Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 90. Kesalahan Libra


__ADS_3

Davin mengangguk senang dan tentu saja langsung mengambil ponselnya, tanpa berlama-lama lagi ia bergegas membuka galeri di hpnya itu dan menyetel video yang sebelumnya telah diberikan oleh Bella untuknya. Davin pun memberikan ponsel itu kepada Ciara, memperlihatkan bagaimana kelakuan Libra yang terekam disana.


"See? Kamu lihat kan seperti apa kelakuan pacar kamu itu, orang yang kamu cintai? Sebejat-bejatnya saya, gak pernah tuh saya tidur berdua dengan wanita lain disaat saya sudah memiliki seorang kekasih!" ucap Davin memanas-manasi.


Ciara benar-benar syok melihatnya, bahkan ia sampai menutup mulut dengan tangan karena tak percaya pada video tersebut. Bagaimana mungkin, rupanya Libra semalaman memang bersama Bella dan itulah alasan mengapa Libra tidak pulang ke apartemennya. Ciara pun tak dapat menahan sedihnya, air mata tiba-tiba muncul dan mengalir begitu saja setelah melihat video tersebut.


"Ini gak mungkin, om dapat darimana video ini?" tanya Ciara.


"Itu gak penting Ciara, intinya apa isi di video itu. Kamu sudah tahu kan sekarang, kalau Libra tidak sebaik yang kamu kira loh," ucap Davin.


Ciara menggeleng, "Enggak om, ini pasti gak benar. Om mau coba-coba hasut aku kan?" ucapnya.


"Untuk apa Ciara? Saya beritahu yang sejujurnya loh, kalau kamu gak percaya silahkan tanya langsung ke Libra soal video ini dan kemana dia semalam! Saya yakin, dia pasti tidak akan bisa menjawab dengan jujur!" ucap Davin.


"Aku gak percaya sama om Davin, aku benci om!" sentak Ciara.


Akhirnya gadis itu memilih pergi dari sana meninggalkan pamannya sembari menangis, Davin pun tersenyum puas melihatnya dan ia yakin Ciara pasti akan pergi menemui Libra kali ini. Tentunya ini semua adalah sesuatu yang diharapkan oleh Davin sedari dulu, sebab ia tak rela jika Ciara direbut oleh lelaki lain dan ia tidak terima itu.


"Om Davin!!" tanpa diduga, tiba-tiba saja Galen muncul dan menghampiri pamannya itu dengan penuh emosi.


"Hah Galen? Bagaimana bisa kamu ada disini?" tanya Davin terheran-heran.


"Tidak usah banyak bertanya om, apa yang tadi om lakuin ke Ciara sampai dia menangis begitu? Katakan om!" sentak Galen.


"Hahaha..."


Bukannya menjawab, Davin justru tertawa keras dan membuat Galen semakin emosi. Akhirnya Galen tidak dapat lagi menahan dirinya, ia mendekat lalu memberikan pukulan ke arah Davin sebagai balas dendam atas apa yang pria itu lakukan pada adiknya. Sebagai seorang kakak, Galen tak terima jika ada satu orang pun yang menyakiti sang adik.


Karena Davin juga tidak terima dipukul begitu saja oleh Galen, akibatnya pria itu pun membalas pukulan ponakannya dan terjadilah perkelahian hebat disana. Para pengunjung cafe sampai dibuat kaget oleh perkelahian mereka, lalu semua orang berdiri dan mencoba memisahkan Davin serta Galen agar tidak lagi berkelahi di dalam area cafe.


"Hey hey, sudah sudah! Apa-apaan kalian ini? Kalau mau berantem di ring sana, jangan disini! Ini tuh tempat makan, bukan tempat buat bertengkar!" seru seorang pegawai cafe.


Galen pun tidak lagi meneruskan pukulannya, ia memilih mengalah dan pergi keluar karena tak mau berurusan dengan pihak cafe. Namun, sebelum itu ia menyempatkan diri untuk memberi peringatan pada Davin kalau masalah mereka belum selesai dan Galen akan membalas semua perbuatan yang dilakukan Davin kepada Ciara nantinya.




