Mama Muda

Mama Muda
LAMARAN


__ADS_3

Ketika Maya mengetahui kalau kedua orang tua angkat dokter Avena sendiri yang membunuh orang tua kandung dokter Avena dan juga Zida adalah ibu Canada dan suaminya, membuat Maya merasa geram karena Ia tidak menyangka ibu Canada sendiri pelaku pembunuhan itu.


Dia juga meminta kepada Surya agar selalu membagi Zidan untuk terus membantunya menangani kasus pembunuhan orangtua Zidan. Karna Bagaimana pun Zidan sudah banyak berjasa kepada keluarga Surya dan juga keluarga pak Alberto. Sekarang saatnya mereka ingin membalas Budi baik Zidan yang selalu setia mengabdikan diri kepada semua dan keluarga besar Dirgantara.


Di tempat lain Yuli tersenyum melihat Zidan yang baru turun dari mobil miliknya. Karena sebelumnya Yuli sudah menunggu kedatangan Zidan di kediaman bibinya. Sesuai dengan janji Zidan kepada Yuli kalau dirinya akan berbicara langsung kepada Ibu Sintia yang merupakan Bibi Yuli yang selama ini menemaninya tinggal di Jakarta.


Ketika Zidan turun dari mobil, Ia pun bertegur sapa kepada Yuli dan juga Ibu Sintia. Ibu paruh baya itu sedikit heran melihat kedatangan Zidan, disertai senyum sumringah dari wajah Yuli. Padahal selama ini sudah beberapa kali Zidan mengantar dan menjemput Yuli tetap mimik Yuli tidak segembira sekarang.


Zidan memberi salam kepada Ibu paruh baya itu.


"Selamat sore Tante!" sapa Zidan kepada Sintia. Sambil memberikan salam kepada Ibu Sintia.


"Selamat sore!"sahut Ibu Sintia.


"Silakan masuk!"ucap Ibu Sintia sembari mempersilahkan Zidan masuk ke rumah sederhana Milik ibu Sintia yang selama ini sudah lama menempati rumah itu.


"Yul tolong buatkan minum untuk teman kamu."ujar Ibu Sintia kepada Yuli.


"Baik Bi!" sahut Yuli sembari langsung berlalu ke dapur. Sekitar kurang lebih 5 menit kemudian, Yuli keluar dari dapur dengan membawakan Tiga cangkir kopi buatan Yuli sendiri. Maklum di rumah sederhana Milik ibu Sintia tidak memiliki asisten rumah tangga.


Yang mengerjakan urusan rumah biasanya Yuli sendiri dan dibantu oleh ibu Sintia. Walau hidup sederhana, tetapi kehidupan Ibu Sintia bahagia membuat Yuli betah tinggal di sana. Ibu Sintia harus bekerja keras untuk menyekolahkan kedua putra-putrinya yang menuntut ilmu di salah universitas yang ada di Medan.


Hal itulah yang membuat Yuli selama ini masih mengurungkan niatnya untuk menjalin hubungan dengan setiap lelaki. Apalagi semenjak Yuli lulus kuliah ia bertekad harus terlebih dahulu membahagiakan kedua orang tuanya yang ada di kampung. Tetapi ia juga tidak memungkiri rasa cinta yang dimiliki Yuli terhadap Zidan cukup besar membuat dirinya pun tidak membantah apa permintaan Zidan untuk berniat menikahinya.


Mengingat umur Zidan sudah sepatutnya harus menikah. Niat serius Zidan untuk menikahi Yuli ditanggapi positif dari Yuli sendiri. Walaupun Dirinya belum mampu membahagiakan kedua orang tuanya dengan memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuanya. Tetapi sebelumnya Zidan sudah berjanji kepada Yuli untuk membutuhi kehidupan Yuli dan juga kedua orang tuanya.


"Ada apa nak Kok kamu terlihat serius sekali? tanya ibu Sintia kepada Zidan.


"Begini bu!" sejujurnya Zidan ingin berbicara kepada ibu kalau Zidan berniat untuk melamar Yuli menjadi pendamping hidup Zidan untuk selamanya." ucap Zidan to the point tanpa ada basa-basi sedikitpun.

__ADS_1


"Maksud kamu?


"Begini bu!" sebelum lamaran resmi ini saya sampaikan kepada kedua orang tua Yuli, ada baiknya Zidan meminta persetujuan dari ibu terlebih dahulu karena saya benar-benar menghargai ibu. karena Ibu adalah orang tua Yuli yang ada di Jakarta ini. Jujur Zidan sangat sayang dan cinta sama Yuli." ucap Zidan kepada Ibu Sintia.


