Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 125. Terbukti jahat


__ADS_3

Nindi kembali bertemu dengan Rama dan juga Erland di bar seperti sebelumnya, tapi kali ini mereka hanya bertiga dan tampak begitu menikmati alunan musik serta minuman yang menyegarkan. Nindi sudah kehilangan jati dirinya, semenjak ia kenal dan dekat dengan sosok Rama. Terlebih, kesucian yang selama ini ia jaga harus direnggut paksa oleh lelaki tak bertanggung jawab itu.


Nindi memang sengaja melakukan ini semua, agar suaminya alias Leon dapat lebih cepat memberi talak padanya dan mereka bisa berpisah. Jujur Nindi tak ingin melakukan itu, tetapi semuanya terpaksa ia lakukan karena ia merasa tak pantas untuk sosok lelaki sebaik Leon. Hidup Nindi sudah hancur, itulah sebabnya ia memilih meneruskan kehancuran hidupnya dengan mengikuti perintah Rama.


Sangking banyaknya minuman yang ia nikmati, Nindi sampai nyaris kehilangan kesadarannya. Wanita itu terus asyik berjoget sembari memegang gelas di tangannya, tubuhnya sudah mulai lemas dan pandangannya pun agak kabur. Sedangkan dua lelaki di dekatnya juga masih terus berjoget bersamanya, bahkan mereka sesekali mencium atau menyentuh bagian sensitif milik Nindi.


Dikala mereka tengah asyik menikmati alunan musik, tiba-tiba saja seorang lelaki berkumis datang mendekat dan menemui ketiganya. Sepertinya, lelaki itu terpesona dengan goyangan Nindi serta lekuk tubuh wanita itu. Maka dari itu, lelaki tersebut kini berniat menawarkan sejumlah uang untuk bisa menikmati tubuh Nindi walau hanya satu malam.


"Permisi, apa saya boleh bermain dengan wanita ini? Saya punya banyak uang kok," ujar si lelaki.


Baik Rama maupun Erland sama-sama saling bertatapan satu sama lain, mereka kompak tersenyum dan tentu saja mengiyakan permintaan lelaki berkumis itu. Akan tetapi, mereka tentunya meminta bayaran yang sangat mahal agar bisa berbagi dengan yang lainnya.


Lelaki berkumis itu setuju dengan harga yang ditawarkan Erland, kemudian ia memberikan sejumlah uang cash serta mentransfer sisanya ke rekening Erland. Kini Rama dan juga Erland menyerahkan Nindi pada laki-laki berkumis itu, kebetulan Nindi juga tengah mabuk sehingga tidak sadar dengan apa yang terjadi.


"Halo manis! Mau bersenang-senang malam ini? Aku bisa bikin kamu bahagia loh," ucap lelaki berkumis.


Nindi terkejut saat tiba-tiba lelaki asing berkumis itu sudah ada di dekatnya, ia mencari-cari keberadaan Erland serta Rama tetapi tidak berhasil menemukannya disana. Nindi pun panik, ia juga tidak tahu siapa lelaki berkumis yang ada di dekatnya. Apalagi, sekarang lelaki itu berani menyentuhnya dan malah menggodanya.


"Anda siapa? Mana teman-teman saya, kenapa anda malah yang ada disini?" tanya Nindi di sisa-sisa kesadarannya.


"Saya sudah bayar mahal untuk kamu, cantik. Jadi, malam ini kita akan bersenang-senang dalam waktu yang cukup lama. Kamu mau langsung ke kamar sekarang, atau masih pengen disini?" goda si pria.


"Hah apa? Maksudnya gimana ya? Anda jangan dekat-dekat, sana pergi!" sentak Nindi.


"Tenang cantik! Siapa nama kamu, hm? Kenalkan, saya Evan dan saya pastikan malam ini kamu pasti terbuai dalam kenikmatan!" ucap pria itu.


"Enggak, saya gak mau. Saya gak kenal sama anda, gausah ngaco deh!" tolak Nindi.


"Teman-teman kamu itu sudah memberikan kamu pada saya cantik, dan saya juga sudah bayar mahal untuk kamu!" tegas Evan.


"Apa??" Nindi terkejut bukan main dibuatnya.


Sementara Evan terlihat makin berani menyentuh tiap anggota tubuh wanita itu, usapan demi usapan ia berikan dan membuat Nindi lama-kelamaan merasa tergoda. Akhirnya, Nindi yang sudah hilang kesadaran malah merangkul tangannya di leher Evan dan menatapnya dengan intens. Keduanya mulai larut dalam gairah, hingga tercipta lah ciuman panas diantara sepasang manusia itu.




