
Libra benar-benar dalam keadaan suntuk saat ini akibat perceraian yang hendak dilakukan istrinya, apalagi Ciara terus saja memaksanya untuk mau hadir ke persidangan cerai mereka nanti. Meski Libra telah berulang kali menolak dan berkata bahwa ia tak akan pernah mau bercerai, namun Ciara tetap tidak perduli dan memaksa Libra untuk mau mengikuti semua proses cerai sampai selesai nanti.
Kini pria itu berada di salah satu cafe favoritnya, itu adalah milik dari sahabat wanitanya yang telah lama tak ia jumpai. Biasanya Libra sering datang ke cafe itu dikala sedih tengah melandanya, ya benar saja seperti sekarang Libra kembali datang kesana saat dirinya mengalami musibah. Berulang kali Libra menatap kopi di depannya, ia hanya diam tanpa mau meminum kopi yang sudah hampir dingin itu.
Aline, sang pemilik cafe itu sekaligus sahabat dari Libra pun tak sengaja melihat kehadiran pria itu disana. Sontak ia merasa sangat syok dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, agar lebih pasti maka Aline kini bergerak menghampiri Libra yang terduduk seorang diri. Ia menyapa pria itu sembari menepuk pundaknya, membuat Libra seketika sadar dari lamunannya dan menatap ke arahnya.
"Eh Aline?" Libra tersenyum, lalu beranjak dari kursi dan fokus menatap wajah wanita itu.
"Hai Libra! Udah lama ya kita gak ketemu, kamu apa kabar? Makin keren aja nih kamu dilihat-lihat, pasti makin sukses ya?" ucap Aline memujinya.
"Hahaha, bisa aja kamu Lin. Justru kamu nih yang makin maju bisnisnya," ucap Libra.
"Ah ini mah belum apa-apa kok, beda sama kamu yang sekarang udah punya rumah sakit sendiri. Mana gede banget lagi kan? Hebat kamu loh, pak dokter Libra!" kekeh Aline.
"Apaan sih kamu ini Aline?" Libra tersipu dan tampak menepuk pelan pundak wanita itu.
Entah mengapa, secara mendadak keceriaan di hati Libra kembali muncul saat berada di dekat Aline dan mengobrol bersamanya seperti ini. Sudah lama memang mereka tidak bertemu, tetapi dahulu baik Libra maupun Aline sama-sama saling bersahabat. Setiap salah satu dari mereka ada masalah, maka pastinya mereka akan saling tolong menolong.
"Oh ya Libra, kamu tadi aku lihat-lihat tuh ngelamun terus deh. Kamu lagi ada masalah ya pasti, kenapa?" tanya Aline dengan wajah penasaran.
Sontak kesenangan yang hadir sementara waktu tadi hilang kembali, ia menundukkan wajahnya ketika Aline bertanya seperti itu padanya. Setiap kali ia mengingat masalah antara dirinya dan sang istri, maka pasti ia akan terus merasa sedih. Rasanya perceraian itu adalah suatu hal yang menakutkan bagi Libra, sebab ia tak ingin berpisah dari Ciara.
"Kalau kamu emang lagi ada masalah dan butuh teman curhat, aku siap kok buat dengerin. Kita kan udah lama juga gak saling sharing kayak dulu, siapa tau kamu kangen gitu kan cerita sama aku?" ucap Aline coba membujuk pria itu.
"Ahaha, ada-ada aja deh kamu. Tapi iya sih, udah lama juga aku gak curhat ke kamu," ucap Libra.
__ADS_1
"Nah kan? Makanya, udah ayo sini kita duduk bareng terus kamu mulai cerita-cerita deh sama aku! Aku janji bakal dengerin sampai selesai, bukan malah adu nasib kayak orang-orang," ucap Aline.
"Haha.."
Akhirnya mereka terduduk bersama-sama pada kursi yang tersedia, Aline kini fokus menatap wajah Libra yang ada di depannya. Ketampanan Libra semakin terpancar saat Aline menatapnya dari jarak dekat, bahkan rasanya Aline begitu terpesona dengan wajah tampan pria tersebut. Hanya saja, Aline tahu jika Libra telah memiliki seorang istri.
•
•
Sementara itu, di jam istirahat Ciara berniat memesan makanan untuknya karena ia merasa sangat lapar. Ciara pun beranjak dari kursinya dan hendak berjalan ke luar ruangan, kebetulan di dalam sana hanya tersisa Ciara seorang mengingat para guru lainnya sudah pada keluar lebih dulu, entah itu untuk makan atau ada urusan lainnya.
