Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 116. Sakit apa?


__ADS_3

Libra melepaskan tangan Ciara tepat ketika mereka sampai di taman rumah sakit, pria itu meminta istrinya untuk duduk dan langsung dituruti olehnya. Ya mereka berdua kini sama-sama duduk di bangku taman, dengan pandangan mengarah ke wajah masing-masing dan tangan yang kembali menyatu untuk saling menggenggam.


"Kamu itu darimana aja? Kenapa setiap kali aku hubungi kamu, handphone kamu selalu gak aktif?" tanya Libra dengan tegas.


"Umm itu..."


"Apa kamu selama ini tinggal sama om-om itu, ya?" tiba-tiba Libra menyela dan menebak apa yang dilakukan Ciara selagi pergi dari rumah.


Ciara pun terbelalak kaget ketika mendengar ucapan suaminya, baru saja tadi pria itu menyesali perbuatannya karena sudah salah tuduh dan memukul wajah Keenan, tapi kini Libra malah seenaknya mengatakan hal itu. Tentu saja Ciara tak terima, dengan cepat ia mengelak dari tuduhan suaminya barusan.


"Apa sih mas? Kan udah aku bilang tadi, om Keenan itu mantan asisten pribadi mama dan papa aku dulu. Kamu kok masih aja ngira yang enggak-enggak soal dia sih, mas?" kesal Ciara.


"Iya iya, yaudah terus kamu kemana? Kenapa gak pulang-pulang?" tanya Libra lagi.


"A-aku nginep di salah satu hotel, mas. Aku sengaja nonaktifkan handphone aku, supaya aku bisa bebas dari kamu," jawab Ciara berbohong.


"Hah? Kok kamu gitu sih sama aku? Apa kamu udah gak mau lagi sama aku?" heran Libra.


"Bu-bukan begitu mas, aku kan cuma merasa gak pantas aja buat kamu," ucap Ciara.


"Gak pantes gimana sih? Kamu itu istri aku, dan aku sayang banget sama kamu. Gak mungkin aku ngerasa kamu gak pantas buat aku," ucap Libra.


"Ya tapi kan aku—"


"Mandul?" lagi-lagi Libra lebih cepat menyela ucapannya, membuat wanita itu tersentak.


Kini Ciara memalingkan wajahnya, dua bola matanya tampak sudah berkaca-kaca seolah hendak mengeluarkan air mata kesedihan. Namun, dengan cepat Libra memegang kedua pundak istrinya itu dan menaikkan dagunya seraya memberikan tatapan tajam agar Ciara mau menurut.


Libra menjelaskan pada istrinya itu kalau ia tak mempermasalahkan bila Ciara tidak bisa mengandung anak, baginya kehadiran anak itu semua ditentukan oleh Tuhan dan ia hanya bisa pasrah jika memang Tuhan belum menghendaki dirinya memiliki keturunan.


"Makasih mas—huweekk"


Tiba-tiba saja, Ciara merasa mual saat hendak berbicara. Wanita itu pun spontan menutupi mulutnya, menahan rasa mual yang muncul agar tidak membuat suaminya jengkel. Akan tetapi, Libra justru merasa cemas dan heran saat istrinya itu mual-mual. Ia khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu, terlebih wajah Ciara yang mendadak pucat.


"Sa-sayang, kita periksa ke dalam aja yuk! Aku takut kamu kenapa-napa, apalagi kamu kan punya riwayat penyakit lambung!" ucap Libra panik.


Ciara menggeleng dengan cepat, "Enggak mas, aku gapapa. Kita pulang aja yuk!" ucapnya.


"Hah? Ta-tapi, kamu ini sakit loh Ciara. Aku gak mau kamu terluka atau apa, jadi ayo kita periksa ya mumpung masih disini!" paksa Libra.


"Mas, kan aku udah bilang gausah. Aku ini gak kenapa-napa loh," ucap Ciara kekeuh.


Libra tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa menuruti kemauan Ciara karena tidak ingin wanita itu marah lagi padanya. Akhirnya kini Libra membantu Ciara untuk bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan bersama-sama menuju mobil. Ciara ingin segera pulang ke rumah, walau tubuhnya terasa sangat tidak enak kali ini.


