
Sepulang dari restoran untuk menemui sang klien, kini Adrian dan juga Tiara tengah dalam perjalanan menuju kantor karena meeting juga telah selesai. Namun, sepertinya Tiara masih belum bisa tenang setelah tadi bertemu Bagas disana. Ya wanita itu yakin jika Bagas pasti memiliki rencana lainnya, terlebih Bagas sudah banyak membuat hidupnya dan juga Galen dulu menderita karena kelakuannya.
Adrian sendiri pun tak sabar menantikan penjelasan dari Tiara terkait sosok Bagas yang sebenarnya, biar bagaimanapun Adrian tetap menaruh curiga pada Bagas apalagi setelah Tiara tadi terlihat begitu ketakutan saat bertemu dengan pria itu. Adrian melirik Tiara di sebelahnya, tampak hingga kini Tiara belum juga mau membuka mulutnya.
"Tiara, kamu itu niat gak sih sebenarnya buat cerita sama saya? Tadi katanya kamu mau jawab, ayolah sekarang kasih tahu saya!" ucap Adrian tegas.
Wanita yang sedang melamun itu terkejut dan spontan menatap ke arah bosnya, ia heran karena tiba-tiba saja Adrian berbicara keras padanya. Memang tadi ia berjanji akan bercerita kepada Adrian, namun kan ia tidak pernah berkata kalau ia akan menceritakan semua itu saat ini.
"Umm, harus sekarang banget ya pak ceritanya? Gak bisa nanti aja gitu kapan-kapan? Saya sekarang masih agak syok, belum siap juga buat cerita ke bapak tentang pak Bagas," ucap Tiara gugup.
"Emangnya ada apa sih Tiara? Kok bisa kamu ketakutan begitu pas ketemu pak Bagas? Apa sebenarnya masalah kamu sama dia?" tanya Adrian.
"Eee ya itu saya...."
Praakkk
Tiba-tiba saja, seseorang melempar telur ke kaca depan mobilnya dan membuat Adrian terkejut lalu kehilangan kendali. Tentu saja Adrian tidak bisa melihat ke depan karena hal itu, mereka pun panik mengira akan mengalami kecelakaan fatal. Namun, untungnya Adrian bisa melipir ke pinggir dan menghindari kecelakaan.
"Haaaahh haaaahh, untung aja masih bisa selamat! Sialan banget tuh orang! Mau apa sih lempar telur segala?" geram Adrian.
Karena emosi, Adrian berniat turun dari mobilnya menemui orang-orang yang tadi melemparkan telur ke mobilnya sampai membuat pandangannya terhalang. Akan tetapi, Tiara yang cemas justru menahan Adrian dan meminta pria itu tidak keluar karena khawatir jika ini hanya jebakan dari para begal yang ingin mengambil mobilnya.
"Pak, jangan pak! Sebaiknya bapak tetap disini ya, saya gak mau bapak keluar terus malah kenapa-napa nanti. Kita kan gak tahu mereka itu mau apa," ucap Tiara begitu cemas.
"Udah kamu tenang aja Tiara, saya akan baik-baik aja kok! Kamu gausah khawatir sama saya, kamu tetap disini sebentar!" ucap Adrian kekeuh.
Tiara menggeleng dan berusaha menahan Adrian, namun sepertinya Adrian terlalu keras dan tidak bisa diberitahu. Bahkan, Adrian menghentak tangannya sampai membuat Tiara terkejut. Lalu, pria itu turun dari mobilnya dengan penuh emosi dan menghampiri orang-orang yang ada di depannya.
"Kurang ajar! Kalian itu siapa, mau apa kalian sama saya?" geram Adrian.
Ketiga pria yang ada di depan itu mulai melangkah ke dekatnya, sedangkan Adrian sendiri tampak berhenti dan kebingungan dibuatnya. Saat melihat penampilan dari ketiga pria itu, Adrian sadar kalau mungkin saja mereka adalah para anggota geng motor di daerah sana yang ingin mengganggu perjalanannya dan juga Tiara.
