
"Mama... papa...!!"
Sesampainya di bandara, Ciara langsung berteriak memanggil mama serta papanya yang ternyata sudah menunggu disana sedari tadi. Ciara juga memeluk erat mamanya menandakan betapa rindunya ia pada Nadira selama ini, ya karena Nadira memang sudah pergi meninggalkannya selama seminggu ini. Tentu saja Ciara amat merindukan sosok mamanya itu, meski selama Nadira tidak ada Ciara juga senang karena bisa berdua dengan Libra.
Tampak Libra turut menyaksikan momen haru itu, ia tahu kalau Ciara memang sangat rindu dengan Nadira dan selama ini dia selalu saja meminta untuk menghubungi mamanya itu. Namun, kali ini Libra senang karena Ciara sudah dapat bertemu dengan sang mama. Libra juga tak sabar ingin berbicara pada Nadira serta Gavin mengenai hubungannya dengan Ciara, sebab ia tak mau terlalu lama menutupi hubungannya itu.
"Ma, aku kangen banget sama mama! Akhirnya aku bisa juga ketemu sama mama lagi," ucap Ciara di dalam pelukan mamanya.
"Ya sayang, mama gak kalah kangen kok. Selama disana mama juga selalu mikirin kamu, tapi kamu gak kenapa-napa kan sayang? Gimana kemahnya, seru gak?" ucap Nadira.
"Seru banget, ma! Itu yang aku pengenin dari dulu, akhirnya bisa kesampaian juga!" ucap Ciara.
"Syukurlah, mama senang deh dengarnya kalau kamu bahagia sayang!" ucap Nadira.
"Ehem ehem!!" tiba-tiba saja, Gavin berdehem dan menghampiri keduanya.
Sontak Ciara melepas pelukannya, lalu beralih menatap papanya itu yang seperti merasa tak diperdulikan. Ciara pun tidak enak karena sudah mengabaikan papanya, karena jujur tadi ia terlalu rindu pada sang mama sampai lupa jika disana juga terdapat papanya.
"Cuma mama kamu aja nih yang dikangenin, papa enggak?" goda Gavin.
"Eh papa, kok papa ngomongnya gitu sih? Aku juga kangen tau sama papa, kangen banget malah!" ucap Ciara sambil tersenyum.
"Ah masa? Coba dong buktiin kalau kamu emang kangen sama papa!" ujar Gavin.
Ciara mengernyitkan dahinya, "Gimana tuh, pa?" tanyanya terheran-heran.
Gavin pun merentangkan kedua tangannya disertai senyuman lebar, "Peluk papa juga dong! Masa cuma mama aja yang dipeluk? Papa kan pengen juga ngerasain pelukan anak papa yang cantik ini," jawabnya.
"Ahaha, iya pa iya.." Ciara langsung bergerak mendekati papanya dan memeluknya seperti tadi ia memeluk mamanya.
__ADS_1
Nadira serta Libra pun tersenyum melihatnya, lalu Nadira tampak menatap wajah Libra dan menanyakan perihal Ciara. Jujur sebenarnya Nadira agak cemas dengan putrinya setelah ia tinggal selama seminggu, maka dari itu ia ingin memastikan kalau Ciara baik-baik saja. Meski Nadira telah menitipkan Ciara pada Libra, tapi tetap saja Nadira selalu cemas pada putrinya itu.
"Libra, gimana Ciara selama ditinggal aku? Dia gak nakal atau nyusahin kamu kan?" tanya Nadira.
"Eee..."
"Ya enggak lah mbak, malahan Ciara yang aku nakalin. Andai kamu tahu mbak, aku sekarang udah macarin anak mbak itu," gumam Libra dalam hatinya.
•
•
Singkat cerita, Libra membawa Ciara ke sebuah restoran andalannya di kota untuk makan siang bersama sebagai pertanda bahwa mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Ya sebenarnya Ciara belum menjawab apa-apa saat di mobil tadi, namun Libra sudah menganggap kalau Ciara adalah kekasihnya karena ia sangat mencintainya. Libra pun yakin jika Ciara juga sama cintanya dengan dirinya, sehingga ia tak takut untuk mengklaim bahwa Ciara adalah kekasihnya dan akan menjadi istri sahnya.
