Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 108. Tidak masuk akal


__ADS_3

Keesokan paginya, Galen terbangun lebih dulu dan menatap ke sampingnya. Ia tersenyum lebar saat melihat Jessica masih terlelap disana dalam kondisi polos tanpa sehelai benangpun, langsung saja Galen mendekat dan memeluk erat tubuh wanita itu yang semalaman habis ia gempur sampai pukul 3 pagi.


Tak ada rasa cukup baginya, pria itu terus saja meminta nambah meskipun Jessica telah lelah dan tidak bisa melanjutkannya lagi. Galen memang memiliki hasrat yang luar biasa, terlebih setelah ia menikah dengan Tiara. Entah karena apa, tetapi rasanya sekarang ia tak memiliki selera lagi pada istrinya itu sejak mengenal Jessica.


Kini Galen kembali menyentuh tubuh Jessica, menciumnya berkali-kali sampai membuat sang empu melenguh di dalam mimpinya. Ia singkap selimut itu dari tubuh Jessica, membuat matanya membulat lebar melihat keindahan tubuh si wanita yang selalu menggairahkan baginya. Tanpa basa-basi, Galen pun langsung bermain disana.


"Mmhhh mas, kamu apa-apaan sih?" Jessica yang merasa terganggu akhirnya sadar, lalu terkejut saat Galen tengah menyusu di tubuhnya seperti orang yang kehausan.


Jessica pun berusaha bangkit dan menghentikan gerakan Galen, tetapi ia gagal karena Galen sepertinya begitu ingin bermain disana. Jessica meminta Galen berhenti sejenak, karena ia masih merasa lelah akibat permainan semalam yang tiada hentinya. Namun, ya tetap saja Galen tak mau perduli dan terus memainkan benda kenyal itu.


"Galen, tunggu dulu ih! Kamu mesum banget sih masih pagi juga! Aku masih capek ini, aku mau istirahat dulu!" rengek Jessica.


"Sebentar sayang, aku haus nih mau susu kamu. Udah kamu tiduran aja disitu, aku gak akan minta jatah yang lain kok pagi ini! Aku kan juga tahu kamu masih capek sayang," ujar Galen.


"Ish, kamu stress ya? Punyaku belum ada susunya tahu, kandungan aku aja baru beberapa Minggu. Lepas deh mas, udahan ah!" mohon Jessica.


Bukan Galen namanya jika langsung menurut begitu saja, ia dan ayahnya sama-sama memiliki sikap keras kepala serta keinginan yang berlebih terhadap permainan panas. Galen bahkan mencengkram dua tangan Jessica, menahannya di atas kepala supaya wanita itu tidak berontak.


Braakkk


Tiba-tiba saja, pintu kamar itu terbuka paksa dari luar dan membuat keduanya terkejut. Bahkan Galen sampai melepaskan kulumannya, lalu menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Mata keduanya pun terbelalak lebar, saat melihat seorang lelaki berdiri disana.


"Ohh, jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku? Pantas saja kamu selalu gak ada waktu buat aku, ternyata kamu selingkuh sayang!" sentak si pria.


Galen menatap kebingungan pada pria itu, ia tak mengerti apa maksud ucapan pria itu tadi. Apalagi ia juga tidak mengenal siapa lelaki itu, yang dengan sembarangan masuk ke kamar mereka lalu mengucapkan hal yang tidak-tidak.


Galen kini bangkit mendekati pria itu, kondisinya saat ini memang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan Jessica tampak menutupi kembali tubuh polosnya, ia diam saja di ranjangnya ketika melihat dua pria itu sedang berhadapan.


"Maksud anda apa? Anda ini siapa?" tanya Galen kebingungan.


"Saya pacarnya Jessica!" jawab lelaki itu dengan lantang sembari menunjuk ke arah Jessica.


Deg


Betapa terkejutnya Galen, ia baru tahu ternyata Jessica memiliki seorang pacar dan selama ini wanita itu menyembunyikannya. Galen pun melirik ke arah Jessica, raut kekesalan terpampang di wajahnya karena ia telah dibohongi oleh wanita itu. Ia benar-benar bingung, kini posisinya terjepit dan ia tak tahu harus mengatakan apa.


