
Kekacauan di Alam Dewa sudah berhenti, semua kini terlihat mulai membersihkan puing puing yang tersisa dari tempat tersebut.
Istana Kekaisaran sudah benar benar hancur, wilayah itu kini hanya terlihat seperti reruntuhan saja, dimana mana hanya ada puing puing yang berserakan, pelan tapi pasti para penduduk mulai meninggalkan wilayah tersebut karena tempat itu sudah benar benar hancur dan tak ada yang akan membangun nya kembali.
Mereka mulai berpindah ke wilayah wilayah yang masih tersisa dan ada sistem kepemimpinan nya, meski itu berarti harus berpindah ribuan kilometer jauhnya.
Di antara wilayah wilayah yang masih tersisa, tentu saja Istana Dewa Perang yang paling utuh dan masih terlihat megah, karena sejak awal tempat itu tak di sentuh oleh Iblis karena di anggap istana kosong.
Wilayah itu kini jadi tujuan utama para pengungsi untuk menetap dan bermukim di sana.
Dalam waktu sekejap saja, wilayah istana Dewa Perang dan sekitarnya kini sudah terlihat ramai, Bangunan baru mulai bermunculan meski masih terkesan sederhana.
Namun sebenarnya meski tempa itu terlihat masih utuh fisiknya, jika di banding dengan yang lainnya, namun sesungguhnya Dewa Cakra juga perlu kerja keras untuk membangunnya kembali.
Tata pemerintahan yang sudah tak ada semenjak kepergian Dewa Cakra, membuat sistem pemerintahan di sana kacau balau, dan jika tak segera di atasi pasti akan merepotkan.
"Aku punya usulan jika kakang memang setuju," kata Dewi Krystal Nurmala, sambil duduk di samping Dewa Cakra Tirta di taman istana Dewa Perang.
"Apa itu?." sahut Cakra Tirta yang saat ini tengah memikirkan bagaimana penyusunan kembali tata kelola pemerintahan di wilayah nya.
"Bagaimana jika kakang mengajak para pengikut Kakang di alam manusia pindah kemari, mereka bisa menjadi pengelola tempat ini, bukankah itu lebih baik?."
Cakra Tirta kembali tersadar, dan teringat semua pengikut nya di alam manusia, termasuk istri istri nya.
"Aah . bagaimana ingsun bisa lupa akan hal itu, ingsun juga harus membawa Dinda Pelangi dan Dinda Kumala kesini bukan?."
Dewi Krystal Nurmala mengangguk, tersenyum senang bisa sedikit membantu mengatasi sistem pemerintahan yang masih kacau di tempat tersebut.
Saat ini Dewi Krystal Nurmala sudah resmi menjadi istri dari Dewa Cakra Tirta, meski acara peresmian tersebut hanya berlangsung secara ala kadarnya karena suasana masih belum mendukung.
Sang Dewa tak ingin tinggal bersama tanpa adanya ikatan dengan seorang wanita, itulah perbedaan manusia atau Dewa dengan binatang, bukan?
Manusia atau Dewa memiliki aturan, norma dan juga sopan santun tata susila yang harus selalu di pegang dan di taati.
Perjanjian ikatan antara dua orang yang hidup bersama dengan sebuah sumpah dan janji perlu di lakukan meski hanya ada dua orang saksi.
"Benar Kakang, aku juga perlu mengenal mereka, kan?."
Cakra Tirta Sanjaya tersenyum mengangguk lagi.
**
Di alam manusia.
__ADS_1
Tepatnya di markas kelompok Awan Putih, terlihat dua wanita muda terlihat tengah duduk di bangunan lantai tiga.
Mereka adalah Pelangi dan Kumala.
"Apakah menurut adik Kakang Jaya masih mengingat kita?."
Pelangi menatap Kumala yang tengah bertanya kepada nya, menarik nafasnya pelan. "Entahlah kakak, aku juga gamang mau menjawab apa, setelah beberapa bulan lamanya kakang meninggal kan tempat ini, belum ada berita apapun yang kita dapatkan."
"Apakah Kakang Jaya baik baik saja?, karena mengingat lawan lawannya adalah Dewa, bukan Dewa biasa tapi raja nya para Dewa."
"Aku lebih menghawatirkan masalah itu sejujurnya, daripada berfikir Kakang Jaya ingkar dan melupakan kita."
"Benar... Kakang Jaya bukan sosok yang suka mengingkari janji dan tak bertanggung jawab."
