Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 147. Panas


__ADS_3

Libra masih kesulitan untuk bisa tertidur karena pikirannya yang kacau saat ini, ia kembali membuka matanya dan melirik ke arah Ciara yang sudah terlelap sembari memeluk guling. Libra pun bangkit secara perlahan, tentu ia tidak mau membuat tidur Ciara terganggu karena gerakannya. Apalagi, jika sampai Ciara terbangun maka pasti wanita itu akan banyak bicara dan bisa saja kesal padanya nanti.


Kini Libra beranjak dari tempat tidurnya, ia berdiri dan berjalan menuju pintu dengan berhati-hati. Sesekali Libra juga menoleh ke arah Ciara untuk memastikan wanita itu tidak terbangun, barulah setelahnya ia membuka pintu tersebut. Tanpa berpikir panjang, Libra pun bergegas keluar dari kamarnya meninggalkan Ciara seorang diri disana yang dalam kondisi tertidur pulas.


Libra tak tahu hendak kemana, tapi rasanya ia lebih baik keluar dari kamar dibanding harus terus berbaring di kasurnya tanpa bisa tertidur. Pria itu mulai melangkahkan kakinya kembali menuju ruang tamu, namun tanpa diduga ia tak sengaja bertemu dengan Elvi selaku pekerja di rumahnya yang memang ditugaskan untuk membantu pekerjaan Ciara agar lebih mudah.


"Eh Elvi, kamu kok belum tidur? Memangnya kerjaan kamu belum selesai?" tanya Libra keheranan.


Elvi yang terkejut tampak senyum-senyum sembari menundukkan wajahnya, ia merasa gugup setiap kali berhadapan dengan majikannya itu. Apalagi, wajah tampan Libra memang berhasil membuat siapapun terpikat dan terpesona padanya. Termasuk juga dengan Elvi, ya sejak pertama kali bekerja disana Elvi sudah mulai terpikat pada aura sang Libra.


"Gapapa tuan, saya cuma lagi beres-beres sedikit. Ini juga saya baru mau ke kamar tuan, makanya lewat sini. Tuan sendiri kenapa masih bangun, terus tuan mau kemana?" ucap Elvi gugup.


"Eee saya pengen duduk aja di teras cari angin, abisnya saya gak bisa tidur," ucap Libra.


"Ohh, sebaiknya tuan jangan keluar deh sekarang! Ini udah larut banget loh, bahaya anginnya nanti bikin dingin!" ucap Elvi memperingati.


"Ya terimakasih Elvi, saya cuma disitu aja kok," ucap Libra tersenyum tipis.


Setelahnya, Libra pun melangkah begitu saja melewati tubuh asisten rumah tangganya dan terduduk di sofa ruang tamu sambil bersandar. Demi bisa terus bersama sang majikan, kini Elvi mendekat lalu menawarkan minuman kepada Libra dengan sikap ramah serta sopannya.


"Maaf nih tuan, tapi apa tuan mau saya buatkan minuman? Misal kopi atau teh hangat gitu?" tanya Elvi pada pria itu.


Libra menoleh sambil tersenyum, "Ah boleh tuh, saya mau susu aja kali ya?" jawabnya.


"Baik tuan, saya siapkan dulu susunya ya tuan!" ucap Elvi yang kemudian diangguki oleh Libra.


Wanita itu segera berbalik dan pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman bagi Libra, sedangkan Libra sendiri masih terduduk disana sambil mengusap wajahnya. Entah mengapa Libra selalu kepikiran dengan dokter Syifa yang melarikan diri, ia sangat khawatir jikalau dokter Syifa akan menjadi ancaman nyata bagi Ciara nantinya.


"Haish, saya kok jadi gak tenang gini ya? Apa saya harus cari dokter Syifa sendiri dan memastikan kalau dia tidak akan berbuat macam-macam pada keluarga saya?" gumam Libra merasa cemas.


"Tuan!" tiba-tiba saja, Elvi sudah kembali dan membuat Libra terkejut bukan main.


