Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 158. Tumbang


__ADS_3

Tiara yang tengah dalam perjalanan menuju meeting bersama bosnya, masih terus memikirkan kejadian tadi ketika Adrian memarahi Salma di depan kantor dan dilihat oleh banyak orang. Tiara merasa jika tindakan Adrian itu terlalu berlebihan, seharusnya sebagai seorang kekasih Adrian tak melakukan itu kepada wanitanya. Apalagi, tadi Salma sampai menangis dan tak ada kata maaf dari mulut Adrian.


Tiara sepertinya merasa kasihan dengan Salma, jika ia mengalami hal itu maka pasti ia akan bersedih juga sama seperti yang dirasakan Salma. Sepanjang jalan Tiara terus melirik ke arah Adrian, terlihat jelas raut wajah pria itu masih menunjukkan kekesalan. Mungkin saja Adrian kesal lantaran sikap Salma yang dianggap menjengkelkan tadi, sehingga Tiara pun bingung harus melakukan apa sekarang ini.


Ingin sekali rasanya Tiara menegur bosnya itu, lalu mengajaknya berbicara untuk mengurangi rasa kesal di dalam diri sang bos. Namun, entah mengapa Tiara merasa khawatir dan takut jika Adrian akan marah lalu membentaknya. Tiara terlalu takut untuk melakukan itu, apalagi tadi ia lihat dan dengar sendiri bagaimana Adrian membentak Salma tepat di hadapannya sampai gadis itu menangis.


"Ada apa Tiara? Kenapa lirik-lirik saya kayak gitu terus?" tanya Adrian yang ternyata menyadarinya.


Tiara pun terkejut dan panik dibuatnya, ia langsung gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa saat Adrian bertanya seperti itu. Kini Adrian terus menatap ke arahnya, menantikan jawaban dari Tiara sambil sesekali tersenyum. Tiara tak mengerti mengapa Adrian bisa tiba-tiba berubah, dari yang tadi terlihat kesal kini malah tersenyum lebar.


"Eee sa-saya cuma gak tega lihat bapak, abisnya tadi bapak murung terus. Maafin saya ya pak kalau saya lancang, saya emang orangnya begini!" ucap Tiara tampak gugup.


"Kamu gak lancang kok, justru saya suka kalau kamu perhatian sama saya. Maksudnya kan saya ini bos kamu, jadi wajar kalau kamu perduli waktu saya melamun tadi. Apalagi saya ini kan emang lagi sedih gara-gara kejadian di kantor," ucap Adrian.


"Ohh, bapak pasti masih mikirin mbak Salma ya? Bapak sendiri sih malah ngomelin dia, tuh kan jadi sedih sendiri!" ucap Tiara salah mengira.


"Loh kata siapa? Saya gak nyesel atau sedih tuh, saya emang udah lama pengen tegas ke dia supaya dia gak deketin saya terus. Saya udah capek tahu ngeladenin dia terus!" ujar Adrian.


"Kok begitu sih pak? Mbak Salma itu kan calon istri bapak loh," heran Tiara.


"Tapi saya gak pernah mau menikah dengan dia, ini semua hanya keinginan orang tua saya. Kalau boleh pilih, saya mendingan gak nikah daripada harus nikah sama perempuan kayak Salma. Saya capek banget sama sikap dia itu!" ucap Adrian.


"Umm, tapi mbak Salma itu orangnya baik dan perhatian loh pak. Bapak gak kasihan gitu sama dia kalau tiba-tiba bapak batalin pernikahan kalian? Tadi aja dia sampe nangis gitu," ucap Tiara.


"Halah itu mah cuma akting dia aja, saya gak yakin dia beneran cinta sama saya!" ucap Adrian tegas.


Tiara mengernyitkan dahinya, "Kenapa bapak bisa berpikir begitu? Saya lihat-lihat mbak Salma perduli banget kok sama bapak," ucapnya.


"Itu kan menurut kamu loh Tiara," cibir Adrian.


Wanita itu hanya bisa manggut-manggut dan coba memahami apa maksud bosnya, meski ia sendiri tak tahu seperti apa sikap Salma yang membuat Adrian jengkel karenanya. Padahal, menurut Tiara sendiri selama ini Salma tidak pernah berbuat kesalahan yang terlalu parah.




Disisi lain, Libra masih merasa histeris setelah tahu seluruh keluarganya terbakar di dalam rumah akibat ledakan bom tersebut. Libra sungguh tak percaya ini semua akan terjadi menimpa keluarganya, dikala seharusnya ia bahagia karena kelahiran putrinya tetapi kini ia malah harus kehilangan mereka semua tak lama setelah Cyra dilahirkan.