Di luar, Galen yang emosi justru tak sengaja bertemu dengan Ciara serta Arka. Ya tadinya mereka memang berniat mencari tahu apa yang terjadi di dalam cafe, tetapi mereka malah lebih dulu bertemu dengan Galen disana. Maka dari itu, Ciara pun berhenti sejenak untuk bertanya pada kakaknya mengapa bisa sampai ada keributan di cafe.


Ya sejujurnya Ciara sudah menaruh curiga pada pamannya sedari tadi, ia takut jika yang berkelahi di cafe sana adalah pamannya. Dan benar saja apa yang ia duga, karena ternyata pamannya itu memang berkelahi dengan kakaknya. Tentu Ciara tak percaya, sebab sebelumnya ia sudah memastikan jika Galen telah pergi dan tidak ada lagi di area cafe.


"Kakak kenapa bisa sampai berantem sama om Davin? Terus bukannya kakak udah pulang ya, kok kakak masih disini?" tanya Ciara penasaran.


Galen terlihat kebingungan dan menundukkan wajahnya, "Umm, kakak tuh sebenarnya gak beneran pulang Ciara. Tadi kakak berhenti agak jauh dari sini, terus kakak putusin buat pantau kamu. Karena jujur, kakak khawatir sama kamu!" jelasnya.


"Oh gitu, pantas aja kakak bisa ketemu om Davin. Tapi, kenapa kakak malah berantem sama dia kak?" ucap Ciara masih penasaran.


"Ya karena kakak gak terima Ciara, dia udah bikin kamu nangis. Tadi kakak lihat sendiri kok pas kamu keluar dari cafe, kamu itu nangis setelah bicara sama om Davin," ucap Galen tegas.

__ADS_1


"Jadi, kakak itu udah merhatiin aku daritadi?" tanya Ciara tampak heran.


Galen menganggukkan kepalanya, "Iya Ciara, itu semua kakak lakuin karena kakak khawatir sama kamu. Terbukti kan, kamu bukan ketemu sama teman kamu tapi sama om Davin," ucapnya.


"I-i-iya kak, aku minta maaf. Soalnya om Davin bilang mau ada sesuatu penting yang pengen dia sampaikan ke aku, terus dia juga minta aku rahasiakan ini dari siapapun," ucap Ciara.


Pria itu menggeleng perlahan dan melangkah mendekati adiknya, ia menaruh dua tangannya di pundak sang adik seraya menatapnya. Senyum merekah di pipinya ketika Ciara turut mendongak ke arahnya, Galen pun mengusap sisa air mata yang masih menempel di wajah gadis itu kemudian memeluknya erat sembari mengusap punggungnya.


"Kamu gak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu. Sebaiknya sekarang kamu cerita ke kakak, apa yang udah om Davin bilang ke kamu sampai kamu bisa nangis kayak gini!" ucap Galen.


"A-aku gak bisa cerita sekarang, kak. Aku gak mau kakak emosi lagi terus malah samperin om Davin nanti," ucap Ciara menolak bercerita.


Galen melepas pelukannya dan beralih menangkup wajah adiknya itu, "Kakak serius sayang, kamu cerita aja semuanya biar kakak bisa bantu kamu! Ayo cepat bilang, gausah ada yang disembunyiin dari kakak!" ucapnya memaksa.


"Iya Ciara, udah sih lu cerita aja sama abang lu ini!" sahut Arka.


Ciara menatap wajah kakaknya dengan bingung, haruskah ia menceritakan semua yang dikatakan om Davin tadi kepada Galen saat ini? Jujur Ciara khawatir kakaknya itu akan mengamuk nanti, terlebih jika dia tahu kalau Libra terbukti telah tidur berdua dengan wanita lain. Pastinya Galen sebagai kakak akan sangat kecewa, bisa saja pria itu nantinya menghampiri Libra dan memarahinya.


