Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 121. Menikah lagi?


__ADS_3

"Ahh masss ah terusss aaahhh!!"


"Yeah sayang aku sampai...!!"


Suara kenikmatan saling bersahutan di kamar sepasang suami-istri itu, keduanya kini sama-sama ambruk di atas kasur dalam posisi terlentang dengan nafas terengah-engah. Ya mereka adalah Libra serta Ciara, keduanya baru selesai melakukan sebuah aksi mencari kepuasan setelah sekian lama mereka tak melakukan itu.


Libra tampak sangat puas karena dapat kembali mengeluarkan lahar miliknya, begitu juga dengan Ciara yang akhirnya merasakan kepuasan. Kini mereka pun terbaring dan saling memandang satu sama lain, keringat bercucuran di wajah mereka akibat aksi panas yang mereka lakukan tadi.


"Sayang, goyangan kamu makin mantap aja deh! Aku jadi gak bisa tahan lama, maaf ya kalau kamu belum terlalu puas tadi!" ucap Libra dengan nafas terengah-engah akibat kelelahan.


Ciara terkekeh mendengar perkataan suaminya, ia pun bangkit dan berniat turun dari ranjang untuk membersihkan sisa percintaan mereka. Namun, Libra lebih dulu mencegahnya serta memegang lengan wanita itu dari belakang. Sehingga Ciara tak bisa berbuat apa-apa, dan malah menoleh ke arah Libra dengan wajah bingung.


"Apa lagi mas? Kamu masih pengen main sama aku, hm?" tanya Ciara dengan lembut.


Bukannya menjawab, Libra justru bangkit dan memeluk erat tubuh istrinya itu sembari terus menciuminya tanpa henti. Libra seperti tak rela jika Ciara meninggalkannya, itu sebabnya ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ciara. Sedangkan Ciara sendiri tampak keheranan, wanita itu tak mengerti apa yang terjadi pada suaminya.


Kelakuan Libra memancing kembali gairah di dalam diri Ciara, ya sebab pria itu malah menciumi lehernya dan memberikan beberapa tanda disana sembari memainkan dua gundukan kenyal yang masih menggantung itu. Ciara tak mau kalah, dengan liarnya dia mengeluarkan suara kenikmatan sambil mengusap lembut pucuk hitam sang suami.


Disaat Ciara membalikkan wajahnya ke arah Libra dan hendak menciumnya, satu tangan Libra justru menahannya dan membuat Ciara terheran-heran. Aksi mereka pun terhenti sampai disitu, kini keduanya masih saling pandang dengan ekspresi yang berbeda antara satu sama lain.


"Kamu gak mau lanjut mas? Kok kamu malah tahan aku sih? Apa ada yang salah sama cara aku tadi?" tanya Ciara keheranan.


Libra menggeleng, "Gak gitu sayang, aku cuma mau tanya sesuatu ke kamu. Tapi, please tolong kamu jawab dengan jujur ya sayang! Aku gak mau kamu bohongi aku terus!" ucapnya lirih.


"Hm, emangnya kamu mau tanya apa sih mas?" Ciara semakin dibuat penasaran.


"Iya, aku mau tahu soal kondisi kamu. Apa benar kamu sekarang udah baik-baik aja? Aku gak yakin, pasti ada yang kamu sembunyiin kan dari aku? Aku mohon Ciara, kamu kasih tahu aku dengan jujur dan jangan bohong!" ujar Libra.


"Loh, kamu gak percaya sama aku mas? Padahal aku udah bilang yang sejujurnya loh, aku emang gak kenapa-napa kok!" bohong Ciara.


Libra benar-benar kesal lantaran Ciara kembali membohonginya, ia pun bangkit dari posisinya dan melepaskan tubuh Ciara begitu saja sambil berniat pergi meninggalkan istrinya itu. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba Ciara memanggilnya dan terlihat ikut turun dari ranjangnya.


"Mas, jangan marah dulu! Aku sengaja gak mau kasih tahu ke kamu mengenai kondisi aku, itu karena aku gak pengen lihat kamu sedih mas!" ucap Ciara.


