
"Kaka...lihat itu ..!," teriak Pelangi, menunjuk ke sebuah toko pakaian yang terlihat indah indah.
"Kita ke sana," seru Kumala menggandeng tangan Pelangi menuju ke toko pakaian.
Narimo dan Sugara hanya menunggu di luar toko tersebut, menunggu dua gadis muda itu membeli pakaian yang di inginkannya.
Tak berapa lama dua gadis itu nampak keluar dari toko tersebut, membawa beberapa belanjaan.
Kembali keduanya berjalan mengelilingi pasar kota tersebut.
"Kita beli perhiasan itu adik," seru Kumala sambil menunjuk kearah toko perhiasan aksesoris wanita, meskipun seorang pendekar keduanya masih wanita yang suka dengan perhiasan dan mempercantik diri, meski yang di beli juga bukan emas sungguhan.
Mereka masih asyik berbelanja dengan di dampingi dua penunjuk jalan yang bahkan tak menyadari jika di intai dan diikuti oleh dua orang Srigala Merah.
"Ayo kita membeli jajanan pasar itu, nanti kita makan di penginapan ramai ramai."
"Ayo kak."
**
"Pria itu yang anggota Cemoro Sewu, dan nampak nya yang lain kelompok yang mencoba mencampuri Jiwa Abadi," kata salah satu dari dua orang pengintai itu.
"Benar..menurut aroma tubuhnya seperti itu."
Keduanya menatap tajam Narimo dan Sugara yang masih setia mengikuti dua gadis itu, bahkan terkadang Narimo dan Sugara yang berjalan di depan setelah sesaat berbincang.
"Kapan kita bisa menyergap mereka?"
"Tahan dulu, kita tunggu waktu yang tepat, aku khawatir bekas orang Cemoro Sewu itu akan mengacau," kata anggota Srigala Merah lainnya, mereka mengira bahwa dua gadis itu sedang di kawal dua pria paruh baya tersebut.
"Benar..selain itu kita lihat apa yang mereka akan lakukan di tempat ini, karena aku dengar hari ini adalah perekrutan anggota prajurit khusus di Kerajaan Agung ini."
Kembali keduanya membuntuti empat orang buruannya yang kini malah mendekati lokasi alun alun karena banyaknya warga yang menuju ke arah sana untuk menyaksikan perekrutan anggota prajurit khusus.
Baru beberapa tombak mereka melangkah dari arah sedikit berbeda dua anggota Srigala Merah lainnya menghampiri, nampak nya mereka mencium aroma mangsa dan setelah bertemu rekannya mereka saling bertatapan, seakan melempar kode. mereka mengalihkan pandangan ke arah empat orang yang berjalan di depan.
Keempat anggota Srigala Merah masih mengikuti dalam jarak yang terus terjaga tanpa ada sedikitpun kecurigaan, menurut orang orang Srigala Merah itu.
**
Dari ribuan orang yang berniat mendaftar menjadi prajurit khusus, kini hanya tinggal ratusan orang yang di nyatakan lolos ketahap selanjutnya.
Pasukan khusus angkatan pertama ini memang hanya akan di terima berkisar delapan ratusan prajurit saja yang nanti akan di bagi menjadi dua wilayah operasional.
Nantinya pasukan itu akan berputar berkeliling di seluruh wilayah kerajaan Agung Karang Pandan.
Tampak tumenggung Yudoyono mengawasi dengan tajam orang orang yang sedang mengikuti proses seleksi pasukan khusus tersebut.
Pendekar yang memasuki tingkat Raja Emas (Tingkatan prajurit di chapter ingin mengembara) itu nampak serius menatap segerombolan calon pasukan khusus tersebut.
"Hmm...aku rasa kwalitas calon pasukan khusus ini sudah lumayan bagus, rata rata kemampuan nya di tingkat pendekar prajurit Emas bahkan ada yang di tingkat Raja Perak," gumam sang Tumenggung dengan puas.
