Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 235. Dalangnya


__ADS_3

Daiva tiba di apartemen milik Davin saat ini untuk melakukan tugasnya seperti biasa, ya Daiva memang sering sekali datang kesana sesuai perintah Davin yang meminta dipuaskan. Meski awalnya ia amat ketakutan, tapi pada akhirnya gadis itu malah menjadi ketagihan dan ingin terus berada disana bersama sang lelaki. Apalagi, Davin juga memberi uang yang cukup banyak baginya sehingga ia bisa membeli apapun yang ia inginkan saat ini.


TOK TOK TOK....


Dengan cepat Daiva mengetuk pintu sembari mempersiapkan dirinya, ia membenarkan rambut serta pakaian yang ia kenakan sebelum menemui Davin di dalam sana. Ia tak ingin mengecewakan Davin tentunya, apalagi sudah lama juga ia tidak bermain dengan pria itu semenjak Daiva mengalami datang bulan.


Tak lama kemudian, Davin keluar dari dalam apartemennya untuk menemui seseorang yang datang disana. Begitu ia membuka pintu, betapa syoknya Davin saat melihat Daiva muncul dengan kondisi yang cukup cantik dan menggoda. Saat itu juga Davin langsung terpesona, karena ia begitu merindukan sosok Daiva yang selama ini selalu berhasil memuaskan dirinya.


"Ah Daiva, akhirnya kamu datang juga sayang! Saya senang banget lihat kamu disini, ayo kita masuk sekarang sayang!" ucap Davin tampak antusias.


Tanpa ragu, Daiva pun melangkah masuk ke dalam apartemen itu bersama Davin yang merangkulnya. Davin bahkan tampak sudah tidak sabar untuk bermain dengan Daiva saat ini, karena miliknya selalu berhasil menegang setiap kali ada di dekat Daiva yang mempesona itu.


"Sayang, ayo kita langsung ke ranjang aja!" ajak Davin dengan tidak sabaran.


"Iya om." Daiva mengangguk setuju dan tak membantah sedikitpun kata-kata pria itu, justru ia merasa senang kali ini.


Davin yang gairahnya sudah diujung, langsung menarik tubuh Daiva dan merebahkannya di atas ranjang miliknya. Ia lahap bibir mungil gadis itu sembari perlahan melepas pakaian yang ia kenakan, cumbuan itu begitu liar dan panas. Daiva sendiri sampai tidak bisa mengimbanginya, karena Davin benar-benar luar biasa hari ini.


Akhirnya mereka melakukan permainan panas itu sampai tiga ronde lamanya, Daiva berhasil dibuat lemas oleh Davin dan tampak terpuaskan. Setelah itu, mereka pun sama-sama pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka tanpa melakukan hal itu lagi.


Kini keduanya terduduk di sofa dan saling memandang satu sama lain, Davin begitu senang karena Daiva telah berhasil membuatnya puas kali ini. Meski begitu, Davin meminta Daiva untuk terus datang ke apartemennya itu. Tak lupa Davin pun mentransfer sejumlah uang ke rekening milik Daiva, sehingga gadis itu tampak bahagia.


"Semuanya sudah saya transfer Daiva, terimakasih ya atas pelayanan kamu yang makin hebat itu! Saya benar-benar ketagihan Daiva, saya mau setiap hari kamu kesini ya!" ucap Davin.


"Siap om, itu bisa diatur kok!" ucap Daiva santai.


Lalu, tiba-tiba saja terdengar bunyi bel dari arah luar yang mengagetkan keduanya. Davin begitu heran, karena tak biasanya ada tamu yang datang ke apartemen miliknya itu. Tapi apa boleh buat, Davin pun terpaksa bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu untuk mengecek siapa yang datang.


Ceklek

__ADS_1


Begitu pintu dibuka, betapa terkejutnya Davin ketika melihat Ciara berdiri disana dengan wajah seriusnya. Davin benar-benar bingung saat ini, ia tak mau jika sampai Ciara mengetahui hubungannya dengan Daiva selama ini. Hal itu pastinya bisa membuat Ciara makin membenci dirinya, dan akan sulit bagi Davin untuk memiliki Ciara kembali.


"Loh Ciara, kamu kenapa datang kesini? Ada yang bisa aku bantu untuk wanita tercinta aku ini, hm?" tanya Davin dengan lembut.


"Iya om, aku mau tanya dimana alamat rumah Rila. Om pasti tahu kan?" jawab Ciara.


"Oh soal itu, iya aku tahu kok Ciara sayang. Yaudah, kamu mau aku antar sekarang atau nanti nih?" ucap Davin sambil tersenyum.


"Sekarang om, aku ada perlu sama Rila dan aku harus segera ketemu sama dia!" pinta Ciara.


"Okay, tunggu sebentar ya aku mau siap-siap dulu!" ucap Davin.