Ciara tersenyum lebar melihat suaminya pulang ke rumah setelah sedari tadi ia mencemaskan lelaki itu karena sempat terbawa emosi dan hendak menghampiri dokter Syifa, untungnya saat ini Libra telah kembali pulang dalam keadaan selamat dan bisa lebih tenang dari sebelumnya. Ya walau Ciara tahu, suaminya itu pasti sudah menemui dokter Syifa dan entah apa yang telah terjadi diantara kedua dokter tersebut saat di rumah sakit.


Libra pun ikut tersenyum saat disambut oleh istrinya di depan rumah, ia langsung menarik pinggang serta mengecup kening istrinya itu disana. Setelahnya, mereka pun sama-sama melangkah ke dalam dengan tangan saling merangkul satu sama lain. Keduanya kini terduduk di sofa, sepertinya Ciara juga sudah penasaran ingin tahu apa yang Libra lakukan pada dokter Syifa sebelumnya.


"Mas, kamu gak ngapa-ngapain dokter Syifa kan tadi? Kasihan loh kalau sampai dia kenapa-napa, kan belum tentu dia yang salah!" ucap Ciara cemas.


Lelaki itu malah mendekap erat tubuh istrinya, menarik dagu serta mengecup singkat bibir sang istri yang menarik perhatiannya dan seolah enggan untuk menjawab pertanyaan tadi. Ya Libra khawatir kalau Ciara akan marah jika ia menceritakan semuanya pada wanita itu, pasalnya Libra memang sempat terbawa emosi sampai nyaris saja melukai dokter Syifa yang tidak ingin mengaku tadi.


"Tuh kan mas, kamu pasti gini deh kalau ditanya. Aku minta kamu jawab dulu pertanyaan aku, jangan main cium-cium gitu aja dong! Justru aku jadi makin curiga nih sama kamu," kesal Ciara.

__ADS_1


"Iya iya, aku tadi tuh kebawa emosi sayang sama dokter Syifa. Aku bawa dia ke atasan, aku bilangin lah semua kesalahan dia itu. Ya tapi pihak atasan malah belain dia, jadi yaudah aku aja yang mengundurkan diri dari sana," jelas Libra.


Ciara terkejut mendengarnya, "Apa mas? Kamu sampai tega ngundurin diri dari rumah sakit cuma karena masalah itu?" ujarnya.


Libra hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia memang terpaksa melakukan itu karena menurutnya kelakuan dokter Syifa sudah di luar batas dan tidak pantas untuk dimaafkan. Meski pihak atasan terus saja membelanya, tetapi Libra yakin kalau dokter Syifa memang sengaja melakukan itu untuk membuat dirinya dan Ciara bertengkar.


Meski harus kehilangan pekerjaan dan juga masa depannya, Libra pun tak perduli karena yang ia inginkan saat ini hanyalah untuk bisa hidup berdua dengan Ciara dan meraih kebahagiaan bersamanya. Kini Libra juga bertekad akan selalu melindungi keluarganya serta berjuang untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangganya, dan Libra tidak akan segan untuk menghukum siapapun yang berniat mengusik hubungannya.


Ciara merasa terharu dengan apa yang dikatakan suaminya saat ini, pasalnya Libra terlihat begitu menyayanginya dan tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Meski begitu, Ciara tetap menyayangkan keputusan Libra untuk mengundurkan diri. Ya karena menjadi seorang dokter adalah cita-cita Libra sejak dulu, dan sekarang pria itu harus merelakan semua yang dia miliki demi keutuhan rumah tangganya.


"Makasih ya mas, kamu udah perduli sama aku dan anak kita! Kamu sampai rela tinggalin pekerjaan yang kamu impi-impikan itu demi aku, aku salut sama kamu!" ucap Ciara.


"Tentu sayang, mulai sekarang aku gak mau ada pengganggu lagi di rumah tangga kita. Siapapun itu pasti akan aku lawan, supaya kita bisa hidup bahagia bersama selamanya! Aku gak rela kalau harus kehilangan kamu, Ciara!" ucap Libra.


"Iya mas, aku janji akan selalu ada disisi kamu kok!" ucap Ciara dengan lembut.