"Ini peringatan buat anda, supaya anda tidak macam-macam lagi! Kasih tahu juga ke sekretaris anda yang perempuan itu, jangan main-main dengan kami!" ucap salah seorang pria itu.
Adrian mengernyitkan dahinya, "Maksudnya gimana? Kalian itu siapa?" tanyanya penasaran.
"Kami salah satu orang yang tidak suka dengan sekretaris anda itu, jadi sebaiknya anda beritahu dia untuk tidak macam-macam!" jawab orang itu.
Setelahnya, ketiga orang itu memutuskan pergi dan menaiki motor masing-masing untuk meninggalkan tempat itu. Sedangkan Adrian masih berdiri kebingungan disana, ia tak mengerti siapa ketiga pria tersebut dan apa maksud mereka tadi. Ya Adrian sungguh heran, bagaimana bisa mereka mengetahui tentang Tiara sang sekretarisnya.
Akhirnya Tiara turun dari mobil karena penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana, wanita itu langsung menghampiri Adrian yang terdiam begitu saja disana. Tatapan matanya mengarah ke wajah pria itu, ia heran apa yang terjadi sampai membuat Adrian terdiam seperti itu dan tidak berbicara sepatah katapun padanya.
"Pak, ada apa? Kenapa bapak kayak bingung gitu?" tanya Tiara terheran-heran.
Adrian menoleh ke arahnya, "Tiara, kamu itu sebenarnya ada masalah apa sih? Kenapa kamu bisa punya musuh kayak gitu? Sepertinya kita harus jaga jarak, saya gak mau kena imbas dari orang yang memusuhi kamu!" ucapnya tegas.
"Hah??" Tiara terkejut bukan main, ia tak mengerti apa maksud dari bosnya mengatakan itu.
•
__ADS_1
•
"CIARA AWAS!!"
Libra berteriak sangat keras begitu menyadari ada sebuah motor yang hendak menabrak istrinya di depan pintu gerbang, dengan cepat Libra menarik tubuh wanita itu dan memeluknya ke pinggir untuk menyelamatkan istrinya. Libra benar-benar khawatir, karena motor itu melaju sangat kencang dan nyaris menabrak tubuh Ciara saat ini. Beruntung Libra datang tepat waktu, sehingga kini Ciara bisa selamat meski jantungnya masih berdegup kencang.
"Ciara, kamu gapapa kan sayang? Lain kali hati-hati dong, jangan main sembarangan di jalan!" ucap Libra.
Ciara benar-benar terkejut saat ini, wanita itu sangat syok dengan apa yang barusan terjadi padanya. Ia beruntung karena Libra datang tepat waktu untuk menyelamatkannya, jika tidak maka mungkin pemotor tadi bisa melukainya. Meski, Ciara sendiri bingung mengapa ada pemotor yang melaju sekencang itu di jalanan komplek mamanya.
"Kamu itu lagi ngapain sih sayang? Askha ditinggal sendirian di dalam, eh kamu malah keluar. Mau apa kamu?" tanya Libra heran.
"I-itu mas, tadi ada yang lempar kotak ke depan rumah mama. Aku mau ambil dong karena kepo, eh malah ada motor yang kencang banget. Untung aja ada kamu mas, makasih ya!" jawab Ciara lirih.
"Huft, kotak apa sih emangnya? Siapa yang lempar begituan coba?" heran Libra.
Ciara menggeleng pelan, "Gak tahu mas, tuh kotaknya masih ada disitu kok. Aku tadi baru mau ngambil," ucapnya menunjuk ke arah kotak.
Libra langsung beralih menatap kotak tersebut dengan wajah bingung, kemudian ia bergerak menuju kotak tersebut dan mengambilnya. Ciara menunggu saja di tempatnya sambil terus memandang suaminya, Ciara juga penasaran apa yang ada di kotak itu dan menantikan sampai suaminya kembali.