"Duh, aku ini kenapa ya? Kok rasanya aku mual sama pusing banget sih?" batin Ciara.


Bruuukkk


Tiba-tiba saja, Ciara terjatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Untungnya Libra tepat berada di dekatnya, sehingga wanita itu tidak terjatuh atau terluka. Libra pun tampak panik, ia mencoba membangunkan istrinya tetapi tidak berhasil karena Ciara sudah terlanjur pingsan.




Singkat cerita, Ciara akhirnya tersadar dari pingsan setelah diberikan perawatan oleh dokter yang bertugas di rumah sakit. Ia membuka matanya, dan kini menatap ke samping dimana suaminya berada. Suara lirihnya itu memanggil nama sang suami, tampak sekali jika Ciara memang masih lemas dan kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya.

__ADS_1


Beruntung Libra cepat bereaksi, lelaki itu tahu saat Ciara memanggil dan membutuhkan bantuannya. Libra pun bergegas mendekati Ciara, menatap wajah wanita itu seraya mengusapnya dengan lembut dan memberi kecupan disana. Libra benar-benar senang kali ini, sebab ia dapat melihat Ciara kembali dengan kondisi yang lebih baik.


"Ciara, kamu udah sadar sayang? Syukurlah, aku senang banget lihatnya!" ucap Libra antusias.


Perlahan Ciara menganggukkan kepalanya, ia berusaha bangkit dan bersandar pada ranjang untuk lebih jelas menatap wajah suaminya. Namun, Libra tampak khawatir dan tak mengizinkan Ciara untuk banyak bergerak. Libra tentunya tidak mau kondisi Ciara kembali memburuk, apalagi saat ini Ciara masih dalam pengawasan dokter.


"Jangan sayang! Nanti kamu sakit lagi gimana loh? Udah kamu diam aja dulu ya, gausah banyak gerak dan bandel deh!" tegur Libra.


"I-i-iya mas, aku cuma pengen tahu kondisi kak Galen. Dia baik-baik aja kan, mas?" lirih Ciara.


Libra mengangguk perlahan, "Iya sayang, kakak kamu itu gak kenapa-napa kok. Udah ya kamu gak perlu khawatir lagi!" ucapnya.


Disaat seperti ini, rasanya Libra benar-benar menyesali perbuatannya yang telah seringkali membuat Ciara menangis karena kebodohannya. Dahulu Libra mudah sekali dekat dengan seorang wanita, padahal ia sudah memiliki seorang istri yang setia dan juga cantik seperti Ciara.


Libra pun meminta maaf pada istrinya itu, ia kecup dengan lembut kening serta kedua pipi Ciara sembari mengusap rambutnya. Jujur Libra sangat khawatir pada kondisi Ciara, namun sekarang ia sedikit merasa lega lantaran Ciara telah sadarkan diri dan dokter mengatakan bahwa Ciara dalam keadaan baik-baik saja walau sempat pingsan.


Tiba-tiba saja, terdengar suara pintu dibuka dari luar yang membuat keduanya terkejut. Baik Libra maupun Ciara sama-sama kompak menoleh ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang, dan ternyata itu adalah Nadira serta Keenan yang sepertinya hendak mengecek kondisi wanita itu.


"Ciara, kamu gapapa kan? Ada yang sakit gak sayang?" tanya Nadira yang langsung bergerak menghampiri putrinya itu dengan wajah cemas.


Ciara tersenyum dibuatnya, "Aku baik-baik aja ma, kan ada mas Libra yang rawat aku. Lagian tadi paling aku cuma kecapekan aja, makanya aku pingsan deh," jawabnya lirih.


"Oh syukurlah, mama agak lega sekarang lihat kamu udah bisa sadar dan senyum lagi kayak gini!" ucap Nadira bahagia.


"Iya ma, tapi kak Galen gimana ma? Dia udah boleh pulang atau masih harus dirawat disini?" tanya Ciara yang begitu mengkhawatirkan kakaknya.


