Mama Muda

Mama Muda
SALAH NEBAK


__ADS_3

Zidan menggelengkan kepalanya pertanda dirinya tidak ingin makan di sana.


"Aneh bin ajaib, semua wanita di dunia ini menginginkan Kalau teman atau kekasihnya mentraktirnya di sebuah restoran mahal atau berbintang. Berbeda dengan Yuli. Ia memilih makan di pinggir jalan. daripada makan dari restoran.


Ya sudah deh kalau mas tidak mau makan, lebih baik Yuli habiskan saja. Sayang makanan harus dibuang, cari uang sangat sulit."


"Jangan mengira makanan yang dijual di pinggir jalan seperti ini, rasanya tidak enak. Kalau Mas berani mencicipinya. Pasti Mas akan ketagihan."


Tak ubahnya kita makan di sebuah restoran bintang lima. Seperti tempat Yuli bekerja. Bahan masakan nya sama saja. Tetapi karena tempat dan lokasi nya saja berbeda. Fasilitas di sana menggunakan AC dan kursi yang mahal. dan menggunakan piring dan gelas yang berkelas.


Tetapi rasanya belum tentu lebih enak makan di restoran bintang lima dibandingkan Rumah Makan pinggir jalan seperti ini. Kalau mas tidak percaya silahkan saja dicicipi."ucap Yuli sembari menyodorkan makanan yang ada di sendoknya ke mulut Zidan. Hingga Zidan pun tak dapat menolak.


Zidan pun membuka mulutnya dan mulai mengunyah makanan yang diberikan oleh Yuli.


"Bagaimana rasanya Mas?


"Enak kan? tanya Yuli kepada Zidan yang masih mengunyah dan menyicipi makanan yang sudah Yuli berikan kepada Zidan.


"Lumayan!"ucap Zidan sembari meraih mangkok yang ada dihadapan Yuli. Yuli mengembangkan senyumnya. sambil memanggil mang Karno untuk memesan makanan kembali. Karena makanan miliknya sudah direbut Zidan dari hadapannya.


Ternyata tidak seburuk yang aku kira." ucap zidan sembari mengembangkan senyumnya ke arah Yuli.


"Makanya Jangan menilai makanan itu hanya melihat tekstur dan lokasi tempat jualannya saja.


Hanya hitungan menit Zidan pun menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Yuli mengembangkan senyumnya ketika Zidan sudah menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Masih mau tambah?


sontak Zidan langsung menggelengkan kepalanya. Karena ia pun sudah merasa kenyang.


"Tidak perlu malu Mas, Lagian di sini tidak ada siapa-siapa kok. Hanya Yuli saja ucap Yuli. Yuli merasa sudah agak dekat kepada Zidan Padahal mereka baru hari itu ketemu. Setelah selesai makan di warung tenda biru itu Zidan pun berniat untuk membayar makanan mereka.


"Mang berapa?


"Berdua Mas?


"Iya mang."


" Enam puluh ribu mas."ucap mang Karno kepada Zidan yang mampu membuat Zidan sangat terkejut.


"Saya makan 2 porsi dan minumannya 2.


"Tidak Mas, semuanya totalnya Emam ribu. Neng Yuli sudah biasa makan di sini Yang pasti Neng Yuli sudah mengetahui harga makanan dan minuman di sini." ucap mang Karno kepada Zidan yang mampu membuat Zidan semakin ternganga.


Zidan memberikan beberapa lembar Uang pecahan seratus ribu. Membuat mang Karno sangat terkejut.


"Maaf Mas ini sepertinya kebanyakan, hanya enam puluh riba l saja kok.


"sudah Mang ambil saja hitung-hitung ini rezeki buat mama dan istri di rumah."ucap jidan sambil mengembangkan senyumnya.


Terima kasih Mas, semoga rezeki mah semakin bertambah. Dan hubungannya mas dengan Neng Yuli langgeng."ucap mang Karno kepada Zidan yang mampu membuat Yuli membulatkan matanya sembari melirik kearah Zidan

__ADS_1


"Maaf mang, sepertinya Mamang salah.


"Salah saya apa Neng Yuli?


"Mas ini ,hanya teman Yuli. itu pun baru kenalan tadi. kami tidak ada hubungan apa-apa, jadi Mamang sudah salah mengira.


"Waduh Mamang minta maaf kalau begitu. Tapi jujur dari hati Mamang yang paling dalam Sepertinya kalian pasangan yang serasi. Bahkan jika setiap orang melihat kalian, mereka pasti mengira kalian benar-benar pasangan kekasih atau pasangan suami istri." pekik Mang Karim sembari tertawa cengengesan.


"Ah Mamang bisa saja, Yuli pamit dulu!"kapan-kapan Yuli mampir lagi deh.


"Iya mang kami pamit dulu karena jam sudah sore ucap Zidan kepada mang Karno yang terlihat kompak kepada Yuli.


Sementara di tempat lain, Maya terlihat bahagia ketika melihat suaminya. Tampak tidak sabaran untuk menanti kelahiran anak mereka. sesekali Surya seringkali mengelus perut Maya yang sudah mulai membuncit.


"Sayang kata dokter usia kandungan kamu sudah jalan 5 bulan. Mas sudah tidak sabar ingin menggendong anak kita. Apalagi bintang juga sudah tidak sabar ingin memiliki adik. ucap Zidan sambil mencium perut Maya. terkadang Maya merasa kegelian dengan tingkah suaminya yang terlihat manja terhadapnya.


"Mas Mas geli loh, ucap Maya ketika suaminya terus saja memainkan tangannya di perut buncitnya sesekali tangan Surya menjalar dari perut hingga ke bagian gunung kembar beli Maya. Hal itu membuat Maya mendengus kesal ketika suaminya berani mulai jahil terhadapnya.


Bersambung.....


hai Hai readears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏💓💓 sambil nunggu novel ini up yuk kepoin ceritaku di



__ADS_1


__ADS_2