
"Mas, bangun mas! Mas Libra bangun!"
Libra yang tengah asyik tertidur merasa terusik akibat suara dan gerakan yang dilakukan istrinya itu, ia pun mengeluh seraya membuka matanya dan menoleh ke arah samping. Tampak sang istri yang sudah terduduk di sebelahnya saat ini, ia pun terlihat kebingungan seolah tak mengerti apa maksud Ciara membangunkannya tengah malam begini.
"Hm, kamu ngapain sih sayang? Ini masih malam loh, aku ngantuk mau tidur. Kamu pengen main lagi emang?" tanya Libra dengan lemas.
"Ish, kamu mah yang dipikirin main mulu! Ini aku tiba-tiba lapar tahu, masakin dong!" rengek Ciara sembari mencubit lengan suaminya.
"Hah??" Libra tersentak, pria itu spontan bangkit dari tidurnya dan menatap heran ke arah istrinya.
Bagaimana tidak, jam baru menunjukkan pukul satu tengah malam dan Ciara sudah merengek minta dibuatkan sesuatu untuk dimakan. Tentu saja Libra tidak habis pikir dibuatnya, padahal tak biasanya wanita itu melakukan ini. Libra bahkan sampai menepuk jidat, seolah kaget dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Ciara tadi.
"Aduh sayang! Malam-malam begini kamu lapar dan minta aku masakin? Mau masak apa coba? Bahan-bahan di dapur aja udah pada kosong, kamu mah kadang ngaco nih!" heran Libra.
"Ih aku serius mas, ini kemauan anak kita juga! Dia yang ngerengek minta makan daritadi!" ucap Ciara.
Libra pun tak memiliki pilihan lain saat ini, pria itu harus menuruti kemauan istrinya jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Namun, ia sendiri tak tahu harus memasak makanan apa di waktu malam seperti sekarang ini.
Ciara masih terus menatap suaminya dengan wajah merengut, memang semenjak hamil wanita itu selalu saja mudah lapar dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ciara juga tampak mengusap perutnya yang mulai sedikit membesar, berbicara seolah-olah kepada calon bayinya di dalam sana dan membuat Libra makin panik.
"Dek, tuh lihat papa kamu deh! Masa dia gak mau turutin kemauan kamu, emang ya papa kamu itu suka pas buatnya aja, giliran kamu udah mau jadi eh malah diginiin!" ucap Ciara pada calon bayinya.
Libra terbelalak kaget mendengar perkataan Ciara barusan, pria itu langsung mendekati istrinya dan merangkul sambil tersenyum. Libra mencoba merayu istrinya itu agar tidak ngambek seperti tadi, karena ia tidak mau jika sampai Ciara berbuat hal-hal yang di luar nalar nantinya.
"Hehehe, sayang jangan ngambek ya! Aku bakal masakin apapun yang kamu mau kok, tinggal bilang aja sama chef Libra yang ganteng ini!" ujar Libra.
Wajah Ciara masih terlihat cemberut karena kesal, meski sudah berulang kali Libra mencubitnya dan mencoba menggodanya agar tidak terus emosi seperti itu. Akhirnya Libra mendekap semakin erat tubuh istrinya itu, memberi kecupan hangat di setiap inci wajah Ciara sampai membuat sang empu merasa risih.
"Kamu ngapain sih mas? Iya iya udah, aku gak ngambek lagi kok. Sana kamu cepetan masakin buat aku sama calon anak kita ya, aku tuh udah gak tahan ini lapar banget!" ucap Ciara merengek.
"Iya sayangku cintaku, kamu mau dimasakin apa emangnya?" tanya Libra dengan lembut.
"Umm, mie instan aja deh mas biar cepat," jawab Ciara sambil tersenyum.
"Heh sembarangan aja kamu!" Libra spontan menepuk bibir istrinya bermaksud menegur wanita itu karena permintaannya tadi.
"Ih mas, kamu kok tega sih pukul aku kayak gitu? Sakit tahu!" rengek Ciara.
