
Rila masih terjebak bersama Gio di sekitaran hotel kali ini, gadis itu tidak bisa kemana-mana karena Gio terus mengancamnya dan bahkan tak mau melepaskan dirinya begitu saja. Tentu saja Gio merasa kecewa karena telah ditipu olehnya, sehingga Gio ingin meminta tanggung jawab dari Rila terkait masalah mereka. Dengan begitu, barulah Gio akan menganggap semuanya impas dan tidak perlu ada yang mereka permasalahkan lagi nanti.
"Kenapa kamu malah diam? Kamu sudah menipu saya dan membuat saya harus kehilangan banyak uang, sekarang cepat kamu kembalikan uang saya itu dua kali lipat!" ucap Gio dengan tegas.
Deg
Rila terkejut bukan main mendengar permintaan Gio barusan, bayangkan saja ia diminta mengganti uang milik pria itu dua kali lipat. Tak mungkin Rila bisa melakukan itu, karena hampir separuh uang dari pria itu sudah ia pakai untuk segala keperluan dirinya dan juga yang lain. Namun, tentu Gio tak mau perduli dengan apa yang dikatakan Rila nantinya.
"Apa? Dua kali lipat om? Yang benar aja dong om Gio, masa aku harus bayar uang om dua kali lipat? Aku mana punya uang sebanyak itu?" kaget Rila.
"Bodoamat, suruh siapa kamu tipu saya tadi!" ucap Gio ketus.
"Hah? Ish, aku gak tipu kamu tau. Aku kan udah kasih Cyra ke kamu, masalah dia berhasil kabur dari kamu itu bukan salah aku! Kamu aja yang bodoh gak bisa tahan dia pas di kamar!" sentak Rila.
"Apa kamu bilang? Kamu ngatain saya bodoh? Berani banget kamu ngomong begitu, jelas-jelas Cyra kabur dibantu sama kamu! Buktinya tadi saya lihat kamu dan Cyra ada disini berduaan," ucap Gio tak kalah tegas.
"Itu kamu aja yang salah paham, tadi tuh Cyra malah mau bawa aku ke kantor polisi karena dia tau aku yang udah jual dia ke kamu!" ucap Rila.
Sontak Gio terkejut dibuatnya, ia baru tahu kalau Rila ternyata tidak bekerjasama dengan Cyra untuk menipunya. Justru ternyata Rila hendak dibawa pergi ke kantor polisi, namun ia masih belum bisa percaya seratus persen terhadap kata-kata Rila barusan karena ia yakin bisa saja gadis itu tengah berbohong padanya agar ia dapat melepaskannya.
"Kamu jangan bohong Rila! Saya sudah percaya sama kamu selama ini, tapi kamu rusak kepercayaan saya dengan menipu saya kali ini!" ujar Gio tampak begitu emosi.
"Aku udah bilang, aku gak nipu kamu. Aku aja hampir dibawa ke penjara sama Cyra tadi kalau kamu gak keburu datang, mikir dong om!" elak Rila.
Gio menghela nafasnya dan beralih menatap ke arah lain, ia malas sekali mendengarkan ucapan Rila yang terus saja mengelak dari tuduhannya dan tidak mau mengakui kesalahannya. Rasanya cukup sulit bagi Gio untuk mempercayai ucapan Rila, karena gadis itu terlihat tidak meyakinkan saat sedang menjelaskan alasannya itu.
"Aku gak perduli, pokoknya apapun alasan kamu sekarang kamu harus kembalikan semua uang yang saya berikan ke kamu waktu itu!" pinta Gio.
Rila menggeleng perlahan, "Gak bisa, uang yang udah kamu berikan ke aku gak mungkin bisa aku kembalikan ke kamu. Lagian kita udah deal kok waktu itu, kalau kamu setuju dengan semua penawaran aku," ucapnya tegas.
"Tapi Rila, sekarang buktinya Cyra kabur dari saya dan saya gak bisa memiliki dia. Berarti sama aja bohong dong, uang saya itu sia-sia aja dan saya minta ganti rugi dari kamu!" ucap Gio.
"Terserah om, intinya aku gak bisa balikin uang itu ke om!" ucap Rila sambil berjalan pergi dari sana.
Gio hanya bisa diam memandangi kepergian gadis itu, ia tak tahu apa yang hendaknya ia lakukan setelah ini untuk bisa memiliki Cyra.
