
Ciara pun coba bersikap tenang dan kembali melanjutkan membaca bukunya, tetapi tanpa diduga suara deheman berat berhasil membuat gadis itu terkejut bukan main. Ciara bahkan sampai menjerit kecil saat menoleh dan melihat Terry di sampingnya, padahal sebelum ini ia tidak mengetahui jika ada orang lain di dalam perpustakaan itu selain dirinya.
"Ehem Ciara, ini saya loh bukan setan. Kenapa kamu mesti ketakutan gitu?" ujar Terry.
"Umm, ma-maaf pak. Abisnya bapak ngagetin saya aja sih, tadi perasaan gak ada siapa-siapa deh disini. Kok tiba-tiba bisa ada bapak?" ucap Ciara keheranan.
"Itu dia, ajaib kan saya?" sarkas Terry.
Ciara mengerucutkan bibirnya menatap ke arah Terry, sesaat kemudian Terry tertawa kecil dan ikut duduk di samping gadis itu. Sengaja Terry menggeser kursi agar bisa lebih dekat dengan Ciara, dan tidak ada protes dari Ciara karena dia memang terlalu polos untuk mengetahui niat atau alasan seseorang pria mendekatinya.
"Enggak lah bercanda, saya emang daritadi udah ada disini. Tuh tepatnya saya duduk di belakang, saya juga lihat kamu sama teman-teman kamu kok. Tapi, saya baru samperin kamu begitu mereka pergi tinggalin kamu," jelas Terry.
"Ohh," Ciara hanya ber-oh ria dan kembali menatap bukunya serta mengabaikan pria itu.
Terry pun menghembuskan nafas melalui mulutnya, dapat dirasa kalau dirinya amat jengkel dengan sikap dingin Ciara padanya. Sungguh Terry bingung harus melakukan apa lagi dalam upaya mendekati dan mendapatkan hati Ciara, karena sudah hampir berbagai macam cara ia gunakan, tetapi Ciara belum luluh juga dan amat sulit menaklukkannya.
Ya masih dengan keadaan yang sama, Terry terus saja memandangi tubuh gadis di dekatnya itu dengan wajah bingung. Terry sama sekali tak tahu harus bagaimana lagi saat ini, karena tampaknya semua perhatian yang ia berikan selama ini pada Ciara tidak berarti apa-apa bagi gadis itu. Bahkan mungkin Ciara juga tak menganggap dirinya ada, dan Terry pun sadar akan hal itu.
Akan tetapi, Ciara tiba-tiba sadar saat Terry terus memandanginya. Gadis itu sontak menolehkan wajahnya ke arah Terry dan menegurnya, ia heran lantaran Terry justru terdiam bukannya membaca buku. Ciara juga tidak tahu kalau yang membuat Terry diam adalah dirinya, ya itulah kalau wanita sudah sering mendapat banyak perhatian dari laki-laki. Jadi, ia tak akan mudah sadar jika ada seseorang yang benar-benar tulus menyukainya.
"Loh pak, kenapa malah diam aja? Itu bukunya masa malah dipegang doang sih? Dibaca dong pak!" ucap Ciara terheran-heran.
"Ah eee i-i-iya Ciara, saya itu bengong karena kagum sama kamu. Selain cantik, ternyata kamu rajin juga ya? Pasti laki-laki yang berhasil dapetin kamu nanti bakal beruntung banget," ucap Terry memujinya.
Ciara tersenyum dibuatnya, "Bapak bisa aja, perasaan saya gak terlalu rajin deh. Saya emang hobi baca buku," ucapnya.
"Oh gitu, ya bagus deh hobi kamu itu patut dicontoh oleh yang lainnya. Kalo gitu kamu bisa lanjut baca bukunya sampai selesai, saya juga pengen baca kok!" ucap Terry.
"Iya pak, sebentar ya?" Ciara meminta izin dan lalu beralih menatap buku yang tadi ia baca untuk kembali meneruskannya.
Sementara Terry sempat terdiam selama beberapa detik, sampai ia tersadar dan kemudian ikut membaca buku miliknya di samping Ciara. Namun, tetap saja rasanya pria itu belum puas jika hanya sekedar membaca buku bersama Ciara karena ia menginginkan hal yang lebih.
•
•
__ADS_1
Disisi lain, Nindi beserta Salsa sahabatnya tengah terduduk di halte sekolah menanti jemputan. Seperti biasa Nindi memang akan selalu menemani sohib setianya itu sampai supir yang menjemputnya datang, barulah setelahnya Nindi akan memesan ojek online maupun taksi menggunakan ponselnya.
Dikala mereka asyik berbincang, rombongan Erland justru datang mendekat dan tertawa seolah meledek kedua gadis itu tanpa alasan yang jelas. Ya seperti yang diketahui, Erland memang merupakan murid paling nakal di sekolahnya dan Erland bisa berbuat sesuka hati pada siapapun yang dia inginkan.
"Eh Nindi, Salsa, kalian kenapa masih pada disini sih? Udah yuk mending kalian ikut sama kita, kita party rame-rame biar seru!" ujar Erland.
Salsa yang tersulut emosi lebih dulu bangkit dari duduknya dan menatap jengah ke wajah si pria, "Heh! Lo jangan ajakin kita buat aneh-aneh ya, karena kita gak akan mau!" ucapnya tegas.
