
Pagi harinya, Cyra yang sudah merasa agak mendingan pun turun ke bawah berniat untuk menikmati sarapan bersama oma serta kakeknya yang sudah lebih dulu berada disana. Ya Cyra juga telah memakai baju seragam sekolahnya, meski Nadira menyarankan Cyra untuk beristirahat dulu. Akan tetapi, gadis itu kekeuh ingin pergi ke sekolah karena merasa bosan apabila terus di rumah.
Kedatangan Cyra disambut hangat oleh Nadira, ya bahkan Nadira juga membantu Cyra untuk duduk di dekatnya dan menawarkan makanan kepada gadis itu. Nadira sengaja melakukannya, supaya Cyra bisa lebih tenang dan tak terus memikirkan masalah mengenai perceraian orangtuanya. Apalagi, Cyra masih terbilang kecil dan belum waktunya bagi Cyra untuk terlibat dalam urusan orangtuanya itu.
"Cyra, kamu yakin mau sekolah sayang? Kenapa gak di rumah aja sama paman kamu, biar dia nanti oma suruh buat temenin kamu?" tanya Nadira.
Cyra reflek terkejut, "Hah? Aku di rumah ditemenin sama om Faiz? Duh enggak deh oma, nanti yang ada aku dijahatin terus sama om Faiz! Aku gak mau ah, mending aku ke sekolah!" ucapnya menolak.
"Yeh aku juga gak mau kali nemenin kamu disini, jangan ge'er!" sela Faiz.
"Hey, sudah sudah jangan ribut ah! Kalian ini gak bisa apa tenang sedikit gitu? Cyra, jangan dengerin kata-kata om kamu itu ya!" ucap Nadira.
"Iya oma." Cyra mengangguk paham.
Setelahnya, mereka bertiga pun sama-sama menikmati sarapan pagi yang dibuat oleh bik Vita itu dengan bantuan Nadira. Akan tetapi, tatapan mata Cyra tak bisa beralih dari wajah sang paman yang tepat berada di hadapannya. Entah mengapa, Cyra justru merasa terpikat dengan aura ketampanan yang ditunjukkan Faiz saat ini.
"Duh, aku kenapa malah jadi ngeliatin om Faiz terus sih? Sadar Cyra sadar, dia aja udah jahat loh ke kamu! Buat apa coba kamu harus lihatin dia kayak gini? Emang sih dia ganteng, tapi kan sikapnya itu nyebelin banget!" batin Cyra.
Akhirnya Cyra memilih fokus menyantap makanan di meja sampai habis tak bersisa, begitu juga dengan Nadira maupun Faiz. Barulah setelah selesai makan, kini Cyra bersiap untuk pergi ke sekolahnya dan berpamitan pada omanya. Tak lupa Cyra mencium punggung tangan Nadira, karena sebentar lagi waktu masuk sekolahnya sudah akan berbunyi.
"Oma, aku berangkat dulu ya? Makasih loh oma udah bolehin aku nginep disini malam tadi, kapan-kapan aku boleh ya nginep disini lagi!" ucap Cyra.
"Iya sayang, pasti boleh kok. Kalau kamu mau nginep, tinggal datang aja kayak kemarin!" ucap Nadira sambil tersenyum.
Mereka pun berpelukan sejenak di hadapan Faiz, tentu saja hal itu membuat Faiz merasa jengkel dan tidak senang. Ya dengan sengaja kini Faiz berdehem keras, bermaksud agar Nadira mau mengakhiri pelukan dengan Cyra disana. Rasanya Faiz masih belum terima, ia tak mau memiliki keponakan seperti Cyra yang dianggap kurang baik itu.
"Ehem ehem!" deheman itu membuat Nadira reflek menatap ke arah putranya.
"Ah iya, pas banget kamu masih disini Faiz. Kamu anterin Cyra ya sampai ke sekolahnya sekarang? Jujur mama khawatir kalau dia naik ojek atau taksi online," pinta Nadira.
"Hah??" lagi, Faiz serta Cyra kompak terkejut kali ini dan membelalakkan mata mereka bersama-sama.
