
At Jenna Home
Jenna baru saja sampai di rumah. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Ibu? Bukankah kau bilang akan pulang sekitar jam 9? Bahkan ini masih jam 7.30?" Tanya Ella setelah membukakan pintu untuk ibu nya.
"Ah, iya. Nenek Walter tiba tiba meminta ibu untuk pulang lebih awal daripada karyawan lainnya." ucap Jenna sambil masuk dengan terburu buru lalu dengan cepat menutup pintu dan mengunci nya.
"Ibu? Mengapa kau terlihat ketakutan? Ada apa? Apakah ada orang yang ingin berbuat jahat pada ibu?" Tanya Ella, tapi Jenna malah memeluk anaknya itu.
"Ella, berjanjilah pada ibu ... bahwa kau tak akan meninggalkan ibu. Apapun yg terjadi, tetaplah bersama ibu," ucap Jenna yang masih memeluk anaknya.
"Ya, Ibu. Tentu saja. Aku tak akan meninggalkan ibu. Memangnya ada apa?" Tanya Ella penasaran.
"Apakah aku bukan anak ibu? Dan orangtua kandungku akan mengambilku dari ibu?" Tanya Ella lagi. Seketika Jenna melepaskan pelukannya pada anak satu satunya itu.
"Mengapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja kau anak kandung ibu? Ibu yg melahirkanmu." Ucap Jenna.
"Tapi, kau memang benar. Ibu hanya takut, saat ayah mu tahu bahwa ibu melahirkanmu ... Ayah mu mungkin akan membawamu pergi dari ibu." batin Jenna.
"Lalu, mengapa ibu menyuruhku untuk tak meninggalkan ibu? Jika aku adalah anak kandung ibu, pasti ibu tahu bahwa aku takkan meninggalkan. Karna, setiap aku pergi. Pulangku hanya padamu ibu." ucap Ella.
"Kamu memang anak kandung ibu, tapi ibu ingin kau tetap berjanji untuk tak meninggalkan ibu suatu saat nanti." ucap Jenna.
"Ya, aku berjanji takkan meninggalkan ibu suatu saat nanti." janji Ella pada Jenna.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Jenna sambil memeluk Ella lagi.
"Ah, iya. Apakah kau sudah makan malam? Nenek Wakter tadi memberikan beberapa makanan untuk ibu bawa pulang, tapi eomma lupa membawanya." ucap Jenna sedikit merasa bersalah pada anaknya. Ia takut anaknya belum makan malam.
"Aku belum makan ibu. Aku baru saja ingin mulai memasak, karna aku baru saja merasa lapar." ucap Ella.
"Ya sudah, aku akan memasak untuk makan malam kita. Kau masih bisa kan menahan laparmu sebentar?" Tanya Jenna.
"Ya, aku bisa. Aku juga akan membantu ibu memasak" ucap Ella.
"Benarkah? Kalau begitu ... ayo." Ajak Jenna yang mulai lupa akan pertemuannya dengan Pharrel.
***
"Ella." panggil Jenna pada anaknya yang sedang menonton tv.
"Iya, bu. Kenapa?" Tanya Ella.
"Jika ayah memintamu untuk tinggal bersamanya, apa kau mau?" Tanya Jenna tiba tiba.
"Hmm, tentu Saja!" Ucap Ella dengan semangat.
"Itu artinya kau akan meninggalkan ibu sendiri? Padahal kau sudah berjanji pada ibu untuk tak meninggalkan ibu." ucap Jenna kecewa pada jawaban anaknya.
"Hng? Mengapa ibu berbicara seperti itu? Aku memang sudah berjanji pada ibu, dan sampai kapanpun aku tak akan meninggalkan ibu. Ibu tak akan sendiri, karena jika aku tinggal dengan ayah, itu artinya ibu juga." ucap Ella.
__ADS_1
"Apakah ayah akan menjemput kita, ibu?" Tanya Ella.
"Apa? Ah, entahlah. Ibu kan hanya bertanya. Lagipula ayahmu lagi sibuk di Los Angelas, dia belum bisa untuk menjemput kita sekarang." ucap Jenna asal.
"Mm, ibu selalu bilang ayah sibuk. Tapi, setidaknya ayah menghubungiku walau hanya sebentar. Tidakkah ayah merindukanku?" Tanya Ella, Jenna terkejut, ia bingung untuk menjawab pertanyaan anaknya. Karna ia sendiri juga penasaran tentang itu.
"Ayah pasti merindukanmu, sayang." ucap Jenna pada akhirnya. Ia tak tahu apakah ia sedang berbohong atau mengatakan sebuah fakta.
"Jadi, apakah malam ini aku bisa menghubungi ayah?" Ucap Ella.
"Apa?" Ucap Jenna terkejut. Jenna sering bercerita pada Ella, bahwa Pharrel sering menghubunginya saat ia berada di restoran. Yang pada kenyataannya, Jenna berbohong. Jenna ataupun Pharrel sama sama tak memiliki kontak untuk berkomunikasi.
"Em, inikan sudah malam Ella. Ayah pasti sudah tidur. Ayah kan sibuk, dia pasti sangat lelah, El. Besok saja ya?" Tanya Jenna.
"Baiklah." ucap Ella lesu.
"Jika ayah menghubungi ibu lagi, katakan bahwa aku sangat merindukannya bu. Dan suruh ayah cepat menjemput kita." pesan Ella.
"Ya, ibu pasti akan mengatakannya pada ayah. Sekarang kau juga harus tidur, karena besok kau sekolah."
"Ya, ibu." ucap Ella lalu pergi kekamarnya.
"Maaf Ella. Ibu terlalu banyak berbohong padamu. Ayahmu tak pernah menghubungi ibu, karena ayahmu tak peduli pada kita. Ayahmu tak menginginkan kita, Ella." ucap Jenna sambil menangis.
Bersambung
__ADS_1