
Setelah dirasa aman, Ciara pun memutuskan keluar dari mobil untuk menemui pamannya disana dengan perasaan lega bercampur khawatir karena ia tahu Libra terluka cukup parah tadi. Ya Ciara bergegas menghampiri Libra disana yang juga tengah bersama Arka, sedangkan pria bertopeng tadi sudah melarikan dulu selepas memberitahu siapa orang yang menyuruhnya untuk membunuh Libra.
Libra sungguh tak menyangka, karena ternyata itu semua adalah ulah Davin yang tidak lain adalah paman dari Ciara. Pantas saja orang-orang itu begitu berambisi ingin membunuhnya, ya karena Davin tentu masih mencintai Ciara dan dia tidak rela jika Ciara jatuh ke tangan Libra. Bagi Davin, hanya dia lah yang berhak memiliki Ciara dan menikahinya.
"Om, om gapapa kan? Lukanya perlu diobatin tuh, ayo kita pergi aja om!" ucap Ciara cemas.
Libra berbalik menatap Ciara dan tersenyum, satu tangannya bergerak memegang pundak sang kekasih bermaksud menenangkan gadis itu. Libra tahu jika gadisnya itu sangat cemas, maka dari itu langsung saja ia memeluk tubuh Ciara sembari mengusap punggungnya tanpa memperdulikan Arka yang sedari tadi memandang ke arah mereka.
"Aku baik-baik aja kok sayang, kamu gak perlu cemas kayak gitu. Lagian orangnya kan juga udah pada kabur, jadi kita sekarang aman dan gak ada yang perlu ditakutkan lagi!" ucap Libra.
"Iya sih om, tapi kan tetap aja om luka. Aku takut nanti jadi infeksi kalo gak diobatin," ucap Ciara.
"It's okay, kamu boleh obatin aku kok nanti. Tapi, kamu perlu tahu dulu satu hal tentang orang yang tadi nyerang kita. Jadi, ternyata mereka tuh disuruh sama Davin loh," ucap Libra.
"Apa??" Ciara tersentak dan reflek mendorong tubuh Libra hingga terlepas dari pelukannya.
"Serius om? Kok bisa om Davin suruh orang-orang itu buat ngerjain kita? Dia itu kan di penjara," tanya Ciara keheranan.
"Ya bisa aja sih, kan gak ada yang menjamin kalau di penjara itu dia gak akan melakukan kejahatan yang lainnya. Dia masih bisa suruh anak buahnya, contohnya ya orang tadi," jawab Libra.
"Duh, sialan banget sih om Davin itu! Kayaknya dia harus dibasmi deh om, biar dia gak ganggu kita lagi!" ucap Ciara.
"Hahaha..."
Ciara dan Libra kompak terkejut mendengar suara tawa dari seseorang, ya mereka lalu menoleh lalu melihat ke arah Arka yang ternyata sedang tertawa sambil menatap mereka. Tentu saja Ciara tampak bingung melihatnya, ia menegur pria itu serta bertanya mengapa dia tertawa. Namun, Arka hanya mengangguk sembari mengacungkan jempolnya yang membuat Ciara makin bingung.
"Kamu kenapa ketawa? Emangnya apa yang lucu coba?" tanya Ciara pada Arka dengan bibir mengerucut tanda tak suka.
"Eee gak kenapa-napa kok, gue cuma lucu aja lihat obrolan kalian tadi. Omong-omong, kalian ini om sama ponakan atau pacaran sih? Kok kelihatannya mesra banget?" ujar Arka terheran-heran.
"Iya, Ciara ini ponakan sekaligus tunangan saya. Makanya kami mesra," sela Libra.
"Oh begitu, pantas aja panggilnya masih om. Yaudah deh, kalo gitu gue pergi duluan ya? Kalian lain kali hati-hati!" ucap Arka.
"Okay, sekali lagi terimakasih atas bantuannya! Kalau gak ada kamu, gak tahu deh nasib kita tadi gimana," ucap Libra.
"Oh ya, nama kamu siapa? Daritadi aku belum tahu nama kamu," tanya Ciara tiba-tiba.