Libra pun beralih menatap wajah istrinya dengan mata menyala, rahangnya mengeras dan kedua tangannya sudah terkepal menandakan ia begitu emosi. Ia tidak suka dibohongi oleh siapapun, apalagi istrinya sendiri. Libra membenci kebohongan dan ia juga sangat mengkhawatirkan Ciara, ia tahu wanita itu sedang mengalami penyakit misterius.


"Bukan begitu caranya sayang. Kalau kamu gak mau kasih tahu aku mengenai penyakit kamu, lalu gimana aku bisa bantu kamu buat sembuhkan penyakit itu?" ujar Libra.


"Iya mas, aku tahu aku salah. Aku minta maaf sama kamu ya mas!" bujuk Ciara.


Libra yang masih kesal tampak berbalik dan tidak lagi menatap wajah Ciara, sontak hal itu membuat Ciara bersedih lalu coba mendekatinya. Perlahan Ciara melingkarkan kedua tangannya pada pinggang pria itu, sembari menempelkan wajahnya di punggung Libra dengan memberi usapan lembut.


"Maafin aku ya, mas? Aku ini punya kanker di rahim, itu yang bikin aku susah hamil. Apa kamu masih mau mempertahankan pernikahan kita ini, mas? Atau, kamu udah punya wanita lain pengganti aku yang bisa kasih kamu keturunan?" ucap Ciara.


Deg


Libra tersentak saat Ciara mengatakan itu, suami mana yang tidak emosi ketika istrinya malah mengira bahwa ia sudah memiliki pengganti dari wanita itu. Libra memang kecewa karena Ciara dinyatakan tidak bisa mengandung, tetapi ia juga tak mungkin berkhianat darinya karena bagaimanapun ia sangat mencintai Ciara.


"Itu tidak mungkin Ciara, mana bisa aku menggantikan kamu di hati aku? Cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, gak ada yang lain!" ucap Libra tegas.


Hati Ciara begitu berbunga-bunga saat mendengar ucapan Libra barusan, tapi kemudian ia kembali teringat tentang penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya itu. Ciara tidak ingin Libra terus bersamanya, ia tak mau membuat pria itu bersedih apabila kehilangan dirinya. Untuk itu, Ciara telah merencanakan sesuatu saat ini.


"Mas, terimakasih ya atas cinta dan kesetiaan kamu buat aku! Aku bangga banget punya suami kayak kamu!" ucap Ciara sambil tersenyum.


Libra manggut-manggut perlahan disertai senyum yang tak kalah manis dari istrinya itu, satu tangannya mengusap lembut puncak kepala Ciara sembari mencuri kecupan di bibirnya. Namun, Ciara kembali mendongak menatapnya dan seolah hendak mengatakan sesuatu kepadanya.


"Tapi mas, aku rasa kamu harus menikah lagi dengan wanita yang bisa memberi kamu keturunan deh! Selain itu, kamu kan juga butuh wanita yang benar-benar sehat!" ucap Ciara.


Libra mengernyitkan dahinya, "Apa maksud kamu Ciara? Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya ini buat jaga-jaga aja sih mas, aku kan gak mungkin bisa bertahan lama dalam kondisi seperti ini. Aku gak mau ninggalin kamu sendirian dan terus merasa kehilangan, makanya aku minta kamu buat menikah lagi!" jelas Ciara.


"Ciara!!" Libra spontan membentak istrinya itu, ia sudah tak bisa menahan emosinya mendengar ucapan Ciara yang begitu kelewat batas.


Libra paham situasinya jika saat ini Ciara sedang dipenuhi kesedihan akibat penyakit yang diderita olehnya itu, tetapi Libra tentu tak mungkin mendua dari Ciara apalagi mengkhianatinya. Libra bukanlah tipe lelaki yang seperti itu, meski ia dikenal cukup ramah dengan beberapa wanita yang ia temui.


"Aku gak akan pernah melakukan itu, apapun kondisinya aku bakal tetap mempertahankan pernikahan kita ini sayang!" tegas Libra.


