
Libra kini tengah mengantar Gita pulang ke rumahnya, ya setelah sebelumnya mereka sempat datang ke rumah sakit berniat untuk menjenguk Galen. Libra dan Gita pun sama-sama turun dari mobil, terlihat Libra merasa tidak enak pada Gita karena sudah merepotkan wanita itu semalaman dan malah akhirnya Gita tidak diperlukan lagi.
Namun, Gita sendiri justru merasa senang karena dapat berduaan dengan lelaki itu. Meski ia sadar status Libra sekarang telah menikah, tapi tetap saja Gita sangat senang dengan momen yang jarang terjadi itu. Gita memang menyukai Libra sejak lama, walau hingga kini ia belum bisa mengungkapkan rasa sukanya itu secara langsung pada Libra.
"Gita, aku minta maaf banget ya! Aku gak tahu kalau ternyata donor darah buat Galen udah didapatkan, jadinya aku malah bikin kamu repot deh," ucap Libra.
Gita tersenyum dibuatnya, "Tenang aja Libra! Semua yang aku lakukan ini semata-mata untuk bantu kamu dan keluarga kamu, ya walau aku belum sempat menolong ponakan kamu itu sih," ucapnya.
"Ah iya, sekali lagi terimakasih atas waktunya. Kalau memang nanti ada yang kamu butuhkan, bilang aja ke aku ya!" ucap Libra.
"Ih gak perlu begitu lah, aku ikhlas kok bantu kamu. Mending sekarang kamu fokus ke pencarian istri kamu, dia kan masih belum ketemu tuh. Apa kamu gak kangen sama dia?" ucap Gita.
Seketika Libra terdiam, saat Gita mengatakan itu barulah ia tersadar kalau hingga kini ia belum bisa menemukan Ciara. Libra pun tampak memalingkan wajahnya, lagi-lagi suasana hatinya terasa begitu sedih karena memikirkan dimana istrinya. Sudah cukup lama ia berusaha mencari wanita itu, tetapi entah kenapa sangat sulit untuk menemukannya.
"Kenapa Libra? Kamu jadi sedih lagi ya gara-gara aku? Maaf banget, aku gak bermaksud bikin kamu sedih! Aku itu cuma gak mau lihat sahabat aku ini terus-terusan kesepian," ucap Gita.
Libra kembali menoleh ke arah Gita, ia tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Mereka pun saling bertatapan saat ini, sampai tanpa disadari Gita perlahan menyentuh telapak tangan Libra dan menggenggamnya. Wanita itu mengusap lembut punggung tangan sahabatnya, disertai senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
"Ehem ehem..."
Sebuah deheman keras mengganggu momen keduanya, Libra serta Gita pun reflek menoleh ke asal suara dan menemukan seorang wanita yang berdiri disana mendekat ke arah mereka. Libra terbelalak saat itu juga, lalu secara spontan ia melepaskan tangan Gita dari genggamannya.
"Bagus, bagus Libra! Jadi, ini yang kamu lakukan di belakang Ciara ya? Mbak gak nyangka sama kamu, Libra!"
Deg
Ya suara itu berasal dari mulut Nadira, yang seketika membuat Libra serta Gita kompak terkejut. Libra amat tak menyangka dengan kedatangan Nadira disana saat ini dan memergoki mereka, ia heran bagaimana bisa Nadira muncul secara tiba-tiba disaat sebelumnya ia telah memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya datang kesana.
"Mbak, mbak jangan salah paham dulu! Semua yang mbak lihat itu gak seperti apa yang mbak pikiran, aku bisa jelasin kok sama mbak!" bujuk Libra.
"Jelasin apa? Udah jelas-jelas kamu pegangan tangan sama perempuan lain barusan, itu sudah cukup bagi mbak untuk bongkar kebusukan kamu!" sentak Nadira.
"Mbak, pegangan tangan kan bukan berarti aku selingkuh. Mbak itu cuma salah paham, semua yang mbak bilang itu gak benar!" elak Libra.
Nadira menggeleng cepat, "Terserah kamu, sekarang kasih tahu mbak dimana Ciara! Mbak mau bawa Ciara pulang ke rumah, supaya dia gak terus disakiti sama kamu!" sentaknya.