"Tunggu Arka, apa kamu tahu kenapa Ciara nangis begini tadi?" tanya Galen pada Arka dengan wajah penasaran.


"Hah? Eee gu-gue..."


"Jangan tanya ke Arka, kak! Okay, aku bakal cerita semuanya ke kakak sekarang. Tapi gak disini, aku minta kakak ikut aku ke suatu tempat yang pas!" sela Ciara.


"Yasudah, kakak ngikut aja sama kamu," ucap Galen.




Libra datang ke rumah Nadira dengan harapan bisa bertemu dengan Ciara, ya pria itu sangat ingin bicara berdua dengan gadisnya tersebut dan menjelaskan semua yang terjadi malam itu diantara ia dengan Bella. Meski Ciara belum tahu semuanya, namun sebagai lelaki sejati Libra ingin mengakui kesalahannya itu dan berharap Ciara akan memaafkannya lalu memberi kesempatan padanya.


Begitu ia bertemu dengan Nadira, tiba-tiba saja ia merasa gugup dan kebingungan sendiri. Nadira pun terlihat heran melihat gelagat adiknya itu, padahal tak biasanya Libra bertingkah seperti itu. Untungnya Libra masih dapat menguatkan diri, ia memang tidak boleh terus bersikap aneh di hadapan Nadira, karena itu hanya akan membuat dirinya dalam masalah jika sampai Nadira mengetahui semua tentangnya.


"Ada apa Libra, kenapa kamu mendadak gugup begitu? Kamu kesini cari Ciara kan?" tanya Nadira menegur adiknya.


"Eee i-i-iya mbak, aku mau ketemu sama Ciara. Dia ada di dalam gak ya?" gugup Libra.


"Sayang banget Ciara lagi pergi sama kakaknya, mereka mau cek kampus tempat Ciara kuliah nanti," ucap Nadira sambil tersenyum.


"Oalah, yah kalo gitu aku gak bisa ketemu Ciara dong mbak," ucap Libra kecewa.


"Ah tenang aja, paling sebentar lagi mereka juga balik. Kamu tunggu aja di dalam yuk, biar nanti kamu bisa langsung ketemu sama Ciara!" ucap Nadira.


"I-i-iya mbak..."


Disaat Libra hendak melangkah masuk, tanpa diduga sebuah motor datang dan berhenti tepat di halaman rumah Nadira sambil membunyikan klakson yang mengagetkan mereka. Sontak mereka spontan menoleh ke arah pemotor itu, lalu Nadira tersenyum lebar ketika menyadari Arka lah yang datang ke rumahnya tersebut.


"Halo tante!" Arka langsung menghampiri mereka dan menyapa Nadira sambil mencium tangannya dengan lembut.

__ADS_1


"Ya Arka, bagus deh kamu kesini lagi. Kebetulan tante juga udah siapin makanan yang enak loh, kita makan sama-sama aja yuk! Sekalian kamu juga ikut makan ya Libra, biar tambah rame!" ucap Nadira.


"Iya mbak, aku ngikut aja sama mbak," ucap Libra dengan gugup.


Arka pun beralih menatap Libra, seketika ia teringat pada perkataan Ciara saat di cafe tadi mengenai pacarnya yang tidur dengan wanita lain. Ya Arka kali ini terlihat begitu emosi, tangannya terkepal tak terima jika Ciara yang merupakan sepupunya dikhianati oleh lelaki. Apalagi yang ia tahu, Ciara sangat cinta dan sayang pada kekasihnya itu.


"Hai om! Kok kesini sendirian aja sih, Ciara nya mana ya om?" ucap Arka disertai senyum seringai.


Libra menggeleng perlahan, "Saya juga gak tahu, kan saya kesini niatnya mau ketemu Ciara. Tapi, kata mbak Dira sekarang Ciara lagi pergi sama abangnya," ucapnya santai.


"Oh iya sih benar, tadi gue juga ketemu sama dia om di jalan. Gue lihat dia lagi nangis di dekat cafe sendirian," ucap Arka.


