Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Ketakutan nya Gambir Anom


__ADS_3

"Ada apa...!!??." bentak Gambir Anom dengan tatapan tajam ke arah anak buah yang baru datang, pikirannya sedang kacau, penuh amarah dengan kelompok yang di nanti nanti namun belum juga terlihat keberadaan nya.


"M..m.mau melaporkan... se.. sesuatu T..t.tetua Agung."


Dengan gemetaran karena melihat kegusaran di wajah Tetuanya, anak buah tersebut menjawab.


"Melapor apa??, cepat katakan..!!." bentak salah satu dari Dua Pisau Neraka.


"K..ke.. kelompok Awan Putih yang kita cari sedang bersama rombongan pedagang," katanya akhirnya bisa sedikit lancar berkata.


Kali ini Gambir Anom menoleh, tertarik dengan berita yang di bawa oleh anak buah yang bahkan tak di kenalnya itu.


"Bersama rombongan pedagang..??"


"Benar Tetua.."


"Hmm, apa mereka begitu takutnya kepada kita?, hingga menyusup dan pura pura menjadi kelompok pedagang?" Kata Gambir Anom dengan jumawa, dan berkacak pinggang tersenyum miring.


"Ha.. ha...ha... nampak nya begitu Tetua Agung," sahut Lili Pali salah satu dari Dua Pisau Neraka berkata dengan antusias nya.


Lilo Polo juga mengangguk tersenyum, menyetujui perkataan mereka, "Kelompok Cemeeen.."


"Sampai dimana sekarang mereka?." Gambir Anom kembali bertanya kepada pemberi berita.


"Saat ini masih berada di hutan Kuncen, masih beberapa saat sebelum tiba di sini."


Gambir Anom mengangguk mendengar keterangan tersebut.


"Bagaimana jika kita songsong mereka Tetua?," usul Lilo Polo.


"Benar Tetua ...lebih leluasa jika kita serang mereka di hutan Kuncen, di sana tak terlalu berada di keramaian," Lili Pali juga berkata setuju untuk usulan tersebut.


Gambir Anom mengangguk tersenyum dan menyetujui usulan itu.


"Baik ..kita songsong mereka, kita hajar dan tumpas kelompok itu di sana..," kata Gambir Anom memberi perintah kepada para anak buahnya untuk bersiap menyergap.


**


Di hutan Kuncen, hutan yang paling dekat dengan Kotaraja, rombongan Jaya dan saudagar Suryadi masih beristirahat.


Saat itu sudah tengah hari, udara yang panas membuat hewan hewan sedikit kehausan makanya mereka memutuskan untuk beristirahat.


"Sekalian beristirahat, kalian siapkan jamuan makan siang," perintah saudagar Suryadi kepada juru masak rombongan nya.


"Njeh..ndoro."


Bergegas para juru masak dan pembantunya mulai menyiapkan masakan yang akan mereka olah.


Sebagian ada yang mencari kayu bakar, sebagian ada yang membuat bumbu dan menyiapkan perapian dengan menggunakan tungku angklo yang biasa mereka simpan kembali jika sudah selesai aktivitas memasak.


Beberapa tungku angklo sudah siap dengan perapian yang cukup.


Para petugas dapur sudah berkutat pada aktifitas nya, ada yang menanak nasi, menjerang air hingga membuat lauk untuk makan siang itu.

__ADS_1


Meski terkesan sederhana bagi juru masak tersebut, namun masakan itu cukup mewah jika di makan di perjalanan seperi ini, sebuah tumisan daging dengan cabai yang cukup pedas di sertai sedikit sayur sayuran.


Daging sapi, dan Kijang yang sudah di keringkan dengan cara di asapi atau di jemur, di potong tipis tipis untuk di tumis bersama sayuran dan cabai hijau yang banyak.


Semua nampak makan dengan lahap, termasuk Jaya dan kedua gadisnya, Ketiganya makan sedikit berdekatan, sedangkan yang lainnya mencari tempat yang di rasa nyaman menurut mereka masing masing.


"Enak ya Kaka, nanti jika kita sampai di tempat kita, ingin aku memasak seperti ini," kata Pelangi.


Kumala hanya mengangguk mengunyah makanannya, "Memang adik bisa masak?"


Pelangi menggeleng, membuat Kumala tersenyum makin lebar.


"Loh tak bisa masak kok mau membuat olahan seperti ini?."


"Kan kita sama sama belajar untuk memasaknya, apa Kaka juga bisa masak?"


Kumala balas menggeleng sambil tersenyum, "Aku bisa nya makan he..he..he."


Jaya tertawa mendengar obrolan dua gadis tersebut, "Sama sama tak bisa masak?, cck...payah..." ledeknya.


"Nanti kami pasti akan belajar Kakang," sahut keduanya begitu mendapat ejekan dari Jaya.


Jaya hanya tertawa saja, tak mau memperpanjang guyonan nya, kembali menikmati makanan disana.


Tiba tiba.........


"Oh...rupanya kalian berhenti disini..!."