Ciara sampai terdiam dibuatnya, tatapan dan ketegasan lelaki itu benar-benar di luar dugaannya. Belum pernah Libra sampai semarah itu padanya, apalagi mencengkram lengannya dengan kuat sampai membuatnya tidak dapat bergerak bebas.




Keesokan paginya, Nindi tiba di rumah dengan kondisi yang begitu kacau setelah semalaman ia berada di tempat hiburan bersama tiga orang lelaki yang merupakan sahabat sekolahnya dulu. Nindi pun memasuki area rumahnya dengan susah payah, ia berjalan sempoyongan sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing dan terus mencoba untuk bisa berjalan ke depan.


Kehadiran wanita itu disambut dengan tatapan tajam dari Leon yang saat ini sedang berdiri di halaman depan rumahnya menanti kepulangan sang istri tercinta, ia benar-benar tak habis pikir saat menyaksikan langsung istrinya yang pulang dalam kondisi berantakan. Pakaian yang lusuh dan lecak, lalu juga tubuhnya yang terlihat begitu lemas seolah sedang dalam kondisi mabuk.


"Darimana aja kamu? Semalaman kamu gak pulang ke rumah, padahal aku udah nungguin kamu sampai larut loh Nindi!" geram Leon menegur istrinya.


Nindi menghentikan langkahnya tepat di hadapan sang suami, ia mendongak ke arah wajah suaminya itu dan kemudian tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya. Leon menggeleng heran dengan sikap Nindi saat ini, wanita itu terlihat sedang tidak sehat dan dalam pengaruh minuman alkohol.


"Oh kamu ternyata mas, aku minta maaf ya? Lagian aku juga kan gak nyuruh kamu buat nungguin aku pulang semalam, jadi jangan salahin aku dong! Udah ya, aku capek mau istirahat!" ujar Nindi.


"Tunggu!" Leon mencekal lengan istrinya dan tak memperbolehkan wanita itu pergi.


Leon kini mendekatkan dirinya pada tubuh Nindi serta menciumnya untuk memastikan bahwa dugaannya tidak salah, dan benar saja terdapat bau alkohol dari area mulut Nindi disertai aroma khas percintaan yang masih menempel disana. Baru mengetahui itu saja Leon sudah langsung berubah emosi, tangannya terkepal kuat dan ingin segera memarahi istrinya itu.


"Apa yang habis kamu lakukan Nindi? Mengapa kamu bisa mabuk seperti ini? Darimana kamu sebenarnya semalam?" tanya Leon kesal.


"Kamu gak perlu tahu mas, aku ini cuma mau menghabiskan waktu aku untuk bersenang-senang dengan teman-teman aku! Kamu sendiri kan yang masih nahan kita buat bercerai, jadi kamu jangan protes sama sikap aku sekarang ya!" ucap Nindi.


"Apa sih mas?" Nindi justru mendorong tubuh suaminya dengan kasar dan kuat.


Leon benar-benar tak habis pikir dengan sikap Nindi sekarang ini, istrinya itu sungguh berbeda tak seperti sebelumnya. Leon juga heran apa sebenarnya yang dialami oleh Nindi sampai membuat wanita itu jadi seperti ini, karena semalam Nindi hanya pamit padanya bahwa dia ingin pergi keluar sebentar bersama teman-temannya.


"Kamu mau aku yang dulu kembali? Yang mana? Aku ini emang dari dulu kayak gini mas, kamu aja yang bodoh karena percaya sama sandiwara dan kebohongan aku!" racau Nindi.


Leon menggeleng pelan, "Enggak Nindi, kamu itu gak seperti itu!" ucapnya tegas.


"Hahaha, kamu emang bodoh mas! Asal kamu tahu, aku ini sebenarnya gak diperkosa. Aku melakukan semua itu secara sadar sama seseorang yang aku suka, tapi kita berdua gak nyangka kalau akhirnya aku malah jadi hamil. Dia minta aku buat gugurin kandungan itu, tapi aku gak mau. Dan bodohnya, kamu malah sok jadi pahlawan dengan mengaku-ngaku sebagai ayah dari anak yang aku kandung itu. Kamu itu terlalu bodoh atau gimana sih, mas?" ucap Nindi disertai kekehan kecilnya.


