
Tubuh Ciara merinding seketika saat tangan kasar Davin menyentuh wajahnya, ia terus menggeleng-geleng cepat untuk menghindari sentuhan itu, namun sulit lantaran Davin sudah menangkup wajahnya. Pria itu pun mencium paksa bibirnya, Ciara hanya bisa pasrah tak mampu berbuat apa-apa lagi. Air mata juga telah mengalir membasahi pipinya, Ciara sungguh takut dan sedih.
"Malam ini, kamu akan menjadi milik om seutuhnya sayang!" ucap Davin tepat di telinga Ciara.
Tangan pria itu beralih menuju kancing seragam sekolah Ciara, dengan perlahan ia melepas satu persatu kancing tersebut sampai tubuh bagian atas Ciara dapat dilihat olehnya. Kini Ciara hanya mengenakan tanktop hitam miliknya yang membuat Davin tersenyum lebar, sedangkan Ciara tentunya terus menangis tersedu-sedu.
"Om jangan om! Lepasin aku om, aku mohon!" tangisan Ciara itu tidak diperdulikan oleh Davin, pria tersebut malah terkekeh puas sembari menyingkap tanktop Ciara ke atas.
"Akh jangan om!" Ciara tersentak ketika Davin mencium perut ratanya.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja, kegiatan Davin terhenti saat ia mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya. Sontak Davin segera bangkit dan meninggalkan tubuh Ciara begitu saja dalam kondisi yang berantakan, tentunya Ciara masih terus menangis disana meratapi nasibnya.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku gak mungkin membiarkan om Davin ambil kesucian yang udah aku jaga selama ini, tolong bantu aku ya Tuhan!" gumam Ciara di dalam hati.
Tanpa diduga, sosok pria berbaju putih muncul di sebelahnya dan membuat Ciara begitu terkejut. Gadis itu sontak menoleh menatap heran ke arah pria tersebut, ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ciara pun tersenyum seketika dan tak berhenti memandangnya.
"Papa??" lirih Ciara dengan senyum lebarnya.
Sosok yang mirip seperti Albert alias papa kandung dari Ciara itu hanya tersenyum menatap ke arahnya dan tak mengatakan apapun, sontak Ciara berusaha meminta pertolongan dari papanya itu agar ia bisa selamat dari jeratan pamannya. Tentu saja Ciara sangat berharap pada papanya, sebab tidak ada lagi yang bisa ia lakukan saat ini.
"Pa, tolongin aku pa! Papa pasti kesini mau bantu aku kan? Ayo pa, lepasin aku dari sini aku gak mau jadi korban om Davin!" ucap Ciara meminta.
"Kamu tenang Ciara, berusahalah sekuat mungkin maka kamu akan bisa melepaskan diri dari ikatan itu! Papa tidak mungkin menolong kamu, karena papa sekarang sudah tiada," ucap Albert.
"Tapi pa, ikatan ini kuat sekali. Mana mungkin aku bisa lepas tanpa bantuan papa?" ucap Ciara.
"Coba saja dulu sayang, papa yakin kamu bisa karena kamu adalah anak yang kuat!" ucap Albert.
Ciara terdiam sesaat, ia mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk bisa melepaskan diri dari ikatan yang berada di tubuhnya itu. Lalu, Ciara pun kembali bersikeras sesuai arahan papanya. Dengan bantuan giginya yang tajam, Ciara terus menggigit tali di tangannya sampai berhasil terlepas satu.
__ADS_1
"Ah berhasil pa!" Ciara terlihat sangat bahagia, ia bergegas melepaskan ikatan yang satunya dan berhasil lebih mudah.
Kini Ciara bangkit dari posisinya dan terduduk di atas ranjang, ia melepaskan ikatan pada kedua kakinya juga agar ia dapat melarikan diri dari sana nantinya. Setelah semua terlepas, Ciara pun kembali menatap wajah papanya yang masih setia berada disana memandangnya sambil tersenyum.
"Terimakasih ya pa? Aku harus pergi sekarang, papa kapan-kapan datang lagi ya!" ucap Ciara.
Albert hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan, sedangkan Ciara langsung beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Ia berusaha membuka pintu tersebut, untungnya Davin tadi lupa menguncinya karena dia sedang buru-buru keluar menemui seseorang yang tadi mengetuk pintu.
Tentu saja Ciara memanfaatkan itu untuk kabur dari sana, ia melangkah mengendap-endap dan perlahan sembari memantau sekitar. Keadaan disana cukup sepi dan tak ada tanda-tanda Davin atau anak buahnya, tanpa berpikir panjang Ciara bergegas lari menuju pintu keluar untuk membebaskan diri.
"Huh aku harus cepat-cepat keluar dari sini!" lirih Ciara dengan nada panik.