"Udah kamu gausah cemas sama kakak kamu itu ya, dia sekarang udah baikan kok! Dokter bilang juga sebentar lagi dia bisa pulang, jadi kamu mending fokus aja sama kondisi kamu sendiri!" jawab Nadira.


Ciara manggut-manggut perlahan, meski tetap saja di dalam hatinya ia masih khawatir pada Galen yang sekarang juga tengah dirawat disana. Jujur saja, saat ini rasanya Ciara ingin berlari pergi ke ruang tempat Galen dirawat dan melihat kondisi kakaknya itu dengan mata kepalanya sendiri.




Ya saat ini Galen tengah bersama asistennya, sebab Tiara sebelumnya hendak pergi lebih dulu keluar untuk mencari makanan. Tak lupa Tiara menitipkan suaminya itu pada Leon, agar Galen tidak sendirian berada disana. Akhirnya Galen pun mencoba mencari kesempatan untuk keluar dari sana, karena ia begitu khawatir pada adiknya itu.


"Leon, ayo cepat bantu saya keluar dari sini! Kamu siapkan kursi roda untuk saya, biar saya bisa pergi ke ruangan Ciara sekarang!" titah Galen.


"Ta-tapi pak, kondisi bapak belum—"


"Cepat lakukan Leon! Kamu itu bawahan saya, jadi kamu harus nurut sama saya!" sela Galen.


"Ba-baik pak!"


Mau tidak mau, Leon pun terpaksa menuruti kemauan bosnya itu dan pergi mengambilkan kursi roda untuk Galen agar bisa keluar dari sana. Kini Leon membantu Galen turun dari ranjang, lalu menaruhnya di atas kursi roda dengan berhati-hati untuk membuat pria itu merasa nyaman.


"Pak, bapak yakin mau pergi sekarang? Gimana kalau bu Tiara tahu dan marah nantinya?" tanya Leon tampak cemas.


"Udah Leon, kamu gausah banyak omong deh! Saya minta kamu bantu dorong kursi roda saya ke ruangan Ciara sekarang, saya cemas banget sama dia tahu!" ucap Galen kesal.


"Siap pak!" Leon mengangguk patuh pada perintah bosnya itu.


Kini Leon mulai mendorong kursi roda tersebut dan membawa Galen keluar dari ruangan itu, mereka bergerak menuju ruang rawat tempat Ciara berada karena Galen sudah tidak sabar ingin segera menjenguk adiknya itu. Biar bagaimanapun, Galen lebih mementingkan kondisi Ciara dibanding dirinya sendiri yang memang sudah lebih sehat.


"Leon, ayo cepat sedikit dong dorongnya! Kamu kayak orang gak makan aja sih!" ketus Galen.

__ADS_1


Leon mengangguk lesu dan mulai mempercepat langkahnya sembari mendorong kursi roda, meski ia masih merasa khawatir karena saat ini kondisi Galen belum pulih benar. Mereka terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sampai mereka tiba di depan ruang rawat Ciara.


Namun, baru saja mereka hendak masuk ke dalam, tiba-tiba Tiara muncul di hadapan mereka dan menghalangi jalannya. Tiara terlihat heran melihat suaminya itu berada di luar, padahal tadi saat ia tinggalkan Galen masih tergeletak di ruangannya dan belum bisa kemana-mana.


"Loh mas, kamu mau ngapain kesini? Kamu itu belum pulih benar loh, harus istirahat di dalam kamar kamu!" ucap Tiara panik.


"Tiara, ternyata kamu tinggalin aku karena mau jenguk Ciara? Kenapa kamu gak bawa aku sekalian sih? Aku kan juga penasaran pengen tahu kondisi Ciara kayak gimana," ucap Galen kesal.


"Eee ya aku kan mikirnya kamu tuh belum pulih benar, mas. Aku gak mau kalau sampai kamu kenapa-napa tau!" ucap Tiara.


"Iya aku ngerti, tapi kan aku tetap pengen tahu kondisi Ciara sekarang! Aku ini kakaknya, aku cemas banget sama dia sayang!" ucap Galen tegas.