Akan tetapi, baru saja Ciara hendak membuka pintu, ia malah dibuat terkejut ketika tiba-tiba pintu terbuka lebih dulu dari arah luar. Ciara pun membelalakkan matanya, apalagi yang berdiri di hadapannya adalah Chris alias sang guru bahasa inggris di sekolah itu. Jantung Ciara berdebar kencang, rasanya ia sangat malu karena nyaris bertabrakan dengan pria itu.
"Ups, ma-maaf bu Ciara, saya gak sengaja! Saya juga gak tahu kalau ada bu Ciara yang mau keluar, saya minta maaf ya bu!" ucap Chris dengan gugup.
"Ah ya, ini makanan yang saya beli di kantin. Bu Ciara mau coba? Kebetulan saya beli dua," jawab Chris.
Ciara terkejut, ia heran untuk apa Chris harus membeli dua bungkus makanan sekaligus dari kantin saat ini. Pikirannya melayang kemana-mana, ia curiga kalau Chris memang sengaja ingin membelikan makanan untuknya. Namun, dengan segera ia menepis semua itu dan mengira jika Chris memiliki porsi makan yang besar.
"Gausah pak, saya bisa beli sendiri kok. Yaudah, bapak makan aja duluan!" ucap Ciara.
"Yah gak seru dong saya makan sendirian, ayolah bu temenin saya ya! Ini makanannya kan ada dua, jadi buat saya satu, terus buat bu Ciara satu!" ucap Chris kembali menawarkan makanannya.
"Umm...." Ciara terlihat bimbang kali ini.
__ADS_1
"Udah gapapa bu, gausah malu-malu gitu! Kayak yang baru saling kenal aja, kita kan udah lumayan lama kenalnya bu," sela Chris.
"Iya deh, saya mau. Terimakasih ya pak?" ucap Ciara yang akhirnya mau menerima pemberian Chris.
Seketika Chris merasa senang, ia nyaris hendak berteriak karena sangking bahagianya saat Ciara mau mengambil makanan dari tangannya. Chris sungguh bahagia, rencana yang ia susun sedari tadi kini berhasil juga. Ya Chris memang sengaja membeli dua makanan tadi, supaya ia bisa mengajak Ciara makan bersama kali ini.
Setelah itu, Chris dengan modus lainnya malah menarik kursi ke arah meja Ciara agar bisa lebih dekat dengannya. Chris beralasan jika lebih asyik kalau makan saling berdekatan seperti itu, maka Ciara pun tak bisa menolak dan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Meski, Ciara sudah menebak apa niat sebenarnya pria itu.
Mereka pun mulai sama-sama memakan makanan yang ada di meja, namun Chris tak dapat berpaling dari wajah cantik sosok guru di sebelahnya. Saat ini usia Ciara memang sudah menginjak kepala tiga, dan bahkan pesona kecantikannya telah banyak memudar. Apalagi, Ciara memiliki tiga orang anak yang membuatnya semakin terasa tua.
Tapi di mata Chris, wanita seperti Ciara justru lebih menggoda dibanding gadis-gadis polos di luaran sana. Selain karena tubuh indahnya, Ciara juga pastinya lebih berpengalaman daripada para gadis yang lebih muda darinya. Itulah yang membuat Chris menaksir sosok Ciara, meskipun ia tahu Ciara telah memiliki seorang suami dan tiga orang anak.
"Ehem, bu Ciara!" Chris coba menegur Ciara dan memberitahu bahwa ada nasi yang menempel di dekat bibirnya.
"Ya, kenapa pak?" Ciara beralih menatapnya, ia terlihat bingung saat ini.
"Ma-maaf, tapi itu..." tanpa menyelesaikan ucapannya, Chris langsung menggerakkan satu tangannya dan mengusap bagian bibir wanita itu.
Deg
Sontak Ciara terkejut bukan main, matanya membulat lebar dan jantungnya berdetak semakin kencang. Jarak mereka hanya sekitar beberapa senti, apalagi tangan Chris juga menyentuh area bibirnya saat ini. Keduanya pun saling bertatapan dalam waktu cukup lama, sampai kemudian suara pintu terbuka terdengar dari sana.
Ceklek
Baik Ciara maupun Chris sama-sama panik, mereka spontan menjauh dan kembali fokus pada makanan yang mereka nikmati.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...