Akhirnya sepasang suami-istri itu berpelukan disana dengan sangat erat untuk melampiaskan semua perasaan di dalam diri mereka, Libra merasa menyesal karena sebelumnya ia sempat termakan omongan dokter Syifa dan nyaris saja berpisah dengan istri tercintanya itu. Kini setelah semua janji yang ia ucapkan, maka Libra bertekad untuk tidak akan mengulangi semua kesalahannya itu.




Besoknya, dokter Syifa kembali ke rumah sakit dan terlihat menggerutu kesal sembari memasuki area toilet untuk sekedar mencuci wajahnya. Pasalnya, mulai sekarang Libra sudah tidak ada lagi di rumah sakit itu karena telah mengundurkan diri. Sehingga, semua rencana yang ia susun sia-sia saja dan sekarang ia tidak bisa menemui Libra lagi.


Sambil menyalakan keran wastafel, dokter Syifa terlihat menyesali perbuatannya dan begitu kesal pada Ciara atas kehamilannya. Wanita itu memang menginginkan Libra menjadi miliknya, sebab itulah dokter Syifa memalsukan hasil tes Ciara tempo hari dan mengatakan bahwa Ciara terkena penyakit kanker yang bahagia pada rahimnya sehingga tidak bisa memiliki sosok anak.


Setelah semua berakhir, Gita keluar dari bilik toilet tersebut dan menemui dokter Syifa sambil tersenyum. Sontak dokter Syifa merasa terkejut saat mengetahui ada orang lain di toilet itu, ia pun juga khawatir kalau-kalau ternyata Gita mendengar semua yang ia katakan tadi. Melihat ekspresi ketakutan di wajah dokter Syifa, membuat Gita justru semakin bersemangat kali ini.


"Wah wah wah, saya gak nyangka ya ternyata dokter setega ini sama Libra dan Ciara? Saya heran deh sama dokter, kenapa sih dokter sampai ngelakuin itu semua ke mereka?" ujar Gita.


Dokter Syifa dibuat tidak berkutik saat ini, ia tak menyangka jika Gita mendengar semua yang ia katakan sedari tadi disana. Dokter Syifa pun masih berusaha mengelak, ia tentu tak mau kalau semuanya terbongkar dan pihak atasan sampai mengetahui kelakuannya itu.


"Kamu bicara apa sih Gita? Saya gak pernah melakukan apapun ya ke mereka!" elak Syifa.


"Hahaha, sudah tertangkap basah masih aja mau ngelak ya anda. Saya sudah rekam semuanya di ponsel ini, dan sebentar lagi saya akan tunjukkan ini ke pak Sulistyo sebagai bukti. Supaya anda bisa segera dipecat!" ancam Gita.


"Gita tunggu! Kamu jangan main-main ya sama saya! Kamu pikir saya tidak tahu, kalau kamu juga menyukai dokter Libra!" ucap Syifa.


"Iya saya memang menyukai dia, tapi saya tidak pernah melakukan hal sekeji itu pada istrinya. Saya tetap menghargai Ciara sebagai istri sah Libra, tidak seperti anda!" tegas Gita.


"Halah alasan, yang namanya menyukai seseorang yang sudah beristri itu tidak benar Gita!" ucap Syifa.


"Terserah, intinya sekarang saya akan laporkan semua kejahatan anda ini ke pak Sulistyo. Tunggu saja, sebentar lagi anda pasti akan dihukum!" ucap Gita menyeringai.


"Tunggu Gita, jangan lakukan itu! Gita!" teriak Syifa berusaha menghentikan gerakan Gita.


Akan tetapi semua sudah terlambat, ya Gita kini berlari keluar dari toilet itu dan berniat untuk menemui Sulistyo di ruangannya. Gita tentu sengaja melakukan itu, karena ia pun tak terima setelah Libra mengundurkan diri dari rumah sakit tersebut. Pasalnya, Gita sekarang jadi semakin jarang untuk bisa bertemu dengan lelaki yang disukainya itu.

__ADS_1


Dokter Syifa pun terus mengejar kemana Gita berlari, sebab ia tidak ingin Gita mengatakan semuanya dan membeberkan kelakuan buruknya kepada Sulistyo yang mungkin akan berakibat pada pemecatan. Dokter Syifa masih ingin bekerja disana, karena mencari pekerjaan tidak semudah membalikkan telapak tangan atau membohongi Ciara.




Disaat Gita tengah berlari, tanpa sengaja ia justru menabrak Sulistyo yang juga baru keluar dari toilet pria sampai ponselnya terpental dan jatuh ke lantai. Ia terlihat senang ketika melihat Sulistyo disana, langsung saja ia mengambil ponselnya dan beruntung ponsel itu masih hidup serta dapat dinyalakan kembali.


