Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 41. Dibawa ke rumah sakit


__ADS_3

Ciara kini dibawa paksa untuk menemui Davin dan Surya di halaman belakang rumah itu, betapa terkejutnya Ciara saat ia mendapati kakaknya tengah tergeletak di bawah dan dengan kejamnya Surya hendak memukul kembali tubuh kakaknya itu menggunakan balok kayu yang amat besar.


Sontak Ciara membulatkan matanya, entah kekuatan darimana tiba-tiba Ciara berhasil berontak dan melepaskan diri dari dekapan pria di belakangnya. Tanpa banyak bicara, Ciara langsung berlari ke arah Galen sambil berteriak untuk mencegah Surya melakukan apa yang dia ingin lakukan.


"BERHENTI!!" suara teriakan Ciara itu mengagetkan Davin serta Surya, mereka menoleh ke arah Ciara secara bersamaan dan kompak terkejut.


"Cukup om, jangan sakiti kak Galen! Aku gak mau kak Galen kenapa-napa, tolong lepasin dia! Kak Galen gak ada sangkut pautnya sama masalah kita om, aku mohon!" rengek Ciara.


Davin tersenyum seringai melihat keberadaan Ciara disana, "Baguslah Ciara sayang, akhirnya kamu kembali kesini!" ucapnya tampak bahagia.


"Ciara, untuk apa kamu datang kesini? Kamu mau membahayakan diri kamu sendiri, ha? Lebih baik kamu lari, pergi Ciara!" sentak Galen yang masih berusaha menahan rasa sakitnya.


"Enggak, aku gak akan tinggalin kakak! Aku kesini buat tolong kakak," ucap Ciara lantang.


"Kakak gak butuh pertolongan kamu, Ciara! Cepat kamu pergi dan jangan perdulikan kakak!" pinta Galen.


Ciara menggeleng disertai isakan tangisnya, "Aku akan tetap disini kak, demi kakak. Bahkan aku rela menukar tubuh aku, supaya kakak bisa selamat!" ucapnya tegas.


"Kamu jangan gila Ciara! Itu gak benar!" ujar Galen.


Prok prok prok


Davin melangkah mendekati Ciara sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar, "Wah wah wah, sungguh drama yang menarik! Om jadi terharu lihat keromantisan kalian," ucapnya meledek.


Disaat mereka sedang asyik berbincang, Surya yang sadar tampak melihat keberadaan polisi di depan sana dan berjumlah cukup banyak. Sontak saja Surya merasa panik, tidak mungkin tentunya ia tidak panik jika mengetahui polisi ada di rumahnya dan akan menangkapnya nanti.


"Gawat! Kenapa bisa ada polisi disini? Apa gadis itu datang bersama polisi?" batin Surya ketakutan.


Davin yang belum menyadari itu, tampak santai saja dan malah tersenyum menatap Ciara yang berada tepat di depannya. Davin ingin sekali rasanya membawa pergi Ciara dari sana dan menikmati tubuh gadis itu seorang diri, karena hanya itulah yang ia inginkan saat ini dari Ciara. Jika telah berhasil mendapatkannya, maka Davin tentu akan sangat puas dan merasa bahagia.


"Om, tolong lepasin kak Galen! Jangan apa-apain dia, aku mohon sama om sekarang!" pinta Ciara.


"Baiklah, om akan turuti kemauan kamu sayang. Asalkan kamu mau ikut sama om dan jadi kekasih om," ucap Davin sambil tersenyum.


Ciara menunduk bingung, sejujurnya ia tidak ingin menerima tawaran pamannya itu, namun untuk kali ini ia tak memiliki pilihan lain sebab kakaknya dalam bahaya dan sebagai adik ia harus rela berkorban demi keselamatan sang kakak. Akhirnya Ciara mengangguk pelan, ia mengiyakan permintaan Davin demi menyelamatkan kakaknya kali ini.


"Okay om, aku mau ikut dan tinggal sama om. Tapi, om lepasin dulu kak Galen dari sini, biarin dia pergi om!" ucap Ciara.


"Hahaha, pilihan yang bagus Ciara sayang!" ucap Davin merasa puas.


Disaat Davin hendak menggenggam tangan Ciara, tiba-tiba Surya mendekatinya dan berkata padanya bahwa polisi sudah berada di lokasi mereka saat ini. Tentunya Surya tak mau jika mereka sampai ditangkap oleh polisi dan dipenjara kembali, karena keduanya baru saja terbebas dari sana.