Leon tak menyangka dengan pengakuan yang dilontarkan Nindi barusan, ia sampai tidak bisa berkedip setelah tahu kalau Nindi ternyata tidak diperkosa. Sangat sulit bagi Leon untuk percaya dengan semua yang dikatakan istrinya itu, karena ia tahu Nindi tidak mungkin melakukan hal itu.




Sementara itu, Ciara memberikan secangkir kopi yang ia buatkan itu kepada suaminya yang tengah duduk bersantai di sofa ruang keluarga. Ciara pun ikut duduk di sampingnya saat ini, ia tersenyum lalu menatap wajah Libra dari samping dengan ekspresi penuh heran karena suaminya itu masih belum berangkat ke rumah sakit tempatnya berdinas.


"Mas, kamu kok belum berangkat? Apa kamu gak takut terlambat?" tanya Ciara penasaran.


Libra dengan santainya menggeleng sembari menyeruput kopi buatan istrinya itu, ia kini beralih menatap wajah sang istri yang begitu cantik dengan tampilan sederhananya saat ini. Setelah meletakkan kembali cangkir di atas meja, barulah Libra mendekat dan memeluk Ciara dari samping sambil mengecupi pipinya.


"Ciara sayang, aku mau fokus merawat kamu aja. Percuma dong aku jadi dokter, kalau rawat istri aku sendiri aja aku gak bisa!" ucap Libra.


"Kamu tuh ya, paling bisa emang kalo soal gombal! Aku kan gak kenapa-napa tau!" ujar Ciara.


"Iya, sekarang kamu emang gapapa. Tapi kita kan gak ada yang tahu, gimana kalau misal penyakit kamu kambuh dan aku gak ada disisi kamu?" ucap Libra tampak begitu mengkhawatirkan istrinya.

__ADS_1


"Hm, makasih ya kamu udah mau perduli banget sama aku!" Ciara turut membenamkan wajahnya di bahu sang suami sambil tersenyum lebar.


Libra hanya ikut senyum membalas perkataan Ciara padanya barusan, pria itu juga mengelus lembut puncak kepala istrinya sembari memberikan kecupan manis di keningnya. Sesaat kemudian, Ciara lagi-lagi berpikir mengenai usulannya malam tadi kepada Libra yang ingin meminta pria itu menikah lagi untuk dapat memiliki keturunan.


"Oh ya mas, apa kamu udah berubah pikiran sekarang? Kamu gak mau gitu nikah lagi sama perempuan lain?" tanya Ciara tiba-tiba.


Seketika ekspresi wajah Libra langsung berubah mendengar perkataan Ciara itu, ia yang tadinya tersenyum lebar dan memperlakukan Ciara dengan lembut kini malah tampak sangat kesal dan juga emosi karena ulah Ciara sendiri. Libra paling tidak suka saat mendengar istrinya membahas soal itu, karena bagi dirinya kesetiaan itu mahal dan ia tidak akan pernah mau mengkhianati Ciara.


Baru melihat reaksinya saja, Ciara kini sudah tahu dan sadar kalau ia salah bicara. Tak seharusnya memang Ciara membahas itu di depan suaminya, tapi entah kenapa Ciara selalu saja merasa bersalah bila sedang bersama suaminya itu. Apalagi, Ciara tahu bahwa dirinya tidak bisa mengandung dan memberi keturunan bagi Libra sekarang ini.


"Ciara, sekali lagi kamu bicara begitu maka aku gak akan segan-segan buat kasih hukuman ke kamu ya!" ancam Libra.


Ciara terkejut mendengarnya, "Eh eh, apa-apaan sih kamu? Kok kamu malah mau hukum aku? Padahal, aku kan cuma menyarankan yang terbaik untuk kamu loh sayang!" ujarnya keheranan.


"Yang terbaik? Apanya yang terbaik kalau aku harus menikah lagi dan menyakiti kamu? Aku gak mau itu sampai terjadi sayang!" ucap Libra tegas.