Deg


Baik Libra maupun Nadira sama-sama terkejut, mereka kompak menatap ke arah Arka dengan tatapan tak percaya jika Arka bertemu Ciara yang sedang menangis. Nadira juga terlihat cemas pada putrinya itu, terlebih jika semua yang Arka katakan benar. Nadira pun bergegas mendekati Arka, lalu menanyakan mengenai kondisi putrinya.


"Kamu bilang apa Arka? Kamu ketemu sama Ciara di cafe lagi nangis sendirian? Kok bisa sih, emangnya Galen kemana?" tanya Nadira sangat cemas.


"Betul tante, aku ketemu sama Ciara yang lagi nangis sendirian. Dan begitu aku tanya ke dia, ternyata dia itu nangis karena—"


Tin Tin Tin...


Ucapan Arka terhenti lantaran sebuah klakson mobil terdengar dan membuat mereka semua terkejut, kali ini Arka pun gagal untuk bisa memberitahu Nadira mengenai kebusukan Libra. Namun, Arka bertekad kalau dirinya tidak akan tinggal diam mengingat semua yang dilakukan Libra terhadap Ciara adalah kejahatan yang telah menyakiti gadis itu.




Keesokan harinya, Ciara memutuskan pergi bersama supirnya untuk menyelidiki semua kebenaran mengenai kejadian antara Libra dan Bella. Jujur Ciara masih tak percaya jika itu benar terjadi, ia berharap kalau semuanya hanya akal-akalan Davin saja. Ciara pun sangat yakin pada Libra, tetapi apa yang ada di video itu membuatnya sedikit ragu.


Sebenarnya Galen serta Gavin tadi sudah memaksa ingin mengantar Ciara, namun gadis itu menolak dengan alasan ia ingin menenangkan diri dan pergi sendiri tanpa ikut campur siapapun. Ciara juga tidak mau membebani orang lain dalam masalahnya sendiri, Ciara ingin semua ini ia selesaikan sendiri supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


"Eee non, ini kita mau kemana ya? Daritadi saya bingung non pengen diantar kemana, makanya saya cuma bisa muter-muter di sekitar sini," ujar supirnya.


Ciara terdiam saja saat ini, sebab dirinya pun juga bingung harus pergi kemana. Ciara tak tahu dimana Davin berada, itulah mengapa ia bingung harus mengatakan apa pada sang supir. Namun, sesaat kemudian tanpa disengaja Ciara malah melihat keberadaan pamannya itu di pinggir jalan yang tengah menelpon seseorang sambil minum.


"Loh, itu kan om Davin." Ciara bergumam di dalam hatinya begitu melihat keberadaan sang paman.


Lalu, Ciara pun meminta pada supirnya untuk berhenti lantaran ia hendak menghampiri Davin di luar sana. Ya setelah itu, langsung saja tanpa banyak berpikir Ciara pun turun dari mobilnya untuk memastikan lebih lanjut apakah memang yang tadi ia lihat adalah benar Davin atau bukan. Dan ternyata benar dugaannya, pria yang ia lihat di dekat warung itu memang Davin alias pamannya.


"Iya benar itu om Davin, aku harus pantau dia dan terus awasi dia supaya aku bisa cari tahu kebenaran video om Libra!" gumam Ciara.


Dikala ia tengah sibuk mengawasi pergerakan pamannya, tak lama kemudian satu mobil lagi muncul dan berhenti tepat di sebelah Davin berada. Seorang perempuan terlihat turun dari mobil tersebut lalu menghampiri Davin, ya Ciara terbelalak jelas ketika menyadari perempuan itu merupakan Bella alias mantan dari kekasihnya saat ini.


"Kak Bella, dia mau apa ketemu sama om Davin? Atau jangan-jangan mereka emang benar kerjasama buat hancurin hubungan aku dan om Libra?" Ciara terus menerka-nerka di dalam pikirannya, ia masih tak menyangka jika semua itu benar terjadi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2