Mama Muda

Mama Muda
(4) Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

"Semudah itukah kau bilang cari penggantimu? Aku sangat mencintaimu. Bagaimana bagaimana mungkin aku mencari penggantimu? Tak ada di dunia ini yang bisa menggantikanmu. Kita lihat saja nanti. Aku akan berusaha membuatmu mau menikahiku walau dengan cara kotor sekalipun." ucap Luna.


"Terserah apa katamu! Sekarang keluar!" teriak Pharrel.


"Mengapa aku harus keluar dari kamar calon suamiku?" Ucap Luna santai.


"Cih, jangan sebut aku sebagai calon suamimu. Sudahlah, keluar aku ingin mandi." ucap Pharrel.


"Yasudah mandi saja. Aku akan tetap di sini. Kau kan mandi di kamar mandi? Aku tak akan melihatmu." ujar Luna masih duduk di ranjang Pharrel. Pharrel yang kesal pun akhirnya bangkit dari ranjangnya lalu menyeret Luna keluar dari kamarnya begitu saja.


"Hei! Hei! Hei! Ah ... Sakit. Kau menarikku begitu kasar!" Ucap Luna protes.


"Itu salahmu sendiri, karena kau tak mau keluar dari kamarku." ucap Pharrel. Lalu Pharrel masuk ke kamar nya dan menutup pintu dengan sangat keras.


Pharrel Pov


Apa sebenarnya yang Luna rencanakan hari ini? Pagi pagi sudah menggangguku saja. Setelah menyeretnya keluar dari kamarku, aku langsung mandi. Saat mandi, aku tiba tiba memikirkan Jenna lagi.


"Sepertinya, aku memang harus mencarinya. Aku akan meminta Jion untuk mengurus perusahaan untuk sementara. Dan aku akan meminta Jacky untuk menemaniku mencari keberadaan Jenna." kataku pada diri sendiri.


Yah, jadi... Jion bekerja di perusahaanku sudah cukup lama. Semenjak aku menggantikan posisi ayah menjadi CEO, aku juga langsung menunjuk Jion untuk menjadi sekretarisku. Ayah meminta Luna yang menjadi sekretarisku. Tapi, aku muak melihatnya. Jadi aku menolaknya.


Setelah mandi tiba tiba ponselku berdering.


"Kenapa?" Tanyaku to the point


"Cih, tak bisa kah kau santai sedikit?" Tanya Jion


"Cepat katakan, jangan basa basi." kataku.


"Ada sebuah proyek yang harus kau bahas bersama client kita yang berada di California. Dan client kita memintamu pergi menemuinya di California." ucap Jion.


"Apa? California? Aku kan harus mencari Jenna. Bagaimana ini? Apakah harus aku? Apakah kau tak bisa menggantikanku pergi ke California?" Tanyaku pada Jion.


"Client kita ingin bertemu dengan CEO perusahaan, bukan sekretaris perusahaan. Tapi, kau tenang saja aku pasti menemanimu." ucap Jion.


"Baiklah, kita pergi pagi ini." ucapku.


"Okey." ucap Jion lalu panggilan pun berakhir.


"Jenna, maaf. Hari ini aku ada keperluan. Tapi, aku janji akan mencarimu ... dan anak kita." ucapku.


Anakku? Entahlah, tapi aku percaya Jenna tak menggugurkannya waktu itu.


Jenna Pov


Hari ini, di restoran sangat ramai. Dan pemilik restoran tempatku bekerja memintaku untuk pulang sedikit agak malam. Biasanya, aku akan pulang sekitar jam 7 malam, tapi sepertinya hari ini aku akan pulang sekitar jam 9 malam.

__ADS_1


"Tidak apa kan, Jen?" Tanya pemilik restoran.


"Iya, Bu... Tidak apa-apa." ucapku.


"Tapi, bagaimana dengan Ella? Dia pasti akan kelaparan jika menunggumu pulang." ucap pemilik restoran.


"Aku akan menghubungi anakku untuk memasak sendiri." ucapku.


"Apa bisa? Ella itu kan masih kecil." ucap pemilik restoran.


"Aku sering mengajarinya memasak, dia bisa." ucapku bangga.


"Baiklah. Jika sudah selesai, lanjutkan pekerjaanmu." ucap pemilik restoran.


"Ya, Ibu." ucapku singkat. Aku sudah cukup lama bekerja di restoran ini, yah semenjak Ella berumur 3 tahun. Dan pemilik restoran sudah menganggapku dan anakku sebagai keluarganya. Aku sungguh berterima kasih pada keluarga Walter, mereka mau menganggapku dan anakku sebagai keluarganya di saat aku dan anakku di buang oleh keluargaku sendiri.. dan juga ayah dari anakku.


Setelah aku menghubungi Ella, karyawan lain yang tak lain adalah sahabatku menghampiriku.


"Jen, tolong antarkan pesanan ini kemeja nomor 12." ucap Ladys


"Ah, baiklah." ucapku.


