Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 94. Belum siap


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian....


Sejak kejadian pengancaman yang dilakukan oleh Libra dan Ciara kala itu, Davin maupun Bella sudah tidak ada yang berani lagi mengganggu hubungan mereka. Tentu saja keduanya khawatir jika sampai foto yang dimiliki Ciara itu tersebut di dunia maya, maka pasti karir serta kehidupan Bella serta Davin akan hancur saat itu juga seperti ketika video syur Ciara dulu disebar oleh Davin tanpa perasaan.


Hubungan antara Ciara dengan Libra pun semakin lekat, mereka berdua bahkan hari ini akan mengadakan pesta pernikahan yang telah lama dinanti-nanti oleh keduanya. Tentunya ini semua sudah disepakati oleh Ciara, sebab gadis itu sebentar lagi akan diwisuda dan ia ingin sebelum itu terjadi dirinya sudah lebih dulu menikah dengan Libra alias pria yang sangat ia cintai.


Tak ada alasan bagi Libra untuk menolak, pria itu dengan senang hati menyetujui permintaan Ciara. Bahkan sebenarnya, Libra pun telah tidak sabar ingin segera menikahi Ciara dan sejak lama ia juga menginginkan hal itu terjadi. Untunglah Ciara kini mau dan malah meminta lebih dulu untuk dinikahi, tanpa ragu Libra tentu segera menyiapkan pesta pernikahan mereka dengan sangat megah dan meriah yang pastinya akan sangat heboh.


Ya Ciara memang sudah kuliah, gadis itu masuk ke universitas terbaik di negara C dan berhasil lulus hanya dalam waktu 2 tahun kurang lebih. Kepintaran dirinya yang luar biasa, membuat ia diapresiasi oleh banyak pihak termasuk para pejabat di negeri sana. Bahkan Ciara juga ditawari untuk bekerja disana, namun gadis itu menolak dan lebih memilih menetap di kota kelahirannya bersama sang kekasih serta keluarganya.


Kini ditemani oleh Cleo dan juga Anin, Ciara pun bersiap untuk menemui Libra yang telah menunggu sedari tadi di altar. Sebagai seorang sahabat, mereka berdua tentu sangat bahagia melihat Ciara akan resmi menikah sebentar lagi. Namun, jantung Ciara justru berdetak sangat kencang menandakan betapa gugupnya ia karena akan berhadapan langsung dengan Libra alias calon suaminya.


Libra amat terpesona begitu melihat paras cantik sang kekasih, berdiri di sampingnya saja sudah membuat Libra gemetar dan panas dingin karena tak tahan dengan pesona gadis itu. Sesekali keduanya saling melirik satu sama lain, tapi kemudian membuang muka secara bersamaan dan membuat orang-orang disana tersenyum geli menyaksikan tingkah mereka berdua.


Pengucapan janji telah dilakukan, ciuman pertama sebagai sepasang suami-istri pun dilaksanakan sesuai aturan yang ada. Para tamu yang hadir disana tampak tersenyum bahagia melihatnya, dan ketika bagian pelemparan bunga mereka semua langsung berbondong-bondong mendekat untuk bersiap menangkap bunga tersebut.


Tapi akhirnya, Cleo lah yang mendapatkan bunga itu. Ia bersorak bahagia dan sampai jingkrak-jingkrak, sedangkan Anin yang berdiri di sebelahnya hanya bisa mencibir kesal lantaran dia gagal mendapatkan bunga lemparan dari Ciara itu. Cleo pun berharap, suatu hari nanti ia akan mendapat calon suami yang baik dan perhatian seperti Libra.


Pesta pernikahan itu pun berakhir, dan semua tamu juga telah pulang ke rumah masing-masing. Termasuk juga Nadira, Gavin, Galen maupun Tiara. Semuanya telah pergi, seketika suasana yang ramai dan menyenangkan itu berubah. Ciara kini berada di dalam mobil bersama suaminya, tapi entah kenapa gadis itu malah melamun dan lebih banyak diam seolah tengah memikirkan sesuatu.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu mendadak sedih seperti itu? Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku! Aku ini sekarang suami kamu, jadi kamu gak perlu sungkan sayang," ucap Libra yang tampak khawatir dengan kondisi istrinya itu.


