak Rifka pun tersenyum menyambut kehadiran sahabat dari kecilnya itu, tak lupa juga ia mempersilahkan sepasang suami-istri itu untuk masuk ke dalam.


"Eh Tiara, Galen, yuk yuk masuk kita bicara di dalam aja!" ucap Rifka melebarkan pintu.


Tiara dan Galen tersenyum saja dibuatnya, mereka pun masuk ke dalam bersama-sama lalu duduk di sofa ruang tamu. Rifka pun bergegas menyiapkan minuman, yang langsung ia sediakan untuk kedua sohibnya itu. Sebenarnya Tiara merupakan pemilik rumah itu, tapi karena dia sudah menikah maka Tiara menitipkan rumah sekaligus adiknya kepada Rifka disana untuk dijaga.


"Nah, silahkan tuh diminum! Kalian pasti haus kan abis panas-panasan? Makanya gue sediain minum yang dingin dan seger," ucap Rifka terkekeh.


"Hahaha, makasih ya Rifka! Eh ya, ini Nindi kemana ya?" ucap Tiara terheran-heran.


"Ohh, iya itu Nindi tadi pamit katanya mau kerja kelompok. Dia diantar kok sama pak Leon, jadinya aman deh," jawab Rifka.


"Leon? Sudah sedekat itu ya hubungan mereka? Kok sampai Nindi minta diantar sama dia?" sela Galen.


"Eee ya gue sih gak tahu ya Galen, tapi dari yang gue lihat kayaknya mereka saling suka deh. Atau mungkin aja mereka udah pacaran," ucap Rifka.


"Hah pacaran? Kok Nindi gak ada bilang apa-apa sama aku?" kaget Tiara.


"Ih gak tahu Tiara, gue kan cuma nebak aja. Oh ya satu lagi, gue nemu sesuatu tau di kamar Nindi tadi pas gue mau beberes," ucap Rifka.


Tiara pun penasaran dibuatnya, "Apaan tuh?" tanyanya pada sahabatnya.


Rifka langsung menunjukkan testpack yang ia bawa tadi ke hadapan Tiara serta Galen, seketika mereka pun terkejut bukan main melihatnya. Apalagi dengan hasil testpack tersebut yang menunjukkan kehamilan, tentunya tidak ada yang percaya jika itu ditemukan di kamar Nindi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2