Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 180. Bernasib sama


__ADS_3

Setelah puas berbincang dengan Galen di kantin, kini Ciara pergi ke ruangan Tiara bersama kakaknya itu sesuai niat awalnya tadi. Ciara pun disambut dengan baik oleh Tiara, meski ekspresi Tiara terlihat tak suka ketika melihat Galen juga ada disana. Untuk itu, Galen pun memahami dan pergi dari sana karena tak ingin mengganggu obrolan diantara kedua wanita itu yang sepertinya juga hendak membahas Libra.


Ciara dibawa masuk ke dalam ruangan itu, ia terduduk disana bersama Tiara dan saling berhadapan satu sama lain. Tiara tersenyum menatap wajah Ciara, namun Ciara justru tidak sama sekali membalas senyuman mantan iparnya itu. Ya Ciara terlihat belum bisa melupakan masalah yang ia alami saat ini, apalagi tadi ia baru bercerita pada Galen mengenai sikap buruk suaminya.


"Umm Ciara, ada apa kamu mau ketemu sama aku? Kayaknya kamu lagi ada masalah besar ya, apa sih itu?" tanya Tiara amat penasaran.


Ciara menundukkan wajahnya kali ini, isak tangis terdengar dan membuat Tiara melongok lebar seolah terkejut ketika melihat adiknya itu menangis. Tanpa basa-basi lagi, Tiara langsung menghampiri Ciara untuk coba menenangkannya. Bagaimanapun, Tiara masih belum mengerti apa yang terjadi pada Ciara dan mengapa wanita itu bisa menangis.


"Duh Ciara, kamu sebenarnya kenapa? Kok malah tiba-tiba nangis kayak gini sih? Tenang ya Ciara, kamu cerita aja sama aku kalau ada masalah!" ucap Tiara membujuk adik iparnya itu.


"Hiks hiks, aku sedih banget kak! Aku sekarang ngerasain apa yang kakak rasain dulu, aku gak nyangka mas Libra tega khianatin aku!" ucap Ciara.


Deg


Betapa syoknya Tiara, ia menggeleng tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ciara barusan. Rasanya sangat sulit bagi Tiara untuk bisa mempercayai semuanya, karena yang ia tahu Libra adalah pria yang setia. Bahkan, Tiara sangat tahu kalau Libra amat mencintai Ciara dan seolah tak mungkin mengkhianati wanita itu.


"Ka-kamu gak salah bicara kan Ciara? Ini beneran Libra berkhianat dari kamu?" tanya Tiara.


Ciara mengangguk perlahan, air matanya masih terus mengalir deras membasahi kedua pipinya karena ia tak bisa melupakan kelakuan buruk yang dilakukan suaminya. Hatinya terasa hancur saat ini, kebahagiaan yang selama ini ia rasakan hilang seketika karena Libra sendiri lah yang sudah mengkhianati janji suci pernikahan mereka.


"Kok bisa sih Ciara? Coba deh kamu cerita pelan-pelan sama aku, biar aku ngerti! Kamu tenang dulu ya, jangan nangis dong Ciara! Kalau kamu begini, aku jadi gak bisa kasih solusi!" ucap Tiara.


"Eee a-aku takut buat cerita ini ke kak Tiara, aku gak mau bikin kakak keinget lagi sama masa lalu kakak. Soalnya apa yang aku alami ini, hampir mirip sama kisah kakak dulu. Tapi, aku juga gak tau lagi harus cerita ke siapa sejak mama pergi," ucap Ciara.


"Enggak kok Ciara, kamu gak perlu takut soal itu! Kamu cerita aja yang mau kamu ceritakan, pasti aku bakal dengerin itu!" ucap Tiara.


"Makasih kak, aku juga masih gak nyangka sama apa yang mas Libra lakuin ke aku!" ucap Ciara.