"Nah nah kan, kalian itu emang kompak banget deh. Dari kemarin ngomongnya barengan terus, jadi udah ya gausah ada yang ribut lagi!" kekeh Nadira.
Cyra pun dengan cepat memalingkan wajahnya, ia merasa malu setiap kali Faiz menatapnya dan ditambah dengan godaan dari Nadira yang seolah sengaja ingin supaya ia berbaikan dengan Faiz yang merupakan pamannya itu.
•
•
Sementara itu, Ciara tengah mengantarkan kedua anaknya ke sekolah seperti biasa dengan ditemani oleh Liam dan juga Maria yang ditugaskan untuk menemani Adel serta Lio selama di sekolah. Ciara juga tak ingin kedua anaknya itu mengetahui masalah yang terjadi antara dirinya dan Libra, apalagi kalau sampai mereka mengetahui mengenai perceraian kedua orangtuanya itu.
"Sayang, kalian sekolah yang benar ya! Jangan nakal loh ya, terus juga kalian harus saling jaga kalau ada yang butuh bantuan! Kalian ngerti kan sayang?" ucap Ciara mengingatkan kedua anaknya.
"Ingat dong ma, aku janji bakal jagain Lia adek aku!" ucap Lio dengan senyum manisnya.
"Ahaha, bagus itu baru jagoan mama! Yaudah, kalian masuk gih! Mbak Maria bakal tungguin kalian disini, okay?" ucap Ciara.
"Oke ma!" ucap Adel dan Lio serempak.
Setelah mencium tangan serta kedua pipi, kini Adel beserta Lio pun mulai berbalik dan berjalan memasuki gerbang sekolah. Mereka terlihat bergandengan tangan dan terus tersenyum, membuat Ciara merasa senang melihatnya. Ada rasa haru di dalam dirinya, ia tak bisa membayangkan apa jadinya apabila mereka tahu kalau orangtuanya sebentar lagi akan bercerai.
__ADS_1
Tak lupa Ciara menitipkan anak-anaknya itu kepada Maria dan satpam yang berjaga di gerbang sekolah, barulah ia masuk ke mobil bersama Liam untuk segera pergi menuju pengadilan. Ciara menangis di dalam mobil, air matanya tak bisa ia tahan lagi saat membayangkan nasib kedua anaknya nanti. Namun, bagaimanapun juga dirinya harus kuat dan tetap yakin pada pendiriannya untuk berpisah.
"Pak, ayo cepat kita jalan ke pengadilan sekarang! Saya gak mau sampai terlambat, semua masalah ini harus selesai secepat mungkin!" titah Ciara.
"Baik bu!" ucap Liam patuh.
Langsung saja Liam menyalakan mobilnya dan melaju pergi sesuai permintaan Ciara, meski perasaan Ciara masih sangat sedih setelah melihat kondisi kedua anaknya tadi. Ciara pun menghapus air matanya, kesedihan itu harus segera ia hilangkan agar tak ada rasa penyesalan di dalam dirinya saat berpisah dengan sang suami.
"Aku harus kuat, aku gak boleh goyah karena semua ini! Aku yakin mereka pasti bakal baik-baik aja, aku bisa jaga mereka tanpa perlu bantuan dari siapapun!" batin Ciara meyakinkan dirinya.
Ciara pun merasa tenang kali ini dan berhasil menghilangkan semua kesedihannya, karena ia yakin kalau anak-anaknya pasti akan baik-baik saja. Tak butuh waktu lama, Ciara bersama Liam tiba di lokasi pengadilan dengan tepat waktu. Ciara terpejam sejenak, menguatkan dirinya supaya semua proses bisa selesai dengan cepat.
"Bu, kita udah sampai. Apa bu Ciara mau saya temani sampai ke dalam?" ucap Liam.
"Tidak usah, kamu tunggu saja disini! Saya sudah sama pengacara saya kok, lagian ini tidak akan lama," ucap Ciara.
"Baik bu!" ucap Liam patuh.
