Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 166. Jadi pacar gue


__ADS_3

Cyra yang basah kuyup terlihat berjalan pelan menyusuri lorong sambil berusaha mengeringkan rambut serta tubuhnya, ia tak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa kembali ke kelas dalam kondisi kering seperti awal. Ya Cyra tak menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya, padahal ia selama ini tak pernah berniat memiliki musuh apalagi bersaing dengan orang lain di sekolahnya.


Disaat ia tengah sibuk mengeringkan tubuhnya, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Davin yang juga hendak bersiap mengajar. Sontak Davin merasa heran dengan penampilan Cyra saat ini, karena baju seragam yang dikenakan gadis itu begitu basah. Davin pun menghentikan langkahnya, lalu bertanya sejenak pada Cyra mengenai apa yang terjadi padanya dan mengapa bisa sampai sebasah itu.


"Loh Cyra, kamu kenapa basah kuyup kayak gini? Siapa yang lakuin ini ke kamu, ha? Bilang sama saya, biar saya hukum orangnya itu!" ucap Davin tegas.


Cyra terdiam saja dibuatnya, tidak mungkin ia menjawab jujur dan mengatakan bahwa ia disiram oleh Celo di kamar mandi tadi. Jika sampai itu terjadi, maka pasti Davin akan menghukum Celo dan membuat hubungan mereka bisa semakin buruk. Cyra tak mau memiliki musuh, karena ia hanya ingin belajar dengan baik disana.


"Cyra, kenapa kamu gak jawab pertanyaan saya? Siapa yang melakukan ini ke kamu? Kamu gak perlu takut, saya pasti akan lindungi kamu dari orang yang ingin membully kamu Cyra!" ucap Davin lagi.


Cyra malah menggeleng kali ini, "Enggak pak, saya bukan dibully kok. Ini saya basah karena gak sengaja kesiram tadi waktu di toilet," ucapnya berbohong.


"Hah kok bisa?" Davin terkejut dibuatnya.


"Iya pak, pas saya mau siram wc pake selang eh gak sengaja malah kena baju saya. Jadi aja saya basah kuyup kayak gini pak," jelas Cyra.


"Oalah, syukurlah kalau kamu gak dibully! Tapi ini baju kamu basah banget, mending kamu ke UKS dulu takutnya masuk angin loh! Nanti biar saya carikan seragam pengganti buat kamu," ucap Davin.


"Ah makasih pak, iya sih saya lama-kelamaan kedinginan ini," ucap Cyra tampak menggigil.


Davin tersenyum lebar dan meminta Cyra segera pergi ke UKS bersamanya, ya Cyra menurut kali ini karena tidak ada salahnya ia melakukan itu. Lagipula, Cyra akan lebih bebas jika berada di UKS dan tidak perlu mengikuti pelajaran Davin. Tentunya Cyra bisa menghindari sosok Davin nantinya, meski hanya selama beberapa saat.


"Ya bagus deh, seenggaknya aku bisa menghindar dari pak Davin dan gak perlu ikut pelajaran dia!" gumam Cyra dalam hatinya.


Akhirnya gadis itu pergi mengikuti langkah Davin menuju UKS, ya Cyra tak memiliki pilihan lain karena memang saat ini baju seragam yang ia kenakan sudah sangat basah akibat disiram air oleh Celo saat di toilet tadi. Hanya saja, Cyra memilih tidak ingin memberitahu hal itu kepada Davin lantaran ia khawatir Davin akan menghukum Celo.


Davin sendiri merasa cemas melihat kondisi Cyra yang mulai menggigil, apalagi gadis itu sudah memeluk tubuhnya sendiri sambil bergetar. Davin pun melepas jas yang ia pakai dan diberikan pada Cyra secara tiba-tiba, hal itu membuat Cyra agak terkejut lalu menoleh ke arah Davin dengan wajah bingung seolah tak mengerti.


"Kamu gausah mikir aneh-aneh, saya cuma gak pengen kamu kedinginan Cyra! Abisnya daritadi kamu kelihatan menggigil banget," ucap Davin.