Ciara menoleh memandangi wajah suaminya, sedetik kemudian ia mengukir senyum di pipinya dan meletakkan telapak tangannya di atas paha sang suami.


"Aku gak nyangka aja, kisah cinta kita ternyata berakhir bahagia. Aku senang banget tahu sayang, akhirnya kita berdua bisa menikah dan hidup bahagia tanpa gangguan dari om Davin atau kak Bella lagi!" ucap Ciara.


Libra turut tersenyum dibuatnya, ia raih telapak tangan Ciara dari atas pahanya dan mengarahkan itu ke pipinya yang ditumbuhi sedikit bulu.


"Ini bukan akhir sayang, justru ini baru awal dari kehidupan kita yang baru. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tetapi yang pasti aku akan selalu ada disisi kamu dan akan selalu menyayangi kamu Ciara!" ucap Libra.


"Aku percaya kok sama kamu, aku juga yakin kamu gak akan mungkin tinggalin aku!" ucap Ciara lirih sembari membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


Dengan lembut Libra mengusap kepala bagian belakang gadis itu, dikecupnya juga puncak kepala wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Lalu, keduanya tampak saling memejamkan mata menikmati suasana hangat yang indah ini. Mata sang supir juga tak bisa beralih dari pemandangan itu, oh sungguh pasangan muda itu benar-benar membuat siapapun yang melihatnya merasa iri.




Sesampainya di apartemen, Libra meletakkan tubuh mungil sang istri tepat di atas ranjang yang telah ia hias sedemikian rupa demi menyambut malam pertama mereka kali ini. Senyuman lebar merekah di kedua pipi Ciara, gadis itu sepertinya amat bahagia melihat semua hiasan yang ada disana. Terutama foto mereka berdua yang sudah terpajang di atas dinding, padahal sebelumnya saat ia mampir kesana foto-foto itu sama sekali belum terpasang.


"Om, ini semua kamu yang buat?" tanya Ciara dengan terus menatap sekelilingnya.

__ADS_1


Libra mengangguk perlahan, posisi mereka saat ini sudah mendukung untuk terjadinya proses malam pertama. Ya pria itu sengaja menindih tubuh Ciara, karena sebenarnya sedari tadi juga ia sudah tidak kuat menahan gairah di dalam dirinya.


"Ya sayang, dan tolong berhenti panggil aku om! Bukankah kamu sudah janji waktu itu, apa kamu lupa sayang?" geram Libra.


"Ahaha, aku sengaja biar om kesel. Soalnya om itu lucu sih kalo lagi marah," kekeh Ciara.


Libra yang jengkel langsung saja menyerang Ciara dengan gelitikan di area pinggangnya, seketika Ciara dibuat kegelian dan tertawa terbahak-bahak sembari memohon ampun. Akhirnya Libra berhenti menghukum istrinya itu, tetapi kedua tangan Ciara justru digenggam kuat olehnya dan ditaruh di atas kepala gadis itu sambil mendekatkan wajahnya.


Detak jantung Ciara berdetak semakin kencang saat ini, mereka sudah sangat dekat dan bahkan tubuh mereka pun sudah saling menempel. Hanya tinggal wajah mereka lah yang belum bersentuhan, namun perlahan Libra juga telah mendekatkan wajahnya seolah berniat mencuri kecupan selanjutnya. Mata Ciara dibuat terpejam, seolah menantikan sesuatu yang nikmat hadir diberikan sang suami.


Bruuukkk


"Aduh!" siapa sangka, Ciara malah mendorong tubuh Libra dengan kuat sampai terjatuh dari atas ranjang dan membentur lantai.