"Hah? Mbak apa-apaan sih? Ciara itu istri aku, mbak gak bisa dong main bawa dia gitu aja!" ujar Libra.
"Okay, mbak akan datangi rumah kamu!" kekeuh Nadira.
Libra terkejut bukan main, jika sampai Nadira pergi ke rumahnya dan mengetahui Ciara sudah tidak ada disana maka pasti Nadira akan sangat marah. Tidak mungkin Libra menjelaskan semua mengenai mandulnya Ciara, dan kepergian wanita itu dikarenakan rasa malunya.
Akhirnya Libra berusaha mengejar Nadira dan mencegahnya agar tidak pergi, namun terlambat lantaran Nadira sudah lebih dulu masuk ke mobilnya lalu bergegas melaju. Libra yang kebingungan langsung menyusul dengan mobilnya, sebab ia tak mau Nadira mengira yang tidak-tidak nantinya.
•
•
Sementara itu, Ciara telah sampai di depan rumah mamanya bersama Keenan. Wanita itu sengaja membawa Keenan kesana dan bukan ke apartemen miliknya, karena ia masih belum ingin bertemu dengan Libra alias suaminya itu. Setidaknya jika ia pergi ke rumah mamanya, kecil kemungkinan Libra akan berada juga disana.
Kini mereka pun sama-sama melangkah ke dekat rumah itu, namun lambat laun Keenan merasa heran karena ia ingat betul bahwa rumah itu adalah rumah mantan bosnya dulu. Keenan tak mengerti mengapa Ciara membawanya kesana, apakah Ciara tidak tinggal di rumah barunya bersama sang suami? Begitulah pikiran Keenan selama perjalanan.
"Ciara, ini kan rumah mama kamu. Emangnya kamu sama suami kamu masih tetap tinggal disini? Kalian satu rumah gitu sama mama kamu?" tanya Keenan dengan wajah heran.
"Eee i-i-iya om, emang begitu kok. Kan kebetulan di rumah ini kamarnya ada banyak," bohong Ciara.
__ADS_1
"Ohh, ya pantas aja kamu bawa om kesini. Tadi om kira kamu tuh bohong sama om atau mau ngerjain om doang," ujar Keenan.
"Ahaha, enggak lah om. Udah yuk kita masuk aja ke dalam!" ajak Ciara.
Keenan mengangguk perlahan dan mengikuti langkah kaki Ciara, wanita itu langsung membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu karena ia berpikir rumah itu juga masih terhitung rumahnya. Kini keduanya saling memasuki rumah itu dengan langkah perlahan, lalu tak lupa Ciara mengajak Keenan untuk duduk di sofa menunggu sebentar.
"Om, duduk dulu gih! Aku mau coba ke dapur temuin bik Vita buat sediain minuman, gapapa kan om?" ucap Ciara.
"Iya Ciara, tapi ini kok rumahnya sepi banget ya? Mama sama papa kamu pada kemana, apa mereka lagi gak ada di rumah sekarang? Om jadi gak enak kalau gak ada mereka msh," heran Keenan.
"Umm, gak tahu juga deh om. Bentar deh om aku ke dapur dulu!" ucap Ciara.
Saat Ciara hendak berbalik, tiba-tiba bik Vita sudah muncul di dekatnya dan membuat wanita itu terkejut bukan main. Beruntung Ciara masih bisa menahan diri, karena kalau tidak bisa saja tadi ia terjatuh akibat terkejut. Sedangkan Keenan hanya tersenyum melihatnya, dia pun juga bergerak mendekati mereka lalu memberi salam pada bik Vita.
"Ealah non Ciara toh, tadi bibik kirain maling loh. Maaf ya non, ini bibik sampai udah bawa spatula buat mukul orang yang masuk sembarangan!" ucap bik Vita merasa bersalah.
Ciara tersenyum dibuatnya, "Iya gapapa bik, ini mama sama papa kemana ya? Kok daritadi aku lihat-lihat rumah ini sepi banget?" tanyanya heran.
"Oh, tuan sama nyonya masih di rumah sakit non. Gak tahu deh kapan pulangnya," jawab bik Vita.
