Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 150. Siuman


__ADS_3

Libra kini tengah berada di ruang tempat bayinya berada, ya ia tatap putrinya yang ada di dalam inkubator itu sambil meneteskan air mata. Libra sangat bersedih setelah ditinggal Ciara, hidupnya serasa hancur dan tak berarti lagi saat ini. Namun, ia juga harus berjuang untuk tetap kuat dan bertahan demi kelangsungan hidup putrinya yang cantik itu


Libra juga harus mengikuti amanat yang diberikan Ciara padanya melalui mimpi sebelum ini, ya tentu saja dengan menjaga dan merawat putri mereka sebaik mungkin. Bagaimanapun juga, Libra harus tetap kuat dan tegar di hadapan putrinya. Ya sekarang memang hidupnya terasa berat, namun ia harus berusaha tenang demi putri cantiknya itu.


"Sayang, papa minta maaf ya sama kamu! Papa udah gagal buat jaga mama kamu untuk tetap ada di dunia ini, papa benar-benar nyesel sayang!" ucap Libra lirih.


Disaat yang sama, Tiara muncul di dekatnya dan menghampiri pria itu bermaksud untuk menghibur Libra yang tengah bersedih saat ini. Tiara tahu jika Libra sedang sangat berduka setelah kepergian Ciara untuk selamanya, tentu Tiara ingin membuat Libra setidaknya dapat tersenyum meski semua itu akan terasa amat sulit baginya.


"Libra, kamu gak mau coba gendong anak kamu? Atau minimal kamu kasih nama buat dia gitu, pasti kamu udah ada ide kan?" ucap Tiara.


Libra menoleh ke arahnya dengan dingin, lalu ia menggeleng perlahan sembari terus menunjukkan ekspresi kesedihannya di hadapan Tiara. Entah mengapa, rasanya Libra cukup sulit untuk bisa menghilangkan kesedihan di dalam dirinya. Walau para keluarganya telah berupaya untuk menghibur drinya, namun nyatanya tak mudah bagi Libra melupakan sosok Ciara dari hatinya.


"Saya belum sempat mikirin itu, rencananya saya dan Ciara akan memberi nama anak kami ini begitu dia lahir. Tapi sekarang setelah semuanya terjadi, Ciara malah lebih dulu meninggalkan saya," ucap Libra tampak sendu.


Tiara sedikit merunduk, "Oh, kamu yang kuat ya Libra! Biar gimanapun, anak kamu juga harus tetap jadi fokus buat kamu!" ucapnya.


"Saya tahu, nanti saya akan pikirkan nama yang bagus buat dia. Untuk sekarang saya masih belum bisa berbuat banyak, rasanya saya belum percaya ini semua akan terjadi," ucap Libra lirih.


"Aku yakin kok, Ciara juga pasti bahagia di atas sana kalau kamu bisa tetap tegar!" bujuk Tiara.


Libra mengangguk paham, kini ia kembali fokus menatap putrinya di depan sana yang masih belum bisa ia sentuh. Meski sebenarnya Libra sangat ingin menggendong putrinya, tapi hingga kini pikirannya terus terarah pada sosok Ciara. Kehilangan sang istri tentunya adalah sesuatu yang amat menyakitkan bagi seseorang, itulah yang dirasakan oleh Libra.


"Anak kamu itu cantik banget Libra, dia mirip loh sama Ciara!" ucap Tiara memuji kecantikan bayi milik Libra dan Ciara itu.


"Terimakasih Tiara, memang dia cantik sekali dan selalu mengingatkan saya sama Ciara!" ucap Libra.


Tak lama kemudian, muncul sang perawat yang berjalan di dekat mereka dengan tergesa-gesa seolah hendak mengambil sesuatu. Sontak Libra serta Tiara menatap ke arah suster itu, karena Libra juga ingin menanyakan mengenai jenazah istrinya. Ya Libra tak mau jika Ciara terlalu lama disana, biar bagaimanapun Ciara harus segera dimakamkan.


"Eee sus, sebentar saya mau tanya!" Libra menahan suster itu dengan berdiri di hadapannya.


"Iya pak, ada apa?" suster itu terlihat penasaran.


"Soal jasad istri saya Ciara, kapan ya kira-kira dia bisa dibawa pergi dari rumah sakit ini?" tanya Libra.


Suster itu tersenyum lebar, "Loh, bapak belum tahu ya? Ada keajaiban dari Tuhan yang datang barusan, bu Ciara yang telah dinyatakan meninggal kini ternyata bisa kembali bernafas pak," jawabnya.