Cyra terdiam saja dan tak bisa berpaling dari wajah Davin, apalagi posisi mereka berada sangat dekat ketika Davin memakaikan jas miliknya di tubuh gadis itu dengan alasan supaya Cyra tidak merasa dingin atau menggigil.




Disisi lain, Tiara tak sengaja berpapasan dengan Salma yang datang ke kantor untuk menemui suaminya, yakni Adrian. Sontak ada rasa tidak senang dari wajah Tiara ketika melihat Salma disana, entah mengapa Tiara masih belum ikhlas setelah Adrian menikah dengan Salma dikala pria itu sudah bermain bersamanya dan seolah tak perduli lagi pada kelanjutan hubungan mereka.


Namun, saat ini Tiara harus bersikap profesional sebagai seorang karyawan yang bekerja untuk bosnya. Tiara pun juga harus menghormati sang istri dari bosnya itu, walau rasanya cukup sakit saat ia melihat mereka bermesraan. Bagaimanapun, Tiara merasa seperti wanita murahan yang langsung dibuang begitu Adrian telah mencicipi tubuhnya di malam kelam pada sebuah hotel kala itu.


"Halo Tiara! Kamu apa kabar? Sudah lumayan lama ya kita gak ketemu, terakhir kalo gak salah kamu hadir kan di acara syukuran empat bulan anak saya?" ucap Salma menyapa dengan ramah.


Tiara tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya, ia mencoba bersikap baik kali ini di hadapan Salma agar tidak menimbulkan kecurigaan di dalam hati Salma nantinya jika melihat Tiara bertingkah aneh. Tiara juga tak mau merusak rumah tangga Adrian dan Salma, karena ia tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok suami tercinta.


"Saya baik kok bu, ya memang benar waktu itu saya hadir di acara ibu dan pak Adrian kok! Oh ya, kabar ibu sendiri gimana? Lalu anak ibu mana, kok gak diajak sekalian?" ucap Tiara.


"Ah dia itu lagi sama neneknya, gak tahu kenapa neneknya itu suka banget main sama dia. Tapi gapapa, kapan-kapan kamu mampir aja ke rumah biar bisa lihat dan ketemu sama anak saya! Saya yakin dia pasti senang lihat kamu," ucap Salma.


"Terimakasih bu, kapan-kapan saya akan mampir kesana buat ketemu sama anak ibu!" ucap Tiara.


"Yasudah, saya sekarang mau ke ruangan suami saya. Nanti kita ngobrol lagi ya Tiara, saya gak nyangka kamu orangnya asyik juga!" ucap Salma.


"Baik bu, silahkan!" ucap Tiara agak minggir.


Salma pun tersenyum dan melangkah melewati tubuh Tiara dengan tampang bahagia, ia tak mengetahui kesedihan di dalam hati Tiara dan kehancuran yang wanita itu rasakan. Meski Adrian bukan yang pertama, tetapi Adrian adalah pria pertama yang menyentuh tubuhnya setelah Tiara resmi berpisah dari Galen beberapa waktu lalu.


"Ayolah Tiara, kamu harus kuat! Kamu gak boleh sedih kayak gini, biarkan pak Adrian bahagia dengan istrinya! Kamu gak boleh meniru jejak para pelakor di luar sana, itu gak baik!" gumam Tiara.


Disaat Tiara hendak melanjutkan langkahnya, lagi-lagi ia dibuat terkejut karena tiba-tiba seorang pria muncul dan menyapanya. Ya siapa lagi pria itu jika bukan Galen, berada satu kantor dengannya memang membuat Tiara cukup kecewa. Pasalnya, Tiara harus setiap hari bertemu dengan Galen dan mengingat momen indah mereka dulu.

__ADS_1


"Tiara!" pria itu memanggilnya, lalu berdiri tepat di hadapannya dengan senyuman lebar.


"Ada apa mas? Kalau kamu mau bahas sesuatu yang gak penting, maaf urusan aku banyak banget dan aku gak bisa ladenin kamu sekarang!" ucap Tiara dengan malas.