Mereka masih berkompetisi untuk mencari yang terbaik dari pasukan tersebut untuk nantinya di berikan jabatan dan kedudukan yang sesuai.
**
"Kurang ajar.., apa kau tak merasa aneh adik?" kata Kumala sedikit berbisik kepada Pelangi yang terlihat kesenangan sambil melihat kanan kiri.
"Maksud Kaka? orang orang berbaju bulu?, yang mengikuti kita?"
"Benar.., nampaknya mereka ingin membuat masalah dengan kita." kata Kumala dengan geram.
__ADS_1
"Bagaimana jika hajar saja mereka?," gumam Pelangi namun mampu di tangkap Kumala.
"Setuju.."
Dengan segera Kumala dan Pelangi mempercepat langkah dan berbelok kearah jalanan yang lebih sepi, hal itu bahkan membuat Narimo dan Sugara kaget dan terkejut.
"Kenapa Den ayu lewat sini?" seru Narimo yang sedikit berlari menyusul Kumala dan Pelangi diikuti Sugara.
"Tenang saja paman, ada penguntit," seru Pelangi langsung menghentikan langkahnya setelah tiba di tempat yang di perkirakan sepi, menanti empat orang Srigala Merah yang mengejar nya.
"Bangsaaat..mau lari kemana kalian..!," teriak salah seorang dari Srigala Merah setelah berhasil menyusul.
Kumala dan Pelangi hanya tersenyum miring dengan penuh siaga, sedangkan semua belanjaan sudah diserahkan kepada Narimo untuk menjaganya.
"Cuih.. menghadapi pencopet macam kalian kami tak perlu lari." seru Kumala yang mengira keempat orang penguntit nya hanya beberapa pencopet biasa.
"Hua..ha..ha..kau kira kami penjahat rendahan?"
Salah seorang tersebut lalu sedikit maju, "Kami adalah malaikat maut untuk kalian, penentang Jiwa Abadi."
Perkataan salah satu orang itu membuat Sugara pucat wajahnya, ternyata dirinya masih di buru hingga kini.
"Oh..rupanya kalian anggota kelompok tersebut, sengaja mengejar kami?" dengan sedikit gemetaran Sugara berkata.
"Benar, kau tujuan utama, dan kalian berikut nya karena berani mencampuri urusan Jiwa Abadi." kata anggota Srigala Merah penuh ancaman, dengan menunjuk Sugara, lalu Kumala dan Pelangi berikut nya.
Salah satu anggota Srigala Merah sudah memberikan isyarat kepada yang lainnya untuk mengurung ketiga orang yang di buru nya tersebut.
"Hajaaar...!." teriak salah satu anggota Srigala Merah memberikan aba aba.
Wuuusss...
Traaang...!!
Sambaran pedang itu langsung ditangkis oleh Pelangi yang berada paling dekat.
Benturan keras terdengar, membuat anggota Srigala Merah sedikit terbelalak karena tangannya terasa bergetar.
Berturut-turut sambaran yang lain datang menghampiri ketiga orang itu.
Wuusss... wuuuuusss...
Sriiing..... sriiiing.....
Tiga sambaran berikutnya datang dengan cepat, namun semua berhasil di tepis dan di hadang.
Traaang... traaang.....
Semua serangan itu berhasil di mentahkan oleh Kumala, Pelangi dan Sugara.
Tak hanya para penyerangnya, bahkan Sugara juga kaget dengan kemampuan kedua gadis yang ada di samping nya yang ternyata bahkan lebih hebat darinya.
Merasa serangan nya tak mampu menembus lawannya, sedikit mundur keempat orang tersebut.
Kemudian nampak mereka melakukan sebuah gerakan semacam ritual, yang dilanjutkan dengan gerakan tubuh mereka yang makin aneh, nampaknya mereka kini mengeluarkan ajian Asu Panglimunan.