"Ya abis kamu malah minta mie, gak boleh ya kamu kebanyakan makan mie, apalagi malam-malam begini. Udah, biar aku bikinin makanan sehat aja buat kamu!" ucap Libra kesal
Ciara kembali mengerucutkan bibirnya, ia kecewa karena suaminya tidak mau mengizinkan ia memakan mie instan malam ini. Ciara pun hanya bisa menurut dan menganggukkan kepalanya, walau sebenarnya ia sangat ingin menikmati hangatnya mie kuah yang amat lezat di mulut.
Libra bangkit dari tempat duduknya, mengecup bibir Ciara sekilas sebelum pergi ke dapur untuk membuat makanan. Ciara yang bosan memilih ikut bersama suaminya itu, karena Ciara juga tak berani ditinggal sendirian di kamar saat ini. Lagipun, siapa tahu Ciara bisa membantu Libra nantinya jikalau diperlukan.
•
•
__ADS_1
Keesokan harinya, Ciara menghampiri Libra yang tengah berpakaian di depan kaca. Wanita itu tampak tersenyum lebar dan langsung melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang suami, hal itu sontak membuat Libra terkejut sekaligus tak menyangka jika Ciara akan melakukan hal seperti itu yakni memeluknya secara tiba-tiba dari belakang.
Libra pun menatap wajah istrinya melalui pantulan kaca yang ada di depannya, sedangkan Ciara sendiri tampak membenamkan wajahnya pada punggung sang suami yang menurutnya sangat nikmat. Ciara juga menghirup aroma tubuh suaminya itu, sambil mengusap lembut dada bidangnya yang menggoda bagi siapapun perempuan yang melihatnya.
"Sayang, ada apa sih?" tanya Libra pada istrinya itu. Ia balikkan tubuhnya, lalu berganti mendekap Ciara dengan erat.
Ciara hanya tersenyum diperlakukan seperti itu, entah mengapa pagi ini sepertinya Ciara begitu manja dan ingin terus berada di dekat suaminya yang tampan itu. Libra memaklumi, bagaimanapun Ciara sedang mengandung anaknya saat ini. Meski tindakan Ciara cukup mengganggu dirinya, tetapi Libra juga senang dengan kelakuan Ciara itu.
"Kamu kenapa manja banget sih pagi-pagi gini? Mau diapain lagi, hm?" Libra kembali bertanya, tetapi kali ini sambil mencubit gemas dua pipi istrinya.
"Umm, gak tahu nih mas. Tiba-tiba aja si bayi kepengen peluk ayahnya, yaudah aku samperin kamu aja disini. Abis kamu wangi banget sih mas, bikin betah deh!" ucap Ciara lembut.
"Oalah, si dedek ya ulahnya yang bikin kamu jadi kayak gini. Untung aku udah selesai mandi, kalau belum kan repot sayang," ujar Libra.
"Emang kenapa kalau belum? Kamu takut aku masuk ke kamar mandi, terus langsung peluk kamu gitu? Ih dasar mesum, gak mungkin juga lah aku kayak gitu!" cibir Ciara.
"Haha, kamu emang paling tahu deh. Udah yuk kita ke depan sekarang!" ajak Libra.
Ciara manggut-manggut kecil, ia menurut saja pada ajakan suaminya dan tidak mau lepas dari tubuh pria itu saat ini. Sepertinya pengaruh bayi di dalam kandungannya sekarang sangat besar, sehingga Ciara tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti saja apa keinginan calon anaknya itu. Lagipun, memeluk Libra tidaklah buruk.
Saat di luar, mereka dikejutkan dengan suara bel yang berbunyi dan membuat sepasang suami-istri itu kompak menghentikan langkahnya. Libra menghela nafas sejenak, ia menatap istrinya dan meminta wanita itu melepaskan pelukannya. Namun, Ciara malah menggeleng dan semakin erat memeluk tubuhnya karena belum ingin melepasnya.