"Tu-tunggu Tiara! Aku ini mau bicara soal Askha, aku pengen ketemu sama dia! Sebagai seorang ayah, aku berhak dong bertemu dengan anak aku? Apalagi, selama ini aku jarang banget ketemu sama Askha dan gak tahu gimana perkembangan dia," ucap Galen tampak serius.


Deg


Tiara terkejut mendengar permintaan pria itu, ia sebenarnya tidak mau mempertemukan Galen kembali dengan Askha karena khawatir Galen akan menghasut putranya itu.




Cup!


Amir begitu terkejut saat tiba-tiba Daiva mengecup pipinya dan tersenyum memandang wajahnya, ya padahal sebelumnya Daiva mengatakan bahwa ada sisa makanan di dekat bibirnya yang ingin gadis itu bersihkan. Tapi ternyata, Daiva malah bertindak nekat dan di luar sepengetahuan Amir. Tentu saja Amir tak percaya, apalagi Daiva adalah gadis cantik yang usianya lebih tua dibanding dirinya.


Berbeda dengan Amir yang hanya bisa diam melongok, Daiva justru terus memandang ke arahnya tanpa rasa bersalah. Tampaknya Daiva memang sengaja melakukan itu untuk menggoda Amir, sebab Amir memiliki ketampanan dan pesona yang tak kalah dari abangnya, yakni Amar. Bagi Daiva, tidak ada salahnya apabila ia bisa mendekati kedua saudara kembar itu sekaligus.


"Daiva, lu kenapa cium muka gue coba? Kalo gue baper nanti gimana, lu mau tanggung jawab emang?" tanya Amir seraya mengusap pipinya.


"Hm, kenapa enggak? Gue rasa gak ada salahnya kalo lu baper sama gue," jawab Daiva santai.


"Tapi, apa lu mau punya pacar bocah kayak gue? Lu kan tahu sendiri, gue masih SMP dan lu udah SMA. Gue ngeri aja gak bisa jadi sosok dewasa seperti yang lu mau," ucap Amir.


"Ahaha, mikir lu kejauhan deh Mir! Belum tentu juga kan kita bakal pacaran?" kekeh Daiva.


Amir yang mendengar itu seketika langsung memalingkan wajahnya dan merasa kecewa, ia mengira Daiva hanya mempermainkannya saja dan tidak benar-benar serius menyukai dirinya apalagi mau menjadi kekasihnya. Padahal, tindakan Daiva tadi sudah berhasil membuat hatinya nyaman dan mengira jika Daiva juga menyukainya.


"Ya kecuali lu emang beneran pengen pacaran sama gue, pasti gue gak bakal nolak sih Mir. Gue akui lu itu tampan dan keren, siapa sih yang gak mau jadi pacar lu?" ucap Daiva kembali.


Saat itu juga Amir dibuat terbang dengan kata-kata Daiva, ia bingung sekarang apakah Daiva memang menyukainya atau hanya sekedar gombalan. Amir tahu dirinya tak boleh terlalu baper dengan Daiva, karena itu bisa sangat berbahaya. Namun, tak ada salahnya bila Amir mencoba untuk menjadi kekasih dari sosok gadis cantik seperti Daiva.


"Hah serius nih? Berarti sekarang lu nembak gue gitu?" tanya Daiva dengan tampang syok.


Amir menganggukkan kepalanya, mengatakan bahwa saat ini ia memang ingin menyatakan cintanya pada gadis itu. Amir tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Daiva, apalagi sedari tadi Daiva selalu saja memberi kode padanya untuk ditembak dan dijadikan kekasih karena ia pun menyukai Daiva yang cantik.


"Gue mau kok jadi pacar lu, mulai sekarang kita resmi pacaran ya?" ucap Daiva sambil tersenyum.


Amir benar-benar syok dan seolah tidak percaya, setelah sekian lama akhirnya ia dapat memiliki seorang pacar sesuai yang ia inginkan. Apalagi, pacarnya itu adalah sosok wanita cantik yang sudah duduk di bangku SMA. Tentunya Amir sangat bahagia, ia bersyukur bisa berpacaran dengan Daiva yang selama ini ia kagumi karena kecantikannya.