Kini keduanya duduk berhadapan pada kursi yang sudah dipesan sebelumnya, tampak sebatang bunga mawar merah menghiasi meja itu dan menambah keindahan serta membuat suasana disana lebih menyenangkan. Ciara pun terus menyembunyikan wajahnya yang tak mampu menahan rasa malu, ia sungguh tak menyangka pamannya bisa seromantis ini meski hanya mengajaknya makan siang bersama. Ya Ciara memang mudah terbawa perasaan pada tindakan sekecil apapun, seperti sekarang ini.
"Om, ini gak perlu om lakuin buat bikin aku kesemsem. Cukup sikap om yang kayak biasa aja udah bikin aku kagum kok sama om, terus juga bikin aku jatuh cinta sama om!" ucap Ciara.
"Hey, sekali-sekali tuh yang kayak gini penting tau! Biar aku sama kamu bisa makin romantis, kan kita sekarang udah resmi pacaran!" ucap Libra.
"Tapi om, aku kan belum—"
"Sssttt, mau kamu belum jawab atau apalah itu aku gak perduli! Intinya kamu sekarang pacar aku, dan kamu gak boleh menolak!" sela Libra.
"Lah kok gitu sih om? Itu aturan darimana coba?" tanya Ciara mengajukan protes.
"Suka-suka aku dong, orang aku cinta banget sama kamu dan gak pengen kehilangan kamu! Makanya aku mau kamu jadi pacar aku, supaya kamu gak diambil orang nanti!" jawab Libra santai.
Ciara menggeleng disertai senyum manisnya, "Om ada-ada aja deh, dasar posesif!" ucapnya.
__ADS_1
"Ya gapapa, wanita seperti kamu memang pantas digituin sayang. Kalau enggak, kamu bisa digondol cowok lain nantinya," ucap Libra.
"Ih apa sih om? Digondol emangnya aku makanan apa?" kesal Ciara.
Melihat Ciara mengerucutkan bibirnya, justru membuat Libra makin gemas dan segera mencubit bibir gadis itu serta menangkup wajahnya yang imut itu karena tak tahan. Ciara pun hanya bisa pasrah, melawan juga percuma karena tenaga Libra jauh darinya. Lagipula, menurutnya ini tindakan yang wajar saja dilakukan pamannya itu dan tidak terlalu berlebihan seperti malam saat mati lampu.
"Eh Ciara, kamu kok bisa seimut ini sih? Kamu tuh makan apa aja selama ini, hm?" goda Libra.
"Gak tahu, udah yuk kita makan aja sekarang! Aku udah laper banget tau om, lagian kan om ajak aku kesini buat makan siang katanya!" ujar Ciara.
"Ahaha, iya deh sayang. Tapi, aku boleh minta sesuatu dulu gak sama kamu?" ucap Libra.
Ciara mengernyit penuh heran, "Minta apa tuh om?" tanyanya penasaran.
"Panggil aku sayang dong!" jawab Libra penuh harap.
Deg!
Ciara terhenyak, permintaan pria itu sungguh diluar dugaannya dan berhasil membuatnya merasa terkejut. Libra langsung mundur melepas tangannya dari kedua pipi gadis itu, dia menantikan ucapan dari Ciara yang akan memanggilnya sayang sesuai permintaannya tadi. Namun, tampak di wajah Ciara kalau ia masih ragu untuk melakukan itu. Entah karena apa, tapi yang pasti Ciara merasa gugup dan malu saat ini karena mereka berada di tempat umum. Ya tentunya ada banyak orang yang juga hadir di tempat itu saat ini bersama mereka.
"Ciara, kenapa diam? Ayo dong sekali ini aja deh, abis itu baru kita makan sesuai kemauan kamu!" ucap Libra agak memaksa.
"Eee i-i-iya sayang..."
Akhirnya suara lembut itu keluar juga dari mulut Ciara, gadis itu benar-benar malu setelah mengatakannya dan langsung memalingkan wajah karena tak sanggup bertatapan dengan sang paman. Sedangkan Libra sendiri masih menatap tak percaya ke arah gadisnya, ia sendiri sangat senang sekaligus terpesona mendengar suara Ciara yang memanggilnya dengan sebutan sayang.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1