
Jadi tolong jangan salahkan Yuli kalau Yuli tidak memberitahu Mu kalau kakak ipar kamu berada di rumah sakit." ujar Ibu Dewi kepada Sintia sang adik.
"Tapi kondisinya sudah baik-baik saja kan Kak?
"Alhamdulillah kondisinya sudah membaik dan luka operasinya sudah mengering." ucap Ibu Dewi.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya Sintia hampir lupa ingin memberitahu kepada kakak. Ada sesuatu hal yang harus kakak ketahui tentang Yuli.
"Memangnya ada apa dengan Yuli? apa dia membuat kesalahan? Tanya Ibu Dewi praduga yang tidak-tidak tentang Yuli.
"Tidak Kak, Yuli baik-baik saja di sini. dan sekarang dia bekerja di perusahaan ternama yang ada di kota Jakarta.
Ada sesuatu hal yang harus kakak ketahui. mungkin dengan waktu dekat ini, Yuli bersama calon suaminya akan pulang ke kampung untuk melamar Yuli secara langsung kepada kakak dan kakak ipar." ucap Ibu Sintia kepada Ibu Dewi yang merupakan kakak kandung dari ibu Sintia.
"Maksud kamu apa? Apa Yuli ingin menikah?
"Ya sepertinya begitu Kak!" dan pria itu sudah ada di sini meminta Restu dariku terlebih dahulu baru kepada kalian. Ia mengatakan kalau dirinya sangat sayang dan cinta kepada Yuli. Dia juga berjanji kalau dia tidak akan menyakiti hati Yuli." ucap ibu Sintia
"Tapi Yuli itu masih muda masih berumur 23 tahun. Bagaimana jika dia belum mampu menjalani kehidupan berumah tangga? ucap Ibu Dewi khawatir jika Yuli tidak mampu bertahan sebagai ibu rumah tangga yang selalu taat kepada suami.
"Kalau masalah itu kita bisa bicarakan dengan Yuli. Sekarang tergantung Kakak setuju atau tidak Yuli menikah.
"Kakak tidak bisa mengatakan setuju atau tidak. Karena Kakak belum mengenal lelaki itu. Kalau menurutmu lelaki itu cocok untuk menjadi pendamping hidup Yuli, maka Kakak juga akan menyetujuinya. Tetapi bagaimanapun kakak harus bertanya kepada kakak ipar kamu." ucap Ibu Dewi kepada Sintia.
Setelah mereka sepakat kalau Yuli dan Zidan harus terlebih dahulu meminta izin kepada kedua orang tua Yuli. Ibu Sintia kembali menghampiri Yuli dan Zidan yang duduk di sofa sederhana Milik ibu Sintia.
"Apa kata ibu Bi? tanya Yuli khawatir kalau kedua orang tuanya tidak menyetujui pernikahan itu.
__ADS_1
"Ibu kamu meminta kalian harus terlebih dahulu pulang ke kampung Untuk sekedar berkenalan terlebih dahulu kepada ibu dan Ayah kamu.
Kamu tahu sendiri kan tradisi di kampung kita bagaimana? Jadi kita tidak boleh sembarangan, lebih baik kalian segera pulang ke kampung untuk meminta restu kepada Kak Dewi dan kakak ipar." ucap Sintia kepada Yuli dan Zidan dibalas anggukan dari Zidan dan Yuli.
Setelah selesai berbicara panjang lebar dan memberitahu tujuan kedatangannya ke rumah Ibu Sintia, Zidan berpamitan kepada Ibu Sintia untuk kembali ke apartemen miliknya karena hari sudah hampir malam.
"Kalau begitu Zidan pamit pulang dulu Bu"
"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut." ujar Ibu Sintia sambil mengembangkan senyumnya kepada Zidan.
Zidan tidak menyangka kalau bibi Sintia menyambutnya dengan pintu terbuka. Padahal sebelumnya Yuli sudah terlebih dahulu khawatir jika bibinya tidak akan menyetujui hubungan mereka. Yang ternyata kekhawatiran Yuli tidak terjadi. Justru Bibi Sintia menyetujui hubungan Yuli dengan Zidan.