"Waduh, galak banget sih lu! Lagian kalau lu gak mau ya gapapa, gue masih bisa bawa Nindi buat ke party nanti kok!" ucap Erland terkekeh.
Nindi pun ikut terpancing mendengarnya, "Maksud lu apa? Lu kira gue bakal mau ikut sama kalian gitu? Enggak ya, sorry gue tuh bukan perempuan yang gampangan!" ucapnya tak kalah emosi.
"Wuih, mereka nih sekarang mulai pada berani Lan. Enaknya kita apain ya?" ucap Roki, sahabat Erland.
"Sabar! Gue yakin nih si anak miskin yang mendadak kaya gara-gara kakaknya nikah sama sultan pasti berani sama kita, karena dia punya backingan om-om yang waktu itu datang kesini!" ucap Erland.
"Oh iya betul tuh, kalau gak salah itu om-om juga sering jemput dia disini kan? Pantas aja dia jadi makin berani sama kita," sahut Roki.
Amarah Nindi makin memuncak, Erland tidak hanya menghina dirinya tetapi juga keluarganya. Tentu Nindi tak terima dengan itu, apalagi ia sangat menyayangi kakaknya yang selama ini selalu ada untuknya dan berjuang demi kesembuhannya. Nindi pun maju dengan tangan terkepal mendekati Erland serta yang lainnya, membuat Salsa terkejut lalu membulatkan matanya lebar-lebar.
Erland justru menyeringai dan ikut maju mendekatinya, "Emangnya gimana caranya lu bisa bikin perhitungan ke gue, hm?" ujarnya seolah menantang.
Nindi menggeleng pelan dengan dua tangan yang sudah terkepal kuat, tanpa aba-aba gadis itu melayangkan tinjunya ke arah wajah si pria dengan sangat keras sampai membuat sang empu terkejut dan nyaris terjatuh. Beruntung dua sahabatnya sigap memegangi tubuh Erland, sehingga Erland masih bisa berdiri meski agak sempoyongan.
"Kurang ajar lu ya! Berani lu pukul gue, dasar cewek l0nt3 sok kecakepan!" umpat Erland.
"Kenapa gue harus gak berani? Lo itu cuma cowok pengecut yang sukanya ganggu cewek-cewek, lu gak lebih dari banci!" balas Nindi.
"Sial!" Erland mengumpat kesal dan berniat membalas perbuatan gadis itu tadi.
Namun, sebuah tangan besar menghalangi niatnya dan berhasil membuat Erland terhenti dengan cara mencengkram kuat lengannya. Erland pun menoleh penuh emosi, ditatapnya wajah pria yang saat ini tengah berdiri di dekatnya sembari memegangi tangannya. Ya pria tersebut adalah Leon, sontak Erland langsung ketakutan begitu melihatnya.
"O-om??" lirih Erland gemetaran.
"Mau apa lagi kamu, hm? Bukannya saya sudah pernah bilang ya ke kamu, jangan ganggu Nindi lagi! Gak kapok-kapok nih anak!" ucap Leon.
__ADS_1
"Om, ki-kita gak ada niatan buat ganggu Nindi kok. Tadi dianya aja yang emosi duluan terus malah pukul wajah saya, nih lihat sampai lebam begini," ucap Erland.
Bruuukkk
Bukannya kasihan, Leon justru mendorong tubuh Erland begitu saja sampai terjatuh ke jalan. Sontak Salsa tertawa dibuatnya, melihat Erland dalam kesulitan memang amat membuat Salsa bahagia karena pria itu yang selalu saja mengusik ketenangan para siswi-siswi disana. Akhirnya Erland memilih kabur bersama kedua temannya, sebab mereka tidak mungkin menang melawan Leon.
"Yeu malah kabur, dasar cemen!" ledek Salsa dengan sedikit lantang agar Erland mendengarnya.
Lalu, tampak Leon kini menatap Nindi serta Salsa dan mendekati keduanya. "Hai Nin! Kamu gak kenapa-napa kan?" ucapnya menyapa gadis itu.
"Eee aku baik kok, pak. Makasih atas bantuannya," jawab Nindi lirih.
"Iya kak, makasih banyak ya? Kak Leon emang the best deh, tuh si Erland sampai lari terbirit-birit kayak gitu!" sahut Salsa.
Leon tersenyum sembari menganggukkan kepala, "Sama-sama, syukurlah kalau kalian berdua gapapa!" ucapnya.
"Yaudah, kita tunggunya disana aja yuk!" ucap Nindi mengajak sahabatnya pergi.
Tentu saja Salsa mengernyit keheranan, ia tak mengerti mengapa Nindi tiba-tiba malah mengajaknya pergi dari sana. Padahal yang ia tahu, Nindi selama ini cukup dekat dengan Leon dan bahkan menyukainya. Namun, Salsa tidak bisa banyak protes dan memilih mengikutinya berjalan pergi meninggalkan Leon seorang diri.
Sungguh Leon amat menyesal, karena kesalahan yang ia perbuat sebelumnya kini Nindi sama sekali tidak mau bertemu dengannya apalagi berbicara bersamanya seperti dulu. Leon pun hanya bisa meratapi nasibnya, perubahan sikap Nindi yang cuek membuat hidupnya tidak bisa tenang dan terus dihantui rasa bersalah.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...•...
...Dapet pap lagi dari Ciara, hore😍♥️...
...Tapi Ciara cantik gak, guys?🤔...
__ADS_1