
Dokter Avena penasaran Siapa yang menghubungi dirinya dengan menggunakan nomor ponsel yang tidak ia kenal sama sekali. Ketika David sudah selesai melakukan ritual mandinya, Ia pun menghampiri dokter Avena dan Laura yang sedang berbicara di ruang tamu.
"Ada apa dek Kok kamu sedari tadi memanggil-manggil nama kakak? baru saja kamu sampai di rumah sudah berteriak-teriak memanggil nama kakak dan juga nama Laura Ada apa sebenarnya? coba ceritakan kepada kakak!"
Dokter Avena menghela nafas berat. Ia pun menceritakan mengenai nomor ponsel yang menghubungi dirinya saat itu. Tetapi ketika Dokter Avena kembali menghubungi nomor ponsel itu, telepon selulernya sama sekali tidak diangkat. Bahkan dokter Avena sudah berulang kali menghubunginya.
"Kakak kenal nggak nomor yang tertera di sini? Tanya Dokter Avena sambil memberikan nomor ponsel yang ada di layar ponselnya.
Ketika David melihat nomor ponsel itu, David juga sama sekali tidak mengenal nomor yang menghubungi dokter Avena.
"Aku jadi bingung sedari tadi aku sudah menghubungi nomor ini. Tetapi tak kunjung diangkat. Padahal saat aku bertugas memeriksa pasien yang sudah banyak mengantri, nomor ponsel ini bolak-balik menghubungi aku." ucap dokter Apena kepada David dan juga Laura membuat David dan Laura pun bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang iseng menghubungi dokter Avena
Ketika ketiganya sedang asyik dalam pemikiran masing-masing, nomor ponsel itu kembali menghubungi dokter Apena hingga dokter Avena langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Tak lupa dokter Avena juga menghidupkan speakerphone-nya agar David dan Laura dapat mendengar Siapa yang menghubunginya.
"Hallo assalamualaikum dengan dokter Avena di sini!" sapa dokter Avena di dalam sambungan telepon selulernya.
Hening tidak ada jawaban sama sekali tetapi ponsel itu masih saja tersambung membuat dokter Avena. Semakin penasaran Siapa yang menghubungi dirinya.
"Hello Assalamualaikum ini siapa? dokter Apena kembali bertanya di dalam sambungan teleponnya. Tetapi orang tersebut tidak menyahut sama sekali membuat dokter Avena semakin kesal. Ia pun langsung memutuskan sambungan telepon selulernya kepada nomor ponsel yang tidak ia kenal itu.
Kemudian dokter Avena menghubungi Zidan, ia berniat untuk meminta bantuan kepada Zidan melacak nomor ponsel yang menghubungi dirinya.
kring
__ADS_1
kring
kring
Ponsel milik Zidan berdering terdengar jelas di telinganya, hingga dirinya yang sedang asyik menyelesaikan tugasnya sebagai asisten Surya. Zidan pun melirik nomor ponsel yang menghubungi dirinya Kalau dokter Avena yang menghubungi Zidan.
"Hello adikku yang cantik tumben amat kamu menghubungi Kakak sore-sore begini Apa kamu tidak sibuk sore ini? sapa Zidan kepada dokter Avena.
"Avena baru pulang dari rumah sakit. Sedari tadi Avena memeriksa banyak pasien. Tetapi ketika Avena memeriksa pasien ada nomor ponsel yang tidak Avena kenal menghubungi Avena berulang kali.
Tetapi ketika Avena menghubunginya kembali Ia tidak mengangkat. Bahkan barusan ia kembali menghubungiku. Tetapi tidak berbicara sama sekali membuat Avena penasaran Siapa yang menghubungi Avena.
"Bolehkah Kakak membantuku untuk melacak Siapa pemilik ponsel ini?" tanya dokter Avena kepada Zidan.
Setelah berbicara kepada Zidan Dokter Avena memutuskan sambungan telepon selulernya kepada Zidan, dan kembali menghampiri Laura dan David yang sedang duduk di sofa di ruang tamu.
"Bagaimana kata Zidan Apakah Zidan dapat melacak nomor itu? tanya David kepada Dokter Avena.
"Kak David mencoba untuk melacak nomor ponsel itu. Ia juga yakin mampu mencari tahu siapa pemilik nomor itu. Jujur Avena sangat kesal ketika Avena menghubungi nomor itu. tetapi tak kunjung diangkat." ucap dokter Avena sangat kesal.
Avena pamit ke kamar dulu ya kak!" soalnya Avena ingin mandi. Badan Avena sudah gerah setelah satu harian beraktifitas di rumah sakit." ucap dokter Avena sembari berlalu meninggalkan Laura dan David berada di ruang tamu.
Ketika Avena sudah berada di dalam kamar, Ia pun langsung berlalu ke kamar mandi berniat untuk membersihkan diri. Setelah selesai melakukan ritual mandinya Ia menggunakan pakaian yang biasa ia gunakan di rumah. Kemudian Ia pun mengambil ponselnya kembali. Dan berniat untuk membuka beberapa akun sosial media miliknya.
__ADS_1
Sementara di ruang tamu, David dan Laura sedang menikmati siaran televisi yang berlangsung di salah satu televisi swasta.
"Kamu sudah makan? tanya David kepada Laura
"Sebentar lagi Mas!" Laura belum lapar. Kalau Mas sudah lapar lebih baik Mas makan duluan jangan sampai ditahan-tahan laparnya. Laura tidak ingin Mas kenapa-kenapa.
"Memangnya kenapa?
"Tidak apa-apa Mas!" yang pasti Laura tidak ingin kalau mas sampai sakit. Karena selama ini Mas sudah banyak membantu Laura di rumah ini. Apalagi mas selalu memperhatikan kandungan Laura sampai sampai mas menyempatkan diri untuk membuat susu untuk Laura setiap malam.
"Trimakasih ya mas!" mas sudah ada untuk Laura disaat Laura sedang butuh seseorang untuk tempatku bersandar." ucap Laura sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa dan kepalanya diletakkan dia atas paha David . Membuat David sedikit heran dengan sikap Laura yang begitu manja terhadapnya.
Padahal Selama ini, Laura tidak pernah bersikap manja terhadap David. Ia selalu berbicara ceplos ceplos kepada David. Tetapi David tidak pernah ambil hati kalau Laura sedikit kasar kepada David.
Bahkan Laura terkadang sering membantah apa yang dikatakan oleh David kepadanya.
David mengelus rambut Laura yang terurai begitu saja di pangkalan paha David. salah satu anggota tubuh bergerak dan membesar begitu saja ketika berdekatan dengan anggota tubuh seseorang.
"Ada apa mas? kok sepertinya ada yang berjarak dan semakin mengeras? tanya Laura berniat untuk menjahili kekasihnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1