"Kenapa anda diam? Benar kan yang tadi saya katakan, anda ini selingkuhan pacar saya? Dasar tidak tahu diuntung, saya gak nyangka pria sebesar anda masih bisa melakukan ini!" sentak si pria.


Galen menggeleng perlahan, "Diam! Saya dan Jessica tidak selingkuh, jaga kata-kata anda itu jika anda tidak tahu apa-apa!" ucapnya tegas.


"Hahaha, masih mau mengelak? Sudah tertangkap basah begini anda belum mau mengaku juga, sepertinya saya harus rekam kejadian ini dan sebar luaskan ke media sosial biar seluruh dunia tahu kelakuan busuk anda ini!" ancam si pria.


"Apa maksud anda? Jangan macam-macam, ini tidak seperti yang anda pikirkan!" ujar Galen.


Jessica yang sedari tadi diam, kini ikut bangkit dengan memegang selimut untuk menutupi tubuhnya itu. Jessica menatap tajam ke arah lelaki di sebelah Galen itu, mengedipkan matanya seolah memberi kode pada pria itu tanpa diketahui oleh Galen tentunya.


"Bagas, ka-kamu sabar dulu ya! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu, tolong kamu jangan bikin aku dan mas Galen malu!" rengek Jessica.


"Hah? Enak saja kamu bilang begitu, aku gak terima ya sama kelakuan kamu ini!" kesal Bagas.

__ADS_1


"Aku mohon Gas, aku dan mas Galen rela melakukan apapun yang kamu mau asalkan kamu jangan memperpanjang masalah ini!" ucap Jessica.


"Baiklah, kalau begitu aku minta diberikan 70 persen saham perusahaan anda, tuan Galen yang terhormat!" ucap Bagas tiba-tiba.


Deg


Sontak saja Galen terkejut mendengarnya, apa yang dikatakan Bagas tadi benar-benar gila dan tidak mungkin bisa dituruti olehnya. Galen pun spontan menolak permintaan Bagas dengan tegas, membuat Bagas serta Jessica kompak menoleh ke arah Galen seolah tak terima dengan penolakan yang diberikan Galen barusan.


"Jelas saya tidak mungkin memberikan itu pada anda, jangan coba-coba untuk memeras saya ya!" ucap Galen tegas.


Bagas menyeringai, "Yasudah, tapi saya pastikan istri anda akan mengetahui semua kelakuan busuk anda ini!" ucapnya mengancam.


Galen terdiam kali ini, ia memalingkan wajahnya dan tampak berpikir harus bersikap bagaimana. Ia tak mau Tiara mengetahui semua ini, tetapi ia juga tidak bisa memberikan apa yang diinginkan Bagas tadi karena itu sangat tidak masuk akal.




Nindi kembali ke rumahnya dengan tampang sedih, ia melihat Leon yang tengah bermain bersama Daiva di depan sana dan tampak berbahagia. Wanita itu terlihat ragu untuk melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua, sebab ia khawatir akan mengganggu momen antara ayah dan anak itu. Apalagi, saat ini Nindi ingin meminta sesuatu hal yang pasti akan membuat Leon emosi.


Saat ia sedang melamun, rupanya Leon lebih dulu melihatnya dan menyadari keberadaan istrinya itu. Sontak Leon menyapanya, meminta Nindi untuk mendekat dan bergabung bersama mereka. Nindi terkejut, lalu menatap Leon dan terlihat kebingungan. Namun, pada akhirnya Nindi memilih menurut dan mendekati suami serta anaknya itu.


"Hai Daiva cantik! Lagi asyik ya main sama papa? Bagus deh, mama senang lihatnya kalau kamu bisa ketawa-ketawa begini nak!" ucap Nindi mengelus lembut wajah putrinya.