Kini Ciara turun dari mobil, ia mengambil kacamata miliknya dari dalam tas dan memasangnya untuk menyamarkan ekspresinya saat ini. Ya Ciara tak ingin terlihat bersedih di depan pengacara maupun orang-orang yang ada disana, sebab itu akan menandakan kalau dirinya adalah wanita lemah yang bisa diinjak-injak oleh siapapun.
"Ciara!" tanpa diduga, Libra muncul disana dan menghampiri wanita itu serta menyapanya.
Sontak Ciara terkejut, ia tak menduga kalau ternyata suaminya mau datang kesana untuk mengikuti sidang perceraian mereka.
•
•
Adrian merasa heran karena Tiara tak kunjung ada kabar hingga saat ini, padahal sebelumnya wanita itu baik-baik saja dan tak pernah meminta izin cuti padanya atau apalah itu. Namun, dua hari ini Tiara sudah tidak masuk ke kantor dan membuat Adrian makin bingung. Ia cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada sekretarisnya itu, apalagi ponsel milik Tiara juga tidak bisa dihubungi olehnya.
"Mina!" Adrian pun menegur gadis itu, spontan gadis bernama Mina itu pun bangkit dari posisinya dan menatap ke arah sang bos.
"Ah iya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mina dengan senyum di wajahnya.
"Ya, saya mau tanya ke kamu soal Tiara. Kira-kira kamu tau gak ya dia kemana? Dua hari ini dia kan gak masuk kantor, tapi dia gak ada bilang apa-apa ke saya. Saya telponin juga gak bisa, apa kamu tau?" ucap Adrian dengan wajah penasarannya.
"Ohh, yah maaf pak saya juga tidak tau kemana Tiara sekarang!" ucap Mina.
"Yakin kamu? Kamu itu kan dekat banget sama Tiara, masa iya dia gak ada ngabarin ke kamu apapun gitu? Paling enggak dichat dong," ucap Adrian tampak ragu.
"Maaf pak, tapi benar saya tidak tahu apa-apa soal Tiara! Terakhir kali saya lihat, Tiara itu diantar pulang sama pak Galen, pak." Mina tampak gugup kali ini.
"Apa? Pak Galen?!" Adrian tersentak mendengarnya.
Satu tangannya terkepal kali ini di atas meja kerja Mina, ia begitu emosi saat mendengar Mina menyebut nama Galen. Kini Adrian menaruh curiga kepada sosok Galen, apalagi ia tahu kalau diantara Galen dan Tiara pernah terdapat konfilk. Bisa saja saat ini Galen sedang menculik Tiara, itulah yang membuat Adrian semakin cemas.
"Benar pak, dan sejak saat itu juga baik Tiara atau pak Galen sama-sama gak masuk ke kantor!" ucap Mina menyambung kalimatnya.
"Sial, saya kecolongan! Yasudah, terimakasih informasinya ya Mina?" ucap Adrian.
"Sama-sama, pak." Mina mengangguk perlahan.
__ADS_1
Adrian pun pergi dari sana sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya, ia meminta bantuan salah seorang anak buahnya untuk bisa mencari Tiara dan menemukan wanita itu. Pasalnya, Adrian sangat cemas dengan kondisi Tiara saat ini. Adrian juga bingung harus mencarinya kemana, sebab ia tak memiliki petunjuk apapun.
📞"Halo, Irvan! Saya minta kamu ke ruangan saya sekarang, ini gawat dan saya memerlukan bantuan kamu! Kamu masih bisa diandalkan kan untuk mencari orang?" ucap Adrian di telpon.
📞"Siap bos, pasti saya bisa bantu! Kalau soal nyari orang, itu hal mudah buat saya," ucap Irvan.
📞"Bagus, kalo gitu jangan lama-lama dan cepat datang ke kantor saya sekarang juga!" titah Adrian yang terlihat begitu panik.
📞"Baik bos!" Irvan mematuhinya.
Setelah memutus telpon, Adrian bergerak menuju ruangannya sembari menunggu kedatangan anak buahnya yang tadi ia hubungan itu untuk dimintai bantuan.