Sontak Ciara terkejut dan mengernyitkan dahinya, "Maksud bibik? Emangnya siapa yang sakit bik?" tanyanya penasaran.
"Loh emang non Ciara gak tahu? Den Galen kan kemarin kecelakaan non," jawab bik Vita.
"Apa??"
Ciara tersentak mendengarnya, ia sama sekali tidak tahu mengenai hal itu dan belum ada yang mengabarinya tentang Galen yang mengalami kecelakaan. Tentu saja Ciara sangat bersedih, wanita itu begitu khawatir pada kakaknya dan penasaran seperti apa kondisi sang kakak saat ini.
•
•
Terlihat kini hanya Gavin seorang yang berada disana dan tengah asyik terduduk, Jessica pun melangkah mendekati pria itu dengan perlahan disertai senyum yang merekah. Jessica langsung menyapa Gavin dengan lembut, membuat pria yang tengah asyik memandang layar ponselnya itu menoleh dan keheranan dibuatnya.
"Ya, kamu siapa ya? Mau cari siapa?" tanya Gavin dengan bingung.
Jessica tersenyum dan malah mengulurkan tangannya ke arah Gavin seolah hendak mencium punggung tangan pria itu, Gavin yang bingung menurut saja dan membiarkan Jessica melakukan apa yang dia ingin lakukan. Lalu, barulah Gavin bangkit dari duduknya mendekati wanita itu.
"Halo om! Perkenalkan saya Jessica, saya ini rekan lama Galen dan saya baru tahu kalau Galen kecelakaan! Makanya sekarang saya datang kesini buat jenguk Galen, gimana kondisi Galen sekarang ya om?" ucap Jessica.
"Oh gitu, Galen sudah mendingan kok. Tapi, dia masih belum boleh pulang dan harus menjalani perawatan disini," ucap Gavin.
"Syukurlah om, saya ikut senang dengarnya! Oh ya, apa saya boleh masuk dan ketemu sama Galen om? Sekalian saya juga mau kasih ini buat dia," ucap Jessica meminta izin.
"Eee sebenarnya boleh sih, soalnya Galen juga udah bangun. Tapi, di dalam lagi ada istrinya. Sebentar deh biar om bilangin dulu ke dia ya?" ujar Gavin.
"Eh ada istrinya ya? Yaudah deh om, kalo gitu mah saya gak jadi ketemu sama Galen deh. Saya titip makanan ini aja buat dia ya, om?" ucap Jessica.
"Loh kenapa?" tanya Gavin bingung.
"Saya gak enak aja om, nanti saya ganggu mereka lagi. Pastinya kan Galen lagi asyik berdua sama istrinya," jawab Jessica.
"Iya sih benar," singkat Gavin.
Lalu, Jessica memberikan rantangnya dan diterima oleh Gavin secara sukarela. Jessica juga meminta pada pria itu untuk memberikan makanannya kepada Galen, sebelum ia pamit untuk pergi dari sana karena tidak enak jika harus mengganggu momen Galen dan Tiara di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Setelahnya, tanpa berlama-lama lagi Jessica langsung melangkah pergi meninggalkan rumah sakit dengan senyum seringai terpampang di wajahnya. Gavin pun terus memandang ke arah punggung wanita itu, jujur saja ia masih terlihat heran siapa sebenarnya Jessica dan mengapa wanita itu sampai datang membawakan makanan untuk Galen ke rumah sakit.
Kini Gavin bergegas masuk ke dalam ruang rawat itu untuk menemui Galen serta Tiara, tak lupa ia juga membawa rantang berisi makanan yang tadi diberikan oleh Jessica. Perlahan wanita itu memasuki ruangan tersebut, melangkah ke dekat ranjang Galen sembari menyapa mereka dengan lembut dan berhati-hati.
"Eh papa, ada apa pa?" tanya Galen penasaran.
Gavin tersenyum menatapnya, "Gapapa, ini tadi ada yang bawain makanan buat kamu Galen. Makanya papa kesini deh anterin makanannya," jawabnya.
"Hah? Emang siapa yang kasih makanan buat aku, pa? Terus orangnya mana?" tanya Galen lagi.