"Ini gue gak mimpi kan ya? Beneran lu mau jadi pacar gue?" Amir coba memastikan pada Daiva bahwa semua ini benar terjadi.


"Iya sayang, masa gue bohong sih?" jawab Daiva dengan lembut dan menggoda.


Sontak jantung Amir berdegup cukup kencang mendengar jawaban gadis itu, panggilan sayang dari Daiva sudah berhasil membuat Amir ketar-ketir dan merasa gugup sangking senangnya.




Saat ini Askha tengah berkeliling di area sekolah Cyra untuk mencari gadis yang menjadi tanggung jawab baginya itu, pasalnya sedari tadi Askha tidak bisa menemukan Cyra dimanapun dan membuatnya sangat khawatir. Askha cemas jika terjadi sesuatu pada Cyra, pastinya ia yang akan dimintai tanggung jawab oleh Ciara maupun Libra di rumah nanti.


Askha pun terus mencari Cyra di sekitar sana, ia berusaha menemukan keberadaan gadis itu dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Askha benar-benar khawatir, pasalnya tak biasanya Cyra menghilang seperti ini. Padahal, hampir setiap hari Cyra selalu sudah menunggunya di depan sekolah untuk dijemput.


"Haish, ini Cyra kemana ya? Kok daritadi gue cariin gak ketemu-ketemu juga? Apa dia masih di kelasnya kali ya?" gumam Askha tampak kebingungan.


Disaat ia sedang asyik mencari, tiba-tiba saja ia tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang ia kenali sebagai sahabat Cyra. Tanpa banyak berpikir, langsung saja Askha menghampiri wanita itu dan bertanya padanya mengenai keberadaan Cyra. Askha berharap wanita itu dapat membantunya, karena saat ini ia sudah tidak tahu lagi harus apa.

__ADS_1


"Eee Nana, kamu Nana kan betul?" tanya Askha pada gadis yang ada di hadapannya.


"Eh iya kak, betul aku Nana. Ada apa ya?" ucap si gadis yang merasa heran karena tiba-tiba Askha mencegatnya.


"Begini, aku mau tanya soal Cyra. Kamu itu kan temannya ya, kira-kira kamu tahu gak Cyra ada dimana sekarang? Soalnya aku cari-cari daritadi gak ketemu sih," ucap Askha dengan panik.


"Ohh, Cyra di UKS kak udah dari pagi. Mungkin dia sekarang juga masih ada disana," jawab Nana.


"Hah UKS? Cyra sakit?" Askha syok dibuatnya.


Nana manggut-manggut saja menandakan bahwa apa yang ditebak Askha adalah betul, tentu saja Askha langsung panik kali ini. Ya Askha buru-buru melangkah menuju UKS untuk menemui Cyra dan bertanya secara langsung padanya, Askha tak mau jika Cyra mengalami sakit yang parah dan butuh perawatan intensif di rumah sakit nantinya.


Pria itu terus melangkah dengan tergesa-gesa, ia tak perduli dengan orang-orang yang terus menatap ke arahnya karena kebingungan. Askha baru berhenti melangkah begitu ia tiba di depan pintu UKS, ya ia menghela nafas sejenak sebelum membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam sana untuk bertemu dengan Cyra yang memang masih ada disana.


Saat di dalam, betapa leganya Askha karena Cyra benar berada disana dan tengah terbaring lemas sambil memejamkan mata. Askha menghampiri gadis itu secara perlahan, ia cemas melihat kondisi Cyra yang dianggap begitu mengkhawatirkan. Terlebih, ia dapat melihat bahwa Cyra agak sedikit pucat dan menggigil karena kedinginan.


"Cyra, bangun hei udah siang! Gue cemas banget nih sama lu tau, eh lu malah asyik-asyik tidur disini. Ayo bangun Cyra, gue takut dimarahin sama ortu lu nanti!" ucap Askha berusaha membangunkan gadis itu dan menggoyang tubuhnya.


Sontak Cyra membuka matanya karena terkejut, ia heran karena saat ini Askha sudah berada di dekatnya dan menatap ke arahnya. Gadis itu berusaha bangkit dari tempat tidur, lalu terduduk disana sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ya mungkin ini akibat dari kejadian tadi, dimana Cyra disiram oleh Celo saat di toilet.


