
Setelah Zidan menyerahkan sampel rambut dokter Avena dengan rambut Zidan sendiri kepada dokter ahli forensik dokter Idries. Zidan dan Yuli berlalu dari rumah sakit menuju kantor Dirgantara Group. Sebelumnya Zidan sudah meminta kepada Yuli untuk merahasiakan itu semua tentang kecurigaannya kepada dokter Avena.
Yuli menatap Zidan dengan tatapan penuh tanya. seolah dirinya penasaran dengan kehidupan pribadi lelaki yang ada di sampingnya itu. Pria yang mengemudi mobil yang ia tumpangi.
Kamu kenapa menatap saya seperti itu?
"Tidak Pak Zidan!" Saya hanya membayangkan wajah Pak Zidan dengan dokter Avena Memang Ada kemiripan. Pantas saja Pak Zidan memiliki kecurigaan Kalau dokter Avena itu adik kandung pak Zidan yang hilang saat kecil.
"Tapi bagaimana jika dugaan Pak Zidan itu salah?
"Pasti pak Zidan akan sangat kecewa bukan?
Zidan menghela nafas berat. Ia tahu kalau dirinya akan kecewa jika hasil tes DNA yang ia lakukan terhadap Avena tidak cocok dengan dirinya.
"Aku hanya ingin memastikan saja daripada aku harus menebak-nebak sendiri dalam pikiranku." sahut Zidan
Yuli menganggukkan kepalanya pertanda ia paham akan Apa yang dirasakan oleh Zidan.
"Pak....!" Sepertinya kita harus segera ke kantor karena Pak Surya sudah menunggu kita di kantor. Ini sudah sekitar pukul jam 9.30.
"Apa Bapak sebelumnya tidak memberitahu kepada Pak Surya?
Zidan menggelengkan kepalanya pertanda dirinya tidak memberitahu kepada Surya bahwasanya dia datang terlambat ke kantor karena ada tujuan tertentu ke rumah sakit Dirgantara Group.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 35 menit. Zidan dan Yuli tiba di kantor Dirgantara.
Surya menatap Zidan dengan tatapan tajam karena melihat Zidan terlambat masuk kantor.
"Ikut saya!"suara bariton Surya terdengar jelas di telinga Zidan.
"Baik Pak!"sahut Zidan sambil langsung mengikuti Surya masuk ke ruangannya sementara Zidan memberi kode kepada Yuli untuk segera masuk ke ruang kerjanya.
"Silakan duduk pak Zidan!"perintah Surya dengan nada sedikit meninggi.
"Sudah jam berapa sekarang baru tiba di kantor?
"Kamu ingin merugikan saya dengan membuat pola kerjamu seperti ini? tanya Surya kepada Zidan.
__ADS_1
"Maaf Pak Surya, kebetulan saya ada urusan ke rumah sakit Dirgantara. Jadi saya terlebih dahulu ke sana sebelum masuk kantor.
"Ada urusan apa kamu kamu dengan dokter Idries?
Zidan langsung terperanjat karena ia bingung dari mana Surya mengetahui kalau Zidan menemui dokter ahli forensik itu.
"Jawab Zidan!" Sejak kapan kamu merahasiakan sesuatu kepada saya? tanya Surya dengan suara yang agak meninggi. Zidan menghela nafas berat.
"Saya ada sesuatu penting kepada dokter Idries!
"Sesuatu penting apa sehingga kamu menemui dokter ahli forensik itu?
"Saya bertemu dengan seorang wanita di jalan. yang ciri-cirinya sama dengan adik saya yang hilang sejak kecil. Tanda lahir yang ada di daun telinganya membuat kecurigaanku semakin kuat. Yang kebetulan wanita itu membutuhkan bantuan dari saya dan juga Yuli pada saat itu.
Saya dan Yuli membawa dokter Avena apartemenku dan menginap di sana bersama Yuli. Niat hatiku hanya ingin menolong. Tetapi karena aku melihat tanda lahir yang ada di daun telinga dokter Avena sehingga aku diam-diam ingin melakukan tes DNA kepada dokter Avena yang merupakan dokter ahli kandungan di rumah sakit Dirgantara juga." terang Zidan kepada Surya.
"Saya sudah mengetahui itu. Tetapi saya hanya ingin menyelidiki sebelumnya. Mengapa dokter Avena sampai jatuh, kepada keluarga David.
"Apakah sebelumnya Pak Surya sudah memiliki feeling Kalau dokter Avena merupakan adik kandung saya?
"Iya!"makanya saya direktur yang bertugas di rumah sakit Dirgantara untuk menerimanya sebagai dokter kandungan di rumah sakit Dirgantara.
"Saya tidak ingin kamu kecewa. Jika kecurigaan saya salah. Makanya saya terlebih dahulu untuk menelusuri siapa sosok Avena sebelum mengadakan tes DNA antara kamu dengan dokter Avena.