"Hah om Libra??" Ciara panik, ya gadis itu yang melakukannya dan dia sendiri lah yang merasa cemas pada kondisi suaminya.


Ciara pun terduduk menatap Libra yang juga tengah terduduk di lantai dan terus meringis sembari mengusap pinggulnya, sejujurnya gadis itu tak berniat mencelakai suaminya, ia hanya bermaksud untuk mencegah Libra melakukan malam pertama secepat ini karena ia belum siap.


"Duh, kamu itu kenapa sih Ciara? Sakit tahu!" ucap Libra melayangkan protes.


"Eee ma-maaf om, aku gak sengaja. Maksud aku tuh mau minta om buat sabar, jangan gegabah pengen minta jatah dari aku!" ucap Ciara gugup.


"Maksud kamu? Memangnya kamu tidak mau melayani aku?" tanya Libra memicing heran.


"Ohh, jadi kamu mau mandi dulu? Abis itu kita baru malam pertama, iya? Okay, kalo gitu sih aku terima-terima aja!" ucap Libra bersemangat kembali.


Ciara dengan cepat menggeleng dan mengangkat kedua tangannya, "Enggak enggak, bukan begitu juga maksud aku om. Aku mau mandi, tapi nanti setelah mandi juga aku belum siap buat ngelakuin itu sama om," ucapnya menjelaskan.


Libra pun menatap heran ke wajah istrinya, ia berdiri semula dengan tegap dan mendekati Ciara. Tampak ketakutan tersirat di wajah gadis itu, sepertinya Ciara khawatir Libra akan marah padanya.


"Om, om mau apa? Jangan marah om, aku kan emang belum siap!" ucap Ciara.


Libra tersenyum, "Don't worry, baby! I will not force you if you are not ready." begitulah yang dia ucapkan, dan seketika membuat bibir Ciara mengembangkan senyumnya.


"Terimakasih om," ucap Ciara singkat.


"Sssttt..." Libra segera menempelkan jarinya di bibir mungil sang istri.


"Panggil aku daddy, jangan om!" pinta Libra yang kemudian diangguki oleh Ciara dengan antusias.


"Siap daddy!"

__ADS_1




Dikala pasangan Ciara dan Libra tengah diberi kebahagiaan yang amat sangat setelah pernikahan mereka itu, disisi lain justru Leon serta Nindi kini tengah terlibat pertikaian yang cukup menegangkan. Ya sebelumnya mereka juga telah resmi menikah, dan Leon memutuskan mengajak Nindi tinggal di rumahnya yang besar bersama anak yang dikandung oleh wanita itu.


Namun, setelah kelahiran sang anak dan kini putri dari Nindi itu telah menginjak usia dua tahun, tiba-tiba saja Nindi menemui suaminya dan meminta sang suami menandatangani surat perceraian yang telah ia dapatkan dari pengadilan. Tentu saja Leon cukup terkejut dengan itu, dia sama sekali tak menyangka kalau Nindi benar-benar ingin bercerai dan berpisah darinya.


"Cepat tandatangani itu, mas! Aku gak mau menunda-nunda lagi, kamu harus menandatangani surat perceraian kita ini sekarang juga!" pinta Nindi.


Leon menggeleng seraya menatap tajam wajah Nindi, pria itu masih tak percaya dengan tindakan yang dilakukan oleh istrinya saat ini dan dia sungguh heran mengapa Nindi melakukan itu. Padahal selama ini rumah tangga keduanya tampak harmonis, bahkan jarang sekali mereka bertengkar atau membahas soal perceraian.


"Apa maksud kamu Nindi? Aku ini mau berangkat kerja loh, kamu jangan ajak aku bertengkar tanpa alasan yang jelas ya!" ucap Leon.


"Enggak mas, aku gak mau ajak kamu bertengkar kok. Aku cuma minta kamu tandatangani surat perceraian kita ini, setelah itu biar aku yang urus semua prosesnya!" ucap Nindi.