Arka tersenyum dibuatnya, "Gue Arka, lu Ciara kan?" ucapnya menyodorkan tangan ke arah gadis itu.
Ciara pun membalas dengan anggukan disertai tangan yang menjulur mendekati Arka, mereka berdua saling bersalaman kini dan mengenalkan diri masing-masing. Barulah setelah itu, Arka benar-benar pergi dan tidak berurusan lagi dengan Ciara maupun Libra. Ya sepasang kekasih itu pun juga ikut pergi, karena mereka berniat menikmati waktu berdua di sore hari yang cerah ini.
•
•
Tin Tin Tin...
Terry yang tengah mengendarai mobil, dibuat jengah saat mobil di depannya tak kunjung berjalan padahal tidak ada lampu merah atau halangan apapun disana yang mengharuskan mobil itu berhenti. Akhirnya Terry terus menekan klakson mobilnya, sembari mencak-mencak kesal karena usahanya itu tidak digubris oleh pemilik mobil di depan.
Akibat kekesalan yang mencuat dan tidak tertahankan lagi, Terry pun memutuskan keluar dari mobilnya untuk menemui pemilik mobil di depan itu. Langsung saja Terry mengetuk kaca mobil tersebut, dan membuat seseorang di dalam sana membuka kacanya serta memperlihatkan diri. Betapa kagetnya Terry, karena ternyata pemiliknya adalah seorang wanita cantik berambut pirang dan pendek.
"Ada apa ya pak?" tanya wanita itu dengan heran.
Terry mendengus kesal, "Pake nanya lagi ada apa, situ itu ngapain berhenti di tengah jalan kayak gini! Orang gak ada apa-apa kok berhenti, mau bikin jalanan macet ya?" ucapnya kesal.
__ADS_1
"Oh, i-i-iya maaf pak. Ini soalnya saya juga gak tahu, mobil saya mesinnya mati dan gak bisa dijalanin. Udah dari kemarin sih kayak begini terus, padahal udah sempat dibetulin tapi malah terulang lagi," ucap wanita itu.
"Hadeh, gimana sih mbak? Lain kali dicek dulu dong mesinnya sebelum berkendara! Kalau kayak gini kan nyusahin orang jadinya," kesal Terry.
"Sekali lagi saya minta maaf pak, saya gak sengaja!" ucap wanita itu memelas.
"Ya gapapa, biar saya bantu periksa deh mesinnya. Siapa tahu saya bisa betulin mobilnya, karena saya lumayan ngerti tentang mesin," ucap Terry.
Wanita itu mengangguk antusias, "Iya iya, makasih banyak ya pak!" ucapnya bersemangat.
Terry hanya membalas dengan senyuman tipis, kemudian ia coba memeriksa mobil milik si wanita untuk mencari tahu kerusakannya. Wanita itu sendiri juga turun dari mobilnya, memantau yang dilakukan Terry sembari menunggu hasilnya. Setelah diperiksa, rupanya Terry tahu penyebab mengapa mobil itu sulit dinyalakan dan tentu saja Terry dengan mudah berhasil membetulkan masalah itu sehingga mobil tersebut dapat kembali menyala seperti semula.
"Nah, nyala kan? Syukurlah gak ada masalah yang besar dan kamu gausah panik!" ucap Terry.
"Wah iya, terimakasih ya pak? Saya jadi banyak berhutang nih sama bapak, gimana kalau saya traktir minuman dulu di cafe depan?" ucap wanita itu menawarkan diri.
Terry menggeleng pelan, "Gak perlu, saya buru-buru ada urusan. Lain kali aja ya?" ucapnya.
"Oh okay, omong-omong nama kamu siapa?" tanya wanita itu penasaran.
"Terry." lelaki itu menjawab disertai senyuman.
"Bella." balas si wanita seraya mengulurkan tangan ke arah Terry yang tentu tidak diduga-duga.