Saat aku ingin kemeja nomor 12, dapat kulihat seseorang yg sangat Ella rindukan berada di meja itu bersama Jion dan dua orang lain yang tak kukenal. Aku jadi ragu untuk mengantarkan pesanan yang Ladys.


"Kenapa diam saja? Cepat antarkan." ujar Ladys.


"Kumuhon, Ladys." lanjutku memohon.


"Memangnya kenapa? Bukannya sama saja?" Tanya Ladys.


"Ayah Ella, ada di sini."ucapku pelan.


"Apa?!!" Teriak Ladys


"Hei! Jangan berteriak." ucapku sambil menutupi mulut Ladys dengan tanganku.


"Yang mana? Yang mana ayah Ella? Apa yang tampan itu?" Tanya Ladys penasaran.


"Yang tampan mana maksudmu?" Tanyaku pada Ladys.


"Entahlah, ada dua pria tampan di meja itu... dan dua pria parubaya."


"Hei! Apa yg kalian lakukan? Menggosip?" Ucap pemilik restoran emosi.


"Ah, maaf, bibi." ucap Ladys lalu pergi begitu saja.


"Ladys bagaimana dengan pesanan ini?" Tanyaku pada Ladys dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


"Ada apa dengan pesanan itu?" Tanya pemilik restoran padaku.


"Ah, tidak apa-apa, ibu." ucapku dengan senyum canggung.


"Kalau begitu cepatlah antarkan pesanan itu, setelah itu kau boleh pulang. Aku kasihan pada Ella, kupikir kau harus cepat pulang. Dan setelah mengantarkan pesanan itu, bawalah beberapa makanan dari sini untuk kau bawa pulang." ucap pemilik restoran itu.


"Ya? Terima kasih, bu. Ya, kalau begitu aku akan mengantarkan pesanan ini terlebih dahulu. Permisi." Ucapku yang seketika lupa akan keberadaan Pharrel.


Sesampainya di meja no 12, aku dengan cepat meletakkan pesanan mereka di meja. Tiba- tiba aku teringat pada meja 12 yang di tempati Pharrel dan Jion. Aku harap, Pharrel dan Jion tidak menyadari kehadiranku.


Setelah selesai, aku ingin kembali ke pantry. Namun, sesuatu yang ku khawatirkan benar terjadi.


"Jen." panggil Pharrel. Seketika aku mematung dengan posisiku yang memunggunginya.


Sungguh, aku merindukan suara itu. Aku merindukan segala tentang dia. Yah, jujur aku juga merindukannya .... sama seperti Ella. Walaupun, Pharrel sudah terlalu banyak menyakitiku. Dia bahkan menghancurkan masa depanku. Dia juga membuatku diusir dari rumah. Tapi, tetap saja ... aku juga akan merindukannya, bahkan mencintainya.


"Jenna, Jenna Rachelya." panggil Pharrel lagi. Seketika aku langsung berlari keluar restoran itu sebelum Pharrel melihat wajahku.


"Jenna!" Teriak Pharrel sambil mengejarku.


"Kumohon, jangan ikuti aku. Aku tak ingin sampai Ella bertemu denganmu. Aku takut kau akan menyakitinya, sama seperti dulu ketika kau ingin aku menggugurkannya." ucapku dalam hati.


"Jenna, berhenti!" Teriak Pharrel lagi. Tapi, aku tak akan berhenti. Dan aku berbelok kekiri, aku bersembunyi di semak semak dekat restoran.


"Pharrel, sudahlah. Ayo kita kembali. Client kita pasti menunggumu di sana." ucap Jion yang ternyata menyusul Pharrel.


"Jion, apa kau melihatnya? Tadi itu Jenna. Jenna Rachelya, teman sekolah kita." ucap Pharrel.


"Aku tak melihat wajahnya. Lagi pula, apa mungkin Jennie ada di California? Setauku, dia tak memiliki keluarga di sini. Jika dia akan melarikan diri dia pasti akan ke New York." ucap Jimin.


"Aku yakin, tadi itu Jenna. Aku harus tau, apakah dia menggugurkan atau melahirkan anak kami. Aku harus tau itu. Bagaimana pun, aku adalah ayah dari anak yang Jenna kandung." ucap Pharrel.


Saat aku sedang mendengarkan percakapan mereka, aku melihat ada ular yang mendekatiku.


"Ah, bagaimana ini?" Ucapku dalam hati.


Sampai tak sengaja, aku membuat semak semak itu bergerak.


"Kau lihat barusan? Semak semak ini bergerak." ucap Taehyung.


Astaga, aku harus bagaimana? Aku harus cepat pergi dari sini sebelum ular itu menyerangku dan Pharrel melihatku.


"Jen, aku tau kau ada di balik semak semak ini. Cepatlah keluar!" Teriak Pharrel.


*Jenna Pov End


Tbc*

__ADS_1


__ADS_2