"Vin, kita harus cepat pergi dari sini! Polisi sudah datang dan mereka bisa tangkap kita kalau kita gak langsung pergi," bisik Surya.


"Apa? Polisi?" ujar Davin terkejut.


"Iya Vin, makanya ayo kita cepat-cepat pergi sebelum polisi itu kesini!" ucap Surya panik.


"Tapi, sebentar lagi saya bisa dapetin Ciara dan bawa dia tinggal sama saya," ucap Davin.

__ADS_1


"Itu bukan urusan saya, kalau kamu gak mau ikut kabur, ya terserah!" ucap Surya pasrah.


"Eh Sur, tunggu!" ujar Davin ikut panik.


Tanpa banyak bicara lagi, Surya langsung berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat tersebut karena khawatir ditangkap polisi. Sedangkan Davin terlihat kebingungan, ia ingin lari tetapi di satu sisi ia juga mau Ciara pergi bersamanya karena gadis itu sudah berkata akan ikut dengannya.


"Ciara, ayo kamu ikut sama om! Tadi kamu bilang mau kan?" ajak Davin.


"Jangan Ciara!" teriak Galen mencegah adiknya.


"DAVIN!!" teriakan Gavin menggelegar di telinganya, yang membuat Davin panik seketika saat melihat rombongan polisi mendekat ke arahnya.


Sontak Davin terkejut bukan main, rupanya benar yang dikatakan Surya tadi dan ia malah tidak mempercayainya. Kini nasib Davin pun berada dalam bahaya, ia bisa tertangkap oleh para polisi tersebut dan dibawa kembali ke penjara seperti sebelumnya. Namun, tentu Davin tidak mau itu semua terjadi begitu saja saat ini.


"Sial! Saya sudah terkena jebakan, memang kurang ajar kamu Ciara!" umpat Davin lirih.


"Papa??" Ciara menatap papanya dan mengembangkan senyumnya, ia senang karena Gavin ada disana untuk membantunya.


"Kamu aman sekarang Ciara, tapi awas saja om pasti akan terus kejar cinta kamu!" ujar Davin pada Ciara sambil bersiap untuk lari.


Karena ketakutan, Davin pun lari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu dan menyusul Surya. Tentu saja Gavin tidak akan membiarkan Davin pergi dari sana, pria itu bersama para polisi mengejar Davin untuk berusaha menangkapnya. Sedangkan Ciara menghampiri kakaknya yang masih tergeletak lemas disana memegangi punggungnya.


"Akhh!!" pekik Galen saat ia berusaha bangkit, tetapi gagal karena rasa sakitnya.


"Kak, kakak jangan banyak gerak dulu! Aku akan telpon ambulance buat bawa kakak ke rumah sakit," ucap Ciara panik.


"Ah gausah, kakak gapapa kok. Yang penting kamu selamat, itu aja udah cukup buat kakak," ucap Galen.


"Hey Ciara, kamu dengerin kakak ya! Kakak gapapa kok, udah ya kamu gausah cemas gitu!" ucap Galen.


Ciara terdiam sejenak menatap wajah kakaknya, jujur ia masih khawatir pada kondisi Galen saat ini yang memang terlihat kesakitan. Meski pria itu mengatakan bahwa dia sudah baik-baik saja, tetapi Ciara tahu kalau Galen sebenarnya masih menyimpan rasa sakit yang amat sangat.


"Galen, Ciara!" tiba-tiba saja, Libra datang berteriak dan melangkah pincang mendekati mereka. Ciara pun beranjak dari posisinya menatap sang paman dengan wajah bingung.


"Om?" Ciara tersenyum lega melihat pamannya itu selamat dan tidak terluka sedikitpun.


"Ya Ciara, bagaimana keadaan kamu dan kakak kamu? Kalian baik-baik aja kan?" tanya Libra tampak mencemaskan mereka.


Ciara mengangguk perlahan, "Aku gapapa kok om, tapi kak Galen tadi kena pukul sama temannya om Davin. Om, bantu aku bawa kak Galen ke rumah sakit ya?" ucapnya.


"Hah? Ya ampun Galen, kamu harus segera dibawa ke rumah sakit! Pasti om akan bantu kamu, ayo kita sama-sama ke mobil sekarang!" ucap Libra.


"Gausah om, aku gapapa. Kita lebih baik pulang aja, aku takut Tiara khawatir. Jadi, sebaiknya kita tidak usah ke rumah sakit," ucap Galen menolak.