"Kamu ini bicara apa? Kenapa tiba-tiba kamu mendadak minta cerai, ha? Apa salah aku?" tanya Leon terheran-heran.


"Kamu gak ada salah apa-apa kok, mas. Tapi, aku rasa semua kebaikan kamu ini udah lebih cukup. Kita bisa cerai sekarang, lalu kamu bebas menikah lagi dengan perempuan lain di luar sana!" jawab Nindi.


Seketika Leon terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan Nindi, pria itu amat kaget lantaran Nindi belum pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya. Bagi sebagian lelaki, mungkin ucapan Nindi barusan itu sangat diharapkan dan diinginkan untuk bisa menikah lagi. Tapi berbeda dengan Leon, ya pria itu sangat mencintai Nindi dan dia tidak mungkin meninggalkan Nindi begitu saja.


"Aku gak akan pernah tandatangani surat itu, dan kita juga tidak akan pernah bercerai Nindi! Kamu dan aku, kita ini akan bersama selamanya sampai maut memisahkan kita!" tegas Leon.


Nindi terdiam saja dibuatnya, Leon benar-benar serius kali ini dan tidak ingin Nindi berbicara seperti itu lagi. Bahkan Leon juga mengambil surat itu dari tangan Nindi, lalu merobeknya tepat di hadapan wanita itu sampai berserakan di lantai. Nindi pun terbelalak, namun tak membuat tekadnya gentar karena dia memang ingin membebaskan Leon dari apa yang seharusnya tidak pria itu lakukan.


"Percuma kamu sobek surat ini mas, karena aku akan buat lagi yang baru besok. Intinya kamu tetap harus menandatangani surat cerai kita, supaya kamu bisa bebas dari aku!" ucap Nindi.


"Gak Nindi, itu gak akan terjadi. Aku sayang sama kamu, aku juga sayang sama Daiva. Bahkan, aku sudah menganggap dia sebagai anak kandung aku sendiri. Lalu kenapa sekarang kamu malah minta kita untuk berpisah, Nindi?" ujar Leon.


"Karena dia bukan anak kamu, mas. Gak seharusnya kamu menikahi aku, dan gak seharusnya juga kamu mengakui Daiva sebagai anak kamu!" ucap Nindi.


"Okay Daiva memang bukan darah daging aku, tapi dia tetap anak aku. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau berpisah dari kamu Nindi!" ucap Leon dengan tegas.


Setelah mengatakan itu, Leon pun berbalik dan keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Tampak Nindi meneteskan air matanya, sebelum kemudian turut bergerak menyusul suaminya untuk meminta maaf atas kelakuannya. Akibat rasa tidak teganya, Nindi malah sampai bertindak di luar batas dan meminta Leon menceraikannya. Padahal lelaki itu sudah sangat baik, serta selalu membantunya.


Kini Nindi berhasil menahan suaminya sebelum pergi, tampak dirinya amat menyesal dan terus menangis sesenggukan atas kelakuannya sendiri. Ia meminta maaf pada Leon, duduk bersimpuh sembari mencium punggung tangannya berulang kali sebagai tanda penyesalannya. Leon yang melihat itu pun merasa tidak tega, sontak ia turut berjongkok di hadapan Nindi dan menatapnya.


"Nindi, sudah kamu gak perlu kayak gini terus! Aku tahu kamu ngelakuin ini karena kamu mikirnya aku ini nikahin kamu terpaksa, padahal itu semua gak bener Nindi. Aku mau nikah sama kamu, ya karena aku memang cinta sama kamu!" ucap Leon.


Nindi terus menangis di hadapan suaminya, sebelum akhirnya Leon yang kasihan pun memeluk erat tubuh istrinya itu sembari mengusap punggungnya. Leon benar-benar sayang pada Nindi, sedetikpun dia tidak akan pernah mau melepas Nindi apalagi kehilangan wanita itu. Dia sudah berjanji untuk menjaga dan menyayangi wanita itu, maka dia pun harus menepatinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2