Libra pun tak memiliki pilihan lain, terpaksa ia berjalan dengan kondisi Ciara memeluknya dari samping. Mereka sama-sama melihat ke luar untuk mencari tahu siapa yang datang, pintu pun dibuka olehnya dan tampak sosok wanita dewasa berdiri di depan mereka sambil tersenyum. Ciara terkejut, begitu juga Libra yang belum pernah bertemu dengan sosok wanita itu.
"Selamat pagi tuan, nyonya!" sapa si wanita dengan ramah dan sopan santun.
"Eee i-i-iya, anda siapa ya? Ada perlu apa datang ke rumah saya pagi-pagi begini?" tanya Libra dengan gugup plus bingung.
"Ohh, jadi kamu anak buahnya mbak Dewi? Ya ya saya ingat kok," ucap Libra paham.
Berbeda dengan Libra yang langsung paham, Ciara masih terlihat kebingungan dan menatap suaminya itu sambil mengernyitkan dahi. Ciara tak mengerti apa yang terjadi, ia juga heran siapa wanita bernama Elvi itu dan mengapa bisa dia datang ke rumahnya pagi ini. Ya Libra memang belum menceritakan pada Ciara, mengenai dirinya yang tengah mencari pekerja baru untuk rumah mereka.
"Mas, dia siapa? Kamu kok bisa bawa perempuan datang ke rumah kita sih?" tanya Ciara pada suaminya dengan tatapan curiga.
"Ah iya sayang, aku sebetulnya kemarin lagi cari pekerja buat di rumah kita ini. Ya aku pikir kan kamu lagi hamil, pasti kerepotan nanti kalau urus semua sendirian. Makanya aku kontak mbak Dewi buat minta salah satu pekerjanya," jelas Libra.
"Ish, kenapa kamu gak bilang aku dulu sih mas? Jadinya kan aku gak kaget begini," protes Ciara.
"Ahaha, aku juga kaget loh sayang. Aku kira gak bakal datang secepat ini, padahal baru kemarin siang loh aku kontak mbak Dewi," ucap Libra.
"Iya tuan, saya memang sengaja datang lebih awal supaya gak mengecewakan," sela Elvi.
Libra dan Ciara kompak tersenyum, lalu pria itu mengenalkan dirinya kepada Elvi serta mengulurkan tangan ke arahnya. Tak lupa Libra turut meminta Ciara untuk berkenalan dengan Elvi disana, tentu saja Ciara menurut karena sekarang tidak ada yang perlu dia curigai lagi. Setelah sama-sama saling mengenal, Libra mempersilahkan Elvi untuk masuk dan mulai bekerja disana.
•
•
__ADS_1
Tiara kini tengah menyuapi putranya di halaman samping rumah sembari melihat pemandangan indah yang dipenuhi bunga-bunga itu, Tiara memang coba untuk bersikap tenang dan ceria di hadapan Askha saat ini agar tak membuat pria kecil itu ikut merasakan kesedihan yang ia alami. Ya biar bagaimanapun, Tiara tetap belum bisa melupakan Galen suaminya yang dahulu amat ia cintai itu.
Tak lama kemudian, Nadira muncul disana dan memandangi keduanya dari jauh sambil tersenyum bahagia. Nadira dapat merasakan apa yang saat ini dirasakan Tiara, karena dahulu pun ia harus hidup tanpa suami setelah Albert meninggal. Hanya saja, nasib Tiara mungkin lebih baik karena masih bisa bertemu Galen walau diantara mereka tidak ada hubungan apapun lagi.
"Hore abis, pinter ya anak mama ini! Makannya bisa habis secepat ini, mama suka deh!" ucap Tiara.
Nadira pun menghampiri menantu serta cucunya itu disana dengan senyuman yang terus merekah di wajahnya, Nadira berdehem pelan lalu menyapa Askha yang baru selesai makan itu. Sontak Tiara terkejut dengan kehadiran Nadira disana, tapi ia senang karena sekarang ada Nadira yang setidaknya bisa membuat Tiara melupakan Galen sejenak.
"Halo cucu oma yang ganteng! Wah rajin ya jam segini udah mandi terus makan, pinter emang cucu oma ini!" ucap Nadira dengan gemas.