"Kamu itu kenapa Gita? Ini rumah sakit loh, bukan taman bermain. Jangan lari-larian disini!" tegur Sulistyo.


"Ma-maaf pak, saya cuma mau tunjukkan sesuatu ke bapak! Ini penting banget loh pak, menyangkut kejahatan dokter Syifa ke Ciara alias istrinya dokter Libra!" jawab Gita gugup.


"Maksud kamu gimana? Emangnya kejahatan apa yang dilakukan dokter Syifa, ha?" tanya Sulistyo.


"Ini pak, silahkan dilihat sendiri!" Gita langsung menunjukkan rekaman yang tadi ia dapatkan dari toilet berisi ucapan dokter Syifa.


Sontak Sulistyo tampak terkejut mendengar secara langsung apa yang dikatakan dokter Syifa dalam video tersebut, ia tak menyangka kalau dokter yang selalu ia bela itu ternyata sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Ia pun juga menyesali perbuatannya yang malah lebih membela Syifa dibanding Libra, sehingga Libra terpaksa mengundurkan diri dari rumah sakit itu.


Dokter Syifa yang melihatnya dari jauh pun tampak ketakutan, ia menggeleng perlahan ketika menyadari bahwa Gita telah memberikan video itu kepada Sulistyo. Kini karirnya semakin terancam, ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa menghadapi hukuman yang akan diberikan Sulistyo kepadanya kali ini atas kesalahannya itu.


Perlahan Syifa melangkah mendekati keduanya, ia berharap bisa memberi penjelasan kepada Sulistyo agar tidak mempercayai video tersebut. Syifa tentu masih ingin bekerja disana, walaupun saat ini sudah tidak ada Libra yang ia cintai. Namun, Syifa juga membutuhkan uang untuk biaya hidupnya dan hanya dari sana lah ia bisa mendapatkan uang.


"Pak, itu semua gak bener pak. Gita sengaja pasti mau menjatuhkan saya, supaya bapak pecat saya. Gak mungkin saya melakukan semua itu pak, bapak percaya sama saya!" ucap dokter Syifa.


Sulistyo dan Gita terkejut dengan kehadiran Syifa disana, mereka sama-sama menoleh ke arahnya lalu menatap heran wajah wanita itu. Gita juga menggeleng pelan karena Syifa masih saja ingin mengelak dari semua tuduhan itu, padahal jelas-jelas Gita sudah mendengarnya sendiri dan bahkan merekam ucapan wanita itu.


"Kebetulan kamu datang Syifa, saya benar-benar gak nyangka sama kelakuan kamu ini! Kenapa kamu tega membohongi Libra dengan menyatakan istrinya mandul, ha?" geram Sulistyo.


Dokter Syifa menggeleng dengan cepat, "Enggak pak, saya sama sekali gak melakukan itu. Ini semua fitnah pak, Gita sengaja mau menyingkirkan saya karena dia iri sama saya! Bapak jangan percaya sama dia loh, pak!" ucapnya mengelak.


"Hadeh, anda susah banget ya diminta mengaku? Padahal jelas-jelas saya ada buktinya ini, masih aja anda mau berkelit!" ucap Gita kesal.


"Heh diam ya kamu Gita! Kamu itu pasti iri kan sama keberhasilan aku? Makanya kamu ngelakuin ini semua dan mau fitnah aku di depan pak Sulistyo, dasar jahat kamu Gita!" sentak Syifa.


"DIAM KALIAN!!" tiba-tiba saja, Sulistyo yang emosi langsung membentak kedua wanita itu.


Sontak baik Syifa maupun Gita sama-sama terdiam menundukkan wajahnya, mereka tidak berani menatap wajah Sulistyo karena takut. Kini Sulistyo pun beralih memandang wajah Syifa dan dipenuhi emosi, hal itu membuat Syifa semakin gemetar ketakutan serta cemas jika Sulistyo akan memecatnya.


"Dokter Syifa, mulai sekarang kamu saya berhenti tugaskan dari rumah sakit ini!" tegas Sulistyo.


Deg


Betapa syoknya dokter Syifa saat mendengar perkataan Sulistyo barusan, ia tak menyangka kalau semua yang ia takuti sedari tadi akhirnya terjadi. Sulistyo memecatnya, menghentikan Syifa dari tugasnya di rumah sakit itu dan membuat Syifa merasa kecewa tentunya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2