"Eee dia ngakunya sih teman kamu, tapi sekarang dia udah pulang. Papa juga bingung kenapa dia gak mau kasih ini langsung ke kamu begitu dengar ada Tiara disini," ucap Gavin.
Mendengar itu, sontak Galen kebingungan dan sangat penasaran siapa orang yang sudah memberikan makanan kepadanya. Ia coba berpikir keras mengenai itu, namun entah mengapa Galen tidak bisa menebak atau mencari tahu siapa yang dimaksud papanya barusan.
"Pa, orangnya itu laki-laki apa perempuan ya?" tanya Tiara tiba-tiba.
"Oh dia perempuan, ya lumayan cantik loh. Rambutnya panjang terus ada lesung pipinya," jawab Gavin sambil tersenyum.
Seketika Tiara terdiam dan berpikir keras setelah mendapat jawaban dari papa mertuanya itu, Tiara yakin jika perempuan yang dimaksud Gavin barusan adalah Jessica. Tapi, untuk apa Jessica datang dan membawakan makanan itu? Lalu, mengapa Jessica tidak masuk saja ke dalam menemui Galen?
•
•
Libra bersama Nadira telah tiba di apartemen tempat tinggal lelaki itu sebelumnya, ya Libra gagal untuk menghalangi Nadira dan kini malah wanita itu sudah sampai disana bersiap untuk mencari dimana keberadaan putrinya. Dengan cepat Nadira bergerak menuju unit apartemen Libra, lalu meminta Libra membuka pintu sambil mengancamnya.
Mau tidak mau, Libra pun terpaksa membukakan pintu untuk Nadira dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam memeriksa semuanya. Langsung saja Nadira melakukan itu, kemudian Libra mengikuti dari belakang dengan wajah was-was khawatir jika Nadira mengetahui semua dan malah memarahinya karena Ciara tidak ada disana.
"Ciara, dimana kamu Ciara? Ini mama nak, ayo keluar ikut sama mama!"
Nadira terus berteriak seraya melangkah mengelilingi apartemen itu demi mencari dimana putrinya, namun sepanjang ruangan ia tidak berhasil menemukan keberadaan Ciara disana. Sehingga, Nadira pun tampak heran dan menatap Libra dengan penuh rasa curiga.
"Libra, kamu sembunyiin dimana Ciara? Kenapa dia gak ada di apartemen kamu? Apa yang terjadi sebenarnya sama kalian berdua?" tanya Nadira.
"Umm, tenang dulu mbak! Biar aku bisa jelasin semuanya ke mbak," pinta Libra.
"Yaudah, ayo dong kamu jelasin sekarang ke mbak! Apa yang sudah terjadi sama kalian, terus kenapa Ciara bisa sampai gak ada disini?" ujar Nadira.
"Eee itu...."
Ting nong ting nong....
Baru saja Libra hendak menjelaskan pada Nadira, tanpa diduga sebuah bel berbunyi dari luar unit apartemen itu dan membuat keduanya terkejut. Libra pun spontan menoleh ke arah pintu, ia penasaran siapa yang datang disana dan untuk apa orang itu datang secara mendadak.
"Sebentar ya mbak, aku mau cek dulu ke depan! Siapa tahu yang datang itu Ciara," ucap Libra.
Nadira hanya menganggukkan kepalanya, lalu Libra bergegas pergi menuju pintu untuk mencari tahu siapa yang ada di depan sana. Begitu ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat mengetahui Seno lah yang datang kesana dan kini tengah berdiri tepat di hadapannya dengan wajah emosi.
"Ciara ada di dalam? Saya mau ketemu sama dia, tolong bilangin ke dia kalau ada saya disini!" ucap Seno dengan tegas.
Libra menatap heran ke arah Seno, ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Seno datang lalu menanyakan keberadaan Ciara dan ingin bertemu dengan wanita itu. Tentu saja Libra sangat kesal, lelaki itu menaruh curiga pada Seno mengingat sebelumnya Seno mengatakan kalau dia ingin merebut Ciara darinya dan akan berbuat apapun demi mewujudkan keinginannya itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1