Leon pun tersenyum dan menatap wajah istrinya kini, ia juga merasa heran saat melihat bawaan Nindi di tangannya. Karena penasaran, Leon akhirnya mendekat dan lalu coba meraih apa yang ada di tangan istrinya itu.


"Sayang, ini apa?" tanya Leon penuh penasaran.


"Bu-bukan apa-apa kok mas," ucap Nindi gugup.


Leon mengernyitkan dahinya, "Jangan bohong sayang! Aku tahu kamu lagi sembunyiin sesuatu dari aku, mending kamu kasih tahu deh itu ke aku! Apa yang kamu bawa, hm?" ujarnya memaksa.


"Ah mas, kita bicara itu nanti di dalam aja ya? Sekarang kamu lanjut main sama Daiva aja disini, aku mau masuk siapin makanan!" ucap Nindi.


"Gak sayang, aku pengen kamu tunjukin itu ke aku sekarang! Aku lihat sekilas itu tadi ada tanda pengadilan agama loh di berkas yang kamu bawa, aku kan jadi penasaran!" tegas Leon.


"Eee i-ini...." Nindi terlihat gugup, keringat bermunculan di tubuhnya karena ia tak mau Leon mengetahui apa yang ia bawa saat ini.


Namun, Leon tak kehabisan akal untuk bisa mencari tahu apa yang sedang disembunyikan istrinya itu. Leon pun menarik paksa dua tangan Nindi, lalu meraih berkas yang tadi dibawa oleh wanita itu dan melihatnya dari dekat. Betapa syoknya Leon, setelah mengetahui Nindi kembali membawa surat perceraian dari pengadilan agama.


"Ini apa Nindi? Kenapa kamu bawa surat ini lagi? Kamu masih mau minta aku buat ceraikan kamu, ya? Kamu mau kita cerai, iya?" tanya Leon emosi.


"Mas, dengerin aku dulu! Kita bicara di dalam aja ya biar tenang?" pinta Nindi.


"Gak Nindi, aku minta kamu jelasin ke aku sekarang juga! Maksudnya apa kamu bawa surat cerai ini pulang ke rumah, ha? Kamu gak kapok-kapok ya Nindi, masih aja kamu kayak gini!" kesal Leon.


"Mas, aku minta maaf. A-aku gak bermaksud bikin kamu marah kayak gini, kamu dengar dulu penjelasan aku mas!" rengek Nindi.


Leon menggeleng cepat, dengan kesal ia membanting berkas tersebut dan menginjaknya untuk merusak surat cerai itu sembari menunjukkan rasa kesalnya pada wanita itu. Sungguh Leon tak menyangka, ternyata Nindi masih saja ingin meminta cerai darinya.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, kini Leon berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Pria itu meninggalkan Nindi serta Daiva begitu saja disana, tampak Nindi terduduk di tanah dan menangis melihat kondisi berkas perceraiannya yang sudah hancur. Nindi menyesal, seharusnya ia tidak gegabah melakukan itu tadi disaat Leon sedang kesal.


Kejadian itu disaksikan oleh Rifka, ia melihat bagaimana Nindi dan Leon berselisih paham tadi sampai membuat pria itu emosi. Rifka pun mendekat ke arah Nindi, berusaha menanyakan apa yang terjadi diantara mereka dan berharap Nindi bisa tenang tanpa perlu menangis lagi.


"Nindi, kamu kenapa? Ini ada apa sih, kok Leon bisa sampai semarah itu tadi?" tanya Rifka penasaran.


Nindi mendongak menatap wajah Rifka dengan air mata yang membasahi pipinya, ia menyekanya berusaha menghilangkan kesedihan dari dirinya di hadapan Rifka. Nindi tak mau Rifka mengetahui semua itu, tetapi Rifka justru lebih dulu melihat berkas perceraian yang tergeletak di atas tanah.


"Hah? Ini surat cerai? Kamu mau minta cerai lagi dari Leon?" Rifka terkejut dibuatnya.


Nindi manggut-manggut perlahan, "Iya mbak, tadinya aku niat mau omongin ini secara baik-baik di dalam sama mas Leon. Tapi, dia malah keburu emosi lihatnya," jawabnya.