Akhirnya Terry menyambut uluran tangan tersebut, lalu bersalaman dengan wanita bernama Bella itu sambil saling bertatapan. Entah mengapa Terry merasa kagum dan terpesona pada wanita itu, karena tampilan Bella saat ini memang berbeda dari sebelumnya setelah ia memutuskan memotong serta mewarnai rambutnya di salon tadi. Semua itu dia lakukan, sebab ingin membuka lembaran baru dan mencoba melupakan Libra sang mantan.
•
•
Tiara tersenyum saja mempercayai ucapan suaminya, kemudian mereka berniat masuk ke dalam mobil agar bisa langsung pulang karena hari juga sudah semakin siang. Namun, baru saja mereka hendak melangkah sudah ada sebuah motor yang berhenti tepat di depan mereka dan memperlihatkan seorang laki-laki yang menatap ke arah mereka.
"Nico..."
Sontak Galen menatap ke arah istrinya, ia bingung dan heran mengapa Tiara bisa mengenal pria yang baru datang tersebut. Tentu saja Galen langsung meminta penjelasan darinya, karena pria itu merasa cemburu setelah ternyata Tiara mengenal pria tersebut. Sedangkan pria bernama Nico itu telah turun dari motornya, lalu mendekati mereka.
"Hai Tiara! Apa kabar kamu? Gak nyangka ya kita bisa ketemu disini?" ucap Nico sambil tersenyum.
"Ah iya, aku baik kok!" jawab Tiara dengan lembut.
"Sebentar, ini ada apa sayang? Siapa laki-laki ini? Kenapa kamu bisa kenal sama dia tanpa sepengetahuan aku?" tanya Galen keheranan.
"Eee kamu tenang dulu mas, jangan marah-marah gitu! Jadi Nico ini mantan aku waktu sebelum nikah sama kamu, makanya aku bisa kenal sama dia mas," jawab Tiara menjelaskan.
"Mantan kamu? Terus kenapa bisa dia ada disini sekarang? Oh jangan-jangan kamu sengaja ya ikutin istri saya?" geram Galen.
"Tahan dulu mas, jangan emosi kayak gitu ah! Kita kan belum tahu Nico ada niat apa datang kesini, kamu harus bisa tahan emosi dong mas!" ucap Tiara menenangkan suaminya.
"Iya betul, anda gak perlu emosi dong sama saya! Saya gak pernah ngikutin Tiara kok," sahut Nico.
"Terus kenapa kamu bisa ada di rumah sakit ini juga sama kayak kami? Gak mungkin cuma kebetulan, pasti ada sesuatu kan!" ujar Galen.
Nico menggeleng pelan, "Enggak kok, saya kesini karena mau jenguk nenek saya," ucapnya.
Tiara pun terkejut mendengarnya, "Nenek Ambar sakit? Sakit apa?" tanyanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Iya Tiara, udah lama sih sakitnya. Ya cuma beliau baru dibawa ke rumah sakit dua hari lalu, karena kondisinya yang makin memburuk," jawab Nico.
"Ya ampun, aku turut sedih dengarnya! Umm mas, aku boleh gak jenguk neneknya Nico dulu?" ucap Tiara meminta izin pada suaminya.
"Hah? Buat apa sih sayang? Kamu masih mau berhubungan sama mantan kamu ini?" tanya Galen.
"Enggak, aku kan cuma mau jenguk neneknya. Soalnya dulu aku sama neneknya Nico tuh udah akrab banget, aku mau temuin dia sebentar aja kok," jawab Tiara memelas.
Galen tidak habis pikir mendengarnya, ia juga cemburu ketika tahu Tiara masih perduli pada anggota keluarga Nico. Namun, untuk saat ini Galen juga tidak bisa berkata apa-apa atau melarang istrinya. Ya akhirnya Galen mengizinkan, tapi tentu ia akan menemani istrinya masuk ke dalam menjenguk nenek Nico itu untuk melihat kondisinya.
"Okay, aku izinin. Tapi, kamu perginya ditemenin sama aku ya?" ucap Galen tersenyum.
"Iya mas." Tiara mengangguk setuju.