Setelah berhasil mengambilnya, Libra kini kembali mendekati istrinya dengan membawa kotak hitam yang tadi ditemukan di jalan. Ciara pun tampak tidak sabaran, ia meminta Libra segera membuka kotak tersebut agar mereka bisa mengetahui apa isinya. Namun, Libra sedikit khawatir jikalau kotak itu berisi sesuatu yang mengerikan dan membahayakan.
"Mas, ayo dibuka kotaknya! Aku penasaran tahu, buruan dong mas!" rengek Ciara.
"I-i-iya sayang, bentar ya?" ujar Libra.
"Ih itu apa sih mas? Ngeri banget deh, ngapain coba orang tadi kasih ini kesini?" Ciara tampak ketakutan dan terus memeluk erat suaminya.
"Tenang ya sayang, ada aku kok disini! Ini juga ada surat, sebentar ya aku buka dulu?" ucap Libra.
Ciara mengangguk paham, lalu Libra pun membuka surat yang terdapat disana dan mulai membaca isinya. Ciara yang penasaran turut mendekat untuk mencari tahu apa isi surat tersebut, sedangkan boneka tadi sudah dibuang oleh Libra karena tidak ingin istrinya ketakutan.
"Kalian semua akan mendapat gilirannya, rasakan pembalasan dari saya!" Libra membaca isi surat itu dan tampak bingung, ia memandang wajah Ciara di sampingnya yang juga ikut penasaran.
"Libra, Ciara!" tanpa diduga, Nadira muncul dari balik pagar dan menghampiri mereka berdua disana.
"Eh mama, kenapa mama teriak-teriak panik kayak gitu? Emangnya ada masalah ya di dalam?" tanya Ciara dengan polosnya.
"Haduh, justru mama panik gini karena dengar teriakan kalian tadi. Ada apa sih sayang, kok kalian kayak panik gitu?" ucap Nadira.
"Eee itu ma—"
Belum sempat Ciara menceritakan semuanya, Nadira sudah lebih dulu melihat kotak berisi boneka yang dipenuhi darah tergeletak disana. Sontak Nadira tampak syok, ia spontan menutupi mulutnya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Langsung saja Nadira beralih menatap Ciara serta Libra, seolah bertanya mengapa bisa ada benda seperti itu disana.
"Ini apa sayang? Kenapa bisa ada kayak gini di depan rumah mama, siapa yang taruh coba?" tanya Nadira begitu syok.
"Itu dia ma, makanya aku teriak tadi. Aku syok waktu tahu ada boneka itu di kotak, dan semua ini ulah orang yang kita juga gak kenal. Soalnya tadi ada pemotor lewat terus buang kotak ini kesini, selain itu ada surat juga loh ma," jelas Ciara.
"Surat? Surat apa?" tanya Nadira penasaran.
__ADS_1
"Eee ini ma, isi suratnya tentang ancaman ke keluarga kita. Sepertinya orang yang melakukan ini sangat membenci kita, mungkin aja dia punya dendam sama kita!" jawab Libra.
Nadira membaca surat tersebut dan semakin terkejut karenanya, ia sangat penasaran siapa pengirim surat itu dan apa yang membuatnya sampai sebenci ini pada mereka. Spontan Nadira memanggil kepala keamanan disana, karena ia tidak ingin kejadian seperti itu kembali terjadi.
"Liam, Liam sini kamu!" teriaknya dengan keras memanggil sang pengawal.
"Siap bu Dira! Ada apa ya?" tanya Liam kebingungan.
"Kamu baca surat ini! Ada ancaman untuk keluarga saya, sebagai kepala keamanan di rumah ini kamu harus bisa perketat penjagaan dan jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi!" titah Nadira.
Liam terdiam sembari membaca surat itu, ia sangat syok ketika mengetahui sendiri bahwa ada ancaman yang mengintai anggota keluarga Nadira. Liam pun tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu kepada Nadira atau yang lainnya, karena mereka adalah tanggung jawab baginya dan harus ia jaga sebaik mungkin tanpa ada yang tersakiti sama sekali.
