
Sementara Maya dan surya yang sedang mengurus lakalantas yang menimpa Zidan saat ini di dinas Kepolisian. Maya dan Surya kembali menghampiri Zidan di rumah sakit. Mereka ingin langsung melihat kondisi Zidan saat ini. Yuli merasa kalau pekerjaan dokter saat ini sangat lambat. Padahal dokter sudah berusaha menangani dengan secepat mungkin.
Dokter keluar dari ruang operasi setelah berhasil mengeluarkan beberapa kaca yang tertancap di tubuh Zidan. Yuli langsung menghampiri dokter itu,
"Bagaimana dengan kondisi suami saya dokter apa doa baik baik saja?" tanya Yuli sambil terisak. Dokter menatap Yuli dengan tatapan penuh tanya, seolah dirinya tidak percaya kalau Yuli adalah istri dari korban.
"Apakah anda yang bernama Yuli?"tanya dokter itu kepada Yuli dibalas anggukan dari Yuli. Dokter itu pun menatap Yuli dengan seksama kemudian Ia pun memberitahu kepada Yuli kalau sebelumnya Zidan sempat sadar sebelum kembali dirinya dibawa ke ruang operasi.
Setelah bagian tangan dan kepalanya diperban oleh suster dan dokter. Tetapi karena dokter menemukan salah satu di bagian tubuh Zidan tertancap belahan kaca mobil milik Zidan berada di bagian perut Zidan, Sehingga dokter harus terlebih dahulu mengeluarkan kaca tersebut baru Zidan dipindahkan keruang rawat inap.
Kondisi Zidan saat ini sudah stabil, tetapi tangan kirinya mengalami patah tulang dan kaki kanannya juga mengalami retak dan kami juga baru saja mengeluarkan pecahan kaca yang ada dibagian perut korban. sepertinya korban membutuhkan perawatan khusus." sahut dokter
"Apa saya bisa melihat suami saya dokter?
"Maaf untuk sementara waktu belum bisa, tunggu setelah Pak Zidan di pindahkan keruang rawat inap." Setelah memberitahu kondisi keadaan Zidan kepada Yuli, dokter berlalu dari ruang operasi, karna kebetulan ada beberapa pasien yang akan ditangani saat ini.
Yuli hanya menangis di depan ruang operasi. Yuli merutuki dirinya karna telah mengabaikan suaminya malam itu. Hingga kejadian naas menimpa Zidan saat itu.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku." Yuli menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan Maya dan Surya yang baru tiba di depan ruang operasi langsung merangkul Yuli agar hati Yuli sedikit tenang.
__ADS_1
"Sementara washington dan Surya mengurus perpindahan Zidan kerumah sakit Dirgantara. Surya berniat untuk memindahkan Zidan ke rumah sakit Dirgantara karena fasilitas di rumah sakit Dirgantara lebih lengkap. Di samping itu Zidan juga dapat mendapatkan perawatan eksklusif di sana.
Dengan menggunakan mobil ambulans yang sudah dipersiapkan surya dan beberapa dokter ahli telah dipersiapkan Surya untuk menangani Zidan. Agar Zidan segera dipindahkan ke rumah sakit Dirgantara. tentunya setelah mendapat persetujuan dari pihak rumah sakit tempat Zidan mendapatkan pertolongan pertama.
Yuli hanya mengangguk saat Surya mengatakan kalau Zidan akan dipindahkan ke rumah sakit Dirgantara. Agar mendapatkan perawatan yang eksklusif di sana. Rumah Sakit milik Surya Dirgantara sendiri. Ketika tubuh Zidan sudah keluar dari ruang operasi menuju mobil ambulans, Yuli semakin menangis histeris melihat kondisi suaminya yang begitu memprihatinkan.
"Mas.....bangun mas....bangun sayang." ucap Yuli dalam tangisnya saat berada di mobil ambulans. Karena Zidan saat itu akan dibawa ke rumah sakit Dirgantara. Maya mencoba menenangkan Yuli agar Yuli tidak selalu menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Zidan.
Tetapi Yuli sama sekali tidak dapat tenang sebelum mendapat Maaf Dari Zidan dan Zidan terbangun dari tidurnya. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit mereka tiba di rumah sakit Dirgantara. Terlihat beberapa dokter dan suster sudah bersiap menunggu kehadiran Zidane di sana.