"Galen, luka kamu itu harus diperiksa sama dokter. Lagian di depan juga ambulance sudah datang, kamu ikut aja sekalian ya?" ucap Libra.


"Kok bisa udah ada ambulance, om? Emangnya siapa lagi yang luka?" tanya Ciara penasaran.


"Eee..." Libra menunduk bingung, sedangkan Ciara terus mencecarnya dengan memberikan tatapan yang menanti sebuah jawaban.

__ADS_1




Singkat cerita, Terry akhirnya berhasil sadarkan diri setelah semalaman ia pingsan akibat terkena pukulan dari para pasukan Davin. Pria itu membuka matanya dan langsung terkejut saat melihat ke sekitarnya, ia sadar kalau saat ini ia berada di rumah sakit dan entah siapa yang membawanya kesana.


Pria itu langsung berusaha untuk bangkit, akan tetapi tubuhnya serasa sakit sekali dan sulit baginya beranjak dari ranjang tersebut. Akhirnya Terry hanya bisa pasrah merebahkan tubuhnya disana, meski ia sangat penasaran siapa yang sudah menolongnya dan membawanya ke rumah sakit itu.


"Akh, kenapa saya bisa disini ya? Siapa coba yang bawa saya kesini? Lalu, gimana keadaan pak Galen sekarang?" gumam Terry kebingungan.


Ceklek


Tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka, sontak Terry menatap ke arah pintu dan agak terkejut ketika melihat seorang gadis cantik memasuki kamarnya sambil tersenyum. Ia sadar betul, gadis itu adalah Ciara yang semalam ia selamatkan dari rumah si penculik. Namun, ia bingung apakah mungkin Ciara lah yang sudah menolongnya dan membawanya ke rumah sakit saat ini.


"Eh, pak Terry udah bangun? Good morning ya pak, ini saya bawain sarapan buat pak Terry!" ucap Ciara dengan lembut sembari menghampiri pria itu dan duduk di dekatnya.


"Ciara, apa kamu yang bawa saya kesini?" tanya Terry tampak penasaran.


Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya pak, semalam saya sama om saya yang bawa kamu kesini. Sekalian juga kita antar kak Galen yang terluka," jawabnya.


"Hah? Pak Galen luka? Terus gimana kondisi dia sekarang, Ciara?" tanya Terry terkejut.


"Eee kamu gak perlu khawatir, kakak udah diperiksa sama dokter kok dan siang nanti juga bisa pulang. Sekarang lebih baik kamu fokus sama kesembuhan kamu sendiri, karena kata dokter luka kamu itu cukup parah loh," ucap Ciara.


"Ahaha, saya baik-baik aja kok Ciara. Yang kayak gini mah udah biasa bagi saya, bahkan harusnya kamu gak perlu bawa saya kesini," ucap Terry.


"Udah deh pak, jangan bicara kayak gitu terus! Saya tahu kamu kuat, tapi kamu juga manusia yang bisa terluka. Omong-omong saya mau bilang makasih ya karena kamu semalam udah bantu kakak saya?" ucap Ciara.


Terry mengangguk sambil tersenyum, "Sama-sama, terimakasih juga kamu sudah menolong saya dan membawa saya ke rumah sakit ini. Saya senang kamu baik-baik aja Ciara," ucapnya pelan.


"Iya pak, saya juga." Ciara ikut tersenyum dan menyiapkan makanan untuk pria itu disana.


Tanpa disadari oleh mereka, Libra tampak mengintip dari balik pintu dan menatap ke arah mereka dengan wajah sendu. Setelahnya, lelaki itu kembali menutup pintu secara perlahan dan menghela nafas di depan pintu. Entah mengapa Libra seperti merasa sedih saat melihat kedekatan Ciara dengan Terry saat ini.


"Huft, saya ini kenapa ya? Apa salahnya coba kalau Ciara bantu gurunya? Haish, lagian saya ini kan cuma pamannya dia, bukan pacar apalagi suami!" gumam Libra coba menenangkan diri.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...•...


...•...


...MISI MISI, ADA PENGUMUMAN DULU NIH.......



Mampir juga yuk ke karya baru aku, judulnya 'Menikah Karena Skandal' sesuai yang ada di foto. Masih sepi nih, bantu ramaikan ya guys! Makasih banyak buat yang mau mampir, love you semuanya!

__ADS_1


♥️♥️♥️


__ADS_2