Sebuah teriakan yang datang tiba tiba tersebut mengagetkan semuanya.


Puluhan orang ..eh..salah ..ratusan orang sudah berdatangan di tempat tersebut dengan sangat cepat, mulai mengepung rombongan tersebut tanpa di minta oleh sang Tetua.


Saudagar Suryadi langsung pucat wajahnya, melihat para pengepung nya sebanyak itu.


"Aaa.. Pisau Terbang kembali menyerang..!," teriak panik para penjaga dan pengawal rombangan saudagar Suryadi ketakutan.


"Mana Pemimpin rombongan pedagang??!!." teriak Gambir Anom dengan keras, membuat kelompok pedagang begidik ketakutan.


Suryadi maju dengan ragu, menengok kanan kiri, sebelum melanjutkan langkahnya.


"S..saya tuan pendekar," sahut Saudagar Suryadi sedikit terbata namun di tepisnya rasa takut itu.


"Kenapa kau tak mau membayar upeti hah..!!," sentak Gambir Anom dengan marah.


"Kami sudah membayar tuan pendekar, seperti biasa nya." sahut Suryadi mencoba membela diri.


"Keparaat...kau mau mengelak, mau aku ambil seluruh dagangan mu?."


Suryadi tersurut beberapa langkah kebelakang, ketakutan jelas terlihat di wajahnya meski sudah coba di tepisnya.


"Menantang Pisau Terbang dengan membawa kelompok cecurut..!" sahut Lili Pali yang muncul tiba tiba di belakang sang Tetua Agung.


Saudagar Suryadi kembali mundur selangkah melihat tiba tiba ada seseorang di belakang Gambir Anom yang membentaknya.

__ADS_1


Jaya maju kedepan menatap dua orang yang terlihat mencecar Suryadi.


"Apa maksudmu kelompok cecurut.?."


Lilo Polo yang juga sudah mendekati rekanya tertawa, "Kelompok cecurut adalah kelompok yang ketakutan dan berlindung pada rombongan pedangan."


Jaya menautkan kedua alisnya, sedikit mencerna ucapan ketiga oran di depannya.


"Maksudmu kami kelompok cecurut?.'' Jaya berkata.


"Siapa lagi memangnya yang menyaru sebagai pedagang? kami?" ledek Lilo Polo lagi sambil meringis.


"Cuih...!, kami bukan kelompok cecurut, monyet...!." Kumala yang sudah berdiri di samping Jaya langsung terbakar emosinya.


Begitu juga Pelangi yang langsung memerah wajah nya, "Hati hati ..kalian bicara bisa jadi mulutmu akan robek jika salah ngomong."


Ketiga petinggi Pisau Terbang malah tergelak, meremehkan lawannya.


"Hua..ha..ha..., hari ini kita dapat dua upeti bagus," Lilo Polo tertawa terbahak bahak, pria paruh baya itu bahkan memegangi perutnya saking geli nya.


Kumala dan Pelangi langsung meluap rasa marahnya.


CLAAAAPP....


Pelangi langsung melesatkan jurus Mata Dewa dengan cepat gelembung tipis ciptaan dari pancaran matanya mencoba memerangkap ketiga lawannya, namun sayang Gambir Anom berhasil meloncat mundur.


Sedangkan Lili Pali sedikit terperangkap sebagian badannya, namun Lilo Polo yang masih tergelak keasyikan tertawa terperangkap penuh di lingkaran gelembung tipis tersebut.


Mata Gambir Anom terbelalak melihat Lilo Polo mematung, sedangkan Lili Pali hanya separuh tangannya yang bisa bergerak sedikit leluasa.


CLAAAAPP....


Kumala yang juga melepas jurus kekuatan matanya langsung menerjang badan Lilo Polo dan sebagian Lili Pali.


BLAAAAAR....!!


Badan Lilo Polo langsung meledak bagai balon terhantam ratusan jarum.


Sedangkan Lili Pali badannya hancur sebagian di terjang gelombang kekuatan mata ciptaan Kumala.


"Aaaarghh....!!." sedikit jeritan keduanya terdengar pilu sebelum mati dan tumbang pada serangan pertama, tingkat kependekaran kedua Pisau Neraka yang hanya setingkat Raja Perak awal itu tak mampu berbuat banyak apalagi mereka tak melakukan kuda kuda apapun.


Langsung terhempas ...mati.


Semua anggota Pisau Terbang terbelalak ketakutan begitu Juga Gambir Anom yang langsung gemetaran, termasuk rombongan saudagar Suryadi kaget, tak menyangka dua gadis manis itu mampu melakukan serangan sehebat itu.


Gambir Anom yang melihat celah meloloskan diri langsung melesat pergi tanpa menoleh lagi, berlari ke Utara menuju markas utama Akar Jiwa.


Semetara anak buah Pisau Terbang sebagian langsung di amuk oleh rombongan Jaya dan pengawal saudagar Suryadi, dihajar hingga babak belur meski tak di bunuh, selebihnya lari tunggang langgang tak bersisa.


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


__ADS_2