Ibu Sintia terdiam ia tidak langsung menjawab apa yang dikatakan oleh Zidan kepadanya. Seolah dirinya tidak percaya mendengar lamaran langsung dari Zidan Ibu Sintia masih berpikir ingin menjawab apa tentang hubungan Yuli dengan Zidan. Melihat mimik Yuli, terlihat jelas kalau Yuli juga sangat sayang dan cinta sama Zidan.


"Bagaimana menurut Ibu Apakah ibu setuju dengan hubungan saya bersama Yuli?"Zidan kembali bertanya kepada Ibu Sintia.


"Kalau kalian sudah saling sayang dan cinta saya tidak bisa menolak. Karena yang menjalani hubungan ini bukanlah saya melainkan kalian berdua.


Tapi satu hal yang harus kamu ingat dari saya. Tolong jangan pernah sakiti Yuli karena Yuli sudah saya anggap menjadi anak kandung saya sendiri. Dia itu adalah anak dari kakak saya. Jadi apapun ceritanya Saya tetap tidak setuju Jika kamu menyakiti hatinya.


" Tolong bahagiakan dia Jangan pernah kamu membuatnya menangis karena Saya juga tidak pernah membuat putriku menangis. Jujur Ibu sangat salut kepadamu karena kamu langsung memberitahu niat baikmu kepada Ibu. Tetapi apapun itu, Ibu tidak bisa mengambil kesimpulan sendiri. Yang pasti kalian harus meminta persetujuan dari kedua orang tua Yuli juga .


Kalau Ibu pribadi, Ibu merestui hubungan kalian. Tapi kamu harus berjanji jangan pernah sakiti hati Yuli ." ucap Ibu Sintia kepada Zidan dibalas anggukan dari Zidan.


Sambil menyeruput kopi hangat buatan Yuli Ibu Sintia mengambil ponsel miliknya berniat untuk menghubungi kedua orang tua Yuli.


Kring


Kring


Kring


Suara ponsel milik Ibu Dewi terdengar jelas di telinga Ibu Dewi. iya melihat di layar ponselnya kalau adiknya Sintia yang menghubunginya.


"Ada apa ini kok tumben Sintia menghubungiku sore-sore begini?" gumam Ibu Dewi dalam hati sambil menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar telepon seluler milik Ibu Dewi tersambung dengan ibu Sintia.


"Hallo assalamualaikum Sapa Ibu Dewi dari seberang tepatnya di daerah Lampung.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Kak!"sahut Ibu Sintia.


"Bagaimana kabar kalian di sana apa kalian baik-baik saja tanya ibu Sintia kepada Ibu Dewi.


"Alhamdulillah keadaan kami baik-baik saja tidak perlu ada yang dikhawatirkan. bagaimana dengan kalian apa Kalian baik-baik saja? Bagaimana Yuli? apa dia sehat? ucap Ibu Dewi kepada Ibu Sintia.


"Kakak jangan khawatir, Yuli baik-baik saja di sini sekarang pekerjaannya sudah lumayan Apakah dia sudah pernah Memberikan sebagian hasil dari keringatnya kepada kalian? tanya ibu Sintia kepada Ibu Dewi.


"Memangnya kenapa?


"Tidak apa-apa hanya sekedar bertanya saja.


"Alhamdulillah akhir-akhir ini Yuli sudah membantu kami. Yuki juga sudah membantu membiayai pengobatan ayahnya. Dan alhamdulillah ayahnya sekarang sudah sembuh karena operasi berjalan dengan lancar.


"Operasi?


"Memangnya Kakak ipar sakit apa?


"Kemarin ayahnya Yuli terkena usus buntu jadi harus dioperasi. Untung ada Yuli Yang membantu biaya pengobatannya." ucap Ibu Dewi kepada Ibu Sintia.


"Tapi mengapa Yuli tidak pernah cerita kepadaku Kak. Kalau kakak ipar berada di rumah sakit?


"Mungkin Yuli tidak mau membebani pikiranmu. Karena dia tahu sendiri kalau beban pikiranmu sudah banyak untuk membiayai biaya kuliah anak-anakmu.


Jadi tolong jangan salahkan Yuli kalau Yuli tidak memberitahu Mu kalau kakak ipar kamu berada di rumah sakit." ujar Ibu Dewi kepada Sintia sang adik.


"Tapi kondisinya sudah baik-baik saja kan Kak?


Bersambung.....

__ADS_1


sambil menunggu novel ini up, yuk mampir ke karya teman emak dijamin seru ceritanya.



__ADS_2