Rifka terdiam seraya menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka Nindi akan bertindak seberani itu sampai ingin diceraikan oleh Leon.




Ciara terbangun dari tidurnya, ia membuka mata dan terkejut saat menyadari bahwa dirinya sedang tidak berada di kamarnya. Ia pun menatap ke sekeliling berusaha mengenali tempat itu, namun ia masih belum bisa tahu dimana ia sekarang ini. Perlahan ia juga coba mengingat-ingat kejadian semalam, entah mengapa rasanya sulit sekali bagi Ciara untuk bisa mengetahui apa yang ia lakukan malam tadi.


Kini Ciara beranjak dari tempat tidurnya, jujur wanita itu sangat panik dan ketakutan karena berpikir ia sedang diculik oleh seseorang saat ini. Ciara pun melangkah mendekati pintu, membuka gagangnya dan melangkah keluar dari kamar itu untuk mencari tahu dimana ia sekarang. Ciara terus menyusuri rumah besar tersebut, ia benar-benar merasa asing dengan rumah yang sekarang ia tempati itu.


"Loh Ciara, kamu sudah bangun?" tiba-tiba, suara seorang lelaki terdengar menyebut namanya dari arah belakang.


Sontak Ciara menoleh, betapa terkejutnya ia melihat bahwa Seno lah yang tadi memanggilnya. Kini ia pun teringat bahwa kemarin memang ia pergi bersama pria itu saat ia sedang kesal dengan Libra, tapi ia masih bingung bagaimana mungkin ia bisa berada di rumah itu saat ini.


"Eh kak Seno, huh lega rasanya! Aku kira tadi aku diculik loh, ternyata aku emang sama kak Seno disini. Maaf banget ya kak, tadi aku hampir ngira kamu culik aku!" ucap Ciara gugup.


Leon tersenyum dibuatnya, "Haha, ya gak mungkin lah Ciara. Aku kan udah minta izin sama kamu semalam buat bawa kamu ke rumah aku, ya ini dia tempatnya. Kamu gak sadar, mungkin karena terlalu banyak minum semalam," ucapnya.


"Ohh, ya iya sih sekarang aku baru ingat. Sekali lagi aku minta maaf kak, aku jadi ngerepotin kamu gara-gara aku mabuk semalam!" ucap Ciara.


"Gapapa Ciara, aku ikhlas kok ngelakuin itu. Justru aku senang bisa bantu kamu, karena kamu itu kan perempuan yang aku cintai. Ya walau aku tahu kalau aku gak akan bisa miliki kamu," ucap Seno.


"Kak, udah dong jangan dibahas terus! Aku jadi gak enak tahu sekarang," ucap Ciara.


"Iya iya, yaudah sekarang kita makan dulu yuk! Kamu pasti lapar kan?" ajak Seno.


Ciara mengangguk setuju dan mengikuti kemauan pria itu, lalu mereka sama-sama melangkah menuju meja makan yang sudah disediakan. Ciara cukup kagum melihat seisi rumah Seno, semua yang ada disana benar-benar luar biasa dan mahal-mahal. Namun, Ciara heran mengapa Seno malah menyewa apartemen yang sama dengannya.


"Eee kak, ini apa gak kebanyakan makanannya? Aku gak bakal bisa habisin ini semua," ujar Ciara.


Seno tersenyum dibuatnya, "Iya gapapa, sengaja aku minta koki untuk masakin yang banyak dan beragam. Soalnya kan aku belum tahu kesukaan kamu, jadinya aku masak aja semuanya biar kamu bisa pilih sendiri," ucapnya.


"I-i-iya deh kak, makasih banyak ya! Kalo gitu kita bisa langsung makan sekarang?" ucap Ciara.


"Oh jelas, ayo ayo!" ucap Seno dengan cepat.


Ciara tersenyum lebar saat Seno menarik kursi disana dan mempersilahkan ia untuk duduk, Ciara menurut lalu terduduk disana bersama Seno dan mulai memakan semua makanan itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2