Deg


"Apa??" Libra terkejut bukan main, begitupun dengan Tiara yang sama kagetnya saat ini.




Libra kembali ke depan ruang tempat Ciara dirawat sebelumnya, pria itu terlihat sangat antusias setelah mendengar ucapan suster tadi yang menyatakan bahwa Ciara masih hidup. Tentu saja Libra ingin memastikan semua itu sendiri, ia berharap kalau apa yang dikatakan suster itu benar dan Ciara memang masih hidup saat ini.


Sesampainya disana, Libra melihat sang dokter yang tengah berbincang dengan Nadira beserta Gavin di depan sana. Tampak Nadira menangis harus dalam pelukan suaminya, yang membuat Libra makin berharap bahwa Ciara belum meninggal. Jika sampai itu benar terjadi, maka pasti Libra akan jadi orang yang paling bahagia mendengarnya.


"Pa, ma, ini ada apa?" tanya Libra pada mereka dengan wajah penasaran sekaligus terheran-heran.


Sontak mereka menoleh ke arah Libra secara bersamaan, saat itu juga Nadira langsung tersenyum dan melepaskan diri dari pelukan Gavin. Nadira pun menghampiri Libra, seolah ia hendak menyampaikan sesuatu pada pria itu. Tentu saja Libra tampak penasaran, di dalam hatinya dia berharap kalau Nadira ingin memberitahu mengenai Ciara.

__ADS_1


"Begini Libra, ada kabar bahagia yang baru aja dikasih tahu sama dokter. Mama yakin kamu pasti senang banget deh dengarnya!" ucap Nadira tampak begitu bahagia.


Libra mengernyitkan dahinya, "Apa itu ma?" tanyanya dengan amat penasaran.


Nadira tersenyum lebar seraya melirik ke arah sang dokter serta suaminya di belakang sana, ia pun kembali menatap Libra dan menghembuskan nafas sejenak sebelum memberitahu pada pria itu bahwa Ciara saat ini masih hidup. Tentunya Nadira sangat bahagia, karena ternyata buah hatinya tercinta masih bisa kembali ke dunia.


"Ciara masih hidup sayang, Ciara belum meninggal. Dokter Friska yang barusan bilang ke mama, ini sebuah mukjizat sayang!" ucap Nadira.


Libra tentu saja tampak terkejut dengan penjelasan dari mamanya, ia sangat bahagia dan tentunya tak bisa menutupi betapa senangnya ia setelah tahu bahwa istrinya masih hidup. Seketika Libra tampak gemetar, tubuhnya melemas sangking terkejutnya dengan apa yang disampaikan Nadira tadi.


"I-ini beneran kan, ma? Aku gak salah dengar kan? Dok, apa benar istri saya masih hidup? Jawab jujur dok!" Libra mencoba memastikan itu pada sang dokter, karena ia tak ingin dibuat kecewa.


"Benar pak, saya sendiri kaget waktu tahu denyut nadi bu Ciara yang kembali terasa!" jawab Friska.


Saat itu juga Libra langsung mengucap syukur dan bersujud di depan banyak orang, tangis penuh haru ia rasakan dan membuat semua orang disana ikut merasa kebahagiaan yang saat ini tengah dirasakan Libra. Tak hanya Libra, bahkan Tiara sendiri juga amat berbahagia dengan kabar mengenai Ciara yang masih hidup dan tidak jadi meninggal.


Kini Tiara pun mendekati Nadira dan berpelukan dengannya, melampiaskan kebahagiaan yang amat ia rasakan saat ini. Keduanya tentu sama-sama bahagia mendengar kabar mengenai Ciara, mereka tidak sabar ingin segera bertemu dengan Ciara. Terutama Libra, apalagi pria itu amat menantikan kabar langsung dari istri tercintanya.


"Dok, lalu kapan saya bisa ketemu istri saya? Saya pengen banget bicara sama dia dok, bisa kan?" tanya Libra pada sang dokter.


Dokter Friska menganggukkan kepalanya, "Bisa pak, tapi nanti ya setelah bu Ciara siuman. Untuk sekarang kami ingin pastikan dulu bahwa kondisi bu Ciara baik-baik saja," jawabnya.


"Makasih dok, saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya!" pinta Libra.


"Pasti pak." dokter Friska mengangguk dan kemudian pamit untuk pergi dari sana, ya karena ia harus memeriksa kondisi pasien saat ini.