Zidan hanya terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata Yang ternyata selama ini diam-diam Surya juga mencari keberadaan sosok adik kandungnya. Sungguh hati Surya sangat mulia membantu Siapa saja yang membutuhkan bantuan dari dirinya.
"Sudahlah lebih baik kamu berdoa hasilnya positif jika Avena itu adalah adik kandung kamu." ucap Surya kepada Zidan. Zidan mengingat masa masa pahit itu, embun yang ada di pelupuk matanya yang ia tahan sedari tadi, akhirnya luruh bebas membasahi wajah tampannya.
lelaki tampan itu sedikit rapuh ketika dirinya mengingat masa-masa pahit itu. Apalagi ketika dirinya mengingat sosok kedua orang tuanya bergelumuran darah di tengah jalan akibat ulah perampok yang yang membunuh kedua orang tuanya. Yang sampai sekarang itu menjadi misteri.
Pihak kepolisian tidak mampu mengusut tuntas kejadian yang sudah sangat lama terjadi. Tetapi Surya tidak pernah tinggal diam. Ia terus menelusuri kasus yang menimpa keluarga Zidan. Walaupun sampai sekarang Surya belum menemukan titik terangnya. Tetapi kecurigaan Surya mengarah kepada kedua orang tua David. tetapi Surya tidak dapat menuduh sembarangan jika tidak ada bukti-bukti yang kuat.
Sekarang kembalilah ke ruangan mu aku yakin cepat atau lambat kamu akan bertemu dengan adik kandung sendiri.
"Terima kasih Kak!"ucap zidan sembari memberikan pelukan kepada Surya. Ia benar-benar menganggap Surya sebagai kakak kandungnya sendiri. Sehingga dirinya tidak ingin membantah perintah dari kakaknya itu.
Begitu juga dengan Surya, Ia sudah menganggap kalau Zidan itu adalah adik kandungnya sehingga Surya mempercayakan Zidan turut membantu dirinya membesarkan Dirgantara Group. Yang akhirnya Zidan dan Surya berhasil membesarkan perusahaan Dirgantara.
__ADS_1
Zidan berlalu dari ruangan Surya menuju ruang kerjanya. Ia melihat Yuli sudah sibuk mengerjakan pekerjaannya. Yuli menatap netra Zidan tampak sembab.
"Pak Zidan.."Apa yang terjadi, Mengapa anda seperti baru menangis? apa Pak Surya marah kepadamu? saya bisa memberikan penjelasan kepada Pak Surya agar kamu tidak diomelin olehnya." pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh Yuli kepada Zidan. karna dirinya mengkawatirkan Zidan
"Saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja dan Kak Surya tidak pernah memarahi saya. ucap Zidan sembari duduk di kursi kebesarannya.
Yuli hanya menatap Zidan dengan penuh tatapan penuh tanya, sepertinya Yuli melihat kegelisahan di dalam diri Zidan.
"Maaf Pak Zidan jika saya ingin ikut campur dengan urusan pribadi anda. Bolehkah saya mengetahui kejadian apa yang menimpa keluarga anda saat adik perempuan Anda hilang saat berusia masih kecil?
Zidan menghela nafas berat. Sejujurnya Ia membutuhkan seseorang yang mendengar keluh kesahnya. Zidan bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Yuli. Yuli berdiri dari tempat duduknya. Pak Zidan bisa cerita kepada saya siapa tahu dengan cerita kepada saya perasaan Pak Zidan akan lega. Semua orang memiliki masa lalu, pahit tidaknya masa lalu kita pasti pernah menjalaninya." ucap Yuli
Tiba-tiba Zidan langsung memeluk Yuli. air bening yang membasahi wajah tanpa nya pun luruh begitu saja.
"Ada apa Pak? Mengapa anda menangis?" ucap Yuli sembari menuntun Zidan duduk di sofa yang ada di ruang kerja mereka.
Zidan menceritakan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan masa lalu Zidan sampai dirinya kehilangan sosok adik kandungnya dan juga kedua orang tuanya. Hingga dirinya dibantu oleh surya.
Mendengar penuturan dari Zidan, terlihat Yuli juga merasa iba melihat Zidan mengalami hal tragis yang mampu membuat Zidan trauma.
"Percayalah Pak Zidan Di balik semua ini pasti ada hikmahnya. Aku yakin pak Zidan akan segera menemukan sosok adik kandung bapak.
"Terima kasih Yuli kamu sudah menjadi teman curhatku hari ini.
"Anggap saya tidak sebagai bawahan, bolehkah kita berteman? ucap Yuli membuat Zidan menatap Yuli dengan tatapan tanya. Padahal Zidan menginginkan hal lebih dari Berteman dengan Yuli.
Bersambung.......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
yuk mampir juga ke karya baru emak
"TERJERAT DUDA AROGANT"
OUTHOR MORATA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI.MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
__ADS_1