Ciara mengangguk paham, ya Davin sengaja tak mengajak Ciara masuk ke dalam apartemennya karena tidak ingin wanita itu mengetahui bahwa di dalam sana sedang ada sosok Daiva. Akan tetapi, semua rencana Davin kacau ketika Daiva tiba-tiba muncul dan malah berdiri tepat di hadapan Ciara.


"Siapa yang datang, om?" tanya Daiva tanpa ragu sembari merangkul pria itu.


Deg




Disisi lain, Cyra dan Rachel mendatangi tempat tinggal Rila lebih dulu daripada Ciara maupun Libra. Ya Cyra sengaja melakukan itu karena ingin mengamankan Rila dari amukan mamanya, meski ia sendiri masih sangat emosi ketika mengingat apa yang sudah Rila lakukan padanya.


Sesampainya disana, tampak Rila langsung menghampiri Cyra dan tanpa diduga berlutut di depannya sambil memohon ampun. Berulang kali Rila meminta maaf pada Cyra, sepertinya Rila memang sudah sadar akan kesalahannya. Rila juga mulai menangis saat ini, sampai-sampai Cyra dibuat tidak tega melihatnya.


"Cyra, aku mohon maafin aku Cyra! Tolong jangan bawa aku ke kantor polisi, aku gak mau di penjara!" rengek Rila.


"Ck, sekarang aja baru minta ampun lu! Kemarin kenapa lu tega berkhianat dari Cyra, ha? Gue gak nyangka sama lu Rila, bisa-bisanya lu kayak gitu sama sahabat lu sendiri! Lu itu teman macam apa sih?" sentak Rachel.

__ADS_1


"Iya Cel, gue tau gue salah. Makanya sekarang gue minta maaf sama Cyra, gue janji bakal lindungi lu dari si om Gio itu kok! Gue gak akan biarin dia buat sentuh lu Cyra," ucap Rila.


"Aku gak butuh perlindungan dari kamu, Rila. Aku kesini buat minta bukti dari kamu kalau memang ini semua kamu lakuin karena ancaman dari Celo, ayo cepat kamu tunjukkan semuanya ke aku supaya aku bisa percaya sama kamu!" ucap Cyra.


"Hah? Ta-tapi, Celo dari kemarin gak bisa dihubungi. Dia kayaknya udah blokir nomor aku deh karena gak mau berurusan lagi sama aku," ucap Rila.


"Bohong tuh Cyra, kita ambil aja hp nya terus telpon langsung si Celo sekarang!" sela Rachel.


Rila terkejut dengan apa yang diucapkan Rachel barusan, tapi sesaat kemudian Cyra mengangguk setuju dan memerintahkan Rachel untuk menggeledah tubuh Rila saat ini demi mengambil ponsel milik gadis itu. Rila tak dapat berbuat apa-apa kali ini, ia pasrah saja ketika ponselnya diambil paksa oleh Rachel saat ini.


"Ini Cyra, gue yakin banget si Rila pasti bohong dan itu cuma alasan dia aja supaya lu percaya sama dia!" ucap Rachel sembari memberikan ponsel itu kepada Cyra.


"Okay, kita buktikan aja semuanya sekarang! Aku akan coba telpon ke nomor Celo pake hp ini, kalau nyambung berarti kamu bohong Rila. Kamu tahu kan apa hukuman yang pantas untuk orang yang suka berbohong?" ucap Cyra dengan tegas.


"I-i-iya Cyra, maafin a-aku!" ucap Rila dengan gagap, ya gadis itu tampak begitu cemas kali ini.


Rachel menyeringai dibuatnya, sedangkan Cyra tampak membuka ponsel milik Rila dan langsung menghubungi nomor Celo melalui ponsel itu. Ya Cyra ingin memastikan sendiri, apakah Rila baru saja berbohong padanya atau justru Rila sudah mengatakan yang sejujurnya.


Cukup lama Cyra menempelkan ponsel itu ke telinganya, tetapi telpon tak kunjung diangkat oleh Celo. Saat ia hendak memutus telpon tersebut karena kesal, tiba-tiba saja sebuah suara tersambung dan membuatnya tidak jadi mengakhiri panggilan itu.


📞"Halo Rila! Apaan lagi sih? Iya gue bakal bantu lu buat lepas dari tuntutan Cyra dan si Gio itu, tapi lu jangan telponin gue terus dong!" ucap Celo di dalam telpon.


Cyra tersentak mendengarnya, dari kalimat itu saja ia sudah dapat mencerna jika memang dalang dari ini semua adalah Celo. Ia menggeleng tak percaya, rasanya ia begitu heran mengapa Celo bisa sampai setega itu padanya. Bahkan, Celo dengan tega menyuruh Rila yang merupakan sahabatnya untuk menjual dirinya pada laki-laki asing.


📞"Ohh, jadi kamu ya pelakunya Celo? Kamu yang suruh Rila buat jual aku?" ujar Cyra penuh emosi.


📞"A-apa? Cyra???" Celo yang mendengar itu begitu terkejut, ia tak menyangka kalau yang menelponnya saat ini adalah Cyra dan bukan Rila.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2