Libra benar-benar sangat hancur, ia terus terduduk di aspal dan menangisi kepergian istri serta anaknya yang sangat ia cintai. Tak hanya itu, bahkan Nadira serta Askha juga ada di dalam rumah itu dan mungkin saja ikut terbakar. Libra sangat syok serta tak menyangka, rencana yang dibuat Bagas itu memang tidak bisa diketahui olehnya sebelum ini.


"Bagaimana Libra? Kamu sekarang masih punya keberanian buat lawan saya, atau kamu akan hidup sebagai pecundang?" ledek Bagas.


Libra melirik geram ke arah Bagas dengan satu tangan terkepal, rahangnya bergetar menandakan ia begitu emosi dan ingin membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan Bagas pada keluarganya. Tapi apa daya, Libra benar-benar merasa lesu dan kehilangan banyak tenaganya setelah melihat sendiri bagaimana bom menghancurkan rumahnya.


"Hahaha, nikmati kehancuran kamu ini Libra! Sebentar lagi kamu juga akan saya buat menyusul keluarga kamu yang lainnya, yaitu menuju neraka!" ucap Bagas dengan tawa puasnya.


Bugghhh


Tanpa basa-basi lagi, Bagas langsung memukul tubuh Libra dari samping dengan keras dan sampai membuat lelaki itu terjatuh. Libra terdiam saja tanpa dapat berbuat apapun, rasanya nyawa Libra telah hilang seiring dengan kepergian keluarganya. Kini Libra pun tak tahu harus apa, terlebih Bagas memang sangat sulit ditaklukan.


"Sekarang saatnya kamu mati, saya gak akan berlama-lama lagi menyiksa kamu! Bilang terimakasih dan tunggu saya di neraka, Libra!" ucap Bagas seraya menodongkan pistol ke arah Libra yang sudah pasrah tergeletak disana.


"Ugghh.." Libra melenguh tertahan sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Matilah kamu Libra!" sentak Bagas.

__ADS_1


Dor!


Namun, suara tembakan lebih dulu terdengar tepat mengenai lengan Bagas dan membuat senjata di tangannya terhempas. Betapa syoknya Bagas dengan hal tersebut, ia menoleh ke asal tembakan lalu melihat Galen berdiri disana. Tampak Galen tengah mendekat ke arahnya sambil membawa senjata, membuat Bagas begitu emosi.


"Sadar Libra, kamu harus tetap kuat! Kamu gak boleh mati di tangan orang jahat kayak dia, ayo kita hadapi dia sama-sama!" ucap Galen berteriak.


"Untuk apa? Semua keluarga saya sudah pergi Galen, saya gak punya tujuan hidup lagi sekarang. Ciara dan anak saya satu-satunya itu udah gak ada, jadi untuk apa saya bertahan?" ucap Libra tampak lesu.


"Kamu tenang aja Libra, mereka semua sudah berhasil saya amankan! Sekarang mereka menunggu kamu di rumah saya, jadi kamu harus bisa selamat demi mereka!" ucap Galen.


"Apa??" Libra tersentak dan melongok lebar seolah tak mempercayai ucapan Galen barusan.


Tak hanya Libra, bahkan Bagas yang mendengar itu ikut terkejut dan tampak menggeram kesal karena Galen telah menggagalkan rencananya. Lengannya yang terluka tak membuat Bagas putus asa, pria itu berusaha kembali mengambil senjatanya dan menghadapi Libra serta Galen disana meski dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.


Dor! Dor!


Dua peluru kembali melayang mengenai tepat pada bahu serta paha Bagas saat ini, Galen lah pelakunya yang berhasil membuat Bagas meringis kesakitan. Tak lama kemudian, Bagas pun terjatuh ke aspal dengan luka tembak pada tiga bagian tubuhnya. Galen pun menyeringai puas, begitu juga dengan Libra yang kini ikut bangkit mendekatinya.


"Kurang ajar kamu Galen! Kamu memang harus dihabisi, supaya kamu tidak lagi menjadi penghalang bagi saya!" ucap Bagas tampak kesal.


"Ya itulah kesalahan kamu Bagas, kamu membiarkan saya hidup dan tidak menghabisi saya lebih dulu. Padahal, kamu tahu kalau saya anak Albert dan saya tidak kalah licik dibanding beliau!" ucap Galen.


"Sial!" Bagas mengumpat kesal dan berusaha bangkit kembali untuk menyerang Galen yang saat ini masih memegang pistol.


Galen menyimpan senjatanya lebih dulu, lalu bersiap bertarung melawan Bagas yang sudah berdiri kembali dan tampak masih kuat kali ini. Bahkan, Bagas lebih emosi dibanding sebelumnya karena tahu rencananya telah digagalkan oleh Bagas. Setidaknya, saat ini Bagas ingin membalas dendam karena Galen sudah menghancurkan dirinya.