Akhirnya gadis itu berhasil keluar dari rumah besar yang ia sendiri tidak tahu itu adalah rumah milik siapa, tapi Ciara tak perduli karena yang terpenting baginya adalah lepas dari jeratan pamannya yang sangat terobsesi padanya itu. Sekarang ia pun merasa sedikit lega, meski ia masih belum bisa pergi jauh dari area rumah tersebut.
"Ini dimana ya? Aku gak tahu harus kemana, hp aku juga diambil sama om Davin lagi. Sekarang aku mau minta bantuan siapa coba?" gumam Ciara.
Disaat gadis itu hendak kembali melangkah, ia malah tidak sengaja bertemu dengan dua orang anak buah Davin yang kebetulan sedang lewat di dekatnya. Ciara pun merasa panik dan syok begitu kedua pria tersebut melihatnya, ia berusaha melarikan diri tetapi di belakangnya juga sudah ada tiga orang lainnya yang kebetulan lewat disana.
"Aduh gawat!" batin Ciara merasa cemas.
Ciara terbelalak ketika orang-orang itu mendekatinya dan hendak menangkapnya, ia memilih kabur agar tidak kembali menjadi tahanan pamannya yang tidak waras itu. Namun, kelima anak buah Davin tersebut tak kalah cepat darinya dan malah mereka berhasil mencekal lengan Ciara dari belakang.
"Hayo, mau kemana kamu ha? Kamu gak bisa kabur dari sini!" ucap si pria.
"Ih lepasin! Lepasin aku! Aku mohon!" rengek Ciara meronta-ronta.
•
•
Sementara itu, Davin tengah terlibat pembicaraan dengan temannya yang membantunya untuk keluar dari penjara lalu melakukan penculikan terhadap Ciara. Ya orang itu adalah Surya, sahabat setia Davin yang memang selalu siap dan bersedia untuk membantunya kapanpun dia diperlukan.
__ADS_1
Namun, kali ini Surya menemuinya dengan wajah panik dan seolah terjadi sesuatu yang mengharuskan Davin juga ikut panik sama seperti dirinya. Sekedar informasi, rumah tempat mereka berada saat ini adalah milik Surya dan semua orang yang bekerja disana tentunya dibayar oleh pria itu.
"Lo itu kenapa sih, Sur? Hampir aja gue berhasil perkosa si Ciara, eh lu malah ketuk-ketuk pintu dan bikin semuanya gagal!" geram Davin.
"Sabar dulu Vin! Sebaiknya lu jangan gegabah, jangan lakuin itu malam ini! Karena kita lagi dalam bahaya dan gue gak mau perbuatan lu malah membahayakan kita!" ucap Surya.
Davin mengernyitkan dahinya bingung, "Maksud lu gimana sih, Sur? Emangnya bahaya apa coba?" tanyanya tak mengerti.
"Iya, barusan anak buah gue kasih info kalau ada seseorang yang datang ke rumah utama gue dan nyariin gue. Gue yakin banget Vin, mereka itu suruhannya Galen yang lagi cari kita," jawab Surya.
"Ahaha, Galen? Maksud lu si anak ingusan yang suka cari masalah sama gue itu?" kekeh Davin.
"Iya Vin, siapa lagi emangnya? Dia itu kan kakaknya Ciara, jadi wajar aja kalau dia bakal cariin adiknya yang hilang!" ucap Surya.
"Lo tenang aja Sur, gue jamin si Galen gak bakal tau keberadaan kita disini. Kan lu bilang sendiri kalau tempat ini tuh aman banget," ucap Davin.
"Haish, tetap aja kita harus hati-hati Vin! Gue gak mau kita salah langkah dan malah bahaya buat kita nantinya, udah ya lu tunda dulu aja kemauan lu itu Vin!" ucap Surya.
"Ah resek lu! Padahal tinggal sedikit lagi gue bisa miliki Ciara seutuhnya!" kesal Davin.
"Ya mau gimana lagi Vin?" ujar Surya.
Tiba-tiba saja, salah seorang anak buah Surya datang menemui mereka dengan kondisi wajah yang dipenuhi lebam. Pria itu tampak berlutut di hadapan keduanya dan menyatukan kedua tangannya, sehingga Surya serta Davin pun kebingungan dibuatnya.
"Lapor bos! Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," ucap si anak buah.
"Apa itu?" tanya Surya penasaran.
"Tahanan telah kabur bos, tadi saya dan yang lainnya berupaya mengejar dan menangkap dia, tetapi kami gagal bos. Ada seseorang yang membantunya dan membawanya pergi dari sini," jelas si anak buah.
"Apa??" Davin pun terbelalak kaget dan tak bisa percaya dengan apa yang dikatakan anak buahnya itu mengenai kaburnya Ciara.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...