"Eh ada oma, iya nih oma soalnya kan nanti Askha mau aku bawa pergi ma," ucap Tiara tersenyum.
"Loh, kamu emangnya mau kemana Tiara? Kamu gak berpikir buat pindah dari rumah ini kan? Jangan begitu dong Tiara, udah kamu sama Askha tinggal disini aja ya!" kaget Nadira.
"Ahaha, enggak kok ma. Aku cuma mau cari kerja aja di sekitar sini, kan aku juga butuh uang buat biayai Askha sama aku sendiri," ucap Tiara.
"Oh ya ampun, kamu gak perlu mikirin soal itu sayang! Mama kan bisa biayai kalian berdua, udah ya kamu gausah pusing-pusing cari kerja di luar sana! Mending kamu rawat Askha yang benar aja, jangan tinggalin dia!" ucap Nadira.
"Gak bisa ma, aku gak enak sama mama. Askha ini kan anak aku, masa aku ngerepotin mama sih?" ucap Tiara.
"Sejak kapan kamu ngerepotin mama? Lagian Askha kan cucu mama, jadi ya wajar kalau mama bantu kasih biaya buat dia. Kalau kamu emang pengen kerja, kamu bisa kok kerja di kantor mama!" ucap Nadira memberi usul.
Tiara terkejut mendengarnya, ia bingung harus senang atau sedih sekarang ini saat Nadira menawarkan padanya untuk bekerja di kantor wanita itu nanti. Tiara memang ingin bekerja, tetapi jika harus berada di kantor Nadira maka itu sama saja ia masih merepotkan wanita itu. Tiara tidak mau dianggap memanfaatkan status Nadira sebagai ibu mertuanya, karena pasti para karyawan lain di kantor itu tidak akan menyukainya.
"Kamu mikirin apa lagi sih? Udah kamu kerja di kantor mama aja kalau emang pengen, tapi mama sih lebih suka kamu di rumah aja!" ucap Nadira.
"Umm, nanti aku pikir-pikir lagi deh ma. Aku mau usaha cari kerja sendiri dulu, karena aku pengen hidup mandiri. Lagian sekarang aku kan juga harus bantu Nindi adik aku," ucap Tiara.
"Emang Nindi kenapa lagi? Dia ada masalah sama Leon?" tanya Nadira penasaran.
Tiara terdiam menunduk, sulit rasanya bagi Tiara untuk menceritakan permasalahan yang menimpa rumah tangga Nindi kepada Nadira sekarang. Tiara khawatir Nadira akan emosi nantinya, karena dalam hal ini Nindi memang sangat bersalah. Tiara juga tidak mau dianggap menyebarkan aib adiknya sendiri, karena sampai kapanpun Tiara sangat menyayangi Nindi.
"Sayang!" tiba-tiba saja, Gavin ikut muncul disana menghampiri keduanya.
Nadira pun menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum, seketika ia melupakan pertanyaannya tadi mengenai Nindi. Ya Tiara dapat bernafas lega kali ini, karena setidaknya dia dapat menyelamatkan diri dari menceritakan aib adiknya sendiri. Tiara tidak mau jika sampai Nindi dihujat, apalagi oleh Nadira maupun keluarganya yang lain.
"Iya mas, kenapa? Kamu udah mau berangkat kerja?" tanya Nadira dengan lembut.
"Iya nih, tapi aku cari-cari dasi aku yang warna ungu kok gak ada ya sayang? Padahal aku udah ubek-ubek lemari kamar, gak ketemu juga. Bantu cari ya sayang!" ucap Gavin.
"Hadeh, kamu kebiasaan deh. Ganggu aja aku lagi main sama Askha!" cibir Nadira.
Gavin terkekeh saja, kemudian Nadira pun terpaksa pergi meninggalkan Askha dan juga Tiara demi mencari dasi milik suaminya itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...|||...
...AWAL BULAN KALEM DULU, GAK ADA KONFLIK BIAR REFRESHING BUAT YANG BACA😘...