Kini Bagas menghentikan langkahnya tepat di hadapan Galen, ia tersenyum seraya menatap wajah pria itu dengan santai. Berbeda dengan Galen tentu yang terlihat begitu emosi dan menggebu-gebu seolah hendak menghabisi Bagas saat ini juga, ya karena Bagas lah yang sudah menghancurkan hidupnya dan juga rumah tangganya dulu.


"Mau apa anda datang kesini? Bukannya anda bilang kalau anda sudah tidak perduli dengan Jessica, ha?" tanya Galen dengan ketus.


Bagas menyeringai dibuatnya, "Haha, terserah saya dong. Anak yang dilahirkan Jessica itu anak-anak saya, jadi saya berhak untuk menengok mereka sekarang ini. Nah, anda sendiri ngapain ada disini?" jawabnya santai.


"Saya ada untuk membantu Jessica selama proses melahirkan tadi, karena dia membutuhkan itu. Kemana aja anda tadi, ha? Kenapa baru datang sekarang disaat semua sudah selesai?" ujar Galen.


"Anda tidak perlu tahu, sekarang minggir karena saya ingin bertemu dengan anak-anak saya!" ucap Bagas.


Galen benar-benar emosi, jika bukan tempat umum maka mungkin Galen sudah menghabisi Bagas sekarang ini dan membuat pria itu masuk UGD. Namun, saat ini Galen harus menahan emosinya dan membiarkan saja Bagas menemui Jessica. Lagipula, benar yang dikatakan Bagas kalau anak yang dilahirkan Jessica adalah anaknya.


Setelah itu, Bagas pun masuk ke dalam ruang rawat tersebut untuk menemui Jessica dan juga putra kembarnya. Sedangkan Galen masih tetap menunggu di luar dan kembali terduduk, ia disana bersama dua orang pengawal Bagas. Entah mengapa, tiba-tiba Galen merasa tidak nyaman ketika Bagas tadi menyebut bahwa anak-anak yang dilahirkan Jessica adalah anaknya.


Galen seolah tak terima saat Bagas mengaku sebagai ayah dari anak yang dilahirkan Jessica, padahal selama ini Galen lah yang membantu Jessica merawat kandungannya. Bagas sendiri entah berada dimana sebelumnya, bahkan mungkin Bagas juga tidak perduli pada kandungan Jessica yang berisi anak-anaknya.


"Kenapa saya jadi melow kayak gini ya? Bagas kan emang ayah dari anak-anak itu, bukan saya. Kenapa saya harus sedih coba? Hadeh Galen, ayolah sadar kamu itu bukan siapa-siapa disini!" gumamnya.


Pria itu terus mengacak-acak rambutnya sambil menunduk, ia terlihat sedang kacau dan penuh emosi akibat memikirkan hal tadi. Kehadiran Bagas disana juga membuatnya sadar, bahwa posisinya saat ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Galen tahu jika Jessica pasti bahagia dengan hadirnya Bagas, kini ia berniat untuk pergi dari sana sesegera mungkin.


"Kayaknya saya emang harus pergi aja deh, gak enak juga kalau saya ganggu mereka nanti!" pikirnya.

__ADS_1


Disaat Galen hendak pergi, tiba-tiba saja Bagas keluar dari dalam ruangan dengan wajah panik sambil memanggil-manggil dokter serta suster yang bertugas disana. Tentu saja Galen menatap heran ke arahnya, ia tak mengerti apa yang terjadi sampai Bagas sepanik itu.


"DOKTER, SUSTER! DOKTER!!" teriak Bagas.


"Eh eh eh, ini ada apa sih? Kenapa anda teriak-teriak begitu? Apa yang terjadi?" tanya Galen penasaran.


"Gawat Len, Jessica kejang-kejang!" jawab Bagas.


"Hah??" Galen menganga lebar seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Bagas barusan.


"Apa yang anda lakuin ke Jessica? Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" Galen langsung menarik kerah baju Bagas dan tampak begitu emosi.




Sementara itu, Libra amat sangat bahagia setelah mengetahui istrinya masih hidup dan tidak jadi pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Lelaki itu kini terduduk di samping brankar tempat Ciara terbaring, ia terus menatap wajah cantik Ciara yang memang selalu membuatnya terpesona setiap kali ia melihat atau sekedar meliriknya.