"Kak Askha, kok bisa ada disini? Tahu darimana kalau aku ada di UKS?" tanya Cyra penasaran.


"Gue tadi nyariin lu, terus kata si Nana temen lu katanya lu masuk UKS. Yaudah, karena cemas gue langsung kesini aja samperin lu," jelas Askha.


"Oh cie cie, kak Askha cemas ya sama aku? Sampe segitunya khawatirin aku," goda Cyra.


Askha geleng-geleng kepala mendengar godaan gadis itu, tapi kemudian ia cubit kedua pipi Cyra dan mengatakan bahwa saat ini ia memang begitu khawatir pada keselamatan Cyra.




Ciara yang kini bekerja sebagai guru di salah satu sekolah dasar, tampak keluar dari ruangannya dan hendak pulang setelah semua murid dipastikan tidak ada lagi di area sekolah. Ciara memang sangat senang dan bangga dapat menjadi seorang guru, apalagi ini merupakan cita-citanya sejak kecil yang akhirnya dapat terwujud.


Akan tetapi, begitu ia tiba di luar tanpa sengaja ia malah bertemu dengan seorang murid lelakinya yang masih terduduk disana sambil menangis. Karena penasaran, Ciara coba mendekat lalu bertanya secara langsung pada murid itu. Dari sana ia mengetahui, itu adalah murid kelasnya yang bernama Adam dan yang paling pintar.


"Adam!" perlahan Ciara memanggilnya, kemudian duduk di dekatnya bermaksud untuk menenangkan pria kecil itu.


Seketika Adam mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Ciara sambil terus terisak, ya Ciara begitu syok saat melihat kondisi Adam yang tampak sangat bersedih. Air mata membasahi kedua pipi pria itu dan membuat Ciara ikut bersedih, meski Ciara masih belum tahu apa masalah yang dialami Adam sampai pria itu bersedih seperti sekarang.


"Adam, kamu kenapa sayang? Kok Adam belum pulang juga sampai sekarang?" tanya Ciara lirih.


"Bu Ciara, maaf ya bu kalau aku masih disini! Tapi, aku emang gak mau pulang ke rumah bu. Aku takut setiap lihat papa sama mama aku bertengkar, mereka serem banget!" jawab Adam gemetar.


Ciara mengernyitkan dahi, "Apa? Jadi, alasan Adam nangis sekarang gara-gara orang tua Adam sering bertengkar?" ujarnya memastikan.


"Iya bu Ciara," ucap Adam singkat.


"Adam, kamu harus kuat ya! Adam gak boleh sedih terus kayak gini, mungkin aja papa sama mama Adam itu lagi ada masalah yang bikin mereka bertengkar. Tapi, ibu guru yakin kok kalau mereka itu sayang sama Adam!" ucap Ciara.


"Tapi bu, aku takut kalau papa sama mama terus berantem begitu!" ucap Adam.


Ciara pun tampak bingung dan tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Adam supaya pria itu tidak terus bersedih, ya memang bukan suatu hal yang mudah bagi Ciara untuk bisa meyakinkan muridnya untuk tidak menangis seperti sekarang. Ciara khawatir jika ia salah bicara, lalu malah membuat Adam semakin bersedih nantinya.


"Adam gausah takut ya, ibu guru yakin kok orang tua Adam pasti akan baik-baik aja! Pertengkaran itu suatu hal yang wajar dalam hubungan, tapi pasti nanti mereka akan baikan kembali kok," ucap Ciara.


"Iya bu, tapi aku masih tetap mau disini. Boleh kan?" ucap Adam.


Ciara tersenyum dan kemudian memeluk muridnya itu dengan erat, ia mencoba menenangkan Adam dan membuat Adam merasa lebih baik. Ciara tahu bahwa Adam saat ini sangat ketakutan, namun ia yakin kalau ia bisa menenangkan pria kecil itu. Terlebih, Ciara sudah belajar banyak mengenai cara yang tepat untuk membuat seorang anak bahagia.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2