Libra spontan menoleh, namun dahinya mengernyit ketika menyadari Elvi kembali dengan tangan kosong. Padahal, tadi ia sudah meminta pada Elvi untuk membuatkannya susu agar bisa membuat hatinya terasa lebih tenang. Tentu saja Libra kebingungan, tapi kemudian Elvi berbicara padanya dan menjelaskan apa yang terjadi.


"Maaf tuan, saya tadi lupa beli stok susunya! Di dapur udah kosong deh, apa tuan mau diganti sama susu saya?" ucap Elvi sedikit menggoda.


Libra terbelalak mendengar ucapan wanita itu, sedangkan Elvi juga tampak menutup mulut seolah tak percaya kalau dirinya bisa mengatakan hal itu di hadapan Libra saat ini.




Semenjak kejadian itu, Libra jadi sedikit was-was dengan tingkah Elvi yang makin hari makin meresahkan. Tentunya Libra tidak ingin dirinya sampai tergoda oleh si wanita yang umurnya memang masih muda itu, hanya saja kecantikannya tak mampu mengalahkan sosok Ciara yang sangat luar biasa baik di luar maupun dalam hatinya.


Kini Libra yang hendak memasak mie di dapur, kembali tak sengaja bertemu dengan Elvi yang tengah mencuci piring disana. Libra pun mengurungkan niatnya, ia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu yang di luar keinginannya nanti. Apalagi, Elvi saat ini mengenakan pakaian yang sangat ketat dan membuat tubuhnya terekspos sempurna.


"Hah ya ampun! Kenapa saya bisa punya art kayak gitu sih ya?" gumam Libra sambil geleng-geleng.


Ia perhatikan saja dari jauh kelakuan pelayan di rumahnya itu, ia heran mengapa Elvi bisa jadi seperti itu sekarang ini. Padahal, awal mula saat Elvi bekerja disana wanita itu tak pernah bertingkah yang aneh-aneh dan selalu bersikap sopan padanya. Libra hanya bisa menghela nafasnya, lalu berbalik dan pergi dari dapur untuk menghindari Elvi.

__ADS_1


Namun, Libra malah nyaris bertabrakan dengan Ciara yang hendak pergi ke dapur. Sontak keduanya sama-sama terkejut dan spontan mengusap dada masing-masing, Libra juga tertawa karena istrinya lah yang ada di hadapannya saat ini. Beruntung Libra bertemu dengan Ciara disana, karena ia tidak perlu repot-repot membuat mie bersama Elvi.


"Mas, kenapa balik lagi? Katanya tadi mau buat mie, kok malah mau pergi sih pas udah di dapur? Apa kamu gak bisa atau gak tahu cara bikin mie, iya?" tanya Ciara keheranan.


Libra melongok dibuatnya, "Hah? Yakali aku gak ngerti cara bikin mie, gini-gini aku udah terbiasa hidup sendiri tahu. Masalah bikin mie doang mah kecil, tapi aku males aja tiba-tiba makanya gak jadi deh gitu," ucapnya berbohong.


"Ya ampun mas! Masa buat mie aja kamu males? Yaudah, aku buatin aja gimana?" ucap Ciara menawarkan diri.


"Umm, boleh deh." Libra mengangguk setuju.


Ciara pun tersenyum dan melangkah melewati tubuh suaminya untuk pergi ke dapur, tetapi Libra menahan tangannya serta menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ciara tampak bingung dengan aksi yang dilakukan pria itu, apalagi tiba-tiba saja Libra menyatukan bibir keduanya sembari menekan tengkuk kepala Ciara dengan kuat.


Pemandangan itu disaksikan secara langsung dan jelas oleh Elvi yang baru selesai mencuci piring, ia terbelalak melihat hal itu dan tidak bisa bergerak dari posisinya saat ini. Ciuman yang dilakukan kedua majikannya itu amat sangat menggairahkan, membuat Elvi harus susah payah menelan saliva nya karena tidak kuat dengan apa yang terjadi di depan matanya itu.