Badannya membungkuk setengah merangkak, dengan sikap seperti seekor binatang, matanya berubah pancaran nya, instingnya semua meningkat dengan kekuatan tubuhya juga meningkat tajam beberapa tingkatan.
"Ggrrhh...kalian meremehkan Srigala Merah...," menggeram salah satu anggota dari anak buah Jiwa Abadi tersebut.
"Seraaang...!!" teriak orang tersebut sembari meloncat menebaskan pedangnya.
__ADS_1
Traaang....!
Kecepatan yang makin meningkat dengan kekuatan binatang liar yang makin membuat sambaran itu makin ganas, namun berhasil di tangkis.
Wuuusss....Wuuusss...
Sambaran sambaran selanjutnya kian bertubi tubi.
Makin lama pertarungan makin kian seru, meskipun di serang bertubi tubi namun ketiga orang itu masih mampu menanggulanginya bahkan sesekali beberapa pukulan Kumala dan Pelangi mampu mendarat di tubuh para penyerangnya.
Bouuugh...!!
Praaaakkk...!!
Hantaman hantaman dua gadis itu membuat anggota Srigala Merah itu meradang.
"Aaaauuuuuu....!.'
"Aaaauuuuuuu....!!"
Sebuah teriakan lolongan tiba tiba di teriakan oleh orang orang Srigala Merah tersebut.
Sembari berteriak keempat orang itu makin liar bergerak, meloncat menerkam dan menyambarkan senjatanya dengan makin tak beraturan.
CLAAAAPP...
CLAAAAAP...
Menyadari serangan lawan makin ganas Kumala dan Pelangi langsung mengerahkan jurus Mata yang mereka miliki masing masing.
Dua pancaran mata tersebut hampir saja memperangkap lawan lawannya ketika sebuah hantaman dengan kekuatan hebat menghancurkan bulatan lapisan tipis yang di ciptakan Pelangi dan pancaran cahaya yang di hasilkan Kumala.
JLEEGAAAAAAAR...!!!
Dua serangan kekuatan mata itu berhasil buyar oleh sebuah hantaman Tongkat pendek yang di pegang oleh sosok tinggi besar dengan pakaian yang bercirikan sama dengan pengeroyok rombongan Jaya itu.
Akibat benturan tersebut Kumala sedikit terdorong ke belakang, demikian pula dengan Pelangi, sedangkan Sugara sudah terlempar hingga mendekati Narimo.
Karsh yang menghantamkan pukulannya dengan Tongkat Wesi Kuning terjajar kebelakang juga.
Seiring dengan datangnya Karsh berturut turut tampak anggota Srigala Merah yang lainnya berdatangan, dan mulai mengepung tempat tersebut.
"Tamatlah riwayat mu... Gggggh.....!," seru Karsh dengan menyeringai lebar.
Narmo dan Sugara yang sedikit di pinggiran langsung terkejut dan pucat wajahnya, menaklukan empat orang saja sudah kesulitan kini hadir lagi puluhan orang yang sama.
Melihat hebatnya senjata lawan tanpa ragu Pelangi mencabut senjata tingkat langitnya yaitu pedang Darah Naga yang berwarna merah tersebut, begitupun dengan Kumala langsung mencabut pedang Langit Malam-nya yang berwarna hitam pekat.
"Kalianlah yang akan mati di sini..!," teriak Kumala tak mau kalah, menarik nafasnya dan menghimpun tenaga untuk meningkatkan kekuatannya.
Begitupun dengan Pelangi sudah meningkatkan kekuatannya dengan di keluarkan nya pedang Darah Naga miliknya.
Narimo yang merasa khawatir tanpa ragu melepas suar kembang api untuk meminta bantuan Jaya yang berada di penginapan.
Slaaaarrrt.... Byaaaarr....!!
Ledakan suar di udara mengagetkan semua orang dalam radius beberapa ratus tombak jauhnya, bukan hanya Jaya Sanjaya dan rombongan namun juga Tumenggung Yudoyono dan seluruh orang yang ada di alun alun.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya......
__ADS_1