"Tapi mas, aku lihat-lihat Gita itu cocok tahu untuk kamu. Dia mungkin bisa kamu nikahin dan kasih keturunan buat kamu, gak seperti aku yang mandul ini!" ucap Ciara.


Deg


Kedua bola mata Libra melotot tajam dibuatnya, ia tidak mengira jika Ciara akan memintanya untuk menikah dengan Gita. Perkataan Ciara memang sudah semakin melantur, rasanya Libra tidak ingin lagi melanjutkan perbincangan itu karena khawatir Ciara makin tak terkendali.




Tiara yang tengah berolahraga santai seorang diri di halaman rumah Nadira, dibuat terkejut saat tiba-tiba seorang pemotor misterius muncul di dekatnya dan melemparkan sepucuk surat ke arahnya. Baru saja Tiara hendak bertanya siapa pengirimnya, tetapi pemotor itu sudah berlalu pergi dan tidak mengatakan sepatah katapun padanya.


Karena penasaran, Tiara akhirnya melangkah mendekati surat tersebut lalu mengambilnya dan bersiap membukanya. Perlahan Tiara membuka amplop itu dan melihat isi suratnya, ia terbelalak ketika menyadari ada foto-foto suaminya yang dalam kondisi tak berpakaian dan sudah dipenuhi bekas cambuk pada sekujur tubuhnya.


"Aaaaa!!" Tiara reflek melempar foto-foto tersebut hingga terjatuh ke aspal, dan teriakannya juga membuat Liam sang penjaga disana terkejut lalu menghampirinya.


"Ada apa non?" tanya Liam dengan penuh khawatir.


"Eee e-enggak, gapapa. I-itu tadi ada yang kirim foto-foto aneh ke saya, ta-tapi isinya beneran bikin saya syok banget!" jelas Tiara.


"Hah? Memangnya foto apa itu non?" tanya Liam sangat penasaran.


"Ka-kamu lihat aja sendiri, terus baca isi suratnya juga!" perintah Tiara dengan gugup.


Liam akhirnya pergi mengambil foto yang tadi terlempar dari tangan Tiara itu, ia melihatnya dan dibuat syok setelah tahu itu merupakan foto Galen yang tengah dalam keadaan buruk. Terdapat sebuah tulisan juga disana, Liam pun membacanya dengan nada keras supaya Tiara dapat mendengarnya.


"Jika kamu ingin bertemu dengan suami kamu dalam keadaan selamat, datanglah ke alamat di bawah ini sambil membawa berkas-berkas perusahaan!" ucap Liam.


Tiara tersentak ketika mendengar Liam mengatakan itu, ia tak percaya sekaligus bingung apa yang harus ia lakukan saat ini. Suami yang ia cintai itu sekarang dalam keadaan bahaya, dan sebagai seorang istri maka Tiara pun sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya itu dan tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Galen disana.


"Bagaimana ini non, den Galen sekarang sedang dalam bahaya?" tanya Liam kebingungan.


Tiara menggeleng perlahan, ia pun juga tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk bisa menyelamatkan sang suami. Permintaan yang diajukan si penculik itu benar-benar di luar nalar, bagaimana bisa ia membawakan dokumen perusahaan milik Galen dan memberikannya kepada penculik itu.


Disaat yang sama, Nadira muncul dari dalam rumahnya dan terheran-heran melihat ekspresi yang ditunjukkan menantunya saat ini. Pasalnya, Tiara memang terlihat jelas bahwa dirinya tengah merasa cemas sekaligus kebingungan. Maka dari itu, Nadira pun menghampiri Tiara lalu bertanya padanya.


"Tiara, kamu kenapa? Kok kelihatannya kamu kayak lagi cemas begitu, emangnya ada masalah apa?" tanya Nadira penasaran.


Tiara tetap bungkam dan tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya, ia juga khawatir kalau Nadira tahu bahwa Galen tengah disekap maka pasti wanita itu akan sangat panik dan mencemaskan kondisi putranya. Apalagi jika ia menunjukkan foto Galen tadi padanya, bukan tidak mungkin kalau Nadira bisa jatuh pingsan begitu melihatnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2