"Yaudah iya, mumpung kamu udah di depan sini jadi aku bolehin deh kamu buat masuk. Ayo kita sama-sama ke dalam sekarang!" ucap Tiara.


"Bagus itu, ayo deh!" ajak Galen.


Tiara menuruti kemauan suaminya, ia mengambil alih kursi roda itu dan membantu mendorong suaminya itu memasuki ruangan tempat Ciara dirawat. Sedangkan Leon memilih menunggu di luar, karena tidak mungkin pria itu ikut masuk ke dalam dan malah mengganggu mereka semua.




Saat di dalam, Galen langsung memanggil nama adiknya itu yang terlihat tengah terbaring di atas ranjang dengan ditemani oleh suaminya. Galen pun berhenti tepat di dekat Ciara bersama Tiara yang membantunya mendorong kursi roda, kini Galen tampak begitu cemas melihat Ciara yang berwajah pucat dan lemas saat terbaring disana.


Ciara sendiri terkejut dengan kehadiran kakaknya disana, padahal baru saja ia juga ingin menjenguk Galen karena mencemaskan nya. Namun, saat ini malah Galen sudah lebih dulu datang ke ruangannya dan menemuinya. Ciara pun berusaha bangkit, tetapi tidak berhasil dan malah membuat kepalanya kembali terasa pusing.


"Eh eh eh, hati-hati Ciara! Kamu gak usah maksa buat bangun, udah kamu tiduran aja dulu!" ucap Galen dengan cemas.


"Iya Ciara, kamu jangan maksa ya sayang!" sahut Libra yang kini mengusap wajah istrinya.


Ciara pun menurut, ia kembali berbaring di ranjangnya dengan mata mengarah ke tempat Galen berada. Jujur Ciara amat mengkhawatirkan kakaknya itu, ia tidak mau sesuatu terjadi padanya. Apalagi Ciara tahu kalau Galen masuk rumah sakit karena tertabrak mobil, ia tak mau kehilangan Galen seperti dulu ia kehilangan papanya.


"Kak, kenapa kakak maksa buat kesini sih? Kakak kan masih sakit tahu, gimana nanti kalau sakit kakak kambuh? Tuh, kaki kakak juga kan masih diperban. Emang gak sakit?" cemas Ciara.


Galen tersenyum dibuatnya, "Kakak baik-baik aja sayang, justru kakak sekarang khawatir sama kamu. Kenapa kamu bisa sampai dibawa kesini, hm? Kamu sakit apa sih sayang?" ucapnya penasaran.


"Eee aku mah gak sakit apa-apa kak, aku cuma kecapekan aja mungkin," jawab Ciara.


"Emangnya kamu ngapain sampai bisa kecapekan? Harusnya lain kali kamu tuh jangan banyak melakukan aktivitas yang berat dong!" ucap Galen.


"Iya kak, udah aku gapapa. Toh aku udah diperiksa sama dokter tadi," ucap Ciara.


"Oh iya, terus gimana tuh kata dokter soal kamu? Kamu ada sakit atau enggak?" tanya Galen.


Ciara dan Libra kompak terdiam begitu Galen mengajukan pertanyaan itu, mereka saling menatap membuat Galen semakin penasaran apa yang terjadi pada Ciara. Sebagai seorang kakak, Galen sangat prihatin dengan kondisi Ciara saat ini yang menurutnya benar-benar mencemaskan.


"Hey, kenapa malah diam sih? Ayo jawab dong pertanyaan kakak!" heran Galen.


"Umm, aku juga gak tahu kak. Tadi kan aku masih pingsan waktu dokter periksa aku, jadi ya yang tahu cuma mas Libra!" ucap Ciara sambil tersenyum.


Libra tersentak ketika Ciara menatapnya dan mengatakan itu, ia bingung harus menjelaskan apa pada Ciara serta Galen saat ini mengenai apa yang menimpa Ciara. Ya hanya Libra yang mengetahui hal itu, karena tadi ia lah orang yang membawa Ciara ke dalam untuk diperiksa.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2