
"Jangan seuzon, hanya kamu yang ada dihati mas saat ini Sayang." ucap David sambil langsung mengecup bibir Laura membuat Laura sangat terkejut.
"Kamu jangan pernah beranggapan kalau mas akan berpaling kepada wanita lain lagi. Mas tidak sepeti dulu lagi sayang percayalah."ucap David sambil menatap Laura dengan tatapan penuh arti.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh menit, David menghentikan mobilnya disalah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah yang mereka tempati saat ini.
"Mas kok berhenti disini?
"Kamu pasti belum makan siang kan?"
"Mas sediri sudah makan apa belum?"
"Kan sudah mas katakan, kalau mas bertanya ya di jawab jangan balik bertanya sayang." celetuk David sambil menatap Laura.
"Laura tersenyum mendengar David yang kembali mengingatkannya untuk menjawab pertanyaannya sebelum bertanya kembali.
"Laura tidak lapar mas, tadi sudah minum es kelapa muda yang ada di pasar tradisional tadi." sahut Laura dengan santai.
Padahal David sudah kesal melihat Laura yang tidak memperhatikan kesehatannya. David tidak ingin terjadi sesuatu kepada Zanin yang ada di rahim Laura walaupun itu tidak darah dagingnya sendiri.
"Kenapa belum makan?"
"Belum lapar mas, lagian tidak selera makan maunya pengen minum terus " sahut Laura
"Kamu harus makan sayang, kamu harus perhatikan juga bayi yang ada didalam kandungan kamu. Asupan gizinya harus cukup sayang." ujar David sambil mengelus perut Laura yang sudah mulai membuncit.
Laura dan David masuk kedalam Restoran setelah drama, di dalam mobil, sebelum mereka turun dari mobil. David memilih duduk di pojok belakang. Dengan telaten David menarik kursi untuk Laura. Tanpa mereka sadari Washington, Aira dan Sandiago juga berada disana sedang menikmati menu makanan yang tersedia disana.
Tiba tiba suara tangis Sandiago terdengar jelas ditelinga para pengunjung, entah apa yang membuat Sandiago tiba tiba menangis membuat Washington dan Aira bingung.
__ADS_1
"Sayang cup .....cup ...cup" ucap Aira sambil meraih tubuh putranya dari kereta dorongnya. Tetapi tangis Sandiago tak kunjung diam. Hingga netra David melihat kearah suara tangis bayi yang sedari tadi terdengar di telinganya.
Kemudian David melihat Aira menggendong seorang bayi tepat di dekat Washington.
Dug ....
Jantung David berdegup kencang ketika melihat Aira sedang menggendong seorang bayi yang lagi menangis.
"Aira!" gumam David tapi masih bisa di dengar oleh Laura.
"Siapa mas?"
"Aira ada disana, wanita yang ada dimasa lalu mas." ucap David berterus terang kepada Laura.
"Oh jadi itu yang namanya Aira yang mas ceritakan hari itu?
"Iya sayang!"
"Mungkin sih. Tapi dia tidak mungkin akan memanfaatkan mas dan membiarkan mas bertemu dengan anak kami. Karna mas sudah menyianyiakan mereka selama ini." sahut David.
"Tidak ada salahnya, mas hampiri saja kesana dan meminta maaflah kepadanya. Maslah dimaafkan atau tidak itu persoalan belakangan." ujar Laura sambil mengebangkan senyumnya.
Laura bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan David untuk menghampiri Aira dan keluarga kecilnya. David bangkit dari tempat duduknya dan mereka bersiap menghadiri Aira yang lagi berusaha menenangkan Sandiago.
"A......Aira." ucap David dengan terbata bata
"Kamu!"
"Iya ini aku David, aku ingin meminta Maaf kepda kamu."
__ADS_1
" Apa?
"Meminta maaf? apa ada di kamus seorang David bin Burhan meminta maaf kepada wanita miskin dan hina seperti saya." sahut Aira dengan nada sedikit meninggi. Tetapi wash berusaha menenangkan Aira.
"Sayang jangan emosi seperti itu, tidak bagus untuk kesehatan kamu. Kasihan putra kita." ucap Washington sambil langsung meraih tubuh sandiago dari gendongan Aira.
"Untuk apa kamu datang kesini? saya tidak ingin bertemu dengan kamu lagi." ucap Aira penuh dengan emosi.
"Siapa pria ini sayang? " tanya Washington kepada Aira. Aira tidak menjawab ia hanya menatap tajam David seolah ingin menerkam David.
"Saya David, orang yang sudah mengecewakan Aira dan membuat Aira menderita selama ini. Timpal David
Washington menatap David dengan tatapan penuh tanya.
"Jujur saya tidak mengetahui Maslah kalian. Tetapi sekarang kalau anda memiliki Masalah kepada istri saya, maka saya pasti akan ikut campur. Karna Aira itu istri sah saya Dimata hukum dan agama. Jadi tolong anda ceritakan apa Maslah anda dengan istri saya." ucap Washington, sambil memberikan susu formula kepada Sandiago agar Sandiago terasa tenang. Dan Washington mempersilahkan David dan Laura duduk dimeja yang sama dengan mereka.
"Aira apa dia bayi kita?
"Sandiago bayi ku dan bayi suamiku Washington. Dia bukan anak kamu." tepis Aira sambil menatap David dengan tatapan tajam
"Saya minta maaf Aira, tolong maafkan saya, saya sudah mendapatkan upah dari apa yang telah Saya perbuat dengan kamu." Saya tidak menginginkan apa apa darimu. Dan tidak akan merebut anak itu dari kamu. Saya hanya ingin kamu memaafkan saya." mohon David
Sementara Laura hanya diam, sebagai pendengar ia juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Aira saat ini. Karena Laura juga mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan Aira . Laura juga korban dari kekasihnya yang tidak bertanggungjawab akan apa yang sudah ia perbuat kepada Laura.
Bersambung......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya. jangan lupa like , coment,vote dan hadiah nya ya.
sambil menunggu novel ini up kembali yuk mampir ke karya teman outhor
__ADS_1