•
•
__ADS_1
Setelah mendengar cerita dari Cyra mengenai Rila yang sudah menjualnya kepada lelaki asing, sontak Faiz merasa emosi dan langsung berniat menemui Rila untuk memberi hukuman padanya. Dengan cepat Faiz melangkah ke luar dari cafe, ia akan berusaha mencari gadis itu sekarang juga. Namun, Cyra yang khawatir menyusul pria itu keluar dan berusaha menahan Faiz agar tidak pergi dari sana.
"Om, om jangan om! Om itu harus tenang dulu, kita pulang aja ya om! Rila biar jadi urusan aku, aku bisa kok hukum dia dan balas semua perbuatan dia ke aku nanti!" ucap Cyra memohon pada pamannya.
Faiz menghela nafasnya dan berbalik menatap gadis yang sedang mencengkram lengannya itu, ia raih dua tangan Cyra dan menggenggamnya erat. Kali ini Faiz juga berusaha meyakinkan Cyra, kalau dirinya akan tetap membantu gadis itu untuk memberi hukuman pada Rila atas perbuatan kurang ajarnya yang sampai tega melakukan itu.
"Gak bisa Cyra, ini udah tindakan kriminal namanya. Dia harus dihukum seberat-beratnya, bahkan kalau bisa dia bakal aku jual ke orang lain sama seperti dia menjual kamu. Aku gak bisa diam aja kalau kayak gini Cyra, ini gak bener!" ucap Faiz tegas.
"Aku ngerti sama kekhawatiran om, tapi aku gak mau om ikut campur masalah ini! Pasti nanti mama sama oma bakalan tau juga soal ini, aku gak pengen mereka makin terbebani gara-gara aku," ucap Cyra.
Faiz terdiam, ia semakin merasa kasihan pada gadis itu karena harus hidup dalam sebuah masalah yang besar. Rasanya Faiz semakin tidak tega melihat kondisi Cyra saat ini, ia mendekat lalu memeluk erat tubuh keponakannya itu sembari mengusap punggungnya dengan lembut dan berusaha membuat gadis itu lebih tenang.
"It's okay Cyra, kamu gak perlu ngerasa begitu! Aku ini paman kamu, bagian dari keluarga kamu juga. Jadi, sudah sepantasnya aku bantu kamu dalam masalah ini Cyra!" ucap Faiz.
"Tapi om, aku—"
"Sssttt, aku akan bantu kamu Cyra. Aku janji sama kamu, semua urusan ini akan selesai dalam waktu singkat! Teman kamu itu bakal mendapat hukuman yang setimpal nanti, terus orang tua kamu gak akan tahu soal ini kok!" ucap Faiz menyela.
Entah mengapa Cyra terlihat ragu kali ini, ia menatap wajah pamannya untuk coba meyakinkan diri bahwa pria itu memang benar-benar ingin membantunya. Namun, Faiz malah mencubit kedua pipinya dengan iseng dan membuat Cyra merasa jengkel lalu melepaskan diri dari pelukan sang paman.
"Ish, sakit tau om! Udah ah kita pulang aja yuk, aku takut si Gio itu temuin aku lagi nanti!" pinta Cyra.
"Kamu gak perlu takut Cyra, selagi ada aku dia gak bakal berani dekati kamu! Aku ini akan selalu melindungi kamu dari orang seperti dia, percaya sama aku!" ucap Faiz.
"Iya iya, pulang ke rumah oma kan?" tanya Faiz.
Cyra terdiam selama beberapa menit, ia berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaan pamannya itu. Pasalnya, ia sendiri juga bingung hendak pulang ke rumah nenek atau mamanya kali ini. Cyra benar-benar khawatir, tentunya baik nenek maupun mamanya akan sama-sama bertanya mengenai kondisinya nanti.
"Umm, aku pengennya sih ke tempat yang lain om. Biar aku gak ketemu sama oma atau mama dulu," ucap Cyra dengan lirih.
Faiz terkejut dibuatnya, "Hah? Kamu apaan sih Cyra? Kok bilangnya begitu?" ujarnya tampak syok.
Cyra tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan pamannya itu, ia malah berbalik dan menjauh dari sang paman sembari melipat kedua tangannya di depan dan meneteskan air mata.