"Kamu akan saya habisi Galen, bersiaplah untuk mati dan menyusul papamu!" geram Bagas.


Tak ada rasa gentar dari sosok Galen saat ini, pertarungan hebat pun terjadi diantara kedua pria tersebut. Mereka saling berbalas pukulan dan terlihat cukup seimbang, tidak bisa ditebak siapa yang akan memenangkan pertarungan kali ini. Apalagi, baik Bagas maupun Galen sama-sama pernah belajar beladiri sewaktu mereka kecil.


Libra sendiri hanya bisa memandangi pertarungan tersebut, kondisinya saat ini cukup parah dan dipenuhi luka di sekujur tubuhnya. Ingin sekali sebenarnya Libra membantu Galen, tetapi entah kenapa ia kesulitan untuk bangkit. Namun, Libra tetap berusaha karena sekarang ia tahu kalau Ciara serta Cyra masih selamat dan tengah menunggunya.


"Hahaha, kamu tidak akan bisa mengalahkan saya Galen! Kamu itu gak ada apa-apanya dibanding saya, jadi lebih baik kamu mati aja sekarang!" ucap Bagas seraya menodongkan pistolnya.


Galen tampak tergeletak pasrah dan seolah sudah siap untuk menerima ajalnya, apalagi Libra yang ada di sebelahnya juga tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka berdua sudah tak memiliki harapan kali ini, karena Bagas terlalu kuat dan sulit untuk dilumpuhkan meski oleh mereka berdua.


"Habislah kamu Galen!" Bagas berteriak sangat keras dan bersiap menembak ke arah Galen.


"BERHENTI!!!" tiba-tiba saja, seseorang muncul bersama beberapa pasukan dalam jumlah banyak dan bersenjata lengkap.


Mereka semua menoleh ke asal teriakan tersebut, tampak sosok Keenan disana yang tengah memegang senjata dan menodongkannya ke arah Bagas disana. Tentu saja Galen serta Libra kompak merasa lega, setidaknya kedatangan Keenan bisa membantu mereka untuk menghadapi Bagas dan keluar dari masalah itu.


"Jangan kamu lakukan itu Bagas! Asal kamu tahu, Galen ini anak dari Albert dan juga Vanessa. Dia masih saudara kandung kamu, dia pewaris sah keluarga Harrison setelah kamu!" sentak Keenan.


Deg


Saat itu juga Bagas terbelalak, ia baru mengetahui fakta bahwa ia hampir saja membunuh darah daging kakaknya sendiri. Namun, Bagas merasa tak menyesal dengan itu karena Galen masih termasuk anak dari Albert yang merupakan musuh bebuyutan ayahnya dulu.


"Saya tidak perduli, tetap saja dia ini anak Albert dan saya harus habisi dia!" tegas Bagas.


Bagas justru tetap pada ambisinya untuk menghabisi Galen, disaat ia hendak memantik senjata miliknya tiba-tiba sebuah peluru mendarat tepat ke bagian kepalanya dan membuat Bagas kehilangan nyawanya. Keenan lah yang melakukan itu, tidak ada ampunan lagi bagi seorang Bagas kali ini karena pria itu tak mau mendengar ucapannya.


Dor!


Cukup satu kali tembakan saja, Bagas kini sudah tersungkur ke aspal dengan kondisi kepala yang mengeluarkan darah. Saat itu juga nafasnya hilang dan nyawanya tidak dapat tertolong lagi, Keenan pun mendekat untuk memastikan semuanya. Keenan merasa puas setelah berhasil melumpuhkan Bagas, lalu membantu Galen dan juga Libra disana.

__ADS_1


"Kamu payah Bagas! Kamu tidak mau mendengar kata-kata saya, sekarang malah kamu yang hilang nyawa dan pergi ke neraka menyusul papa kamu itu!" ucap Keenan geleng-geleng kepala.


"Om Ken!" Galen menghampirinya dan menepuk pundaknya dari belakang.


"Makasih om, kalau gak ada om pasti kita berdua udah kehilangan nyawa tadi! Untung om datang tepat waktu, makasih ya om!" ucap Galen.


"Iya om, saya juga mau bilang makasih banyak sama om!" sahut Libra.


Keenan tersenyum dan mengusap tubuh kedua pria di hadapannya itu, bagi ia kondisi penyerangan yang dilakukan Bagas saat ini sudah terlalu kuno. Keenan bahkan telah berhasil menumbangkan Harrison dulu dan juga Vanessa, yang bagaimana penyerangan mereka jauh lebih mewah daripada apa yang dilakukan Bagas bersama Syifa saat ini.