Sementara Libra menyeringai di sela-sela ciumannya, ia sengaja memperdalam aksinya untuk membuat Elvi merasa jengkel. Ia juga berharap setelah melihat hal itu, maka Elvi bisa berhenti mencoba menggodanya. Libra hanya menyukai Ciara, dan selamanya akan terus begitu. Tak mungkin Libra berpaling ke lain hati, apalagi dengan sosok Elvi yang jauh jika dibandingkan dengan Ciara.




Singkat cerita, Libra yang berada dalam perjalanan menuju tempat praktek dikejutkan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba menyalip dan berhenti di depannya secara mendadak. Untung saja Libra reflek menginjak remnya, sehingga tidak terjadi tabrakan disana dan nyawa pria itu masih bisa terselamatkan.


Libra terlihat kesal dengan kelakuan mobil di depannya itu, ia memukul setir mobilnya untuk melampiaskan emosi di dalam dirinya. Lalu, perlahan pria itu keluar dari mobil dan menemui sosok pemilik mobil di depan sana. Libra sungguh penasaran, siapa orang yang mengendalikan mobil tersebut sampai membuatnya terkejut.


Tak lama kemudian, sosok pria juga turun dari mobil itu dengan setelan jas berwarna hitam disertai kacamata senada. Pria itu berjalan ke arah Libra, mendekat lalu melepas kacamatanya seolah hendak menunjukkan siapa dirinya. Saat itu juga Libra terbelalak, Davin lah yang sekarang berdiri di hadapannya sambil tersenyum menyeringai.


"Om Davin?" lirihnya. Libra tak sanggup berkata-kata lagi, ia terlalu bingung mengapa Davin sampai mencegatnya di jalanan seperti ini.


Libra terdiam sesaat, rasanya ia masih bingung mengapa Davin harus menanyakan mengenai masalah rumah tangganya bersama Ciara. Semua itu adalah privasi baginya, tak mungkin Libra akan menceritakan masalahnya kepada orang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya atau Ciara.


"Ya wajarlah om, namanya juga rumah tangga pasti ada masalahnya walau kecil. Tapi om tenang aja, kami sudah berbaikan dan sekarang tidak ada masalah lagi diantara kami!" ucap Libra santai.


"Itu yang harus terus kamu jaga, Libra! Kalau sampai Ciara terluka sekecil apapun itu karena kamu, saya pastikan kamu akan habis di tangan saya! Kamu tahu kan Libra, saya masih sangat mencintai Ciara hingga detik ini!" ucap Davin dengan tegas.


Libra mengangguk paham, "Saya mengerti kok om, itu tugas saya sebagai suami dari Ciara. Om gak perlu mengingatkan saya kayak gitu," ucapnya.


"Baguslah, tapi kamu harus ingat itu Libra dan kamu tidak boleh menyakiti Ciara!" ucap Davin.


"Saya pastikan itu tidak akan terjadi, om Davin. Saya juga mencintai Ciara, dan saya pastikan kalau Ciara akan baik-baik saja selama dia bersama saya! Beda dengan om Davin," ucap Libra sedikit mencibir.


Davin menatap tajam ke arah Libra, ucapan Libra barusan berhasil memancing emosinya yang langsung membuat Davin mengepalkan tangannya.


"Maksud kamu gimana?" tanya Davin penasaran.


"Ya benar kan om? Katanya om Davin cinta sama Ciara, tapi om malah selalu sakitin dia. Contohnya, om sebarin video panas dia ke media sosial dan bikin mental Ciara down parah saat itu. Apa itu yang namanya cinta om?" jelas Libra.


Amarah Davin sudah tak terbendung lagi, spontan ia mengarahkan pukulannya ke wajah Libra sampai membuat lelaki itu terkejut dan nyaris terjatuh sangking kerasnya pukulan Davin.


Bugghhh

__ADS_1


"Jangan pernah bawa-bawa soal masa lalu saya! Saya kesini hanya ingin meminta kamu menjaga Ciara, karena saya sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa mendapatkan dia. Saya ikhlas kamu bersama Ciara sekarang, maka dari itu saya minta kamu untuk jaga dia!" tegas Davin.


