
Pemimpin Dewa Pemusnah, sudah menyerah dalam artian dia sudah melarikan diri masuk ke wilayah istana Kekaisaran yang masih terlindung Segel Formasi Pengaturan.
Berkat Formasi pelindung itu hingga saat ini istana Kekaisaran masih utuh, meski begitu sebenarnya segel formasi pengaturan sudah mulai rusak karena di gempur dari berbagai sudut.
Sinar yang semula terpancar terang dari segel formasi pengaturan tersebut, kini sudah sedikit meredup.
Semua makin terlihat cemas, bagaimana nasib mereka yang berlindung di sana, jika segel formasi tersebut rusak?.
Kini di luar wilayah istana Kekaisaran hanya ada dua area pertarungan, pertarungan antara Kaisar Dewa melawan Raja Agung Iblis serta Dewa Kebijaksanaan melawan Panglima Iblis Merah Moyaka yang di bantu Raksasa sebesar gunung.
Kaisar Dewa yang mulai menyadari posisi nya kini terlihat cemas, semua pasukannya ternyata sudah mundur, hanya tersisa dirinya dan Dewa Kebijaksanaan yang masih bertarung, berjuang melawan musuh.
Rasa cemas itu makin membuncah kala sosok berwarna hitam terlihat berkelebat mendekat ke area pertarungan dirinya melawan Raja Agung Iblis.
Sosok itu masih berdiri beberapa kilometer menatap pertarungan sang Kaisar Dewa melawan Raja Agung Iblis, seperti menunggu perintah selanjutnya dari atasannya.
"Aah...sial, melawan Raja Agung Iblis saja sudah merepotkan, kini panglima nya sudah mendekat."
**
Di sisi lain Dewa Kebijaksanaan mulai sedikit menjauhi wilayah istana Kekaisaran, tujuannya tentu saja ingin bertarung dan menyerang dengan tanpa di batasi oleh keadaan.
Dua lawannya juga terlihat mengejar, keduanya tak ingin melepas lawan yang makin menjauh meninggalkan titik awal pertarungan, seperti mau melarikan diri.
"Jangan coba coba berfikir untuk kabur kau..!." Moyaka berteriak mengejar sosok Dewa tersebut.
"Cuuih..!, siapa yang mau kabur dari lawan seperti mu.." balas Dewa Kebijaksanaan kini sudah berbalik setelah merasa cukup jauh dari wilayah istana Kekaisaran.
Dewa Kebijaksanaan kini melayang berdiri menghadap ke arah dua lawannya, seakan menanti keduanya agar sedikit mendekat.
"TEBASAN CAKRA KEMBAR....!." Dewa Kebijaksanaan mengayunkan senjata Cakra Manggilingan
Bayangan dua senjata Cakra yang berputar dengan ukuran sebesar bukit terlihat di angkasa.
Langit seperti terbelah, suara desingan putaran dua bayangan Cakra terlihat mengerikan di langit.
WIIING... WIIING....
Dua bayangan Cakra itu melesat ke arah yang berbeda, satu mengarah ke Moyaka si Panglima Iblis Merah dan satunya ke arah Raksasa sebesar gunung.
__ADS_1
Alam seperti terhenti, udara serasa tersibak saat di lewati lesatan dua serangan tersebut.
CRAAAKKKK.....
CRAAAKKKK....
Benturan keras terdengar begitu kuat, saat dua serangan itu bertubrukan dengan kekuatan lawan yang menangkis serangan tersebut.
Tak seperti serangan serangan tadi, kini perwujudan Cakra raksasa itu tak memudar atau menghilang setelah serangan itu kandas, tapi bayangan senjata Cakra itu kembali melesat dan terus menyerang kedua sasaran nya.
Dewa Kebijaksanaan mengendalikan semua serangan itu dari jarak sedikit jauh.
Berturut-turut benturan terjadi begitu kuat, menyebabkan alam terdistorsi, langit seperti mau pecah akibat guncangan yang bertubi tubi menggelegar di sana.
"Sontoloyo... Iblis keparaat ini sangat kuat, bahkan jurus andalan sudah ingsun kerahkan, namun masih saja belum bisa melumpuhkan nya, apalagi Raksasa sebesar gunung itu, dia seperti kebal dengan serangan Cakra Manggilingan.''
Dewa Kebijaksanaan mulai kehabisan tenaga, entah sudah berapa lama mereka bertarung selama ini, berapa banyak jurus yang telah di mainkan untuk melawan keduanya, namun Iblis serta Raksasa sebesar gunung tersebut masih saja kokoh berdiri dan membalas serangan.
"Jika begini terus.. bisa bisa mati ingsun."
Moyaka dan Raksasa sebesar gunung masih terus menghantam bayangan senjata Cakra yang menyerang, lama lama bayangan serta kekuatan serangan itu mulai memudar, seiring dengan melemahnya kekuatan kendali Dewa Kebijaksanaan.