•
•
Singkat cerita, Faiz akhirnya membawa Cyra pulang ke rumah orangtuanya karena tidak mungkin ia menuruti permintaan gadis itu sebelumnya yang memaksa untuk dibawa pergi ke tempat lain. Biar bagaimanapun, Faiz tetap tidak suka jika Cyra ingin lari dari masalah yang menimpa hidupnya dan juga ia ingin Cyra belajar bertanggung jawab kali ini.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah sang mama, Cyra kini tampak mengambil nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan diri sebelum berhadapan dengan mamanya nanti. Ya selain itu, Cyra juga terlihat berpikir keras memikirkan jawaban yang tepat jika nantinya Ciara mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Om, aku takut. A-aku belum siap ketemu mama atau oma disini, mereka pasti bakal tanya banyak hal soal aku," ucap Cyra tampak gugup.
Faiz tersenyum mendengarnya, "Ahaha, tenang aja Cyra! Kalau mereka tanya-tanya ke kamu, ya kamu tinggal jawab dengan jujur! Gak ada yang perlu kamu tutup-tutupi dari mereka," ucapnya santai.
"Ish, om gak ngerti sih. Aku itu gak pengen bikin mama atau oma tambah ribet!" ujar Cyra.
"Aku yakin kok, mereka gak akan berpikiran seperti itu sama kamu Cyra! Justru mereka bakal marah banget ke kamu, kalau kamu gak mau jujur sama mereka nanti," ucap Faiz.
"Eee...." Cyra pun menundukkan wajahnya dan bingung harus melakukan apa.
Tak lama kemudian, Faiz menggenggam tangan Cyra dan mengajak gadis itu keluar dari mobilnya untuk segera menemui Ciara di rumah itu. Cyra menurut saja kali ini, ya karena gadis itu juga tak bisa berbuat banyak setelah tangannya digenggam kuat oleh sang paman.
"Om, lepasin om! Aku bisa jalan sendiri kok, gak perlu pake dituntun segala kayak gini!" pinta Cyra.
"Sssttt, udah diam kamu! Aku itu gak mau kamu kabur lagi nanti, secara kamu itu kan doyan banget kabur-kaburan dan menghindar dari masalah yang datang di hidup kamu!" ucap Faiz.
"Ih tapi kan—"
Belum sempat melayangkan protes, sebuah mobil sudah lebih dulu berhenti di dekat mereka saat ini dan membuat Cyra serta Faiz cukup terkejut. Rupanya itu adalah mobil milik Libra alias sang ayah dari gadis itu, karena tampak Libra turun dari mobil itu bersama Ciara dan langsung menghampiri Cyra di depan sana yang masih kebingungan.
"Cyra, ya ampun sayang akhirnya kamu pulang nak!" Ciara reflek memeluk putrinya itu dengan erat karena ia sangat mencemaskannya.
"Iya Cyra, kamu kemana aja sih? Guru kamu di sekolah bilang kalau kamu hari ini bolos, terus kamu kemana? Kenapa gak kabarin papa atau mama kamu dulu?" tanya Libra.
"Tuh kan Cyra, mama sama papa kamu khawatir banget sama kamu! Ngeyel sih dikasih taunya," sela Faiz yang ikut menegur gadis itu.
Akhirnya Cyra hanya bisa diam dan tak tahu harus menjelaskan apa pada kedua orangtuanya kali ini, pasalnya ia ragu untuk memberitahu semua yang ia alami tadi kepada mama maupun papanya. Ia tak mau membuat kedua orangtuanya itu semakin terbebani, apalagi ini bukanlah suatu masalah yang kecil dan bisa saja mereka akan semakin pusing.
"Cyra sayang, jawab mama nak! Kamu itu darimana, hm? Kenapa kamu bisa sama paman kamu sekarang?" tanya Ciara dengan wajah serius.
"Eee a-aku...."
Lagi-lagi Cyra sungguh tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan mamanya itu, ia malah terdiam bingung dan berulang kali melirik ke arah pamannya untuk meminta bantuan. Sontak Ciara serta Libra semakin dibuat penasaran, mereka berdua pun sama-sama mendekati putrinya itu dan terus menatap ke arahnya.
"Ayo Cyra, kita bicaranya di dalam aja! Supaya kamu bisa tenangin diri dan gak panik kayak gini," usul Libra yang disetujui oleh Cyra maupun Ciara.
Mereka semua kini mulai melangkah masuk ke dalam rumah, meski Cyra masih terlihat bingung dan terus berpikir keras untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan orangtuanya nanti.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...