Libra terdiam saja sembari memegangi bekas pukulan di pipinya, ia tatap wajah Davin yang sepertinya benar-benar serius saat ini. Memang Libra akui saat ini, cinta Davin kepada Ciara sungguh besar dan belum bisa dihilangkan.




Libra pun tiba di tempat prakteknya setelah selesai berbincang dengan Davin di jalan tadi, ia melangkah masuk ke dalam tempat itu sembari memegangi pipinya yang membiru akibat pukulan dari Davin sebelumnya. Pria itu langsung bergegas menuju ruangannya, ternyata disana sudah terdapat sosok Lina yang tengah merapihkan semua keperluannya.


"Ah selamat pagi dok! Maaf saya baru selesai menyiapkan ruangan ini, tadi saya datang agak terlambat dok!" ucap Lina merasa bersalah.


Libra tersenyum tipis, "Gak masalah, justru saya seharusnya terimakasih sama kamu Lina karena kamu mau membantu saya dan datang lebih awal daripada saya," ucapnya.


"Itu kan memang tugas saya dok," ucap Lina singkat.


Setelahnya, Lina pamit pada Libra dan segera keluar dari ruangan itu. Sedangkan Libra sendiri menaruh barang-barangnya di atas meja, lalu duduk bersandar pada kursinya sembari memikirkan perkataan Davin di jalan tadi. Ia mengerutkan keningnya, antara khawatir dan bingung dengan kehadiran Davin kembali diantara hubungannya dengan Ciara.


"Apa saya harus panik sekarang? Tapi, om Davin bilang tadi kalau dia sudah ikhlas dan merelakan Ciara untuk saya. Kira-kira ucapan dia itu bisa dipercaya atau enggak ya?" gumam Libra.


TOK TOK TOK....


Tiba-tiba saja, pintu ruangannya diketuk dari luar oleh seseorang. Libra yang sedang melamun pun dibuat terkejut, tapi kemudian ia mengizinkan orang di luar itu untuk masuk dan menghilangkan lamunan di dalam pikirannya. Libra terduduk dengan tegap, menatap ke arah pintu dan begitu penasaran siapa yang datang saat ini.


"Permisi dok!" Libra terkejut melihatnya, rupanya yang datang itu adalah Alya alias bekas pasiennya beberapa waktu lalu.


"Loh kamu Alya kan, yang waktu itu berobat disini?" tanya Libra ingin memastikan.


Alya mengangguk disertai senyuman manisnya, perlahan ia mendekati Libra dan meletakkan rantang yang ia bawa itu di atas meja sang dokter. Libra masih menatap bingung ke arahnya, seolah tak percaya dengan kehadiran gadis itu disana. Apalagi, Libra merasa kalau Alya dalam kondisi baik-baik saja dan tidak sedang terkena penyakit.


"Ada apa kamu kesini lagi Alya? Apa penyakit kamu kambuh lagi? Obat yang saya berikan kurang manjur ya?" tanya Libra bertubi-tubi.


"Bukan kok dok, justru obat dari dokter Libra itu manjur banget. Baru dua hari aja saya minum obat itu, sakit yang saya rasakan langsung hilang. Makanya saya kesini lagi untuk ucapin terimakasih ke dokter," jawab Alya.


"Ohh, ya sama-sama Alya. Syukurlah kalau kamu sudah membaik, tapi kamu harus jaga kesehatan kamu supaya kamu gak sakit lagi!" ucap Libra.


"Itu sih pasti dok, tapi ini saya gak dibolehin duduk apa?" ujar Alya.


"Ahaha, iya iya maaf. Ayo silahkan duduk Alya!" ucap Libra mempersilahkan Alya untuk duduk di depannya.


"Makasih dok! Oh ya, ini saya ada makanan loh buat dokter. Mau dicoba gak dok?" ucap alya.


"Oh boleh boleh, makasih banyak loh kamu udah repot-repot bawain saya makanan segala!" ucap Libra.


"Ini mah gak seberapa dok,"


Alya pun membuka rantangnya, lalu menunjukkan makanan yang ia bawa di hadapan sang dokter.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2