Tiara tak henti-hentinya mengusap punggung Ciara dengan lembut, ia meminta Ciara lebih tenang agar bisa menceritakan semuanya secara detail. Tiara juga membantu Ciara menyeka air matanya, memastikan supaya Ciara bisa berhenti menangis karena ia selalu merasa tidak tega saat melihat orang terdekatnya menangis seperti itu.


"Emangnya apa yang Libra lakuin ke kamu? Dia selingkuh sama kayak mas Galen dulu?" tanya Tiara dengan wajah penuh penasaran.


Ciara mengangguk sebagai jawaban, membuat Tiara bertambah syok dengan itu.

__ADS_1




"Cyra tunggu!" Amar yang hendak pergi menuju lapangan voli, tak sengaja melihat keberadaan Cyra di depan sana dan langsung memanggilnya.


Sontak Cyra terkejut, spontan ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Dahinya mengkerut ketika melihat sosok Amar disana, ia merasa heran mengapa pria itu memanggilnya karena tak biasanya Amar seperti itu. Namun, Cyra tetap menghargainya dan memilih berhenti untuk menanyakan ada apa pada lelaki itu.


"Eh Amar, kenapa ya?" tanya Cyra tampak begitu heran ke arah Amar di hadapannya.


"Eee gapapa sih Cyra, aku mau tanya aja soal kondisi papa kamu. Katanya papa kamu masuk rumah sakit ya kemarin? Gimana sekarang kondisinya, apa udah membaik?" ucap Amar.


"Ohh, ya papaku udah pulang ke rumah kok. Makanya sekarang aku bisa sekolah lagi kayak biasa," ucap Cyra sambil tersenyum.


"Oh syukurlah, aku ikut senang dengarnya! Kalau aku mau jenguk papa kamu, kira-kira boleh apa enggak ya?" ucap Amar.


Cyra cukup kaget mendengar permintaan Amar barusan, ia bingung harus menjawab apa karena ia juga tidak tahu apakah papanya mau dijenguk oleh Amar atau tidak. Dilihat dari ekspresi Amar saat ini, Cyra juga ragu kalau pria itu memang benar-benar perduli dengan papanya. Bisa saja itu semua hanya omong kosong, dan menambah kebingungannya.


"Ya kalau untuk itu sih aku kurang tahu, tapi kamu bisa datang aja ke rumah aku kalau emang mau ketemu papaku!" ucap Cyra lirih.


Cyra kembali terdiam dibuatnya, ia menggaruk kepalanya dan memalingkan wajahnya karena merasa bingung harus menjawab apa. Ia menoleh kesana-kemari saat ini, berusaha mencari cara untuk menghindar dari sosok Amar. Namun, tak ada yang mampu Cyra lakukan dan gadis itu terpaksa harus kembali menatap kearah pria di depannya.


Disaat Cyra hendak membuka mulut dan berbicara pada Amar, tiba-tiba saja Celo muncul menghampiri mereka lalu segera memeluk Amar dari samping. Kehadiran Celo tentu membuat keduanya merasa terkejut, apalagi tindakan Celo yang sungguh di luar dugaan karena gadis itu dengan berani memeluk lengan Amar dan berusaha menggodanya.


"Ah Amar, aku senang banget bisa ketemu kamu disini! Pasti kamu mau main voli lagi ya? Aku mau nonton dong sayang, boleh ya? Nanti aku kasih dukungan deh buat kamu," ucap Celo genit.


Amar menggeleng perlahan dan merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Celo tetapi tak berhasil lantaran Celo menggenggam lengannya dengan kuat. Tindakan Celo itu cukup meresahkan, apalagi disana juga ada sosok Cyra yang tentu bisa dibilang adalah wanita yang disukai oleh Amar.


"Celo, jangan pegang-pegang aku kayak gini ya! Kalau kamu mau nonton, yaudah nonton aja gausah lebay deh!" sentak Amar.


"Ih kamu kok jutek gitu sih? Perasaan kemarin kamu baik banget loh sama aku, apa karena sekarang ada Cyra? Kamu takut ya kalau Cyra tahu hubungan kita, hm?" ujar Celo.