Tentunya manajemen rumah sakit sudah mendapatkan perintah dari Surya agar segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan Zidan dalam tindakan medis di rumah sakit Dirgantara.
Dokter dan suster memberi hormat melihat kedatangan Surya, Maya dan petinggi perusahaan lainnya menghantarkan Zidan ke rumah sakit Dirgantara. Dokter Avena yang baru mengetahui kejadian yang menimpa Zidan saat ini, langsung berlari menghampiri Zidan dan menangis histeris. Sungguh dokter Avena tidak terima melihat kondisi kakaknya yang begitu memprihatinkan.
"Apa yang terjadi Mengapa kakakku sampai seperti ini? tanya dokter Avena kepada Yuli. Yuli pun menggelengkan kepalanya ia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Zidan pagi itu.
Setelah Zidan berada di ruang rawat inap VVIP yang ada di rumah sakit Dirgantara, terlihat beberapa dokter ahli datang memeriksa luka yang dialami Zidan dan tangan Zidan yang mengalami patah tulang. dokter itu mengangguk paham apa yang terjadi kepada Zidan. Dokter ahli itu mengatakan kalau Zidan akan baik-baik saja.
30 menit setelah Zidan berada di ruang rawat inap VVIP Zidan mulai sadar dan memanggil memanggil nama Yuli. Yuli langsung berlari menghampiri Zidan yang baru sadar.
__ADS_1
"Mas Maafkan Yuli....Yuli salah mas telah mengabaikan mas semenjak semalam maafkan Yuli mas." ucap Yuli sambil terisak ia memberikan pelukan hangat kepada Zidan dan memberikan kecupan demi kecupan cinta di wajah pucat Zidan saat ini.
"Sayang.....jangan menangis Ini bukan salah kamu kok. Mungkin ini Mas lagi naas jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak salah. Mas yang salah karena telah mengabaikanmu selama ini." ucap Zidan sambil berusaha mengembangkan senyumnya dan memberikan kecupan hangat di wajah cantik Yuli. Zidan tidak mampu melihat Yuli yang matanya sudah sebab. Itu berarti Yuli sudah lama menangis.
"Sudah Mas tidak apa-apa, jangan menangis dan berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan Mas. Kita harus tetap bersama walau dalam keadaan apapun." mohon Zidan kepada Yuli. Yuli menganggukkan kepalanya Ia terus terisak dan merasa bersalah akan kejadian yang menimpa Zidan.
Dokter Avena berlari memeluk Zidan setelah dirinya selesai melakukan tindakan operasi Di ruang operasi siang itu. Dokter Avena menangis sesenggukan melihat kondisi kakaknya yang dipenuhi dengan perban dan tangan yang tak bisa digerakkan.
"Apa yang terjadi Mengapa Kakak sampai bisa seperti ini? apakah kakak kurang berhati-hati menyetir mobil?" tanya Avena yang tidak sanggup melihat kondisi kakaknya penuh dengan luka di tubuhnya.
"Sudah!" kalian jangan menangis Kakak Tidak apa-apa kok. lihat sebentar lagi juga kakak pasti sembuh." sahu Zidan berusaha menguatkan tubuhnya agar orang-orang yang menyayangi dirinya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Padahal tubuh Zidan saat ini sudah terasa remuk.
Surya Dirgantara meminta maaf atas kejadian yang menimpa Zidan saat ini. Apalagi setelah Maya memberitahu pertengkaran antara Zidan dan Yuli, sehingga Zidan tidak konsentrasi menyetir mobilnya sendiri. Hingga kejadian itu terjadi menimpa Zidan.
"Sudah aku tidak apa-apa!" mengapa kalian menangis? tanya Zidan kepada orang-orang yang hadir menjenguk dirinya. Zidan berusaha meraih tubuh Yuli kepelukannya, seolah dirinya tidak ingin kehilangan Yuli.
Yuli mengelus wajah suaminya yang sudah terlihat pucat. Karena terlalu banyak mengeluarkan darah dan menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Tetapi Zidan berusaha terlihat baik baik saja.
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
jangan lupa like coment vote dan hadiahnya ya Trimakasih 🙏🙏🙏🙏