"Kamu mengerti Liam?" tanya Nadira sekali lagi.
Liam mengangguk perlahan, "Mengerti bu, saya akan perketat penjagaan disini!" jawabnya tegas.
•
•
Beberapa Minggu pun berlalu, Libra kembali mengantar Ciara untuk melakukan pengecekan kondisi bayi di dalam kandungannya itu. Libra tampak senang dan tak sabar ingin segera mengetahui jenis kelamin calon anaknya nanti, ya Libra sangat berharap kalau ia akan memiliki anak lelaki nantinya yang sangat menggemaskan dan dapat diajak bermain bola bersamanya. Namun, Libra juga tidak akan kecewa jika kenyataannya nanti anaknya adalah perempuan.
Kini mereka tengah berada di dalam ruang bersalin bersama sang dokter, Libra serta Ciara sama-sama melihat ke layar monitor yang menampilkan kondisi bayi mereka di dalam kandungan wanita itu. Dokter menjelaskan jika anak mereka saat ini sangat sehat dan tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan, ya tentu saja baik Libra maupun Ciara sama-sama senang mendengar perkataan dokter tersebut.
"Lalu bagaimana dok, apa jenis kelamin anak kami sudah bisa diketahui?" tanya Libra pada sang dokter.
Dokter itu tersenyum seraya memandang ke arah pasangan suami-istri itu, tak lupa sang dokter juga menunjukkan hasil USG yang ada di layar kepada mereka. Libra dan juga Ciara tampak serius mengamati penjelasan dari sang dokter, pada intinya dokter itu mengatakan bahwa Ciara tengah mengandung anak perempuan.
"Apa dok? Jadi anak saya ini perempuan? Wah pasti dia nanti bakal cantik banget deh mas, aku jadi gak sabar nunggu dia lahir!" ucap Ciara tampak antusias.
Berbeda dengan Ciara yang begitu senang mendengar kabar itu, Libra terlihat sedikit kecewa dan memanyunkan bibirnya. Sepertinya Libra agak jengkel karena dokter mengatakan calon anaknya berjenis kelamin perempuan, padahal Libra sangat menginginkan memiliki sosok anak lelaki yang nanti bisa menjadi penerus untuknya.
"Loh mas, kok kamu kayak sedih gitu? Kamu gak suka sama anak perempuan ya?" tanya Ciara heran.
Libra terkejut dibuatnya, "Hah? Gak gitu lah sayang, a-aku senang kok. Malahan aku bahagia kalau anak kita cewek, pasti dia bakal cantik banget seperti ibunya!" ucapnya sambil tersenyum.
Libra berusaha menutupi kekecewaannya itu di hadapan Ciara dan sang dokter, bagaimanapun ia tak ingin membuat Ciara ikut bersedih. Lagipula, mau anak lelaki atau perempuan itu sama saja dan Libra tak terlalu mempermasalahkannya. Meski ada sedikit rasa kecewa, namun Libra tetap senang karena dapat diberikan sosok anak oleh Tuhan.
"Syukur deh mas, aku kira kamu kecewa tadi! Lagian ini belum tentu benar juga kan dok? Bisa aja nanti yang lahir anak kita tuh cowok," ucap Ciara.
"Haha, iya kemungkinan itu tetap ada. Tapi, jangan terlalu berharap ya pak, bu!" ucap dokter itu.
Libra dan Ciara kompak menganggukkan kepala, lalu Libra mencium dengan gemas pipi istrinya itu seraya mengusap rambutnya. Mereka tampak begitu senang dengan situasi yang ada, mereka juga tidak sabar untuk segera memberitahu mengenai hal ini kepada Nadira dan yang lainnya. Karena pasti Nadira akan ikut bahagia mendengar itu, apalagi Ciara adalah satu-satunya anak yang paling dia sayangi.
"Ya gapapa deh walau hasilnya cewek, aku juga gak boleh egois jadi suami!" batin Libra.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1