"Hah??" Amar menganga lebar dan merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu.

__ADS_1




Sementara itu, Askha juga masih berada di dalam sekolahnya dan tengah menikmati momen bersama sang kekasih di sebuah taman bunga. Memang setiap kali waktu istirahat tiba, sepasang kekasih itu selalu berkumpul bersama di tempat tersebut. Apalagi, keduanya sangat jarang memiliki waktu berdua saat setelah mereka pulang dari sekolah.


Askha dan Laura kini saling menggenggam tangan satu sama lain, keduanya juga bertatapan cukup intens dengan senyum yang terukir. Meski sederhana, namun momen indah seperti inilah yang diinginkan oleh keduanya. Terutama bagi Laura sendiri, mengingat belakangan ini Askha selalu lebih mementingkan Cyra dibanding dirinya.


"Sayang, aku rasanya mau lakuin kayak malam itu lagi deh. Selama ini kita kan jarang nikmati momen indah seperti itu, kamu mau gak?" ucap Laura sembari menempelkan wajahnya pada bahu sang kekasih dan sesekali mengusapnya.


"Hm, ya jelas lah aku mau sayang. Tapi, aku takut kebablasan dan nantinya kita menyesal karena terbawa gairah. Makanya aku gak pengen kita begitu lagi Laura," ucap Askha menolaknya.


"Kamu gak perlu takut sayang, kalaupun kamu yang ambil perawan aku itu gak masalah kok. Aku justru senang dengan itu, aku penasaran tau pengen ngerasain hal itu. Kamu tahu gak, semua teman aku itu udah pernah begituan loh! Cuma aku doang yang belum tahu gimana rasanya," ucap Laura.


"Ohh, jadi kamu pengen tahu gimana rasanya main sama aku gitu? Nanti kapan-kapan deh aku turutin kemauan kamu itu sayang," ucap Askha.


Laura langsung merengut dibuatnya, jujur ia ingin sekali merasakan kenikmatan seperti apa yang diceritakan teman-temannya dulu. Akan tetapi, semua usaha yang telah ia lakukan selalu saja gagal untuk membuat Askha tergoda. Padahal, malam saat di bar kala itu Laura sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menggoda pria itu.


"Kamu itu kenapa sih sayang? Apa jangan-jangan kamu gak tertarik ya sama badan aku ini? Emang badan aku gak bagus ya?" tanya Laura.


"Eh bu-bukan begitu sayang, aku cuma belum sanggup aja. Aku takut dimintai tanggung jawab sama kamu, terus disuruh nikahin kamu nanti. Apalagi kalau sampai kamu hamil," jelas Askha.


"Huft, kamu gimana sih? Kan bisa ditahan loh biar gak hamil," protes Laura.


Askha tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Laura, ia juga heran mengapa gadis itu terlihat begitu ingin melakukan hal yang tidak benar. Padahal, biasanya para wanita selalu ingin menjaga kesucian mereka itu. Sungguh sikap Laura amat di luar dugaan Askha, karena makin hari gadis itu semakin liar dan juga sering menggodanya.


"I-i-iya sayang, udah ya kita jangan bahas itu lagi! Aku takut gak bisa kontrol diri, terus nanti malah minta ngelakuin itu disini!" pinta Askha.


"Oh gapapa, aku siap kok kalau kamu mau!" ucap Laura tersenyum genit.


Askha terkejut bukan main, matanya sampai melongok lebar seolah tak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan. Bukannya takut, Laura justru merasa ingin dan tidak menolak jika Askha benar-benar mau melakukannya disana. Askha kini menepuk jidatnya, menggelengkan kepala karena tak percaya kalau Laura semakin menggoda.


"Hadeh, ada apa sih ini sama si Laura? Kalau terus gini, lama-lama gue gak bakal tahan!" batin Askha.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2