•
•
Singkat cerita, Cyra yang dengan sangat terpaksa menerima permintaan neneknya itu, kini tiba di sekolah bersama Faiz yang mengantarnya. Jujur Cyra sebenarnya tidak ingin pergi bersama Faiz, apalagi pria itu sangat menyebalkan. Namun, Cyra tak memiliki pilihan lain karena Nadira lah yang meminta dan tak mungkin ia menolaknya.
Faiz sendiri juga terpaksa mengantarkan gadis itu ke sekolahnya, ia pun menatap wajah Cyra yang duduk tepat di sebelahnya dengan sinis. Sontak Cyra merasa gugup dan bingung, apalagi mereka baru bertemu dan belum saling mengenal. Hanya saja, Cyra sudah tahu seperti apa watak pria itu karena sejak bertemu selalu saja menyebalkan.
"Dah sampe tuh, bener kan ini sekolahan kamu? Udah sana turun!" ucap Faiz dengan ketus.
"Ck, iya ini juga mau turun kok. Bawel banget deh jadi orang, untung kamu om aku! Kalau enggak, aku pasti udah pukul kamu!" ucap Cyra merengut.
"Hah apa? Pukul aku? Hahaha, kayak bisa aja kamu lakuin itu!" kekeh Faiz.
"Ish nyebelin!" Cyra yang kesal langsung menghujam pinggang Faiz dengan cubitannya yang terkenal dahsyat dan menyakitkan itu.
"Aakkhh!!" Faiz pun memekik kesakitan.
Tanpa rasa bersalah sama sekali, Cyra pun memilih turun dari mobil dan meninggalkan Faiz begitu saja yang sedang kesakitan. Cyra terkekeh saat ke luar dari mobilnya, gadis itu benar-benar puas karena telah membuat Faiz menderita. Meski, itu tak sebanding dengan apa yang dilakukan Faiz sejak mereka bertemu kemarin.
"Ahaha, rasain tuh! Makanya jangan nyebelin jadi paman!" ejek Cyra dari luar mobil.
"Hey tunggu kamu!" tanpa diduga, Faiz menyusul turun dan berniat membalaskan perbuatan Cyra yang sudah mencubitnya tadi.
Sontak Cyra terkejut, ia panik dan memutuskan lari dengan cepat memasuki sekolahnya. Faiz tak menyerah sampai disitu, ia terus mengejar Cyra ke dalam area sekolah sambil meneriaki namanya. Bahkan, Cyra juga dengan sengaja mengejek sambil mengeluarkan lidahnya dan membuat Faiz semakin emosi serta ingin segera menangkapnya.
"Cyra, berhenti kamu!" teriak Faiz.
"Wle wle wle, sini kejar aku kalo bisa om!" Cyra menantangnya dan berulang kali mengejek pria itu, tentu saja sambil terus berlari kencang.
Tapi karena sering melihat ke belakang, Cyra pun tidak sadar kalau tali sepatunya terlepas dan membuatnya tersandung lalu jatuh ke permukaan jalan. Faiz yang melihat itu terkejut, ia tak mengira Cyra akan tersandung dan jatuh disana. Lalu, Faiz pun berniat menghampirinya untuk mengecek kondisi gadis itu. Namun, ada seorang lelaki yang lebih dulu mendekat ke arah Cyra kali ini.
"Awhh, akh sakit!" Cyra meringis dan berusaha bangkit walau tangan serta kakinya terasa sakit.
Tiba-tiba saja, uluran tangan terlihat di depan matanya dan membuat Cyra terkejut bukan main saat ini. Begitu ia mendongak, rupanya Davin lah yang ada disana dan tengah mengulurkan tangan ke arahnya. Cyra sungguh bingung, apalagi di depan sana juga masih ada Faiz yang tengah memandang ke arahnya dan tampak begitu penasaran.
"Ayo saya bantu! Ini kedua kalinya loh kamu jatuh gara-gara tali sepatu, lupa ya kamu sama pesan saya waktu itu?" ucap Davin tersenyum lebar.
Cyra terdiam saja, ia tak tahu apakah ia harus menerima uluran tangan Davin itu atau tidak. Pasalnya, ia khawatir kalau Faiz nantinya akan melaporkan kejadian ini kepada Nadira.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...