Kumala dan Pelangi menganggukkan kepalanya, pandangannya lurus ke depan menatap ke arah markas Awan Putih yang kian megah dengan berdiri nya sebuah Istana di dekat bukit di belakang markas utama.
"Semoga Kakang Jaya segera kembali dengan tak kurang suatu apapun."
"Ya...semoga SANG PENCIPTA selalu melindungi kita dan mempertemukan kita kembali."
Dua wanita cantik itu mengangguk bersama.
Saat dua wanita tersebut masih berbincang, di langit yang mulai menggelap terlihat sebuah sinar yang memancar membentuk sebuah cincin cahaya.
Keduanya melesat cepat terbang menuju ke atas markas kelompok Awan Putih.
Lesatan cahaya cukup menarik perhatian para petinggi Awan Putih yang langsung bergerak menuju arah cahaya tersebut mendarat.
"Apa itu tadi Tetua?."
"Jika Tetua mengapa ada dua cahaya yang melesat?."
"Tak mungkin, Tetua."
"Apa..!!!, bukan Tetua? jika memang bukan Tetua kita bisa gawat..!."
Semua saling sahut menyahut sambil mendekat kearah jatuhkan sinar tadi.
Sinar itu akhirnya terlihat turun di bangunan lantai tiga kediaman pribadi sang Tetua Awan Putih yang telah pergi beberapa bulan lamanya.
"Itu pasti Tetua...".
**
__ADS_1
Pelangi dan Kumala langsung memeluk Jaya Sanjaya alias Dewa Cakra Tirta Sanjaya, begitu keduanya menyadari kedatangan nya.
Kepergiannya selama beberapa bulan membuat rasa rindu yang membuncah di dalam dada kedua istrinya tersebut serasa di curahan saat ini.
Keduanya menangis keras tak lagi menahan nya. "Jangan tinggalkan kami lagi Kakang..," rintih keduanya memilukan.
Meski di sebelah nya ada wanita cantik dengan mata biru dan rambut kecoklatan, tak membuat Pelangi dan Kumala menguraikan pelukan tersebut, sambil menangis.
Keduanya sudah menduga dan mengira jika itu pasti yang bernama Dewi Krystal Nurmala.
Jaya juga berkaca kaca, melihat kedua wanita tersebut menangis membuat nya kian terharu dengan ketulusan hati mereka.
Selama dirinya di alam manusia, selama dirinya terpuruk selama ini, keduanya lah yang menjadi sandaran hati nya.
Di ciumi kedua wanita tersebut bergantian, lalu Cakra Tirta menoleh dan melambai ke arah Dewi Krystal Nurmala untuk mendekat.
Wanita cantik bermata biru dengan rambut kecoklatan itu mendekat dan menghambur ikut berpelukan.
Direngkuhnya ketiga wanita tersebut dalam dekapan Cakra Tirta, sosoknya yang tinggi besar tak sedikit pun kesulitan memeluk istri istri nya.
**
Semua orang terlihat terpana, meski Alam Dewa dalam keadaan hancur, tapi keindahan nya tetap berkali lipat dari alam manusia.
Panorama indah alam tersebut kini terpampang di hadapan semua nya.
"Waah... alangkah indahnya Nakmas ," kata Narimo yang tak merubah panggilan terhadap Dewa Cakra Tirta.
Jaya Sanjaya alias Dewa Cakra Tirta, kini telah kembali ke Alam Dewa membawa beberapa pengikut nya seperti Narimo, Baroto Sarkawi, Pitu Geni, Anuso Birowo, serta Sepasang Raja Pedang Singo Dimejo dan Karpo Dipolo.
Sementara yang lain Seperti Sumanjaya si Mata Malaikat, Koloireng, serta orang tua Kumala dan orang tua Pelangi juga kakek Randu Sembrani dan nyai Nilam Sari sementara belum bisa ikut kesana.
Namun semua orang orang itu sudah di beri tetesan Air Abadi, sebuah air mustika yang mampu memberikan umur panjang hingga beberapa ratus tahun.
"Benar, alam yang benar benar indah meski sudah porak poranda ," Pitu Geni menimpali perkataan Narimo.
Pelangi dan Kumala masih asyik berkeliling bersama Dewi Krystal Nurmala, di dampingi para pelayan istana Dewa Perang.
_______________
***Terima kasih bagi semua pembaca yang sudah mendukung karya ini, tanpa dukungan anda semua nya apalah arti karya ini.
Dukung juga karya baruku, WARISAN PENGUASA ALAM***
__ADS_1