Kemudian, mereka bertiga sama-sama melangkah masuk kedalam rumah sakit sesuai permintaan Tiara yang ingin menjenguk nenek Nico disana. Ya meski merasa tidak senang, tetapi akhirnya Galen tak memiliki pilihan lain karena ia tidak mungkin mengecewakan istrinya itu.
•
•
TOK TOK TOK...
Arkana datang ke rumah bibiknya kali ini, ia mengetuk pintu dan mendapat balasan dari dalam disertai suara langkah kaki yang terdengar tengah menuju ke arahnya. Sontak Arka tersenyum dan berhenti mengetuk pintu, benar saja pintu kemudian terbuka memperlihatkan sosok Nadira yang keluar menemui keponakannya itu.
Ceklek
"Halo tante, permisi!" ucap Arka dengan lembut disertai senyuman tipisnya, yang membuat mata Nadira terbelalak seketika.
"Hah Arka? Ini beneran kamu Arkana anaknya mas Thaufan kan?" tanya Nadira sedikit terkejut.
"Hehe, iya dong tante. Aku Arka, masa tante lupa sama keponakan tante sendiri? Lagian kita kan belum lama gak ketemu," jawab Arka pede.
"Ahaha, iya iya Arka. Tante cuma kaget aja lihat kamu datang kesini, soalnya kan kamu gak pernah sebelumnya datang ke rumah tante," ucap Nadira.
"Iya tante, aku mau main aja. Abis bosen sih di rumah, dimarahin mulu sama papa," ucap Arka.
Nadira ikut terkekeh mendengarnya, lalu mereka berdua pun sama-sama melangkah memasuki rumah itu setelah Nadira mengajak keponakan dari mantan suaminya dulu itu masuk bersamanya. Ya Arka merupakan keponakan Albert, suami Nadira yang sudah meninggal. Dahulu Nadira pernah satu kali dibawa oleh Albert ke rumah sepupunya, dan tentu sepupu yang dimaksud ialah ayah Arka.
Kini mereka tiba di ruang tamu, tak lupa Nadira turut mengenalkan Arka kepada Gavin yang kebetulan ada disana tengah menikmati kopinya. Setelah saling berkenalan, mereka semua berbincang ria disana sambil menikmati suguhan yang disediakan bik Vita sebelumnya. Arka sangat senang berada disana, meski ia tampak celingak-celinguk seolah mencari keberadaan seseorang di sekitar sana.
"Kamu cari siapa Arka? Matanya itu loh gak bisa diam ngeliat kesana-kemari," tanya Nadira menegurnya.
"Eh eee hehe aku lagi cari Ciara, tante. Udah lama aku gak lihat dia, dulu itu dia dibawa sama tante ke rumah kan waktu dia masih TK ya tante? Pasti dia sekarang udah berubah banget," ucap Arka.
"Oh jelas, Ciara sekarang udah dewasa. Paling sebentar lagi juga dia pulang, kamu tunggu aja dulu ya!" ucap Nadira.
"Ya tante," singkat Arka.
Baru saja diomongi, orang yang mereka tunggu pun sudah datang dan masuk ke dalam rumah itu. Ya tentu saja dialah Ciara, gadis itu melangkah masuk begitu saja tanpa mengetahui bahwa di dalam sana sedang ada tamu yang tak lain ialah Arka. Sontak ketiganya terkejut, begitu pula dengan Ciara yang reflek menghentikan langkahnya begitu melihat ada seseorang tengah duduk bersama orangtuanya.
"Nah, itu dia Ciara udah pulang. Yuk sini sayang!" ucap Nadira menunjuk ke arah putrinya.
"Apa? Jadi, cewek itu Ciara tante?" Arka benar-benar terkejut, karena ternyata perempuan yang tadi ia tolong di jalan adalah Ciara alias sepupunya.
Ciara pun menghampiri mereka, ia menatap heran ke arah Arka dan seolah tak percaya. Arka juga langsung berdiri menatapnya, mereka saling tersenyum memandang satu sama lain dan masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi. Sedangkan Nadira serta Gavin hanya terdiam menyaksikan kedua anak muda itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...