Wajah Dewa Kebijaksanaan sudah pucat pasi, sekarang tak mungkin dia memenangkan Pertarungan ini.
Saat harapan nya sudah benar benar musnah, dari kejauhan terlihat ribuan barisan pasukan berbaris dan bergerak sangat cepat, menuju ke arah istana Kekaisaran yang jalurnya melewati medan pertarungan nya.
Gerakan pasukan itu bukan hanya cepat tapi super cepat.
Mata Dewa Kebijaksanaan langsung berbinar begitu melihat sosok yang terbang dan terlihat memimpin pasukan tersebut.
"Aah...Dewa Perang Cakra Tirta...!, Pasukan Prajurit Batu..!!?." seru nya dengan kegembiraan yang tak terlukiskan.
Sosok Dewa Cakra Tirta langsung melesat mendahului Pasukan Batu, menerjang ke arah Raksasa sebesar gunung.
Badan Dewa itu langsung menyala, sambil menghantamkan tombak kyai Seto Ludiro yang telah memancarkan cahaya BADAI MATAHARI.
JEDUAAAAAAAARRR....!
Kekuatan hantaman yang melawan surga itu begitu menakutkan, membuat raksasa itu langsung terjungkal ke tanah, begitu kepala nya di hajar.
__ADS_1
Terlihat Moyaka dan Raksasa sebesar gunung terkejut dengan kekuatan lawan barunya.
"Ha ha ha..." Dewa Kebijaksanaan kini bisa tertawa dengan lega.
"Ingsun punya tandem yang nggegirisi (menakutkan)."
Moyaka menyeringai, membuat wajahnya yang jelek makin tambah jelek. "Jangan cuma satu, sepuluh sosok seperti itu bukan masalah bagiku ..ciih.." katanya sambil meludah.
Raksasa yang terjungkal di tanah kini kembali terbang dan menyerang ke arah Dewa Cakra Tirta, mengayunkan senjata Gada yang sebesar apartemen tersebut.
Waktu seperti terhenti saat gejolak luapan energi melintas ke arah Dewa Cakra Tirta, karena sabetan Gada rakasa tersebut.
WEEEENG.....
Moyaka tersenyum melihat serangan yang di lancarkan budaknya.
Cakra Tirta hanya tersenyum miring, tangannya membentuk sebuah gerakan, "SELAKSA OMBAK MENERJANG KESEMBILAN dengan BADAI MATAHARI PUNCAK...!."
Bersama dengan teriakan itu, gelombang kekuatan memadat dan terkumpul di balik badan sang Dewa Perang, bukan hanya luapan kekuatan pukulan itu saja yang siap meledak, tapi suhu alam sekitar juga meningkat tajam hingga jika ada samudera di wilayah itu pasti ikut mendidih.
Seluruh badan Cakra Tirta sudah menyala dengan warna putih jernih, menandakan kekuatan panas yang paling tinggi kini siap meledak.
BBOOOUUUUMMMMMMMM....!!!
Suara ledakan yang tercipta begitu kuat, menggetarkan alam tersebut, menyibak awan sejauh puluhan kilometer, membelah tanah yang ada di sana, padahal mereka bertarung di angkasa.
Sosok sebesar gunung terlempar, badannya terbakar penuh dengan jilatan api, api putih jernih itu bahkan tidak padam meski sosok tersebut sudah berguling gulingan.
"Hanya sekali serang ..??!."
Moyaka terpana dengan pemandangan itu, hanya dengan sekali hantaman sudah membuat sosok andalannya terlempar, terbakar dan entah bagaimana nanti nasibnya.
"Bagaimana?, apakah kau sudah sadar dengan keadaan ini?." Dewa Kebijaksanaan terlihat berkata dengan nada sedikit mengejek
Moyaka tak bisa menutupi ketakutan nya, sebenarnya jika satu lawan satu dengan Dewa Kebijaksanaan dia sudah kalah sejak semula, berhubungan dia punya satu teknik kekuatan rahasia yaitu jurus "SIGARAN NYOWO" dimana jurus itu bisa saling mengisi kekuatan dengan tandem nya. membuat iblis itu tak pernah kehabisan tenaga.
SIGARAN NYOWO adalah jurus berpasangan, berpasangan dengan kembaran jiwa yang bisa di wujudkan, dan kembaran jiwa iblis Moyaka berujud raksasa sebesar gunung tersebut. Mereka akan saling mengisi ulang energi sejati, membuat kekuatan energi itu seperti siklus yang berputar tak ada habisnya.
Sangat susah untuk mengalahkan keduanya jika tak menghancurkan salah satu atau kedua raga dari lawan tersebut, maka jangan harap bisa mengalahkan mereka.
__ADS_1