"Kita sekarang ke depan rumah bu Nadira, ada yang perlu kita bereskan juga disana!" titah Keenan.


Galen dan Libra kompak mengangguk, mereka berjalan bersama-sama menuju rumah itu untuk menghadapi Syifa yang masih belum dapat dilumpuhkan karena tenaganya cukup kuat dan senjata yang ia miliki juga sangat banyak.




Dor! Dor! Dor!


Syifa berhasil menumbangkan cukup banyak pasukan milik Gavin di halaman depan rumah itu, ia tersenyum lebar dan merasa puas karena berhasil mengalahkan mereka semua disana. Meski begitu, Syifa tetap harus bersusah payah karena ia hanya sendiri saat ini setelah banyak anak buahnya bertumbangan di depan sana.


"Cukup Syifa! Kamu lebih baik menyerah saja, sekarang kamu sudah terkepung dan banyak pasukan bersenjata di sekeliling kamu! Kalau tidak, kamu akan kami tangkap dan habisi saat ini juga!" ucap Gavin dengan lantang.


"Menyerah itu tidak ada di kamus saya, pak Gavin yang terhormat. Saya bisa habisi kalian semua tanpa bantuan siapapun!" ujar Syifa dengan sombongnya.


"Baiklah, kalau begitu ayo kalian semua habisi Syifa dan tangkap dia sekarang juga!" titah Gavin.


Beberapa pasukan Gavin maju dan bersiap untuk menangkap wanita itu, Syifa yang merasa terkepung mulai memundurkan langkahnya sambil terus memegang senjata di tangannya. Ia tidak akan semudah itu mengalah pada mereka, apalagi dendamnya belum terbalaskan karena Libra masih dapat menghirup udara segar saat ini.


"Syifa berhenti!" kali ini Libra yang berteriak meminta wanita itu menyerah, ia dan Galen sudah tiba disana lalu mencoba menghentikan Syifa.


"Libra?" lirih Syifa ketika melihat pria tersebut.


"Saya mohon Syifa, berhenti sekarang! Kamu harus menyerahkan diri kamu ke polisi, kamu tidak punya siapa-siapa lagi saat ini! Bagas sudah meninggal, dia gak akan bisa menolong kamu!" ucap Libra.


Syifa terkejut mendengar itu, ia cukup sedih sekaligus kecewa setelah tahu Bagas ternyata sudah lebih dulu meninggalkan dirinya. Namun, Syifa tetap pada pendiriannya bahwa ia tidak akan menyerah apalagi di penjara. Dibanding hidup mendekam di penjara, maka Syifa lebih memilih untuk mati secara terhormat saat ini.


"Aku gak butuh bantuan siapapun, aku bisa habisi kalian semua sekarang!" sentak Syifa.


Dor! Dor! Dor!


Kembali Syifa melayangkan tembakannya secara bertubi-tubi ke arah musuh-musuhnya itu, ia tak perduli lagi akan menembak siapa karena yang pasti ia ingin menghabisi mereka semua. Akan tetapi, dari banyaknya peluru yang ia keluarkan tidak ada satupun yang tepat sasaran. Bahkan, kini peluru miliknya habis lebih dulu.


"Ck, sial! Kalau begini, gimana bisa aku lawan mereka? Aku sudah tidak punya senjata lagi, aku gak mau di penjara!" gumam Syifa.


"Menyerah lah Syifa!" pinta Libra.


Bukannya menurut, Syifa justru mengambil pistol dari atas aspal yang merupakan milik salah seorang anak buahnya. Wanita itu menodongkan pistol ke arah keningnya sendiri, lalu menembak dirinya tepat di hadapan Libra serta yang lain. Syifa lebih memilih mengakhiri hidupnya saat ini, dibanding harus menyerah dengan musuh-musuhnya.


Libra serta yang lainnya kompak menutup mulut seolah tak percaya, darah berceceran dimana-mana dan sampai mengenai tubuh lelaki itu. Mayat Syifa kini tergeletak tepat di hadapannya dalam keadaan sangat parah, membuat Libra sampai tidak tega melihatnya dan memilih memalingkan wajahnya sembari menahan sakit pada tubuhnya.


"Kita sudah menang Libra, kedua musuh-musuh kita itu sudah musnah dan tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu hidup kamu maupun Ciara saat ini!" ucap Galen sembari mengusap punggung Libra.


Libra mengangguk perlahan, tapi kemudian ia merasa sesak dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Sontak Galen dan yang lainnya kompak panik, apalagi tubuh Libra terlihat begitu lemas akibat perkelahiannya tadi dengan Bagas. Libra pun nyaris terjatuh, beruntung Galen cekatan menangkapnya lalu menahan tubuhnya disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2