"Mas pulang dulu ya sayang!"ucap Zidan ketika Yuli menghantarkan Zidan sampai ke pintu depan.
"Mas hati-hati di jalan, jangan mampir ke mana-mana langsung saja pulang ke Apartemen." ujar Yuli sambil memberi salam kepada Zidan. Zidan mengecup kening Yuli dan melambaikan tangannya.
****
"Di Manado"
Suasana rumah keluarga Aira sudah terlihat ramai. Karena kedua orang tua Aira mengadakan syukuran atas kelahiran cucu pertama mereka. Yang diberi nama Sandiago. Terlihat kedua orang tua Aira sangat antusias untuk merayakan cucu pertama mereka Sandiago.
Begitu juga dengan Washington ia terlihat bahagia bersama Aira. Walaupun hubungan keduanya belum ada ikatan pernikahan sama sekali. Tetapi rasa cinta dan kasih sayang yang dimiliki Washington begitu besar terhadap Aira membuat dirinya tidak peduli kalau anak yang dilahirkan oleh Aira tidak darah dagingnya sendiri.
Ia juga ingin berniat berterus terang kepada kedua orang tua Aira mengenai hubungan mereka sebenarnya. Dan Washington juga ingin menikahi Aira secara resmi di depan agama dan juga negara. Tetapi ia menunggu setelah acara syukuran kelahiran Putra mereka selesai diadakan.
****
__ADS_1
Sore harinya acara syukuran penyambutan Sandiago selesai, Washington ingin langsung berbicara kepada kedua orang tua Aira mengenai hubungan mereka. Tetapi sebelumnya Washington meminta izin terlebih dahulu kepada Aira untuk berterus terang kepada kedua orang tuanya.
"Begini sayang!" Mas berniat untuk menikahi mu dalam waktu dekat secara resmi di depan agama dan negara . Tetapi kalau kita belum berterus terang kepada kedua orang tua kamu, pasti mereka akan bertanya-tanya tentang rencana itu.
Jadi daripada kita terus berbohong untuk menutupi kebohongan kita sebelumnya, kita lebih baik terus terang sekarang daripada kedua orang tua kita mengetahuinya lebih dahulu." ucap Washington kepada Aira.
"Tapi bagaimana jika ayah dan ibuku marah kepada kita Mas?"tanya Aira karena dirinya sangat khawatir jika ayah dan ibunya akan tidak menerima Mereka lagi setelah mengetahui kebohongan yang mereka lakukan.
" Kan awalnya kita tidak niat berbohong. mereka yang langsung menganggap kita pasangan suami istri. Tetapi mas juga salah tidak langsung memberitahu hubungan kita yang sebenarnya. Kalau pada saat itu kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Mas menghantarkan Mu karena mendapat perintah dari atasan.
Tetapi entah mengapa karena kebohongan itu, mas jadi benar-benar jatuh cinta sama kamu. Jujur mas tidak bisa jauh dari kamu sayang. Apalagi dengan kehadiran Putra kita Sandiago. Mas tidak akan rela jika melihat lelaki lain yang harus menjadi pendamping hidup Mu dan mengurus Sandiago.
Percayalah sayang!" Mas sangat cinta dan sayang sama kamu." ucap Washington terlihat sangat serius kepada Aira.
"Ya sudahlah terserah Mas saja yang penting apapun yang terjadi kita harus tetap bersama Ya Mas. Karena Aira juga sudah sangat sayang dan cinta sama mas." sahut Aira dibarengi sedikit khawatir.
Setelah mereka sepakat untuk memberitahu yang sebenarnya, kepada kedua orang tua Aira. Aira dan Washington pun keluar dari kamar setelah baby Sandiago tertidur pulas. Aira dan Washington sudah melihat kedua orang tua Aira duduk di ruang tamu sedang menikmati siaran televisi yang tayang di salah satu televisi swasta.
"Ibu..... Ayah..... ada sesuatu yang ingin kami bicarakan kepada ibu dan ayah." ucap Aira sedikit gugup.
"Ada apa nak? Sepertinya kamu terlihat kwatir" tanya Pak Alton kepada Aira.
Aira tidak langsung menjawab. Ia menatap Washington dengan tatapan penuh tanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1