Diusapnya lembut wajah mulus itu, rasanya ia tidak sabar ingin segera melihat Ciara kembali membuka matanya dan berbicara padanya. Libra sangat merindukan momen itu, apalagi setelah kejadian dimana Ciara dinyatakan meninggal sebelum ini. Libra kini sangat bersyukur, karena ternyata Tuhan masih memberi kesempatan padanya untuk bisa bersama Ciara lebih lama lagi.


Pria itu terus mengingat momen-momen indah diantara keduanya, dimulai dari saling mencaci sampai akhirnya berakhir pada sebuah pernikahan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Libra sangat menyayangi Ciara, ia tak mungkin bisa berpaling ke lain hati. Tak hanya Libra, bahkan Ciara sendiri juga merasakan hal yang sama.


Perlahan Libra meraih telapak tangan istrinya, ia genggam dengan erat sembari mengusapnya lembut dan sesekali mengecupnya. Perlakuan manisnya itu, membuat kesadaran Ciara akhirnya perlahan mulai pulih. Jari-jari mungil wanita itu pun bergerak lamban menyentuh telapak tangan sang suami, sontak Libra terkejut lalu beralih menatap wajah Ciara yang masih terpejam.


"Hah Ciara? Kamu udah sadar sayang? Hey sayang, kamu dengar aku kan disini! Ayo sayang, aku yakin kamu pasti bisa pulih dan sadar lagi seperti semula! Aku rindu sama kamu sayang, aku gak bisa hidup tanpa kamu!" ucap Libra tampak antusias.


Tak lama kemudian, lambat laun kedua bola mata Ciara mulai terbuka dan mencoba menoleh ke arahnya sambil sesekali mengedipkan mata. Libra tentu saja amat bahagia, ia reflek bangkit dari kursinya dan membungkuk mendekati Ciara. Saat itu juga Ciara tersenyum, wanita itu senang karena yang pertama dilihatnya adalah sosok suami tercinta.


"Mas Libra??" ucap Ciara dengan lirih, tubuhnya masih lemas dan juga sulit digerakkan.


"Iya sayang, ini aku sayang. Aku senang banget kamu akhirnya pulih dan bisa bicara sama aku lagi kayak gini, aku bersyukur banget loh sayang!" ucap Libra dengan penuh semangat.


Ciara tersenyum dibuatnya, "Kamu lebay banget sih, mas! Emang aku abis kenapa? Aku kan cuma tidur loh daritadi," ucapnya keheranan.


Libra manggut-manggut saja sambil terus meneteskan air mata, ia kecup berkali-kali punggung tangan istrinya itu beserta kedua pipinya. Libra tak tahu harus berkata apa lagi saat ini, ia benar-benar bahagia dan ingin terus begitu. Namun, Ciara tampak tak mengerti mengapa Libra sampai seemosional itu ketika melihatnya sadar.


"Mas, sebenarnya kamu kenapa sih? Apa yang terjadi tadi sama aku sampai kamu senang banget begini pas lihat aku bangun?" tanya Ciara bingung.


"Enggak kok sayang, kamu gapapa. Aku cuma senang aja karena kamu udah siuman dan gak kenapa-napa, makasih ya sayang! Gak ada yang lebih membahagiakan dari ini," jawab Libra.


Ya Libra sengaja membohongi Ciara soal kondisinya tadi, hal itu tentu saja karena Libra tidak ingin jika Ciara mengetahui bahwa tadi dia sempat dinyatakan meninggal dunia oleh dokter. Kini yang Libra ingin rasakan hanyalah momen bahagia bersama istrinya, ia tidak mau ada hal apapun yang mengganggu kebersamaannya saat ini.


"Oh ya mas, anak kita mana? Aku mau ketemu dia dong, dia juga belum dikasih asi kan?" tanya Ciara.


Libra pun tersenyum lebar mendengar pertanyaan istrinya, ia paham kalau Ciara saat ini sangat ingin bertemu dengan putrinya yang baru saja dia lahirkan. Sama halnya dengan Libra, ya lelaki itu juga tak sabar melihat putrinya meminum susu dari Ciara. Untuk itu, Libra berniat menemui suster disana dan memintanya membawa putrinya kesana.


"Kamu tenang aja sayang, anak kita baik-baik aja kok! Tadi dia ditaruh di ruang inkubator dulu karena kamu masih belum sadarkan diri, tapi dia juga udah dimandiin kok sayang," ucap Libra.


"Wah bagus deh mas, cepat bawa dia kesini! Aku mau gendong dia tahu, terus kita juga harus kasih dia nama yang bagus!" pinta Ciara.


"Iya sayang iya..."

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2